MUHAMMAD ILHAM PRASETYO

1198 Kata
"Gak kerasa Om, tinggal satu bulan lagi kita pulang." kata seorang pria sambil menepuk bahu sahabatnya. "Iyah, hampir lupa. Rasanya udah kangen banget sama Indonesia" ucap pria yang ditepuk bahunya itu. Muhammad Ilham Prasetyo, disebut namanya. Dia merupakan salah satu prajurit TNI AD, yang ditugaskan di Libanon selama satu tahun, sebagai bentuk pengabdiannya di negara, tugas rutin yang dilakukan oleh TNI menjelajah bumi berbulan-bulan dengan tugas menjalankan koordinasi. Dan disanalah Ilham hidup, menguatkan tekad demi tanggung jawab yang ia emban. Ilham memandangi teman seperjuangannya, "Gus, kamu udah ngabarin keluarga kamu. Kamu bakalan pulang satu bulan lagi?" tanya Ilham, membantah Agus menoleh kemudian memfokuskan kembali dengan s*****a diungkap. "Belum, takutnya malah gak jadi pulang nanti mereka kecewa. Lagian tanggal pulang belum ditentuin, tapi mungkin mereka gak sabar nunggu hari buat mengantar aku dibandara" jawabnya meminta tawa yang ringan. Ilham hanya mengangguk. Pikirannya kembali menerawang jauh ke depan. Memikirkan sosok wanita yang beberapa bulan ini selalu hadir di mimpinya. Entah apa artinya dari mimpinya, tapi yang jelas dia sering mendengar kata, jagalah dia Ilham. Jujur Ilham tidak mengenal wanita itu, dia tidak pernah bertemu wanita itu tidak pernah bertemu melihat dia saja dia tidak pernah. "Woy Ham, ngelamun aja. Udah adzan tuh, mending kita salat dulu." Agus membuyarka lamunannya. Ilham tersadar mengangguk kemudian menerima Agus yang sudah berjalan lebih dulu. Seusai salat Isyha Ilham tidak langsung tidur. Dia lebih memilih untuk menghabiskan istirahatnya dengan mengulang kembali hafalan Al-Qurannya. Mencoba menguatkan hafalan yang berhasil ia hafal, karena menarik hafalan dari pikiran kita seperti kuda yang lepas dari ikatannya kemudian lari kencang. Sejak duduk di bangku SMA, Ilham menjadi pribadi yang berbeda. Dulu waktu dia masih SMP, Ilham bukan anak yang baik, dia sering tahu teman perempuannya sampai menangis dan tak jarang orang tua yang menegur kelakuan Ilham. Bahkan Ilham pernah membuat guru SMPnya sakit. Dan itu membutuhkan rutin mengisi ruang BP. Sampai tiba guru Ilham mengundurkan diri karena merasa nyaman dengan ulah Ilham. Dan sekarang semua gurunya, tidak percaya jika Ilham menjadi orang yang memiliki peran paling penting dalam pemeliharaan. Ya siklus hidup hidayah Allah telah mengubah sosok Ilham menjadi orang yang lebih baik. Namun semenjak masuk kelas IX, Ilham sedikit demi sedikit berubah . Setelah kakaknya meninggal dunia akibat dianiaya genk motor, Ilham mulai berfikir kalau itu mungkin teguran dari Allah. Arsen kakak Ilham, harus meregang nyawa di tangan anggota genk motor. Padahal Kakaknya itu anak yang soleh, bahkan kebanggaan keluarganya. Semua keluarganya sering membanggakan Arsen bukan dirinya. Dahulu Ilham sempat iri dan merasa terasingkan dikeluarganya. Tapi saat kematian Arsen, dan melihat ibunya yang begitu terpukul. Ilham bangkit untuk keluarganya. Dia bertekad untuk membahagiakan keluarganya, dan bertekad mengabdikan diri kepada negerinya untuk menegakkan kedamaian agar tidak ada Arsen lain yang menjadi korban dari rusaknya moral anak bangsa. Ilham berubah ia tidak ingin menjadi orang yang merusak negerinya sendiri, harapannya suatu saat nanti Indonesia bisa menjadi negeri yang aman dan damai. Tanpa adanya k*******n atau Pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ayat terakhir dari surah Al-Mulk berhasil Ilham lantunkan tanda selesai ia mengulang hafalannya. Tidak lama  Agus datang dengan terburu buru menghampirinya sambil menyodorkan ponsel yang ada di tangannya. "Telphone  Ham" ucap Agus. Ilham mengangguk menerima ponsel itu, dan melihat nama si pemanggil.   Ibu callings.... Ilham mengangkat telphone dari ibunya. Kemudian duduk sambil menyandar pada tembok. Mengistirahatkan badannya yang terasa pegal. "Asalamualaikum, Ilham? "Iyah walaikumsalam bu" jawab Ilham, sambil menutup Al Qur'an dan menyimpannya diatas meja. "Kamu sehat nak?" "Alhamdulilah Ilham sehat bu, ibu sama bapa apa kabar?" "Ibu sehat nak, bapa juga sehat " Ilham bisa mendengar kalau ibunya sedang menahan tangis disebrang sana. "Syaqilla gimana bu?" tanya Ilham kembali. "Syaqilla sehat nak, dia kangen katanya sama kamu. Kamu kapan pulang nak? Ibu kangen sama kamu." Isakan ibunya mulai terdengar meski hanya samar samar namun Ilham bisa menebak bahwa ibunya memang sedang menangis disana. "Insya Allah secepatnya bu, Ilham pasti pulang." Jujur Ilham tidak tega mendengar tangis ibunya, sosok wanita terhebat yang telah membawanya pada posisi sekarang, doanya adalah s*****a paling ampuh dan kini sosok itu rapuh hanya karena menangisi dirinya yang sedang bertugas. "Ibu jangan nangis, Ilham pasti pulang kok bu. Ibu disana jaga kesehatan, Ilham mau istirahat dulu. Besok Ilham harus bangun pagi bu." Bukan istirahat tapi Ilham tidak ingin mendengar tangis ibunya yang terasa menggores hatinya. Anak mana yang ikhlas berpisah dengan orang tuanya selama berbulan bulan bahkan bertahun tahun, hidup jauh di negeri orang dan bahkan tidak ada kepastian. Tapi inilah resiko yang Ilham tempuh. Apapun hasilnya ini adalah jalannya. "Iyah,  kamu di sana baik baik. Jaga kesehatan kamu nak. Ibu tutup yah, asalamualaikum." Hingga sambungan telphone diakhiri oleh ibunya. Ilham menghela nafas, jujur dia tidak tega ibunya menangis karena dirinya. Tapi ini sudah menjadi tugasnya. Ilham pernah di tentang habis habisan oleh ibunya, ibunya tidak ingin Ilham menjadi anggota TNI. Alasan ibunya tidak ingin Ilham mengorbankan jiwa dan raganya. Ibunya tidak sanggup kehilangan Ilham. Cukup ibunya kehilangan Arsen dulu. Dan tidak untuk kehilangan Ilham. Tapi karena tekad yang kuat serta sudah menjadi takdir hidup Ilham untuk mengabdikan diri pada negeri Dan setelah Ilham menyakinkan ibunya bahwa umur itu Allah yang ngatur. Karena setiap manusia sudah diberi takdirnya masing masing. Manusia hanya mengikuti skenario yang Allah buat. Percayalah pada rukun iman yang ke-enam. Bahwa kita harus beriman kepada takdir-Nya. Dan dengan bantuan ayahnya, ibunya berhasil luluh. Dia mengijinkan Ilham untuk mengabdikan diri kepada negeri tercintanya. Untuk menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia, berseragam loreng, berkulit coklat manis, dan tentunya dengan perawakan tubuh yang enak untuk dipandang. Setelah sambungan terputua Ilham bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki untuk keluar dari mesjid. Sampai di kamarnya, Ilham melihat teman temannya sudah tertidur. Tidak ingin mengusik mereka, Ilham ikut merebahkan badannya. Kamarnya ini di tempati oleh sepuluh orang, semua teman temannya adalah keluarga bagi Ilham. Meskipun banyak yang berbeda agama dengannya, tapi Ilham tak sedikit pun membedakan mereka. Di barak ini Ilham tinggal, dan di sini pula Ilham memperjuangkan perdamaian. Perdamain itu Ilham rasakan juga dalam ikatan pertemanan seperti dengan salah satu temannya Emanoell, dia teman Ilham yang paling dekat dengan Ilham setelah Agus. Emanoell dia adalah teman Ilham yang memiliki keyakinan berbeda Emanoell memeluk agama kristen, dia adalah umat yang taat beragama, Memegang teguh prinsif agamanya. Bahkan ketika bertugas Emanoell lah yang akan menggantikan tugas Ilham ketika Ilham salat. Toleransi itulah salah satu cara menjaga perdamaian, bagaimana cara bersatu dengan orang yang berbeda dengan kita. Karena pada hakikatnya semua agama itu mengajarkan kebenaran namun terkadang umatnya saja yang salah mengambil jalan dan penafsiran. Dan kini Ilham merasa banyak memiliki keluarga baru. Ia bersyukur dengan hidup yang sedang ia jalani sekarang.  Karena sesungguhnya Allah sedang menyiapkan skenario yang indah untuknya. Karena Allah adalah sutradara terhebat. Ilham mulai berbaring memiringkan badannya kesebelah kanan, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Sebelum kemudian matanya terpejam dan memasuki alam bawah sadarnya. "Ilham, jaga dia. Bahagiakan dia jangan kamu sakiti hatinya, jaga ketulusan hatinya," suara yang menggelegar  itu terdengar seram. "Kamu siapa? Dia siapa? Saya harus menjaga siapa?" Ilham terbangun saat, tangan Agus mengenai wajahnya dan berhasil mengagetkannya. Ilham menggeserkan tangan Agus dan kemudian terbangun. "Suara itu lagi" ucapnya dalam hati lagi, lagi mimpi itu datang kembali. Diliriknya jam dinding yang menarik didinding barak kamarnya. Pukul tiga dini hari, mungkin alarm dari Allah untuk menyuruhnya bangun dan bersujud kepada Allah. Doa malam hari laksana anak patah yang melesat bebas pada sasaran tanpa hambatan. Allah memeluk doa hambanya dan mempertimbangkan untuk memberi apa yang hambanya meminta bukan apa yang meminta hambanya. ❤❤❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN