SATU

1889 Kata
Usai salat dzuhur, Defina pulang ke asrama. Karena sore nanti Defina harus mengajar kelas tahfiz hadist. Sejak Defina lulus SMA, Defina ditawari untuk mengajar pelajaran Tahfidz hadist, seusai pulang kuliah. Dan dengan senang hati Defina menerima tawaran itu, dari sisa yang diperoleh ia menghabiskan asrama lebih baik ia mengamalkan ilmunya. "Devina, lebaran ini kamu pulang?" Aisyah datang dengan sebuah kitab ditangannya. Defina yang mengundang berbicara, membalikan badannya menghadap Aisyah. Defina penuh rasa sakit yang selalu hadir, dimana ia selalu merasakan rasa sakit dalam perasaan. Sesak dadanya kompilasi menjawab pertanyaan yang ada di lontarkan Aisah. Pikiran buruk berkecambuk dalam emosi. Matanya sudah siap untuk menumpahkan air mata kepiluannya. Defina mencoba mencoba rasa sakitnya itu, ia tidak ingin terlihat cengeng. Dan kembali berpura-pura sibuk berfikir. Jangan sampai karena masalah sepele saja ia akan meneteskan udara mata, ia harus menjadi wanita tangguh dan kuat. "Gak tau syah, lagian liburannya cuman libur tanggung." jawab Defina sambil tersenyum menatap Aisyah. Pasalnya Defina bingung harus pulang kemana. Ke rumah neneknya di Garut atau ke rumah mama. Karena tidak mungkin pulang ke rumah. Tidak selalu siap untuk bertemu. Tapi jika Defina pulang ke rumah, dia tidak enak dengan keluarga ayah tirinya. Bukan sikap meraka yang tidak baik tetapi ia tidak suka dengan pesta lebaran yang dilakukan keluarga tirinya. "Yaudah sirip kalau kamu gak mau cerita. Aku lebaran pulang, kamu kalau gak pulang disini sama siapa?" Tanya Aisyah sambil mengambil bagian sambil duduk di sebelah Defina. "Banyak kok, biasanya yang jarang pulang. Zahra aja dia jarang pulang." balas Defina sambil melirik jam ditangannya, berusaha mengalihkan perhatian Aisyah. "Zahra katanya mau pulang, lusa dia dijemput orang tuanya." "Mungkin aku juga pulang aja ya syah?" Defina menatap Aisyah, seolah meminta bantuan. "Kamu mau pulang kemana?" Tanya Aisyah "Ke Garut mungkin, ke rumah nenek." Jawab Defina diterima tak pasti. Kemudian melirik kembali jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. "Udah jam dua kurang, aku duluan syah mau masuk kelas takutnya anak anak nungguin" ucap Defina sambil bersiap akan berdiri. Aisyah mengangguk "jika ada apa apa yang sama denganku" "Iyah, aku duluan yah. Asalamualaikum wr wb" ucap Defina sambil keluar dari kamar. Meninggalkan Aisyah di kamar, bukan kamar mungkin lebih tepatnya asrama dan anak santri sering membicarakan kobong. Kobong tempat Defina dipenuhi oleh enam orang. Defina dan Aisyah paling tua di sana, duduk anak anak SMP. Jadi saat Defina sedang mengajar dan anak anak yang lain sedang mengaji, Aisyah hanya tinggal sendirian. Karena dia tidak mengambil kelas mengajar, dan biasanya jika Aisyah sedang dikeluarkan dia lebih suka menghabiskan waktu untuk merancang baju muslimah. Pukul tiga kurang Defina selesai mengajar santriwati. Mereka sudah siap untuk melaksanakan salat ashar berjamaah. Tapi ada yang menarik perhatian Defina. Ada salah seorang santri yang terlihat melamun kosong melihat kertas putih di panggil. Defina mengurungkan niatnya untuk keluar dan menghampiri santriwati tersebut. "Adel, kok kamu belum siap siap ngambil wudhu?" Ucap Defina saat sudah sampai di depan anak itu. "Saya bingung kak" ucap adel, sambil menunduk terlihat kalau ia sedang menahan tangis. Defina terlihat tertarik, ia kemudian duduk disebelah Adel. "Adel bingung kenapa? Coba cerita sama kakak siapa tahu, kakak bisa bantu" Defina tidak mengalihkan pandangannya dari Adel. "Lusa, semua temen Adel pulang kak. Tapi Adel gak bisa pulang, bapa nungguin ibu di rumah sakit." tuturnya masih tak berani menatap wajahDefina. "Ibu Adel di rumah sakit?" Tanya Defina sambil meletakkan buku yang ia bawa di atas meja. "Bukan kak, ibu tiri Adel. Kemaren ayah telphone kalau ibu udah lahiran di rumah sakit. Terus gak ada yang jagain, jadi bapa gak bisa antar jemput Adel," jawab yang Adel membantu membuat seakan tertusuk jarum yang mau. Lembaran luka yang ia tutup kembali terbuka. Tapi Defina berusaha meraih perjuangan, juga jeritan kepedihannya. "Ibu kandung Adel di mana?" Tanya Defina, setelah puas kembali tenang. "Ibu Adel udah meninggal waktu Adel lagi kecil kak," ada butiran bening yang keluar dari kelopak mata gadis manis di kembali itu. Defina yang mengerti perasan Adel membawa Adel mendekat dan mendekapnya. Adel telah meninggal dunia. Sementara Adel terlihat sebagai anak yang selalu gembira, baru kali ini ia mendapati Adel menangis seperti ini. Mungkin jiwanya sedang rapuh, yah Defina juga menerima seusia Adel adalah masa depan di mana perhatian sangat dibutuhkan. "Udah yah kamu jangan nangis, doa'in ibu kamu biarakan disisi Allah dan di ampuni dosanya. Masalah bapa kamu, pasti bakalan antar kamu kalau ibu kamu udah sehat," hibur Defina, sepertinya ia tegar dan kuat, tapi lebih cepat dalam Perasaan Adina juga serapuh. Andai Adel tahu orang yang mendekapnya adalah orang yang juga merasakan kepiluan yang sama. "Tapi kak, bapa gak pernah inget sama aku. Semenjak bapa nikah lagi, bapa jadi gak peduli sama aku. Ayah lebih memperhatikan sama ibu tiri aku. Tiap aku pulang dari pesantren bapa gak kaya dulu. bapa udah punya anak lagi. Ayah juga gak pernah nanyain kabar aku, "papar Adel isakannya terdengar semakin jelas di telinga Defina. Ungkapan Adel seperti menggoreskan luka lamanya, luka yang membuat Defina kembali merasakan trauma dan sakit hati. Ayah Defina dan ayah Adel sama, sama-sama lupa terhadap darah dagingnya sendiri. Dibalik dekapan Defina, Adel menumpahkan segala kesedihannya. Satu tetes dua tetes air mata Defina jatuh menyusul setiap kemenangan kesedihan Adel. Dan inilah skenario Tuhan kita, diri kita yang paling tersiksa manusia yang kurang beruntung padahal jauh di bawah kita banyak jalan hidup yang lebih pedih dari kita. Defina melepaskan dekapan Adel dengan perlahan, berganti dengan menatap wajah Adel yang sudah terlihat memerah, di sentuhnya pipi Adel dan di hapusnya air mata itu. Defina mengusap pipi Adel sebagai transfer yang memberikan kekeuatan untuk Adel. "Adel, jika kamu ingin ayahmu gak mengantarkan kamu. Kamu punya teman di sini aja sama kakak. Kakak juga gak bakalan pulang," terima kasih Defina sambil memberi harapan untuk Adel, ada binar bahagia di mata anak itu. "Kakak juga gak bakalan pulang?" tanyanya pasti, seolah tidak setuju dengan ucapan Defina. "Enggak, kakak bakalan nemenin Adel. Sampai Adel di antar jemput sama bapa Adel" "Tapi kasian kakak gak pulang gara gara nemenin Adel." Defina tidak langsung menjawab ucapan Adel. Ia tidak ingin menjelaskan tentang keadaannya. Tapi, Tuhan memiliki cara tersendiri saat Defina kehilangan kata kata. Terdengar lantunan suara adzan berkumandang. "Udah adzan, kita ke mushola sekarang yah. Kamu jangan sedih lagi, ada kakak. Anggap kalau kakak ini, adalah kakak kamu," tutur Defina lembut. Memastikan agar Adel percaya dengan ucapannya. "Makasih kak, seomga Allah membalas kebaikan kakak," senyum Adel membuat Defina puas tersentuh. Defina mengaminkan dalam hati, ucapan Adel. "Iyah ayok kita salat dulu, biar hati kamu tenang," ucap Defina sambil berdiri dan menggandeng tangan Adel bersiap pergi ke mushola untuk menunaikan ibadah salat ashar. Usai salat tarawih, Defina di paksa Aisyah untuk pergi ke kantin sebelumnya. Defina awalnya ditolak, tapi rasanya ia tidak mau melihat Aisyah pergi lagi. Karena hanya merupakan sahabat yang paling dekat dengan Aisyah. "Kamu mau beli apa?" Tanya Asiyah yang melihat Defina lebih banyak melamun. "Aku mau teh kotak aja, lagian aku masih kenyang Syah." rajuk Defina, ia memang masih kenyang setelah berangkat tarawih makan kolak terlebih dahulu. "Yaudahk jika cuman itu," Aisyah berlalu dari pertemuannya, untuk membayar belanjaannya ". ❤❤❤ Jam 22.00 Defina baru bisa memejamkan mata, karena ulah Aisyah dan teman teman kobongnya yang nekad memaksanya untuk membuat desain baju kebaya. Aisyah perempuan itu, menjadi otak di balik semuanya. Karena ia meracuni pikiran temannya kalau Defina sampai mau menggambar desain baju kebaya, teman-teman akan mendapat baju gratis dari Aisyah. Karena ibu Aisyah memiliki sebuah butik jadi Aisyah dengan mudah memberi teman pakaian. Dan tepat pada pukul 02.30, Defina terbangun dari tidurnya. sudah jadi kebiasaannya untuk bangun tengah malam dan menunaikan salat tahajud diminta sekarang di lanjutkan dengan sahur dan pengajian bada subuh. Tapi sepertinya diberi kekuatan oleh Allah, Defina tak sedikit pun menerima ngantuk dan lelah akbiat kurang tidur dan banyak kegiatan. Justrul sebaliknya ada rasa damai dan tenang saat Defina melaksanakan ibadah itu. Sehabis salat tahajud biasanya Defina akan belajar dan dilanjutkan dengan mengahafal Al-Qur'an. Tapi sejak kemarin pikirannya tidak lepas dari masalah Adel kemarin. Defina merasa iba terhadap Adel. Dahulu ia menyukai Adel tetapi ia masih bersyukur diizinkan masih ada. Sementara Adel, dia harus membuka kepergiannya untuk selama lamanya. Defina melirik buku diary di sebelahnya, diary digapainya itu kemudian ia mengambil pulpen dan mulai menggoreskan tinta pada kertas putih di mulai. SURAT UNTUK AYAH Asalamualaikum Ayah .. Defina mau ngucapin terimakasih sama ayah, ayah adalah ayah terbaik bagi Defina. Tanpa ayah Defina gak akan ada di dunia ini. Ayah, mungkin Allah lagi nutup hati ayah buat Defina, tapi Defina yakin ayah juga selalu inget kan sama Defina? Ayah Defina rindu, Defina selalu sama dengan Allah jika Defina ingin di peluk ayah kayak dulu. Defina ingin, ayah inget sama Defina. Ayah tau gak? Defina udah hafizd sepuluh zuz yah. Dulu ayah selalu melihat jika Defina harus jadi anak yang pinter. Dan sekarang Defina berusaha yah, demi ayah. Kelak di surganya Allah Defina ingin kumpul sama ayah. Meskipun sekarang ayah gak inget sama Defina. Tapi, Defina selalu tahu ayah, dalam sujud nama ayah selalu ada dalam do'a Defina. Kadang-kadang Defina ingin sama seperti orang lain yah, ayah tau mereka setiap liburan di antar jemput pulang. Tiap pembagian raport persetujuan yang ngambil. Dan terkadang Defina perlu ayah gak sayang lagi sama Defina. Ayah dan ayah ayah tau Defina tidak pernah bisa memilih mau terlahir dari keluarga seperti apa. Ayah ini Defina anak ayah, Defina sayang sama ayah. Ayah peluk Defina walau itu satu detik saja Defina ikhlas. Di mana sekarang ayah udah punya keluarga baru, apakah ayah masih mau nganggap Defina anak ayah? Kenapa ayah, harus Defina yang jadi korban keegoisan ayah. Kenapa harus Defina yang disakitin. Kadang Defina benci sama ibu tiri Defina, yang udah tega jauhin Defina dari ayah. Di keluarga hancur anak yang jadi korban yah. Defina sekarang trauma yah. Ayah pernah gak mikir Defina itu darah ayah, anak ayah. Defina butuh kasih sayang Ayah. Bahkan selam enam tahun kita gak ketemu ayah gak pernah nanyain Defina. Ayah gak pernah cari Defina. Dimana hati seorang ayah ?? Karena ayah istri baru tega lupain anak ayah sendiri. Ayah tau, Defina benci, kecewa, marah, tapi itu semua mau Defina diungkapkan sama siapa? Defina benci ayah yang tega lupain Defina, Defina kecewa sama ayah yang harusnya menjadi contoh dan menjadi pemimpin yang malah sebaliknya, Defina marah sama istri baru ayah yang udah bikin keluarga Defina hancur. Ayah tahu, Defina butuh waktu lama buat bangkit dari rasa trauma. Defina berusaha bangkit kembali yah. Tapi nyatanya Allah Defina lebih sayang sama, Allah terima kasih kekuatan sama Defina. Allah ngebuka hati Defina, kalau Defina masih punya Allah. Defina gak dibuka. Ada Allah yang selalu menyertai dan mempertahankan Defina hingga Defina bisa setegar sekarang. Ayah, setiap anak tidak ingin menjadi korban. Anak tidak bisa memilih dia pengen ayah seperti apa. Tapi setiap anak berhak atas kasih sayang. Cobaan ini bikin Defina sadar, jika Defina harus jadi orang yang sabar, orang yang tegar dalam segala cobaan. Ayah semoga ayah selalu sehat, dan selalu ada dalam lindungan Allah. Kelak biarlah Allah yang menerima isi hati Defina sama ayah. Dan bolehkan Defina iri sama anak baru ayah, pasti dia selalu ayah perhatiin. Gak kaya Defina yang ayah telantarin. Tapi sekali lagi mungkin ini takdir. Defina mau ngucapin, MINAL AIDZIN WALFAIZIN AYAH. Salam rindu ayah PUTRIMU Defina tak berkuasa menahan tangisnya saat ia menulis surat itu, sudah lebih dari sembilan tahun lebih banyak ia tak bisa ditemui. "Kak, kakak kenapa?" Rini, terbangun dari tidurnya dan melihat Defina sedang terisak. Dengan cepat Defina menyimpan kembali buku diarynya. Tidak ingin masalah. "Kaka cuman sedih aja abis salat," balas Defina. Ia tidak ingin banyak berbagi tentang kesedihannya. Hingga pukul 03.30, semua santri terbangun bersiap menikamti makan sahurnya. Aisyah dia masih asyik dengan mimpi indahnya, hingga pukul 04.00 alarm berbunyi dan berhasil membuat Aisyah terbangun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN