Terkadang tak sesuai harapan, tapi disitulah letak keimanan mu akan di uji.
Defina
❤❤❤
Setelah kepulangan Aisyah kemarin, Defina selamat kesepian. Pasalnya hanya Aisyah yang selalu ada untuk menemaninya. Hampir semua santri pulang ke rumah masing-masing. Siapa sih yang tidak ingin berkomunikasi dengan keluarga termasuk miliknya sendiri.
Sebenarnya Defina bisa saja pulang ke rumah neneknya. Tapi entahlah mungkin lebih baik ia menghabiskan hari raya di lingkungan pesantren. Adel anak itu juga pulang kemarin di antar jemput tantenya. Anak itu pantas tidak mau pulang, karena ingin menemani Defina. Tapi Defina membujuk Adel untuk pulang bersama tantenya. Defina tidak ingin Adel merasakan kesepian yang sama dengan dirinya.
Defina melangkahkan pertemuan menuju perpustakan asrama. Terasa sepi, hanya ada beberapa santri yang masih tersisa. Mungkin mereka tidak pulang karena rumah mereka jauh atau mungkin ada alasan lain.
Saat sedang asyik dengan penglihatannya.
Ponsel dalam tas Defina bergetar, dengan cepat Defina merogoh ponsel dalam tasnya.
Pemanggilan Nenek ..
"Hallo asalamulaikum nek" Defina mengangkat sambungan telepon itu.
"Walaikumsalam de, kamu sehat de?" Tanya neneknya di sebrang sana.
"Alhamdulilah nek, Defina sehat nek. Nenek gimana sehat?"
" Nenek juga sehat, De lebaran ini kamu pulang ke rumah nenek yah. Nenek di sini gak ada siapa siapa. Ibu kamu bilang gak bakalan ke rumah nenek." Defina terdengar menghela nafas bingung. Itulah pikirannya, ia sedang tidak ingin bertemu dengan banyak orang. Tapi aku dengar neneknya. Hatinya seakan tidak mau pergi.
"Iyah nek, Defina sekarang minta ijin pulang dulu sama pengurus asrama. Abis itu Defina pulang." Helaan nafas nya seakan berat bagi Defina
"Mau di jemput de?" Terdengar ada binar bahagia dalam nada bicara neneknya.
"Gak usah nek, Defina bisa pulang sendiri kok. Nenek dirumah aja nunggu Defina pulang." Jawab Defina
" Yaudah kalau gitu nenek tunggu yah, kamu hati hati dijalannya," turur neneknya.
"Iyah nek Defina tutup yah, sekalian mau ijin dulu. Asalamualaikum." Defina meminta izin. Dan membalikan arah langkahnya, menuju ruang Ustadjah Nurul untuk meminta ijin.
Sampai di ruang pengurus asrama. Hatinya masih bimbang, tetapi ia sudah mengiyakan permintaan neneknya.
"Asalamualaikum." Defina mendesak salam, di depan pintu asrama.
"Walaikumsalam, masuk!" Terdengar dari dalam ruangan.
Buka pintu dan masuk.
"Defina, di sini duduk"
"Iyahh ustadjah." Defina duduk di depan ustadjah Nurul
"Ada apa de?" Tanya ustadjah
"Aku mau ijin pulang ustadjah, nenek teleponku. Katanya aku harus pulang." jawab Defina
"Oh, mau pulang de? Aku minta, kunci pintu kamarnya simpen di gantungan depan. Jangan lupa, sehabis lebaran, kamu harus ada di sini lagi." ucap ustadjah Nurul
"Iyahh ustadjah makasih, Defina pamit." Ucap Defina sambil menyalami ustadjah Nurul.
Jam tua malam Defina sampai di rumah neneknya, ia di sambut hangat oleh neneknya. Neneknya menangis haru saat, melihat kedatangan Defina. Sudah hampir dua tahun tidak bertemu neneknya.
"De, sering kamu kamu kesini. Nenek udah gak punya siapa lagi, ibu kamu udah jarang ke sini. Nenek cuma punya kamu." ucap neneknya, sambil mengambilkan makanan untuk Defina.
Ia dan neneknya berada di meja makan, neneknya menyiapkan banyak masakan untuk Defina. Ia terharu, ternyata masih ada yang bermasalah. Itu dianggap sudah tidak penting.
Sementara nenek dari membantah saja, seakan tidak peduli. Defina tidak pernah menanyakan kabar sedikitpun. Pernah dulu saat Defina menelphone neneknya, dan meminta kabarnya tapi malah di dinilai sibuk oleh neneknya itu. Karena itu Defina memilih mundur berlahan. Ia tidak ingin menambah bebannya pikirannya.
"De, jangan ngelamun gitu. Ayo makan pasti kamu udah lamakan gak makan masakan nenek." ucap neneknya terlihat antusias memasukan segala makanan ke piring Defina.
"Udah dulu nek, takut gak abis" ucap Defina menolak halus.
"Yaudah abisin dulu, abis itu kita salat isyha." Ucap neneknya.
"Iyahh nek" balas Defina
"Kamu udah besar, mungkin kamu tahu fakta yang sebenarnya." Neneknya masih setia, mengusap sayang dulu. Memang Defina hanya cucu satu satunya, hm bukan nyatanya ada cucunya yang lain dari keduanya, iyah Defina memiliki adik. Selain itu kakek Defina sudah meninggal sejak masih gadis dahulu.
"Fakta apa nek?" Defina menatap neneknya,
"Dulu, ayah kamu itu orang biasa. Dia tidak sesukses sekarang, saat itu ayah kamu cari kerja ke sana kemari gak diterima. Sampai nanti dia ketemu kakek kamu. Dia di angkat kerja jadi tukang pribadi, sampai bisa jadi pengusaha sukses seperti sekarang. " Ucap neneknya menghela nafas berat.
Defina mendongkakkan kepala menatap neneknya. Seakan mengerti itu Defina menunggu kelanjutannya, neneknya kembali menerima ucapannya.
"Saat itu juga ibu kamu tidak sengaja ketemu sama ayah kamu. Pertama kali kamu kamu ketemu sama ayah kamu, dia udah naruh hati. Tapi ayah kamu, sempat ditolak. Dan pada saat ini, ayah kamu, ayah, kamu baru saja memilih perasan ibu kamu. Mereka semula menikah dan punya kamu. Tapi semenjak pacar ayah kamu yang dulu dateng lagi, ayah kamu tergoda sama dia. " Defina merasakan udara menipis sekelilingnya, rasa puas seakan memenuhi rongga dadanya.
Neneknya menghela nafas "Lalu ayah kamu mutusin buat cerai sama ibu kamu"
"Tapi kenapa ayah gak pernah sayang sama Defina nek?" Tanya Defina dengan butiran tetes air mata yang turun dari kelopak lutut.
"Ayah senang gak sayang sama kamu, tapi ayah kamu lagi sibuk sama bisnis barunya. Kamu yang sabar yah, kamu masih punya nenek. Nenek janji mulai sekarang nenek bakalan sering jengukin kamu." Ucap neneknya
Defina hanya bisa diam, bibirnya kaku. Pikirannya tidak karuan, akan diambil yang akan terjadi.
"Besok kita saat Ied yah, sekarang kamu tidurnya sama nenek. Nanti nenek bacain kamu dongeng." Ucap neneknya.
Wajah itu, wajah neneknya sudah tidak semuda dulu. Sudah banyak kerutan di kulitnya juga rambut yang semakin hari semakin banyak berubah warna.
Defina berdecak kesal, "udah bukan anak kecil lagi nek."
"Bagi nenek kamu itu malaikat kecil nenek."
Defina bangkit dari tidurnya dan berhambur kepelukan sang nenek.
Dengan suara takdir yang menggema, dengan dekapan penuh sang nenek, dengan usapan lembut dikepalanya. Defina menumpahkan segala kesedihannya dan rasa sakit yang memenuhi rasa.
Takdir-Mu jauh lebih indah ya Allah.
❤❤❤
"Kamu tuh mau pulang gak bilang ibu."
“Ilham kan mau ngasih kejutan bu.” Ucap Ilham
Sejak tadi sakit kepulangan Tidak ada komentar segera tentang kepulangannya yang tidak ada kabar sebelumnya.
"Udah bu yang penting Ilham udah di sini, kumpul sama kita." Ilham tersenyum tipis.
"Pa, mau takbiran?" Tanya Ilham sambil memasukan potongan kue terakhir ke mulutnya.
"Iyah bapa mau takbiran, kamu mau ikut?" tanya bapaknya
"Gak usah lah pa, Ilham kan baru pulang kasian. Mending istirahat aja. Lagian ibu kangen." Ibunya lebih dulu menjawab pertanyaan yang dilontarkan meminta untuk Ilham.
"Iyah pa, Ilham masih cape. Gak kuat ngantuk banget." balas Ilham, tidak mau ikut tetapi kantuknya benar benar tidak bisa ia tahan.
"Yaudah bapa berangkat dulu," pamit bapaknya. Meninggalkan Ilham, ibu, dan adiknya.
❤❤❤
"Maafin Defina nek." Isakan Defina terdengar jelas diterima tetes demi tetes air mata yang keluar.
Neneknya mengusap perlahan kembali Defina, kembali ke dekapannya. Mendekap erat tubuh mungil sang cucu. Tubuh yang rapuh itu terlihat tegar dari luar tetapi neneknya mengerti tubuh tegar itu menyimpan seribu luka yang sulit untuk memudar.
"Nenek yang harus meminta maaf sama kamu, nenek belum bisa bahagiain kamu."
Tubuh Defina bergetar tangisnya semakin pecah, ia teringat dengan keluarga ayah karena diizinkan. Rasa puas itu tidak bisa tahan lama, hari ini dimana ia setuju dengan yang baru saja disetujui oleh sang nenek.
Defina mendongkak menatap neneknya, "nenek gak boleh nangis." Defina melihat butiran bening diwajah sang nenek.
Neneknya memulihkan air matanya, berpura-pura tersenyum.
"Udah ah kok malah nangis kaya gini. Harusnya kita seneng bukan malah kaya kaya gini"
Defina tersenyum, ia ikut menyaksikan air mata dan tersenyum menatap neneknya.
"Defina laper nek, mending kita makan." Ucap Defina, menarik tangan sang nenek untuk bangkit.
Neneknya tersenyum, "Ayok makan, bi Tati udah bikin opor ayam kesukaan kamu."
Sejenak dengan seperti ini Mungkin dari kemarin ia terlalu egois pada neneknya. Ia hanya butuh komunikasi yang baik dengan anggaran. "Abis ini kita jalan jalan" lanjut neneknya.
Wajar neneknya tidak banyak memiliki sanak saudara, neneknya hanya dua bersaudara. Saudaranya tinggal di Sumatera. Jadi setiap hari raya, hanya ada sanak saudara yang jauh saja yang datang untuk mengunjungi neneknya. Dan lebaran ini memungkinkan juga tidak bisa datang, karena keluarga besar ayah tirinya akan berbagi di rumah izin.
"Kamu mau apa aja topingnya de?" Neneknya mengambilkan makanan dengan bersemangat. Ia terlihat bahagia, Defina bersyukur atas hal itu. Ia berharap neneknya berumur panjang agar bisa menemaninya untuk melewati kehidupan yang semakin sulit.
Bersambung..........