Jodoh itu Allah yang ngatur, mau dia sembunyi dibawah kubur juga. Kalau udah jodoh gak bisa kemana.
penulis
" Ilham ibu punya kenalan anak tante Mira, dia anak nya baik, soleh, cantik juga."
Ilham menoleh saat ibunya berbicara seperti itu, seolah mengerti dengan ucapan sang ibu, sambil tersenyum Ilham berlalu dari meja makan menghampiri adiknya.
"Kamu mah kebiasaan, ibu lagi bicara ditinggalin gitu aja." Ibunya berjalan Iham, dan duduk disebelah berhenti.
Ilham hanya menggelengkan kepala dengan sikap. "Pa liat tuh kelakuan anak bapa"
"Apa sih bu, anaknya ada disini di omelin terus. Jauh di tangisin." Ucap, sambil membalikan halama koran yang di bacanya. Mungkin sudah bosan, sejak kemarin ibunya tidak berhenti mengenalkan Ilham dengan anak dari teman ibunya. Saat kemarin hari raya pun, setiap yang datang kerumahnya diperkenalkan padanya. Tapi Ilham menolak dengan halus, mereka semua. Ilham belum ada niat untuk merencanakan sebuah rumah tangga.
"Ibu cuma pengen liat Ilham punya pendamping, masa dari Ilham gak pernah kenalin satu wanita pun sama kita" ibunya belum juga bosan dengan kemauannya agar Ilham segera menikah.
"Kalau udah jodoh mahk pasti ketemu" ucap ucap.
"Iyah bu, belum ada yang cocok di hati Ilham bu, Ilham yakin jodoh Ilham udah diatur Allah." Balas Ilahm
Ibunya berdecak, anaknya memang diatur "Tapi jodoh juga gak bakalan dateng gitu aja ham."
"Ibu, Ilham ngerti perasaan ibu kaya gimana. Tapi Ilham udah pasrahin hati Ilham sama Allah. Biarkan Allah yang tentuin siapa pendamping Ilham. Ibu hanya perlu doain Ilham semoga Allah ngasih yang terbaik buat Ilham." Balas Ilham sambil menatap wajah ibunya.
"Yaudah, gimana kamu aja." Ibunya beralalu pergi dari hadapan Ilham.
"Gak papa kak, ibu emang suka kaya gitu. Dia cuman pengen kakak ada yang dampingin." Syaqilla anak itu seolah mengerti keadaan sang kakak.
Ilham mendekat kearah adiknya, mendekapnya erat. Sesuatu yang begitu sayang terhadap adik yang sudah ketinggalan zaman ia kehilangannya.
"Iyahh kakak ngerti kok, makanya kalau kakak lagi tugas kamu jagain ibu sama bapa."
"Iyahh aku pasti jagain kok, kakak kan udah jagain negara kalau aku jagain rumah." Polos balasan dari gadis yang baru menginjak kelas usia 6 tahun itu terasa mengharukan.
"Iyah, sekarang kamu lanjutin lagi yah bikin gambarnya." Ilham mengecup sekilas kening adiknya.
"Iyah aku lanjutin lagi, aku bikin gambarnya kita berenam." . Ilham simpan buku gambar adiknya. Keningnya berkerut bingung "kok berenam de."
Syaqilla menoleh ke arah Ilham, ia membawa gambar itu mendekat ke arah Ilham.
"Ini itu bapa sama ibu, ini bang Arsen, dan ini kak Ilham. Ini aku dan ini satu lagi yang bakalan jadi kakak ipar aku nanti. Jadi nanti aku gak main sendiri lagi. Nanti ada yang nemenin aku buat belajar." Ucapan Syaqilla yang polos dengan jari telunjuk yang bermain indah diatas kertas gambar nya.
Ilham tersenyum manis "Do'ain yah semoga nanti kakakbbisa cari kakak cantik dan bsik yang kuat buat kamu."
Mata Syaqilla berbinar "janji?" Ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Ilham tersenyum "janji".
Ilham belum siap dengan semua wanita yang mendekat padanya. Ia ingin m*****i kesucian mereka, Ilham hanya akan serius pada satu wanita yang benar-benar tidak membuat hatinya mantap untuk menikah. Ditengah tugasnya yang memiliki risiko berat Ilham membutuhkan seorang wanita yang kuat. Yang mampu bersabar dan menerima segala kekurangannya. Dan itu belum dapat menemukan dari semua wanita yang pernah ia kagumi.
Jangan mengumbar cinta sejati, demi sebuah pelampiasan sakit hati. Tapi jagalah cinta itu agar kelak ketika cinta sejati itu datang, tak akan ada yang tersakiti dan hatimu masih tetap suci.
"Lusa Defina pulang nek." Ucapan Defina membuat neneknya berhenti menyimpan buku di nasihat.
"Cepet banget pulangnya, nenek masih kangen" ucap neneknya sambil menyimpan buku di sebelahnya.
"Iyah nek, Defina harus masuk kuliah lagi kan." Jawab Defina.
Neneknya menggeser duduknya saat Defina, memegang tangan Defina dengan hangat.
"Yaudah, kalau gitu. Hati hati kamu di sana, kalau kamu udah lulus kuliah. Pulang aja ke sini, tinggal sama nenek. Nenek sendiri disini."
"Defina usahain yah nek, nenek juga disini jaga kesehatannya. Jangan banyak makan pedes." Ucapan Defina ucapan senyum manisnya.
"Kamu pulang mau bawa apa? Mau beli baju dulu? Atau kebutuhan kamu yang lain?" Tanya neneknya.
"Enggak nek, Defina gak mau bawa apa apa ribet." Balas Defina
"Nanti kamu pulangnya dianterin suami bi Tati aja. Jangan pulang naik kendaraan umum. Perintah gak boleh di bantah." Ucap neneknya seakan sudah mengerti dengan balasan sang cucu.
Defina menghela nafas pasrah "iyahh Defina ikut apa kata nenek." Neneknya tersenyum mendengaf balasan Defina.
"De kamu belum punya pacar kan?" Ucapan neneknya membuat Defina tersentak. Defina mencoba mencoba biasa, rasanya ia selalu mendengarkan pertanyaan seperti itu. Dari usia remaja hingga dewasa seperti sekarang Defina tak pernah merasakan apa itu cinta apalgi memiliki sorang pacar. Bahkan ia tidak pernah berpikir untuk memiliki pacar, calon suami saja kelak. Tapi Defina memiliki trauma yang berat terhadap kata yang membina rumah tangga ia takut gagal seperti orang tuanya dulu
"Belum nek." Balas Defina
"De kamu jangan sampe trauma sama kehancuran orang tua kamu dulu, kamu itu butuh pasangan hidup. Jika ada lelaki yang merekomendasikan serius sama kamu, suruh dia datengin nenek. Inget yah pesen nenek, kamu jangan pernah takut sama kegagalan orang tua kamu . Karena sekarang kamu udah dewasa kamu butuh orang yang bisa ngelindungin kamu. Nenek udah tua, nenek takut waktu nenek pergi ayah sama ibu kamu belum berubah. "
Setetes air mata jatuh di pipi Defina, mengiringi setiap kata yang terlontar dari sang nenek. Nenek nya benar tidak seharus nya Defina terlalu berkabung dalam masa lalu.
Neneknya menghela nafas "setiap orang sudah memiliki jalannya masing-masing, takdir mereka sudah tertulis jauh sebelum mereka ada di dunia. Begitu juga takdir kamu, takdir kamu beda sama orang tua kamu. Jangan kamu jadikan kehancuran mereka dulu sebagai benteng yang mengahalangi kamu untuk berubah. "
Defina tak kuasa mendengar ucapan nenek, ia berhambur kedalam dekapan neneknya. Menumpahkan segala kepedihannya disana. Segala rasa sakit yang selalu ia curhakan pada Allah terjawab dengan sendirinya.
"Makasih nek, nenek udah sayang sama Defina. Maafin Defina belum bisa bahagiain nenek. Belum bisa berbakti sama nenek." Defina semakin mendekap erat sang nenek.
Usapan lembut dipunggung, lanjutkan laporan terisak. "Nenek udah maafin kamu, justrul nenek yang harus minta maaf. Nenek kurang perhatian sama kamu. Kamu yang sabar yah, semua ujian dari Allah. Agar kamu bisa jadi orang yang kuat." Neneknya rilis dekapan Defina, yaitu air mata dipipi Defina.
Pesan "Kamu cantik" ucapan neneknya membuat Defina tersenyum tipis. Hatinya semakin mantap untuk melepas jauh rasa trauma itu.
♡♡♡