Kamu tahu, kenapa Tuhan menciptakan aku? Karena Dia sudah merencanakan untuk menciptakanmu.
.
.
.
Penulis
❤❤❤❤❤❤
Defina sisisa air mata di pipinya, dia menangis ketika berpamitan kepada neneknya. Ketika Defina berpamitan untuk kembali berangkat ke Ciamis neneknya begitu sedih. Nenek Defina berharap Defina bisa tinggal bersamanya.
Defina menghela Nafs dan menolehkan kepalanya ke arah luar, Defina mencabut semua rasa sesak dalam hatinya. Dalam mobil Defina hanya mampu diam, Mang Awit supir pribadi neneknya yang mengantar Defina pulang hanya bisa memperhatikan Defina.
Defina merogoh saku tas nya, dan mengambil Al-Qur'an di dalamnya. Defina mulai melantunkan, surah An-Naba.
Ayat demi ayat Defina baca dengan tenang, mengahayati setiap makna yang terkandung di dalamnya.
Tentang Berita Besar, kedatangan hari kiamat kelak. Defina meneteskan air mata, saat ia mengingat betapa pedih nya hari kiamat itu. Dimana keadilan akan di tegakkan, kesalahan akan ditampakkan. Dan kabar gembira akan menghampiri orang yang bertaqwa kepada Allah.
Defina tutup bacaannya ketika ia sampai di ayat empat puluh. Dia menyimpan kembali Al-Qur'an kedalam tasnya. Defina melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, pukul delapan pagi.
Dan perjalanan Defina belum mencapai setengahnya, Bi Tati yang berada di depan bersama Kang Awit tidak banyak bicara mereka lebih banyak diam. Mereka mengerti Defina butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
"Bi di tasik nanti mampir bentar yah ke tempat oleh." Defina akhirnya membuka suara.
Bi Tati menoleh ke belakang "iyah neng, neng mau beli apa ?." Ucap bi Tati.
"Defina mau beli oleh oleh aja bi, buat temen temen Defina."
❤❤❤
Motor yang ditumpangi Ilham melesat membelah jalan Nagreg yang cukup lenggang. Ilham dipanggil oleh atasannya untuk segera menghadap atasannya di Ciamis. Ilham terlihat gagah dengan seragam TNI yang melekat di tubuhnya.
Dalam perjalanannya Ilham hanya mampu diam, tapi hatinya tak lepas bergumam mengagungkan nama Tuhannya. Di usianya yang ke dua puluh enam tahun, Ilham belum mempunyai seseorang yang mengisi ruang kosong dalam hatinya. Ilham menjauhi kata pacaran karena menurutnya, itu hanya akan menghilangkan kehormatan orang yang di cintainya. Karena Ilham tidak ingin membuat wanita yang bukan mahramnya untuk menunggu, menunggu dirinya yang berjuang untuk sebuah hal yang penuh dengan ketidakpastian. Apakah ia pulang dengan keadaan selamat atau sebaliknya.
Walaupun ibunya memaksa Ilham untuk cepat menemukan pendamping hidup, tapi Ilham berusaha tenang meyakinkan ibunya. Kalau jodoh Ilham sudah di atur Allah. Ilham tidak ingin salah memilih pendamping hidupnya, tugasnya sebagai seorang prajurit TNI yang memiliki resiko yang tinggi. Dan Ilham menginginkan seorang wanita tangguh yang akan menjadi pendampingnya. Ilham yakin kepada Allah, kalau Dia sedang mengirimkan bidadari solehah untuk Ilham. Dan Ilham hanya perlu sabar menunggu kedatangannya, dengan cara memperbaiki diri karena jodoh adalah cerminan diri kita yang sebenarnya.
♡♡♡♡
Defina keluar dari dalam mobil diikuti bi Tati di belakangnya. Defina akan mencari oleh oleh untuk teman temannya. Gamis yang dikenakan Defina tertiup hembusan angin, wajahnya yang manis dengan bibir tipis tertarik membentuk senyuman. Menikmati hembusan angin yang menerpanya. Tidak lupa bibirnya tak henti mengucapkan lafadz "Alhamdulillah". Karena setiap detiknya Allah masih memberikan kekuatan dan berkah dalam hidupnya.
"Bi Tati ayo." Ucap Defina pada bi Tati sambil melangkahkan kaki nya untuk masuk kedalam tempat oleh oleh. Bi Tati mengikuti Defina dibelakanya.
Bi Tati tersenyum melihat wajah Defina yang sudah kembali tersenyum menghilangkan rasa kesedihannya.
Dan Ilham sedang memarkirkan motornya, kemudian turun dari motornya. Berjalan santai memasuki tempat oleh oleh. Di perjalanan tadi Ilham di telphone Agus, Agus meminta Ilham untuk membelikannya oleh oleh. Ilham berjalan menyusuri setiap rak yang terisi oleh berbagai macam oleh oleh. Mulai dari makanan sampai kerajinan tertata rapi di setiap rak.
Saat mendekat ke arah rak gantungan kunci, Ilham terkejut jantung nya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Pemandangan di depannya , membuat Ilham merasa sesak. Gamis polos dengan di balut kerudung Syar'i berwarna abu abu melekat pada tubuh seorang wanita yang membuat Ilham merasakan oksigen mulai menipis disekitarnya.
Wanita itu terlihat santai tanpa menoleh ke arah Ilham. Ilham teringat dengan mimpinya, Ilham ingat bahwa wanita itu adalah orang yang sering muncul di mimpinya. Mungkinkah itu wanita yang Allah pertemukan untuk Ilham.
Ilham berpikir untuk menegurnya, tapi saat di pikir kembali, wanita itu mungkin akan tersinggung jika Ilham tiba tiba menegurnya. Keringat dingin mulai keluar dari pori pori kulit Ilham. Dengan menjaga jarak, Ilham terus memperhatikan wanita yang selalu ada di dalam minpinya itu.
Defina berjalan ke arah kasir untuk membayar belanjaannya. Defina sempat menoleh ke arah pria yang berseragam TNI yang sedang memilih beberapa oleh oleh.
Defina hanya tersenyum tipis "Gagah" ucap Defina dalam hati. Bi Tati masih setia di belakang Defina. Menunggu Defina untuk membayar barang belanjaannya.
Ilham memeperhatikan wanita itu yang sudah selesai membayar belanjaannya, Ilham seperti mendapat sebuah petunjuk. Dengan rasa yang bercampur aduk, Ilham mendekati wanita itu.
"Maaf boleh nanya sama Tante bentar." Ucap Ilham saat sudah sampai di dekat wanita yang di icarnya itu.
Merasa ada yang berbicara Defina menoleh, mendapati seorang pria yang yang berseragam TNI tadi mendekat ke arahnya. Defina menundukan pandangan matanya, "Maaf mau cari siapa?" Tanya Defina.
"Saya mau nanya sama bibi ini." Ucap Ilham. Defina menoleh pada bi Tati yang terlihat kaget, Bi Tati terlihat pucat pasalnya yang ingin berbicara padanya adalah seorang pria TNI.
Defina masih menunduk, "silahkan saya bermisi" ucap Defina.
"Bi Defina tunggu di luar yah" ucap Defina pada bi Tati. Bi Tati hanya mengangguk dengan wajah yang terlihat panik.
Defina berjalan ke luar menyisakan Ilham dan bi Tati. "Maaf bi, saya Ilham. Maaf saya lancang untuk berbicara pada bibi. Saya boleh tanya sama bibi?" Bi Tati masih menunduk dengan gemetaran.
"Bo..bboleh." ucap bi Tati terbata bata.
"Saya mau tanya, wanita tadi saudara bibi?" Tanya Ilham. Bi Tati mulai mendongkakkan kepalanya, dengan tatapan tajam.
"Maaf bi saya gak maksud apa apa. Saya hanya ingin mengetahui namanya, saya sering mempimpikan wanita itu bi." Ucap Ilham dengan tatapan menyakinkan.
Bi Tati menghela nafas dilihatnya Ilham, ia merasa Ilham pasti orang baik. Entah ada kepercayaan dari mana bi Tati menjawab pertanyaan Ilham.
"Namanya Defina, dia tinggal di pesantren Al-Hikmah di Ciamis. Maaf saya permisi." ucap bi Tati dan berlalu pergi dari hadapan Ilham, tanpa banyak berbasa basi lagi.
Ilham tersenyum namanya unik dan cantik secantik orangnya, setidaknya Ilham sudah mengetahui tempat tinggalnya dan nama wanita yang selalu hadir di setiap malam dalam mimpinya.
♡♡♡♡
Di dalam mobil Defina tidak bertanya tentang pria itu kepada bi Tati. Tetapi kembali Defina mengingat sekilas wajah pria yang tadi mendatangi bi Tati.
Bi Tati menoleh ke belakang "Neng maaf pria tadi namanyaa Ilham, dia nanya sama bibi nama neng. Dia bilang neng selalu hadir di mimpinya."
Defina terkejut untuk pertama kali nya, ada seorang pria TNI yang bahkan ia tidak kenal sama sekali bertanya mengenai dirinya. Biasanya pria yang mendekat pada Defina hanya berani mengirim surat dari jauh. Dan setelah itu Defina abaikan, sisanya berakhir menyerah dan menjauh dari Defina. Kecuali satu pria yang selalu mengincar Defina hingga saat ini.
♡♡♡