Ketika kamu berjuang untuk mendekat kepada seseorang yang kamu sayang. Maka bersiaplah menyambut hari hari yang gelisah, karena pikiranmu terpusat padanya.....
Penulis
.
.
.
❤
❤❤
Pikiran Ilham berkecambuk, gelisah, bingung, semua campur aduk menjadi satu di dalam pikirannya. Dalam hati Ilham merapalkan nama Defina, wanita yang sering memenuhi mimpinya itu. Dan sekarang Ilham sudah mengambil keputusan untuk mendekat, mendekat kepada wanita yang masih asing dalam hidupnya.
Tapi entah ada keberanian dari mana Ilham seperti tertarik magnet untuk terus mendekat dan berusaha masuk ke dalam hidup Defina. Ilham begitu penasaran kepada Defina, Ilham yakin dari penampilannya Defina adalah wanita yang baik. Bahkan ketika berbicara kepada Ilham Defina menjaga pandangannya, dengan cara menundukan kepalanya.
Ilham membelokan motornya menuju komplek Batalyon, untuk menemui atasannya. Kemudian menepikan motornya di pos penjagaan untuk absen. Ilham berbasa basi sebentar dengan penjaga posnya, kemudian bergegas kembali melajukan motornya.
Ilham merasa kaget, pasalnya ia bersama pasukannya diminta untuk berangkat ke Palestina membantu orang orang Palestina yang sudah terancam oleh pasukan Israel. Ilham kaget karena rencananya begitu mendadak, tiga hari lagi Ilham harus kembali berjuang dan pergi lagi untuk kembali bertugas meninggalkan keluarganya serta seorang wanita yang baru saja Ilham temui, Defina.
Usai salat isyha, Ilham berencana untuk pulang ke Bandung meminta ijin kepada orang tuanya dan kembali ke Ciamis untuk berkumpul bersama pasukannya dan bersiap untuk berangkat ke Palestina.
Tapi saat di perjalanan Ilham teringat sesuatu, Ilham belum bisa tenang apabila sesuatu yang ada di pikirannya belum tuntas. Demi menghilangkan rasa penasarannya akhirnya Ilham membelokan arah motornya.
Ilham sampai di pesantren Al-Hikmah pukul sembilam malam, tapi masih banyak santri yang berkeliaran di luar pesantren. Satpam yang menjaga gerbang berjalan mendekati Ilham, membuka gerbang dan bertanya pada Ilham.
"Maaf mas, mau cari siapa yah?" Tanya satpam tadi, Ilham sempat membaca name tag nya Ridwan, nama nya Ridwan. lham berfikir tidak mungkin ia berbicara untuk menemui Defina,karena jelas dia tidak ada ikatan apa pun dengan Defina. Justrul Defina akan merasa risih jika Ilham bertanya langsung mengenai Defina.
"Maaf pa, saya Ilham mau cari pimpinan pesantren ini."ucap Ilham, entah Ilham mendapat keberanian dari mana tapi Ilham sudah terlanjur penasaran kepada Defina.
"Oh pa Kyai, ada mas di dalam mari saya antar." ucap satpam yang bernama Ridwan itu.
Ilham menghela nafas, untung saja satpamnya baik tidak banyak bertanya dan bersikap ramah kepada Ilham. Ilham membawa motornya masuk ke halaman pesantren dan memarkirkanya di sana. Pesantren ini cukup luas dan nyaman, saat masuk ke dalam rasa tenanglah yang menghampiri Ilham.
Ilham diantar oleh satpam ke sebuah rumah yang ada dilingkungan pesantren itu, satpam Ridwan mengetuk pintu yang bercat hitam itu. Saat Ridwan mengucap salam pintu di buka oleh wanita baruh baya yang kemudian menyambut Ilham dan Ridwan dengan ramah.
Ridwan pamit setelah berbicara kepada wanita paruh baya itu, bahwa Ilham ingin bertemu dengan Pa Kyai. Ilham dipersilahkan masuk kemudian duduk di ruangan yang cukup luas dengan kursi kayu yang tertata rapi di dalamnya. Kemudian muncul pria yang Ilham yakini itu adalah pimpinan pesantren tersebut.
Ilham berdiri kemudian menyalami tangan pa Kyai dengan sopan, pa Kyai mempersilahkan Ilham untuk kembali duduk. Ilham memperkenalkan dirinya dan memberikan identitas dirinya kepada pa Kyai. Pa kyai mengangguk tanda percaya kepada Ilham.
"Jadi maksud tujuan nak Ilham kemari ada apa?" Tanya pa Kyai.
"Sebenarnya maksud dan tujuan saya ke sini untuk bertanya mengenai wanita yang bernama Defina. Saya sering memimpikanya pa Kyai, padahal sebelumnya saya tidak pernah bertemu dengannya." Ucap Ilham menjelaskan semua yang terjadi pada pa Kyai.
Pa Kyai mengangguk dan berfikir sejenak, "Nak Ilham mau serius sama Defina?" Tanya pa Kyai kemudian.
"Insya Allah Pa, tapi saya tidak mengenal Defina. Mungkin Defina akan merasa asing pada saya apalagi saya hanya bertemu dia tadi siang itu pun tidak sengaja." tutur Ilham panjang lebar.
"Dari mana nak Ilham tahu kalau Defina mondok di pesantren ini?"
"Saya tahu dari seorang wanita yang tadi siang bersama Defina Pa Kyai." jawab Ilham
Pa Kyai mengangguk paham kemudian menepuk bahu Ilham.
❤❤❤
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Defina belum juga bisa memejamkan matanya. Padahal ia merasa lelah setelah menghabiskan perjalanan dari Garut ke Ciamis. Ia merasa begitu gelisah hatinya tidak tenang, padahal ia sudah membaca do'a bahkan muroja'ah lima zuz Al-Qur'an. Karena itu adalah kebiasaan Defina, sebelum tidur Defina selalu menyempatkan diri untuk kembali mengulang hafalannya.
Rini sudah tidur sejak tadi, Aisyah masih dirumahnya. Aisyah baru akan kembali ke pesantren besok hari.
Defina membalikan badannya menghadap sebelah kanan, kemudian mengecek ponselnya. Pukul setengah dua belas, mata Defina masih belum juga terpejam. Defina mencari daftar musik kemudian memutarkan solawat. Kemudian menaruh kembali ponselnya, dan mencoba memejamkan matanya di temani alunan solawat yang bergema ditelinganya.
Ilham melajukan motornya dengan pelan, jalanan masih sepi. Ilham merasa tenang setelah mendengar nasihat dari Pa Kyai, Ilham sedikit tahu mengenai Defina. Menurut pa Kyai Defina adalah korban keegoisan orang tuanya. Defina tinggal di pesantren sudah lama, Ilham mampu menangkap bahwa sosok Defina mempunyai beban hidup yang ia sembunyikan dibalik wajah cantiknya.
Ilham semakin mantap untuk masuk ke dalam hidup Defina. Ilham yakin Defina tidak akan mudah menerima orang baru, apalagi kehancuran keluarganya akan membuat Defina trauma. Ilham hanya mempunyai waktu tiga hari lagi sebelum keberangkatannya. Dan rencananya Ilham akan kembali ke pesantren Defina besok setelah ia pulang dari Bandung.
♡♡♡♡
"Apa kan Ibu bilang, hidup kamu itu gak bisa santai baru libur beberapa hari udah tugas lagi tugas lagi." Ibu Ilham berucap s***s saat Ilham memberitahunya tentang keberangkatan Ilham ke Palestina. Ilham mendekat ke arah ibunya, kemudian duduk di depannya menggenggam tangan ibunya dengan hangat. Mata ibunya sudah berkaca kaca, Ilham mengusap tangan ibunya. Menatapnya dan mencari kepercayaan di dalam sana.
"Bu ini kan udah tugas Ilham, mau gak mau Ilham harus nurut. Ibu ngerti yah Ilham cinta sama kerjaan Ilham. Ibu kan selalu bilang Ilham harus jadi anak soleh. Dan sekarang Ilham lagi berusaha bu, Ilham mau jadi anak soleh dengan cara berbakti pada negara." Ucapan Ilham malah membuat ibunya, meneteskan air mata. Entah air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan.
"Ibu cuman pengen kamu itu ada di sini gak pergi jauh jauh." Ucapan ibunya disertai isak tangis yang semakin terdengar jelas di telinga Ilham. Ilham bingung pasalnya kerjaannya adalah bagian dari hidupnya. Menjaga perdamaian, dimana dirinya di butuhkan.
♡♡♡♡
Makasih?