Mau sama aku? Simple kok coba kamu ambil ponsel, tulis nomor ayahku, bilang sama dia kalau kamu serius sama anaknya.
Penulis
♡♡♡
Jika cinta itu duri mungkin kamu tidak akan mau menyentuhnya, jika cinta itu api mungkin kamu tidak akan berani mendekatinya. Tapi jika cinta itu sebuah tanaman indah yang semakin kamu pupuk akan semakin subur, mungkin kamu tidak akan menolak untuk mendekat padanya.
Defina sedang menunggu kedatangan sahabatnya, Aisyah mengiriminya pesan bahwa dia akan segera sampai di pesantren. Defina rindu dengan sahabatnya itu, sebuah persahabatan yang di dasari niat karena Allah suatu saat akan menjadi penyelamat di padang mahsyar. In syaa Allah.
"Asalamualaikum," dari nada bicaranya, ia hafal sosok itu.
"Walaikumsalam."jawab Defina sambil membuka pintu.
Pintu yang di buka Defina belum terbuka sepenuhnya,tapi dengan gerakan yang gesit Aisyah telah berhambur ke pelukan Defina.
Defina hampir terjengkang ke belakang "Kangen." cengir Aisyah sambil melepaskan pelukannya.
"Iyah sama aku juga." balas Defina disertai senyum manisnya.
Aisyah masuk kedalam kobong diikuti Defina. Aisyah duduk dan menyimpan barang yang dibawanya, barang yang di bawa Aisyah cukup banyak. Defina sudah mampu menebaknya, jika isinya adalah oleh oleh dan stok makanan Aisyah untuk beberapa hari kedepan. Karena Aisyah mempunyai kebiasaan ngemil, alasannya simple daripada laper jadi penyakit mag mending makan saja.
"Orang tua kamu dimana?" tanya Defina yang penasaran dengan keberadaan orang tua Aisyah, biasanya ibunya akan mengantarkan Aisyah sampe ke dalam kobong.
"Udah pulang lagi , barusan juga buru buru. Katanya mau ada acara," Jawab Aisyah.
"Oh pantesan gak ikut ke sini." Defina ber oh ria, sambil menyodorkan air mineral pada Aisyah yang masih setia mengipasi wajahnya dengan koran bekas.
"Anak anak belum pada pulang Fin?" Tanya Aisyah setelah meneguk air yang diberikan Defina.
"Belum baru Rini, yang lain masih belum dateng." Balas Defina
Aisyah menyimpan koran bekas yang dipakai untuk mengipasi wajahnya. Dan beralih mengambil tas yang berada disebelahnya. Kemudin mengeluarkan segala isinya, Defina hanya tersenyum karena dugaannya benar. Isinya adalah stok makanan Aisyah.
"Buat kamu" Asiyah menyerahkan bungkusan pada Defina. Defina tersenyum "makasih tetehhh." cengir Defina pada Aisyah.
Defina memang sering memanggil Aisyah dengan sebutan teteh. Karena Defina merasa Aisyah adalah orang yang lebih dewasa darinya.
"Biasa aja mukanya."Balas Aisyah sambil membereskan kembali barang barangnya.
♡♡♡♡
Ilham tidak sempat menemui Defina, bahkan surat yang akan Ilham berikan untuk Defina hanya bisa ia kirim lewat kantor pos. Ilham sudah berbicara pada Pa Kyai di telphone, dan beruntungnya Pa Kyai mau membantu Ilham meyakinkan Defina.
"Ham ngelamun aja." Tanya Agus sambil duduk disebelah Ilham.
Ilham menoleh "Gus, saya punya seseorang yang saya tinggalin di Indonesia."
Agus terenyum pada Ilham "Akhirnya lo punya pacar juga." Jawab Agus sambil mengecilkan volume suaranya. Agus mengerti bahwa sahabatnya ini sedang bicara serius.
"Bukan pacar Gus, saya ketemu dia baru sekali. Itu pun gak sengaja, tapi dia sering muncul di mimpi saja. Dia anak pesantren, lagi kuliah semester tujuh." Ucap Ilham seolah sedang mencurahkan isi hatinya pada Agus.
"Terus lo udah bilang sama dia, kalau lo mau serius sama dia." Tanya Agus.
"Belum, kan keburu berangkat.
Cuman saya udah bilang sama Pa Kyai kalau saya mau serius sama Defina. Saya gak pernah main main sama perasaan Gus." Ucap Ilham mantap.
"Terus rencana lo sekarang apa?"tanya Agus.
"Rencananya, kalau dia mau nerima. Pulang dari sini saya bakalan bicara sama orang tua saya untuk ngelamar Defina." Jawab Ilham
Agus menepuk pundak Ilham "gue selalu berdoa yang terbaik buat lo ham."
♡♡♡
Usai salat Ashar Defina tidak langsung pulang ke asrama, karena Pa Kyai memanggil Defina untuk menemuinya di rumahnya. Defina tidak sendiri rencananya Aisyah akan menemaninya. Aisyah melipat mukenanya dan memasukannya kedalam tas.
"Ayo, katanya mau ke rumah Pa Kyai." Ucap Asiyah sambil bersiap untuk berdiri.
"Iyahh yuk." Balas Defina sambil berdiri dan melangkahkan kakinya untuk pergi ke rumah Pa Kyai.
Hati Defina gelisah, pikirannya sibuk memikirkan alasan kenapa ia dipanggil oleh pimpinan pesantren.
"Syah, aku takut." Ucap Defina sambil sesekali menggigit bibirnya untuk menghilangkan rasa gugup yang menyerangnya.
"Kenapa harus takut, kamu kan gak bikin masalah."
"Tapi kan gak biasanya pa Kyai panggil aku syah."balas Defina
"Udahlah ada Aisyah disini." Ucap Aisyah sambil tersenyum mencoba meyakinkan Defina, seolah dirinya adalah super hero yang akan melindungi dan menjaga Defina.
♡♡♡
Benar benar hal yang tidak Defina duga sebelumnya, kata kata Pa Kyai sore tadi benar benar membuat Defina bingung. Bagaimana tidak, Pa Kyai berkata bahwa ada seorang pria prajurit TNI bukan prajurit mungkin lebih tepatnya komandan, ahk entah atau semacamnya Pa Kyai lupa. Yang pasti ia berniat menjalin hubungan serius dengan Defina.
Hal itu membuat Defina kembali membuka goresan luka lama dalam hatinya. Memori kelam yang sudah Defina kubur dalam dalam kembali hadir dalam hidupnya.
Defina takut jika pria yang berniat serius itu seperti ayahnya dulu, dan berakhir dengan ayahnya yang pergi meninggalkan Defina dan ibunya.
"Fin, kamu udah baca suratnya?" Ucapan Aisyah sontak membuat Defina kaget.
"Belum Syah, aku takut. Gimana kalau dia cuman mainin hati aku, sama seperti ayahku dulu. Aku takut syah, dulu aku sering liat ibu di bentak bentak sama ayah." Ucapan Defina dibalas dekapan hangat dari Aisyah, Aisyah mengerti tidak mudah bagi Defina untuk membuang rasa trauma dan rasa sakit akibat perbuatan ayahnya.
"Fin, dengerin aku. Gak semua orang nasibnya sama, bahkan yang kembar aja bisa beda. Gitu juga kamu sama ibu kamu, belum tentu nasib kamu sama. Bisa jadi pria itu benar benar tulus sama kamu, buktinya dia sampe bela belain bicara sama Pa Kyai." Ucap Aisyah sambil mengusap punggung Defina hangat.
"Tapi Syah, aku masih gak yakin sama dia." Balas Defina.
"Yaudah daripada kamu galau mending kamu salat istikoroh minta petunjuk sama Allah. Fin, aku sahabat kamu tapi gak bakalan terus ada buat kamu. Lagian keluarga kamu jarang ada buat kamu. Nenek kamu yang sayang sama kamu udah tua Syah. Pasti di usia senjanya dia mau liat kamu bahagia." Sungguh Defina tersentuh dengan ucapan Aisyah. Sungguh Allah memang benar jika persahabatan yang didasari karena Allah akan menjadi persahabatan yang tulus. Dan Defina mendapatkan sebuah ketulusan dalam hubungan persahabatannya.
"Bantu aku untuk memantapkan hati Syah." balas Defina sambil melepaskan dekapan Aisyah dan beralih mengambil sebuah amplop yang masih terbungkus rapi.