TUJUH

1139 Kata
Percayalah apa yang sedang direncanakan Allah itu pasti lebih indah. Penulis... Defina tidak membuka surat itu melainkan menyimpannya, Aisyah tersenyum ia mengerti Defina butuh waktu untuk memantapkan hatinya. "Fin, laper" Aisyah seakan mengerti untuk mengalihakan perasaan Defina. "Makan yuk." Ajak Defina, seolah ia juga ingin melupakan sejenak beban hidupnya. Dan apa yang terjadi hari ini. "Ayok" Balas Aisyah. Defina dan Aisyah memang tidak ada jadwal mengaji, karena Defina dan Aisyah sudah lulus. Kadang mereka hanya akan menjadi pembingbing atau mengikuti kajian khusus saja. Jadi jadwal mereka tidak terlalu padat seperti adik kelas mereka, yang masih duduk di bangku SMP dan MTS atau SMA. Percayalah apa yang sedang direncanakan Allah itu pasti lebih indah. Penulis ♡♡♡ Defina memasukan alat tulisnya kedalan tas, jam kuliah sudah berakhir sejak lima menit lalu. Aisyah yang duduk disebelahnya sudah bersiap untuk pergi. "Udah yuk" ucap Defina setelah selesai memasukan semua alat tulisnya. "Yuk,langsung pulang ke asrama aja. Atau mau makan dulu?" Tanya Aisyah "Pulang aja lah, nanti beli makan nya di kantin asrama." Jawab Defina sambil mulai melangkahkan kakinya di ikuti Aisyah di sampingnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Defina dan Aisyah sampai di asrama putri. Tapi baru saja Defina akan melangkah masuk ke kobongnya, Rini datang dan mengabarkannya bahwa ibu Defina menunggu diruang tamu. "Teh kata ustadjah Salma, ibu teteh nungguin teteh diruang tamu." Ucap Rini "Ibu teteh Rin? yaudah teteh ke sana yah , makasih." Balas Defina, dengan perasaan yang masih tidak percaya. Ibunya datang untuk menengoknya itu adalah hal yang jarang sekali Defina dapatkan. "Iyah teh aku masuk duluan yah." Rini berlalu kemudian masuk kedalam kobong. "Syah aku temuin ibu dulu yah, kamu mau ikut?" Tanya Defina. "Enggak yah, aku laper. Hehe" ucap Aisyah sambil cengengesan. "Yaudah aku duluan yah" balas Defina, Aisyah bukan lapar tapi ia tidak ingin mengganggu Defina dengan ibunya. Mungkin saja diantara pembicaraan mereka ada masalah pribadi yang harus mereka selesaikan. Defina berjalan menuju ruang tamu sendirian, ditemani berbagai macam pikiran yang berekecambuk diotaknya. Haruskah Defina memberi tahu ibunya , jika ada seorang pria yang akan berniat serius padanya. "Asalamu'alaikum" Defina mengucapkan salam dan masuk menemui ibunya yang sedang berbicara dengan ustadjah Salma. "Wa'alaikumsalam." Balas ibunya dan ustadjah Salma. "Bu saya pamit dulu yah, ini Defina udah ada disini." Pamit ustadjah Salma yang dibalas ucapan terimakasih dan anggukan dari Defina dan ibunya. Defina duduk disebelah ibunya, dengan rasa canggung dan gugup. Ibunya berhambur kepelukan Defina, mendekap Defina erat. Defina yang juga rindu dekapan seorang ibu membalas dekapan itu dengan rasa bahagia. Bagaimana tidak Defina jarang bertemu ibunya, dalam satu tahun kadang sekali atau bahkan tidak sama sekali. Dan sekarang Defina merasakan dekapan yang ia rindukann. Tak ada yang lebih hangat dari apapun selain dekapan tulus dari seorang ibu. Meski ia acuh meski ia tidak peduli padamu, tapi percayalah ketika kamu merasakan dekapannya kamu akan merasakan kehangatan yang begitu nyaman. "De, maaf ibu jarang nengok kamu." Defina mendongkak menatap ibunya. Defina tersenyum meski dalam hati ia menjerit sakit, "gak papa bu, Defina ngerti ibu sibuk." "Ibu belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu De." Ucap ibunya yang mulai menampakan genangan air mata disudut matanya. "Gak papa bu, Defina gak papa kok. Ibu jangan sedih gini, liat Defina baik baik aja disini. Malah Defina nyaman tinggal disini bu." Balas Defina, seolah sedang meyakinkan ibunya bahwa dia baik baik saja. "Adek gak dibawa bu?" Ucap Defina mengalihkan pembicaraan ibunya. "Enggak, Zahra kan sekolah." Balas ibunya, sambil mengusap kepala Defina. "Oh iyah yah, salam dari aku buat dia bu." Ucap Defina. Meski dia tidak akrab dengan Zahra adik dari ibunya tapi tetap saja ia dan Zahra adalah saudara. Dilahirkan dari rahim yang sama. "Nanti ibu bilangin sama Zahra" balas ibunya. "Sebenernya, ada yang mau ibu sampaikan sama kamu. Tapi ibu mohon sama kamu kamu harus kuat yah sayang." ♡♡♡ Pikiran Defina benar benar kacau, hatinya bimbang. Terlalu banyak opini yang muncul kedalam pikirannya. Bagaikan angin tanpa mata arah, dalam sujud salat tahajudnya Defina menangis mengungkapkan semua kesedihannya pada Allah. Jiwa yang begitu gersang, hati yang begitu keras seperti batu tidak mudah untuk menerima setiap jalan yang sudah Allah berikan. Lama Defina,bersujud di atas sajadahnya hingga ia terbangun dengan genangan air mata yang tidak bisa lagi ia bendung. Defina menolehkan kepalanya ke sebelah kanan mengucapkan salam dan berbalik ke sebelah kiri kemudian mengucapkan salam. Di usapnya wajah yang sudah basah dengan genangan air mata. Kemudian membasahi bibirnya dengan dzikir kepada Allah. "Allahuakbar." Takbir yang ia ucapkan begitu menusuk hatinya, ia percaya jalan Tuhan lebih indah dari segalanya. Ia percaya kekuatan Allah akan membawanya menuju jalan yang lebih indah. Isakan demi isakan terdengar menyakitkan bagi Defina. Bagai mana tidak , pengakuan ibunya begitu menusuk hati Defina. Defina merasakan sakit yang luar biasa, dadanya sesak, hatinya seperti tergores belahan bambu yang tajam. Deburan ombak dan ganas nya samudera tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan. Cobaan demi cobaan Defina hadapi dengan ikhlas tapi untuk sekarang Defina merasa tidak sanggup. Defina ingin pergi jauh meninggalkan semua luka , ia ingin lari dari setiap masalah yang terus menghampirinya. Defina tersadar dengan pikiran buruknya, dengan cepat ia mengucap istigfar. Defina merasa bodoh, ia masih punya Allah. Bagaimana pun dan sesulit apa pun masalah yang ia hadapi pasti akan ada hikmah yang ia dapatkan. Ia harus kuat dan tegar agar orang lain tidak menganggapnya sebagai makhluk yang lemah. Defina menganggkat kedua tangan nya, memejamkan matanya. Mengeluarkan setiap keluh kesah dalam hatinya, dalam doa tahajud yang ia panjatkan hanya ada satu doa yang Defina minta. Defina berharap Allah memberi nya kesabaran, sabar dalam segala hal yang akan Defina hadapi kedepannya. Ketika hawa nafsu menguasai akal sehat pakailah hati untuk memilih. Ketika rasa gelisah itu hadir, ambilah wudhu basuhlah rasa gelisahmu dengan sejuknya air wudhu yang membasuh setiap anggota badanmu. Jangan berfikir Allah itu tidak adil, karena sesungguhnya apa yang Allah berikan adalah keadilan yang luar biasa. Defina mengambil Al-Quran dan melantunkannya, di mesjid hanya ada Defina. Dia sengaja salat tahajud di mesjid, ditemani rasa kesepian dan desiran angin yang terasa menusuk pori pori kulitnya. Dibukanya Al-Quran itu kemudian ia mulai melantunkan ayat demi ayat. Dalam setiap kata yang terucap diringi tetesan air mata yang kembali menetes. Di usapnya pelan air mata yang menetes dipipinya, kemudian ia tutup Al-Qur'an yang ada di hadapannya, diangkatnya Al-Qur'an itu kemudian didekapnya erat. Seolah Al-Qur'an itu adalah dekapan yang ia butuhkan. Allah memang benar nama lain Al-Qur'an adalah As-Syifa yang artinya adalah obat atau penyembuh dan benar saja Defina merasakan Al-Qur'an mampu membuat nya tenang dan percaya. Bahwa Allah akan memberinya jalan untuk menyelesaikan setiap masalah yang ada. ♡♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN