020

1267 Kata
Alex terbaring tak berdaya di ruang rumah sakit. Ia mencoba duduk, namun rasa sakit di tubuhnya masih terlalu kuat. Luka-luka itu wajar—di usianya, menerima cedera separah ini seharusnya membuat seseorang menangis kesakitan. Namun Alex bukan anak biasa. Ia menahan semuanya. Ia tahu, dirinya bukan lagi anak pengecut. Ia adalah seorang assassin—seseorang yang akan meneror siapa pun yang mengganggu dirinya dan anggota-anggota Number. Pikirannya melayang pada masa depan. Pada jalan yang telah ia pilih. Dan tanpa sadar, kelelahan akhirnya menang. Alex tertidur lelap. --- Mimpi buruk menyambutnya. Ia berdiri di depan pintu rumahnya sendiri. Tangannya terangkat, hendak mengetuk. Tiba-tiba pintu terbuka. Ayahnya keluar… membawa senjata tajam. Alex tersentak. Ia sadar—ini mimpi. Mimpi tentang saat ia diusir dari rumah. Namun ayahnya mendekat… lalu tubuh itu berubah. Menjadi iblis bersayap hitam, retak dan hancur. Dari sosok itu terdengar suara berat dan bergema: > “Wahai keturunanku… Mengapa kau melarikan diri… Padahal darah bangsawan mengalir di tubuhmu… Mengapa kalian menghancurkan keluarga kalian sendiri…” “Bangkitlah…” “Bangkitlah…” “Bangkitlah…” Wajah Alex diremas. Ia ingin melawan, tapi iblis itu memiliki pupil merah pekat. Teriakan itu terus menghantam kesadarannya, membawa hawa mencekam yang menyesakkan. --- “Bangkitlahhh!” Alex terbangun sambil berteriak. Napasnya memburu. Ia menoleh ke jendela di sebelah kanan—dan melihat pantulan matanya. Merah. Alex memegangi wajahnya, tak percaya. Saat itulah dokter masuk bersama seorang suster cantik. “Kamu tidak apa-apa?” tanya dokter cemas. “Hanya… mimpi buruk,” jawab Alex singkat. Dokter tampak lega dan menyuruh suster mengambil air. Ia bertanya lagi, kenapa Alex sampai berteriak begitu keras. “Aku tidak bisa menjelaskannya,” jawab Alex. Ia kembali menatap pantulan di jendela. Matanya… sudah kembali normal. Suster memberikan segelas air. Alex meminumnya, lalu meletakkan gelas itu di meja sebelah kiri. Saat dokter hendak mengambil obat, lengannya tak sengaja menyenggol gelas. Gelas itu jatuh— Namun bagi Alex… semuanya terasa melambat. Dengan gerakan refleks yang nyaris tak disadari, ia meraih gelas itu. Airnya tidak tumpah. Gelasnya tidak pecah. Dokter membeku. Tadi… aku menjatuhkannya… tapi dia menangkapnya? Alex menatap air di dalam gelas. Sekilas—matanya kembali memerah… lalu menghilang begitu saja. Keningnya berkerut. Ia mencoba tidur lagi, tapi tidak bisa. Dokter masih berdiri di sampingnya, menatap Alex dengan kagum—dan sedikit takut. Alex akhirnya mencabut infus dari tangannya dan berdiri. “Apa yang kau lakukan?” seru dokter panik. “Lukamu belum sembuh! Kamu belum boleh bangun!” Dokter menarik tangan kiri Alex—namun tubuh Alex sama sekali tidak bergeser. Kenapa dia menarikku? pikir Alex. Aku bahkan tidak menahan tenaga. Ia menarik tangannya sendiri. Dan dokter itu terhempas ke depan—jatuh tepat ke d**a Alex. Alex terkejut. “Dok, kamu tidak apa-apa?” Dokter refleks meloncat mundur—lalu malah terpeleset dan jatuh lagi. Alex bingung melihat kekacauan itu. Ia membantu mengangkat dokter yang tak bisa berdiri. Tanpa sadar— Ia mengangkat sang dokter dalam posisi bridal carry. Wajah dokter memerah hebat. Alex tidak peduli. Ia menaruh dokter itu kembali ke ranjang dengan cepat. Ini kesempatan. Alex langsung meraih pakaian dan topengnya. Tanpa menoleh lagi, ia bergegas keluar dari ruangan rumah sakit. Karena kali ini— Ia tidak berniat menunggu dokter mengejarnya lagi. Alex yang berhasil keluar dari rumah sakit tiba-tiba bertemu dengan 01, yang kebetulan datang untuk menjenguknya. 01 yang melihat wajah Alex langsung berkata dengan nada heran, “Apa yang kapten lakukan sepagi ini? Kenapa kapten tidak ada di ruangan rumah sakit?” Alex menjawab singkat, “Di mana hotel kalian?” 01 yang bingung dengan respons itu mencoba menjawab sekenanya, “Ada di sebelah gedung rumah sakit ini, Kapten.” Alex terdiam, sedikit kaget. Ia baru menyadari bahwa hotel tempat dia berencana beristirahat—dan sekaligus kabur dari kejaran dokter—ternyata berada persis di sebelah rumah sakit itu. Tanpa pikir panjang, Alex langsung berkata tegas, “Sewa satu kamar untukku sendiri.” 01 yang masih kebingungan dengan perilaku Alex hanya bisa menatap heran. Ia masih tidak habis pikir bagaimana kaptennya bisa kabur dari rumah sakit dalam keadaan luka separah itu. Dengan nada hati-hati, 01 bertanya, “Kapten, apakah luka Anda sudah sembuh?” Alex menjawab polos, “Sudah. Jadi cepat antar aku ke hotel itu.” 01 langsung bergegas memesan kamar hotel seperti perintah Alex. Namun belum jauh berjalan, Alex berteriak, “Hei! Kenapa kau tinggalkan aku dengan barang-barang ini?!” 01 menoleh, melihat Alex sedang kerepotan membawa koper besar dan tuxedo-nya. Ia menggaruk kepala dan mendekat, “Kenapa kapten berteriak begitu?” Alex menunjuk koper dan tuxedo-nya sambil berkata kesal, “Kau nggak bisa bantu sedikit, hah?” 01 tersadar bahwa dirinya memang kurang peka sejak tadi. Ia buru-buru mengambil koper itu dan membantu Alex berjalan. Mereka pun memasuki hotel. Resepsionis menyambut mereka dengan ramah. 01 langsung berbicara tanpa basa-basi, “Saya ingin memesan satu kamar hotel lagi.” Resepsionis tampak heran, “Kalian sudah memesan lima belas kamar sejak tadi malam. Kenapa ingin menambah lagi?” 01 hanya menjawab santai, “Sudahlah, aku hanya ingin kamarnya saja.” Resepsionis menghela napas lalu menegur halus, “Baiklah, tapi tolong jangan membuat kegaduhan di dalam hotel ini.” 01 melambaikan tangan sambil berjalan pergi, “Baiklah, wahai pria yang baik.” Alex yang tidak peduli dengan percakapan itu langsung menatap 01 dan berkata datar, “Di mana kunci kamarnya?” 01 menyerahkan kunci sambil menjelaskan, “Seluruh anggota pasukan Number ada di lantai 10. Kita memesan satu lantai penuh untuk tim kita, Kapten.” Tanpa banyak bicara, Alex merebut kunci itu dan melangkah menuju lift, meninggalkan 01 yang masih terheran-heran. Ia menaiki lift, keluar di lantai 10, lalu memasukkan kunci ke pintu kamarnya yang terkunci rapat. Begitu pintu terbuka, Alex terpana. Untuk pertama kalinya, ia menyewa kamar hotel bintang lima dengan uangnya sendiri. Dulu ia sering tidur di tempat mewah seperti ini, tapi semuanya dibiayai oleh ayahnya. Sekarang, semuanya hasil kerja kerasnya sendiri. Alex masuk bersama 01, lalu melepaskan tuxedo dan topengnya. Ia melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke koper yang dibawa 01. Setelah itu, ia menoleh dan berkata, “Pergilah ke kamarmu. Aku ingin membersihkan diri. Sudah lama aku tidak mandi.” 01 mengangguk dan meninggalkan kamar. Alex menyalakan air panas dan mengisi penuh bak mandi. Ia membuka semua pakaiannya, berdiri di depan cermin, dan melihat tubuhnya sendiri. Betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa luka di d**a dan punggungnya sudah sembuh total. Ia menatap refleksinya lama, lalu masuk ke dalam bak mandi. Air hangat menyelimuti tubuhnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, Alex merasa benar-benar menikmati ketenangan. “Ah… ini baru namanya nikmat dunia,” gumamnya pelan. Beberapa menit kemudian, setelah selesai merendam dan membersihkan tubuhnya, Alex membuat secangkir cokelat panas. Ia duduk di balkon, menikmati pemandangan kota London yang masih diselimuti kabut pagi. Udara sejuk, aroma cokelat, dan sinar matahari yang mulai muncul membuat suasana terasa damai. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Seekor elang terbang melintas di dekat hotel. Awalnya Alex hanya memperhatikannya sekilas, tapi kemudian burung itu terbang mendekat, dan Alex melihat ada gulungan surat yang terikat di kaki elang tersebut. Burung itu hinggap di pagar balkon. Alex dengan cepat mengambil surat itu. Begitu dibuka, matanya membulat — surat itu berasal dari Dark Spotter, organisasi yang menaunginya. Isinya singkat dan tegas: Sebuah misi baru telah menunggunya. Targetnya adalah narapidana berbahaya yang kabur dari Amerika dan kini bersembunyi di kota London. Tugasnya sederhana — bawa kepalanya. Alex mendengus kesal. “Dasar anjing sialan… aku baru saja sembuh dari luka pertempuran kemarin, dan mereka sudah memberiku misi lagi…” Ia menatap kertas misi itu sekali lagi, sebelum mengepalkan tangannya. Tatapan matanya tajam — tanda bahwa sang pemburu telah kembali bangkit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN