Pada suatu sore, sebuah helikopter terlihat membelah langit, terbang rendah menuju kawasan perbukitan terpencil. Di dalamnya, duduk dua sosok: seorang pria dewasa dan seorang remaja. Meski menggunakan jalur udara, perjalanan tetap memakan waktu hampir setengah jam. Namun, itu jauh lebih cepat dibandingkan jalur darat yang berliku dan berbahaya.
“Ketua, sebenarnya kita akan ke mana?” tanya remaja itu dengan nada penasaran.
“Sudah kubilang, jangan terlalu formal,” jawab pria itu santai. “Panggil aku Rey.”
“Baik… Rey. Tapi kenapa kita menuju perbukitan?”
“Karena markas kita ada di sana.”
Tak lama kemudian, helikopter mendarat di depan sebuah bangunan besar nan mewah. Bangunannya melebar, dengan desain elegan dan aura dingin yang langsung terasa bahkan dari luar.
“Di sinilah tempat tinggal kita,” kata Rey. “Ayo masuk. Mereka sudah menunggu.”
Alex melangkah masuk bersama Rey. Begitu melewati pintu utama, hawa pembunuhan langsung menyelimuti ruangan. Belum sempat ia mencerna suasana, tiba-tiba sebuah serangan mengarah ke dirinya. Dengan refleks cepat, Alex menahan tinju seorang wanita.
Wanita itu berhenti. Rambutnya panjang, tatapannya tajam.
“Lady,” kata Rey tegas. “Jangan menyerang wakilku. Dia masih baru.”
Wanita itu tersenyum miring. Dialah Lady, dengan julukan Misty Girl.
“Menarik,” katanya sinis. “Tunangan-ku yang dijuluki Terror of Life ternyata bisa selembut ini di depan anak remaja. Apa kau melemah, Rey?”
“Sudah,” potong Rey. “Kita masuk dulu. Lady, antar dia ke kamarnya. Setelah itu, bawa dia ke bawah. Kita akan mengadakan ritual penyambutan.”
“Hah? Kenapa harus aku?”
“Karena ini perintah.”
Lady mendekat ke Alex.
“Siapa namamu, Nak? Anak baik yang suka bikin masalah… atau anak nakal yang keterlaluan?”
“Namaku Alex,” jawabnya singkat. Dalam hati, ia merasa aneh—gugup berdiri di samping wanita secantik sekaligus berbahaya ini.
Lady tertawa kecil.
“Lucu juga.”
“Lady,” Rey memperingatkan.
“Oh? Cemburu?” godanya. “Tenang saja, suamiku.”
Alex dibawa ke lantai dua. Ia terkejut melihat kamar yang disiapkan untuknya—rapi, bersih, dan jauh dari bayangannya tentang markas pembunuh.
“Di lantai ini hanya ada enam kamar,” jelas Lady. “Ini untuk anggota bergelar. Anggota bernomor ada di tempat lain. Mereka hanya bawahan.”
Alex mengangguk pelan.
Saat berjalan melewati koridor, Alex melihat anggota bernomor bersikap sangat hormat kepada anggota bergelar. Pemandangan itu membuatnya terdiam. Dulu, bahkan pengawal di rumahnya sendiri sering meremehkan perintahnya.
“Apa tugasku di sini?” tanya Alex akhirnya.
“Memimpin misi, melatih anggota bernomor,” jawab Lady santai.
“Hanya itu?”
“Kita juga menyiksa dan menginterogasi tahanan sesuka hati.”
Mereka tiba di ruang bawah tanah. Lorong panjang dipenuhi sel tahanan. Bau busuk menyengat—bau mayat dan penderitaan. Tengkorak dan tubuh membusuk terlihat di balik jeruji.
“Ini…” Alex menahan napas.
“Tempat kerja kami,” jawab Lady.
Seorang pria keluar dari salah satu sel. Tatapannya kosong, auranya kelam.
“Black Mist,” sapa Lady.
“Interogasi selesai,” jawabnya singkat.
“Bagus. Istirahatlah. Malam ini ada pesta penyambutan.”
Alex dibawa ke ruangan paling ujung.
“Aku berhenti di sini,” kata Lady. “Sisanya urusan suamiku.”
Rey muncul dari balik pintu.
“Masuklah, Alex. Jangan berdiri seperti itu.”
Ruangan itu sunyi.
“Duduk,” perintah Rey.
Begitu Alex duduk di kursi yang disediakan, ia terkejut. Tangan dan kakinya terkunci otomatis.
“Rey… apa yang kau lakukan?”
Rey tersenyum lebar. “Aku akan mengubah hidupmu.”
Lantai kursi terbuka. Rey mengambil sebuah besi ukir berbentuk salib dengan tengkorak dan kode Amerika. Besi itu dicelupkan ke cairan kental, lalu dipanaskan di atas api.
Alex mulai panik.
Rey menempelkan besi panas itu ke punggung Alex.
“AAAAAA—!”
“Tahan,” kata Rey dingin. “Jika kau ingin bebas membunuh tanpa batas… kau harus merasakan ini.”
Rey mencabut besi itu, lalu mengambil pisau.
“Pembunuh sejati harus tahu rasa sakit—memberi dan menerima.”
Pisau itu menusuk tangan, kaki, dan tubuh Alex berulang kali. Jeritannya menggema di ruangan.
“Hentikan…!”
Rey hanya tertawa.
Bensin dan minyak tanah disiramkan ke tubuh Alex. Api menyala.
Jeritan memenuhi ruangan bawah tanah.
Ritual penyambutan telah dimulai.
Api masih membakar tubuh Alex. Ia berteriak dan meronta tanpa kendali, hingga kulitnya terkelupas dan beberapa helai rambutnya berubah menjadi kemerahan. Namun, di tengah jeritan itu, sesuatu berubah.
Teriakannya perlahan mereda.
Ekspresi wajah Alex mendadak membeku—dingin, kosong. Matanya yang semula normal kini berubah menjadi merah pekat, tanpa emosi.
Rey terdiam.
Ada apa dengan anak ini…
Kenapa ekspresinya berubah? Rambutnya… matanya…
Rey mengamati dengan seksama. Bocah ini sedang disiksa habis-habisan, namun wajahnya kini datar, seolah penderitaan itu tidak berarti apa-apa.
Siapa sebenarnya dia?
Tubuhnya dibakar, ditusuk, disiksa… tapi dia malah terlihat tenang.
Di sisi lain, suara dalam kepala Alex mulai bergema.
Ada apa dengan tubuhku…
Kenapa aku berteriak, tapi pikiranku begitu tenang?
Ia masih merasakan panas dari api yang membakar tubuhnya, namun anehnya—tidak ada rasa sakit. Tidak ada sedih. Tidak ada senang. Hanya keheningan emosi.
Oh… ya.
Aku lupa.
Aku sudah menghapus emosiku.
Aku menghapus diriku yang lemah… yang suka merengek di masa lalu.
Alex tersenyum tipis.
Hangat…
Api ini terasa nikmat.
Luka-luka yang Rey berikan perlahan terbakar, menyatu dengan panas api.
Tiba-tiba, api itu padam dengan sendirinya.
Alex berdiri tegak.
“Bagaimana?” katanya datar.
“Apakah penderitaan ini sudah cukup bagimu… atau masih kurang?”
Rey mengerutkan kening.
“Tidak… ini sudah cukup. Bahkan terlalu cukup. Ini persis seperti yang kau lakukan pada mereka.”
Rey menatap tubuh Alex.
“Lukamu… apakah sudah sembuh?”
Alex menunduk, menatap dirinya sendiri.
“Apa…? Kenapa lukaku sembuh?”
“Apa yang terjadi pada tubuhku?”
Rey menghela napas pelan.
“Sudahlah. Kami, anggota asosiasi, memperoleh kekuatan dari tato yang terukir di punggung kami.”
“Apakah kau ingin melihat tatomu?”
“Tato…?”
“Aku ingin melihatnya.”
Rey mengambil cermin besar dan menaruhnya di hadapan Alex.
Alex terdiam.
Tidak ada luka bakar. Tidak ada bekas api. Namun, bekas luka dalam masih membekas—dan di punggungnya terukir tato besar, rumit, dan mengerikan.
“…Keren,” gumam Alex.
“Seperti anggota gangster.”
Ia baru sadar pakaiannya telah habis terbakar.
“Aku butuh kain.”
Rey melemparkan sehelai kain ke arahnya.
Namun Rey tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perubahan Alex. Anak ini sebelumnya menjerit kesakitan—namun setiap kali matanya memerah, kepribadiannya berubah drastis. Seolah ia sudah akrab dengan kematian, seolah penderitaan adalah hal biasa baginya.
Siapa identitas aslinya…
Apakah dia memiliki gen tambahan dari orang tuanya?
Lamunan Rey terputus.
“Ayo, Rey,” kata Alex tenang.
“Kita sudah selesai di sini. Lebih baik kita ke atas dan menghadiri pesta penyambutan.”
Rey terdiam sejenak… lalu mengangguk dan mengikutinya.
Setibanya di atas, Rey menyuruh Alex mandi dan bersiap.
Alex masuk ke kamarnya.
Tubuhku terasa berbeda…
Sejak keluar dari ruangan itu…
Apakah aku benar-benar telah menjadi monster?
Rey, yang mengamati dari jauh, merinding.
Kepribadian ganda…
Jika anak ini ikut misi… hasilnya bisa mengerikan.
Setelah bersiap, Alex turun ke lantai bawah. Ia berdiri di depan ruangan pesta.
Apa ini…
Aku merasakan hawa keberadaan yang samar.
Ruangan itu ramai, penuh suara dan tawa—namun bagi Alex, semuanya terasa kosong, seolah keberadaan mereka tidak sepenuhnya nyata.
Ia ragu melangkah masuk.
“Alex,” panggil Rey.
“Masuklah. Kenapa kau menunggu di luar?”
“Baik.”
Namun tiba-tiba, Rey menghilang dari penglihatannya—dan dalam sekejap sudah berada di sampingnya, menepuk pundaknya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Mereka menunggumu.”
Alex mengangguk dan masuk ke ruangan.
Rey menyuruh seluruh anggota berkumpul. Ia menyerahkan segelas kecil pada Alex.
“Ayo,” kata Rey.
“Bersulang untuk anggota baru kita.”
“YOOOOO—!”
Sorakan menggema di ruangan.
Rey memperkenalkan anggota bernomor 1 sampai 15. Alex menyadari satu pria yang pernah ia lihat sebelumnya—pria itu diam, namun menatap Alex dengan tatapan dalam.
Kemudian Rey membawa Alex ke ruangan lebih dalam. Di sana terdapat meja bundar dengan enam kursi. Rey duduk, menyisakan satu kursi kosong.
“Alex,” kata Rey.
“Duduklah. Mulai hari ini, kau adalah bagian dari kami.”
Rey mulai memperkenalkan.
“Aku Rey. Julukanku—Terror of Life.”
“Tunangan-ku—Misty Girl.”
“Yang ketiga—Black Mist.”
“Keempat—Bleeding Girl.”
“Kelima—Dark Spotter.”
Rey menatap Alex, tersenyum tipis.
“Dan kau, Alex.”
“Kami akan memanggilmu—Bloody Moon.”
“Nama yang cocok… untuk p*********n yang telah kau lakukan.”