06

1280 Kata
Tepat pukul 06.00 pagi, dua pria terlihat sedang berduel sengit di halaman markas. Tatapan mereka tajam dan penuh fokus. Meski hanya menggunakan pisau belati asli, tidak ada sedikit pun rasa gentar di wajah keduanya. Alex—remaja yang berada di posisi terdesak—terus dipaksa mundur. Napasnya mulai berat, gerakannya semakin tertekan. Ia mengambil jarak, lalu kembali menyerang. Satu tebasan, dua tusukan, serangan demi serangan dilancarkan tanpa ragu. Namun Rey, ketua asosiasi, tetap tenang. Semua serangan Alex berhasil ia hindari dengan presisi tinggi, seolah sudah membaca setiap gerakannya. Hingga akhirnya—sebuah serangan telak berhasil mendarat. Tubuh Rey terpental cukup jauh. Alex tidak berhenti. Ia terus maju, seperti pion catur yang tak pernah mundur—terus melangkah meski harus dikorbankan. Rey mulai memahami pola serangan Alex, mencoba membaca ritmenya. Namun Alex juga tidak mau kalah. Ia memaksakan segalanya. Rey akhirnya melihat celah. Ia “memakan” pergerakan pion Alex, lalu membalas dengan tendangan counter yang mengarah ke dagu Alex. Benturan keras membuat Alex kehilangan kesadaran sesaat. Namun—itu adalah bagian dari rencana Alex. Seperti dalam permainan catur, pion memang sengaja dikorbankan. Saat Rey lengah, Alex menggunakan “kuda hitam” miliknya. Ia memanfaatkan momentum, lalu melancarkan counter balasan—tendangan keras yang mengarah tepat ke ulu hati Rey. DUAGH! Rey terhuyung. Napasnya sesak, tubuhnya sempoyongan. Tendangan itu benar-benar mengenai titik vital. Semua yang menyaksikan pertarungan itu terkejut. Rey—terpukul mundur oleh seorang remaja. Namun ternyata, itu juga bagian dari rencana Rey. Rey tahu, saat musuh melihat lawannya kelelahan, pertahanan akan mengendur. Dan itulah yang terjadi pada Alex. Dengan cepat, Rey menggerakkan kuda putihnya. Serangan balasan menghantam kuda hitam Alex—bomnya “terbunuh”. Rey melanjutkan dengan pukulan keras ke perut Alex, membuatnya terhuyung. Belum sempat Alex pulih, Rey melancarkan serangan lanjutan. Tendangan mengarah ke kepala. Alex mencoba menahan secara refleks—namun gagal. Tubuh Alex terpental jauh dan jatuh keras ke tanah. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya tak lagi sanggup berdiri. Kesadarannya memudar. Kemampuanku… masih belum cukup, pikirnya. Aku harus lebih kuat. Siang harinya, Alex dibantu Rey menuju ruang makan. Meski tubuhnya masih terasa sakit, Alex menunduk hormat. “Terima kasih,” ucapnya tulus. “Karena telah melatihku sekeras ini.” Belum sempat Rey menjawab, suara lantang terdengar. “Sudah, sudah!” Lady memanggil seluruh anggota bernomor dan anggota bergelar untuk makan. Sikapnya benar-benar seperti seorang ibu yang sedang mengurus anak-anaknya. “Hay, Kak Lady,” tanya Alex. “Apa menu hari ini?” “Sayuran dan daging panggang.” Sekilas keheningan… lalu terdengar suara mengeluh. “Kenapa ada sayuran di piringku?” “Aku tidak suka sayuran!” Seorang anggota bernomor hendak membuangnya—namun Lady langsung menghentikannya. “Kosong sembilan.” “Berani sekali kau membuang sayuran di hadapanku.” Suaranya dingin. “Lakukan itu sekali lagi, dan akan kupenggal kepalamu. Aku jadikan hidangan di piring yang sama.” Ruangan langsung sunyi. Tidak ada lagi yang berani berkomentar. Semua menunduk dan mulai makan dengan patuh. Alex menatap Lady. Dia… sangat mirip kakakku, batinnya. Rey memperhatikan ekspresi Alex, lalu berkata pelan, “Sudahlah. Jangan pikirkan itu. Habiskan makananmu.” “Kau mendapat tugas baru,” lanjut Rey. “Kita akan menginterogasi seorang teroris yang mencoba berulah di wilayah kita.” “Aku ikut,” jawab Alex mantap. Alex segera menghabiskan makanannya dan berdiri. “Terima kasih, Mom Lady. Masakannya enak sekali.” Lady terdiam… lalu tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya, seseorang benar-benar menghargai masakannya—bukan mengeluh soal sayuran. Namun tiba-tiba, terdengar suara lagi. “Sayurannya masih—” CLING! Sebuah garpu melesat cepat ke arah pembicara. Targetnya—Rey. Namun Rey, seorang assassin kelas atas, dengan mudah menghindar. Garpu itu menancap di dinding. Lady membelalak. “Ma—maaf, Rey! Aku refleks!” Rey tertawa kecil. “Sudahlah, istriku. Jangan terlalu keras pada mereka.” Lady menunduk malu. “Tidak mungkin assassin terhebat sepertimu terkena serangan garpu.” Namun di dalam hati, para anggota berpikir sama: Misty Girl adalah pelempar pisau terbaik kami. Siapa pun yang menjadi targetnya… tidak pernah lolos. Dan satu-satunya orang yang bisa menghindari lemparannya— hanya Rey. Rey dan Alex berjalan menyusuri lorong sempit yang menurun ke bawah tanah. Lampu-lampu redup memantulkan bayangan panjang di dinding beton, menciptakan kesan dingin dan menekan. Udara di tempat itu terasa berat, seolah menyimpan jeritan masa lalu. Mereka memasuki sebuah ruangan. Di tengah ruangan, seorang teroris terlihat terikat di kursi besi. Kepalanya tertunduk, napasnya berat. “Perhatikan baik-baik,” ucap Rey dengan nada tenang namun berbahaya. “Inilah caraku menginterogasi.” Ia menoleh pada Alex. “Tutup pintunya. Kita tidak ingin suaranya keluar.” Alex menuruti. Pintu besi ditutup rapat. Klik. Sunyi. Rey mendekat perlahan. “Baik,” katanya sambil tersenyum tipis. “Kita mulai. Kau mau bicara… atau tidak?” Pria itu tertawa kasar. “Dasar anjing pemerintah. Aku tidak akan memberi kalian apa pun.” Senyum Rey tak berubah. Gerakannya cepat—sebuah pisau melesat, menancap di paha pria itu. Teriakan menggema di ruangan. “Aku tidak peduli,” pria itu masih berusaha menantang. “Aku tidak akan bicara.” Rey menarik pisaunya dengan tenang. “Kau keras kepala,” ujarnya pelan. “Aku suka itu. Tapi biasanya… tidak bertahan lama.” Ia mengambil pisau lain—lebih besar. “Ayo kita lihat,” lanjut Rey, matanya berbinar. “Sampai sejauh mana ketahananmu.” Waktu berlalu. Teriakan berubah menjadi rintihan. Perlawanan berubah menjadi ketakutan. Rey tetap berbicara dengan suara datar, seolah sedang mengerjakan sesuatu yang biasa ia lakukan setiap hari. “Ini bisa cepat,” katanya. “Asal kau tidak berisik.” Namun pria itu tetap membisu. Rey menghela napas, lalu berdiri. “Baik. Kita ganti pendekatan.” Dua jam kemudian— Alex berdiri di sudut ruangan, matanya tak berkedip. Di hadapannya kini hanya tersisa sesosok tubuh yang nyaris tak lagi dikenali sebagai manusia—lebih mirip boneka rusak dari mimpi buruk. Aneh… Dulu aku takut melihat boneka anatomi di laboratorium IPA, pikir Alex. Sekarang… aku melihatnya secara nyata. Namun yang membuat Alex merinding bukan pemandangan itu—melainkan hawa dari Rey. Rey membuka topengnya dan menghela napas panjang. “Pengap,” katanya santai. “Dan percuma. Dia mati tanpa bicara.” Ia menoleh ke Alex. “Ada satu lagi. Yang terakhir milikmu.” Alex mengangguk perlahan. Saat mereka berjalan menuju ruangan berikutnya, Rey berhenti sejenak. “Dengarkan aku,” ucapnya serius. “Jangan langsung membunuhnya. Jika terjadi pendarahan… kau tahu harus apa.” Alex tersenyum tipis. “Paham.” Ia masuk ke ruangan itu sendirian. Begitu pintu tertutup, aura Alex berubah. Rey yang mengamati dari luar terdiam. Inilah kepribadian gandanya… Gen itu benar-benar bangkit. Di dalam ruangan, teroris kedua mulai gemetar. Napasnya tercekat—bukan karena rasa sakit, tapi karena tekanan keberadaan Alex. Ini bukan pemburu biasa… pikirnya. Ini monster. Alex mengambil sebuah gunting dari meja. Rey refleks bertanya dari luar, “Untuk apa gunting—” “Diam,” jawab Alex singkat. “Dan lihat.” Alex mendekat, berjongkok sejajar dengan wajah teroris itu. “Kenapa kau diam?” katanya lembut, hampir seperti bercanda. “Kau tahu… itu membuatku kesal.” Gunting itu bergerak. Bukan cepat. Bukan brutal seperti Rey. Namun tepat. Setiap gerakan dibuat untuk melumpuhkan, bukan membunuh. Teriakan menggema—namun Alex tetap tenang, bahkan tersenyum. “Aku orangnya baik,” katanya ringan. “Aku tidak menghancurkan tubuhmu seperti Rey.” Ia mencondongkan kepala. “Aku hanya merusak… dirimu dari dalam.” Tubuh teroris itu mulai kejang. Kesadarannya terpecah antara rasa sakit, ketakutan, dan keputusasaan. Alex menatapnya tanpa emosi. “Lihat dirimu,” ucapnya pelan. “Kau bahkan tidak terlihat seperti manusia lagi.” Teriakan terakhir pecah—lalu terputus. Alex berdiri, membersihkan tangannya dengan kain. Ekspresinya kembali datar. Di luar ruangan, Rey tersenyum tipis. Benar-benar… Bloody Moon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN