Hari Senin, 01 Mei, pagi hari.
Seorang remaja terlihat mengendarai mobil di sebuah jalan besar di Amerika Serikat. Tatapannya fokus ke depan, tetapi pikirannya sibuk memikirkan misi pertamanya.
Bagaimana caranya…
Target pertama yang harus ia tangkap adalah seorang p**************a.
“Apa aku harus mencarinya di diskotik?” gumam Alex.
Ia menggeleng pelan. Tidak. Terlalu ceroboh.
“Langkah pertama adalah informasi.”
Alex memarkir mobilnya di area parkir dekat apartemen. Ia kemudian masuk ke kamar yang telah ia pesan sebelumnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung membuka laptop khusus yang diberikan oleh Presiden—alat yang disiapkan untuk membantunya menjalankan misi.
Alex mulai menjelajah situs-situs terlarang. Situs judi, forum gelap, jaringan transaksi ilegal—satu per satu ia masuki. Hingga akhirnya, sebuah foto muncul di layar.
“Itu dia…”
Wajah pria itu cocok dengan foto target yang diberikan oleh ketua sebelumnya.
Lokasinya… tidak jauh dari apartemenku.
Alex tersenyum tipis.
“Aku akan menghubunginya… sebagai konsumen.”
Ia mengirim pesan dengan gaya pembeli biasa. Bertanya soal jenis barang. Menunggu tawaran. Menanyakan harga. Semuanya berjalan lancar.
Namun saat Alex memberikan alamat—sebuah gang gelap di belakang apartemen—target menolak.
Dia main aman.
Tak lama kemudian, balasan datang.
Target mengajaknya bertemu di sebuah diskotik.
“Baik,” gumam Alex. “Akan kuladeni.”
Malam Hari
Alex sudah mengumpulkan informasi tentang diskotik itu. Ia memarkir mobil di belakang bangunan—jalur rahasia untuk kabur jika terjadi sesuatu.
Begitu tiba di pintu masuk, nostalgia menghantamnya. Lampu gemerlap. Musik keras. Keramaian.
Ia masuk tanpa diperiksa senjata, hanya diminta memakai topeng mata untuk menyembunyikan identitas.
Di dalam, ia diarahkan ke ruangan khusus. Dua penjaga berdiri di depan pintu.
Saat masuk, Alex langsung menyadari satu hal.
Empat pengawal.
Dan semuanya bersenjata.
Diskusi berlangsung singkat. Namun Alex bisa merasakan perubahan suasana.
Mereka sadar.
Tiba-tiba—
Satu pengawal mencoba memukul dari belakang.
Alex menghindar.
Pengawal lain menyerang dengan pisau.
Alex memutar tubuh, merebut pisau itu, lalu—
Sret!
Paha pengawal pertama tersayat. Ia jatuh sambil menjerit.
Pengawal kedua menendang ke arah kepala Alex.
Gagal.
Alex menusuk lehernya tanpa ragu.
Dua pengawal lain mencoba menyerang bersamaan.
Alex mengeluarkan pistol rakitan dengan peredam suara.
Pfft. Pfft.
Dua tubuh jatuh tanpa suara.
Tersisa satu orang.
Pengedar itu bersujud, gemetar.
“T-tolong… ampuni aku…”
Namun kepala pria itu sudah lebih dulu melayang dan masuk ke wadah pengawet yang telah Alex siapkan.
Dua penjaga di depan pintu berusaha masuk.
Alex menodongkan pisau.
“Aku beri kalian pilihan,” katanya dingin.
“Pertama, mati.”
“Kedua, bekerja sama denganku.”
Ia menatap mereka tajam.
“Bos kalian sudah mati. Kalian bantu aku membereskan mayat ini… atau ikut mati.”
Enam Hari Kemudian
Ini adalah misi terakhir.
Alex kini menyamar sebagai pengawal pengedar berikutnya—sampah terakhir dalam daftar.
Ia mengikuti target ke mana pun pergi.
Satu per satu pengawal asli telah ia bunuh dan gantikan.
“Capek…” gumam Alex.
“Seharian ngikutin b******n ini dengan pacarnya.”
Siang hari berlalu.
“Malam ini,” katanya pelan. “Aku bunuh kau.”
Malam
Target akhirnya kembali ke penginapan.
“Ambilkan aku makanan,” perintahnya.
Setelah makan, pria itu tiba-tiba memegangi kepala.
“Apa yang kau berikan padaku…?”
“Tenang,” jawab Alex santai. “Hanya obat pusing. Dosis tinggi. Kau tidak akan mati… cepat.”
Target menatapnya panik.
“Kau bukan pengawalku… siapa kau?!”
Alex tertawa.
“Hahaha… baru sadar sekarang?”
“Kau tahu rasanya mengikutimu seharian sambil menyamar?”
Alex mengambil payung yang tergeletak.
“Lihat ini,” katanya pelan.
“Payung yang kau pakai siang tadi…”
Payung itu menancap ke perut target.
“…sekarang ada di tubuhmu.”
“Hahahaha…”
“Aku akan menyiksamu pelan-pelan. Bersiaplah, bangsat.”
Beberapa jam kemudian, Alex kembali ke apartemennya.
Di tangannya, sebuah kepala baru.
Ia menaruhnya bersama kepala-kepala lainnya.
“Misi selesai.”
Hari Senin, tanggal 08, pagi hari.
Terlihat seorang remaja masih tidur terlelap di dalam kamarnya. Tubuhnya terbaring santai seolah dunia di luar tidak ada artinya.
Suara alarm berbunyi nyaring, sangat berisik, berulang kali. Namun Alex sama sekali tidak bergeming. Alarm seakan berteriak sekuat tenaga, tetapi tetap saja tidak mampu membangunkannya.
Tiba-tiba—
Tok… tok… tok…
Pintu diketuk.
Alex langsung terbangun. Matanya membelalak.
Hari ini… hari di mana misiku selesai.
Ia segera bangkit dan membuka pintu.
Betapa terkejutnya Alex ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya adalah sekretaris Presiden Amerika Serikat.
Namun karena masih setengah sadar, Alex mengira orang itu hanyalah pelayan.
“Hhhhaaa… apa yang kau inginkan?” ucap Alex dengan suara serak.
“Aku tidak ingin memesan apa pun. Lebih baik kau pergi sekarang. Kau mengganggu waktu hibernasiku.”
Wajah sang sekretaris langsung mengeras.
Tanpa banyak bicara, ia menghantam perut Alex dengan keras.
“Ugh!”
Alex tersentak. Kesadarannya langsung kembali penuh.
Baru saat itu ia menyadari—orang yang ia sebut pelayan barusan adalah sekretaris presiden.
Alex langsung berubah sikap.
“He—he… Pak Sekretaris!” katanya sambil tertawa canggung.
“Senang bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu? Sudah lama menunggu di luar? Silakan masuk, kita bisa minum—”
“Sudah cukup,” potong sang sekretaris dingin.
“Aku benci dipermainkan.”
Ia menatap Alex tajam.
“Mana tangkapan yang kau janjikan dalam satu minggu terakhir? Jangan bilang kau belum menyelesaikannya. Aku paling benci orang yang berbohong. Paham?”
Alex menghela napas.
“Tidak. Aku sudah menyelesaikannya,” jawabnya tenang.
“Masuklah. Aku ke kamar mandi untuk bersiap.”
“Tangkapan ada di ruangan sebelah. Lebih baik kau panggil bawahanmu untuk memindahkannya.”
Sekretaris mendengus.
“Kau kira aku bodoh, ha?”
Alex mengangkat bahu.
“Kalau begitu, aku mandi dulu.”
Alex masuk ke kamar mandi. Ia membasuh rambut dan membersihkan tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar.
“AAAALLLEEEXXXX!!!”
“Apa yang kau lakukan pada kepala-kepala ini?!”
Alex yang masih di kamar mandi terdiam sesaat, lalu segera menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia membuka pintu kamar mandi.
“Ada apa, Pak Sekretaris?”
“Kenapa kau berteriak? Apakah aku melakukan kesalahan dalam misi ini?”
“Tidak,” jawab sekretaris pelan.
“Kau tidak salah sama sekali.”
Ia menunjuk ke arah ruangan.
“Tapi… kenapa kau menumpuk mereka seperti sedang mengoleksi kepala manusia?”
“Tunggu. Aku harus memfotonya. Ini harus dikirim ke Presiden.”
Alex menghela napas santai.
“Aku hanya ingin menyusunnya dengan rapi.”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Bereskan saja. Aku akan bersiap pergi.”
Sekretaris langsung memberi perintah.
“Pengawal! Masukkan kepala-kepala itu ke dalam koper. Kita harus mengejar waktu, paham?!”
“Siap, Tuan!”
“Alex, cepatlah!” teriak sekretaris.
“Lama sekali bersiapnya. Seperti cewek saja.”
Alex berhenti sejenak, lalu menatap tajam.
“Jaga ucapanmu,” katanya dingin.
“Aku tidak suka disamakan dengan lawan jenisku yang senangnya jadi kupu-kupu malam, menggoda om-om gendut berperut uang haram.”
Sekretaris terdiam sesaat.
“Sudahlah,” katanya akhirnya.
“Cepat naik mobil. Presiden dan Rey sudah menunggumu.”
“Hah?”
“Siapa Rey?” tanya Alex bingung.
“Di pertemuan kemarin tidak ada yang bernama Rey.”
Sekretaris menghela napas.
“Ah… aku lupa. Presiden belum tahu identitas asli ketua asosiasi pembunuh.”
“Namanya Rey. Sudah, jangan pikirkan itu sekarang. Masuk mobil. Pengawal, kecepatan penuh.”
Beberapa Jam Kemudian
“Ah… kita sudah sampai,” gumam Alex saat melihat gedung besar itu.
“Sudah seminggu aku tidak ke sini.”
Sekretaris menatapnya.
“Setelah kau menjadi tentara pembunuh, kau tidak akan datang ke sini lagi.”
“Lebih tepatnya… berkunjung. Itu pun kalau kau masih hidup.”
“Kenapa aku tidak bisa datang lagi?” tanya Alex.
“Sepertinya kau meremehkan tugas pembunuh.”
Sekretaris tersenyum tipis.
“Mereka yang dilatih di asosiasi itu berlatih sampai mati-matian.”
“Belum tentu selamat. Dan jika kau bergabung… kemungkinan besar kau takkan kembali.”
“Tugas mereka adalah keluar negeri, membunuh para keroco yang merusak Amerika, lalu pergi tanpa jejak.”
“Yang mereka tinggalkan hanyalah kuburan mengerikan dan teror yang menghantui sampai ke neraka.”
Alex tersenyum kecil.
“Oh… jadi tugasku nanti seperti itu?”
“Terdengar menyenangkan.”
Mereka masuk ke ruangan yang telah ditentukan.
“Silakan,” kata sekretaris.
“Sapa Presiden dan ketua asosiasi.”
Alex melangkah maju.
“Selamat pagi menjelang siang, Pak Presiden, Ketua Asosiasi.”
“Aku telah menyelesaikan misi. Apakah aku boleh ikut dengannya?”
Tiba-tiba ketua asosiasi merangkul Alex.
“Sudahlah,” katanya sambil tersenyum.
“Jangan formal. Panggil aku Rey.”
“Baik… Rey.”
Presiden mengangguk.
“Bawalah anak ini.”
“Aku menantikan monster kecil ini tumbuh menjadi monster buas yang ditakuti negara lain.”
Alex tersenyum tipis.
“Sepertinya kau memberiku tugas berat, Pak Presiden.”
“Jangan merendahkan dirimu,” jawab Presiden serius.
“Aku justru takut jika bertemu denganmu, Rey.”
“Kenapa?”
“Karena setiap kali kau merendahkan diri, itu justru menjadi serangan besar bagi orang di hadapanmu.”
Rey tertawa kecil.
“Sudahlah, Pak Presiden. Aku tidak berniat merendahkan siapa pun.”
Ia menepuk bahu Alex.
“Ayo, Nak. Ikut aku ke atas.”
“Kita naik helikopter sekarang.”
Alex mengangguk.
“Ya, Pak.”