Di siang hari pukul 15:30, di tahun 2045, di sebuah pangkalan militer Amerika Serikat, seorang remaja 15 tahun bernama Alex berdiri di hadapan seorang ketua militer yang terkenal dan disegani. Jantung Alex berdegup kencang—bukan karena takut, tetapi karena rasa gugup yang membuncah. Ia tahu, pertemuan ini bisa mengubah arah hidupnya.
“Hai, kadet. Apa kabar? Sepertinya kau senang bisa sampai di sini,” kata sang ketua dengan suara tenang namun tegas.
Alex menjawab sambil menahan gugupnya, “Ya, Pak Ketua. Aku senang bisa kembali hidup-hidup ke sini.”
Ketua menatapnya penuh penasaran, “Lalu bagaimana kau bisa kembali hidup setelah misi itu?”
“Aku telah membantai mereka semua, Pak,” jawab Alex tegas. Jawaban itu membuat sang ketua terkejut.
Seorang bodyguard ketua, yang dikenal ganas dan tak kenal ampun, langsung membantah, “Mana mungkin anak lemah seperti mu, yang tak tahu dari mana asalmu, bisa kembali hidup-hidup?”
Alex yang merasa marah segera menatap bodyguard itu dengan tatapan membara, penuh intimidasi. Bodyguard yang tidak senang mencoba menyerangnya dengan pisau belati, namun Alex menahan serangan itu dengan mudah dan merebut pisau tersebut. Dalam sekejap, tubuh sang bodyguard jatuh ke lantai, kepalanya diinjak sambil pisau diarahkan padanya.
“Apakah aku harus mengajarkan bagaimana bermain pisau dengan benar kepada si b******n ini?” ujar Alex dengan dingin, membuat pasukan di sekelilingnya tercengang. Bahkan sang ketua terlihat takjub—seorang bocah mampu mengalahkan bodyguard terkuatnya.
Ketua akhirnya memanggil Alex, “Nak, sudah. Apakah kau punya bukti bahwa kau berhasil membantai pasukan kartel itu?”
“Iya, aku punya,” jawab Alex sambil mengeluarkan kepala ketua kartel yang telah menjadi buronan negara. Mata sang ketua melebar—anak ini berhasil mendapatkan kepala seorang kartel kelas negara. “Sepertinya aku menemukan monster,” gumamnya.
Alex kemudian memberikan informasi detail tentang lokasi markas pasukan kartel yang tersisa. Ketua militer Amerika segera memerintahkan pasukan untuk melakukan penyelidikan di Kolombia, sementara Alex dan timnya diberi tempat beristirahat.
Namun, ketenangan Alex tak berlangsung lama. Saat ia pergi ke kantin untuk makan, seorang pria hitam tinggi besar—dikenal sebagai salah satu anggota militer terkuat—mendekat dan menghantam meja Alex, membuat makanannya berhamburan.
“Kenapa ada orang seenaknya makan di wilayah kedutaan ini?” teriak pria itu sambil menyerang.
Alex dengan reflek menghindar, lalu memberikan pukulan uppercut yang menghantam dari bawah. Pria hitam itu tak mau kalah dan menendangnya ke arah kepala Alex, tetapi Alex menangkis dan membantingnya hingga KO.
Seluruh anggota militer tercengang. “The black one is invincible”—julukan pria itu—dalah kalah hanya dengan beberapa serangan dari seorang anak remaja. Ketegangan pecah, beberapa anggota mencoba mengeroyok Alex, namun rencana mereka digagalkan oleh pasukan pendamping Alex.
Pria hitam yang kalah kemudian meminta maaf kepada seniornya, namun sang senior menghantam wajahnya, membuat hidung dan gigi pria itu patah. Alex, kagum dengan kekuatan senior itu, berkata, “Senior, bagaimana aku bisa mempelajari kekuatan itu?”
“Sudah lah, kau lebih baik makan dulu,” balas senior itu.
Alex pun duduk dan melahap makanan dengan lahap, perutnya yang keroncong akhirnya terpuaskan.
Pukul 19:00, malam hari.
Seorang remaja terlihat duduk sendirian di balkon, menggenggam segelas kopi hangat. Udara malam yang tenang, suara alam yang samar, dan cahaya lampu kota menciptakan suasana yang asri—seolah dunia sedang damai. Namun ketenangan itu hanya ada di permukaan.
Alex duduk membisu di atas bangku, tatapannya kosong menembus gelap malam. Untuk sesaat, ia merasa seperti hampir mendapatkan dunia yang ia impikan. Tetapi kenyataannya, pikirannya masih dipenuhi satu hal: balas dendam.
Reza.
Dan semua orang yang terlibat dalam misi kemarin.
Alex tahu, jika ia ingin membalas dendam, ia tidak boleh gagal. Kali ini tidak boleh ada kesalahan. Ia membutuhkan perlindungan—bekingan yang cukup kuat untuk membuat polisi, intelijen, bahkan presiden sekalipun menutup mulut. Agar tidak ada yang mengganggu jalannya rencana.
Amerika.
Negara itu harus berpihak padanya.
“Tapi… bagaimana caranya?” gumam Alex pelan.
Belum sempat ia menemukan jawabannya, suara langkah terdengar di belakang.
“Sepertinya kita harus pergi,” ujar sang ketua militer.
Alex menoleh. “Pergi ke mana?” tanyanya bingung.
“Kita akan menghadiri rapat meja bundar. Bersama para atasan lainnya.”
“Hah… aku ikut?” Alex terkejut.
“Ya. Tokoh utama dalam misi kemarin adalah dirimu. Jadi kau harus ikut. Kita berangkat sekarang. Helikopter sudah menunggu di atap menara. Cepat.”
Alex terdiam sesaat.
Sepertinya Tuhan sedang berpihak padaku, pikirnya. Saat aku membutuhkan Amerika, mereka justru menyambutku.
“Baik, Ketua.”
30 menit kemudian — Washington D.C.
“Kita sudah tiba. Bersiap untuk mendarat,” kata sang ketua.
Saat helikopter berhenti, Alex terkejut melihat lokasi mereka.
“Ketua… kenapa kita ada di atap gedung?”
“Ini tempat rapat rahasia. Kita harus cepat masuk. Terlalu banyak mata-mata di luar sana.”
Mereka memasuki sebuah ruangan besar yang gelap.
“Wah… ruangan apa ini?”
“Ruang rapat.”
“Tapi sangat gelap…”
“Memang. Untuk menghindari pengawasan. Biasanya hanya empat orang yang hadir di sini.”
Alex mengerutkan dahi. “Tapi sekarang ada enam orang. Termasuk aku.”
“Kau diizinkan masuk. Karena kau adalah bintang tamu malam ini.”
Alex melirik seseorang berjubah putih. “Lalu… siapa orang itu? Dia terlihat mencurigakan.”
“Jaga ucapanmu. Dia sekretaris Presiden Amerika. Namanya Leo.”
Tiba-tiba suara lain menyela.
“Selamat datang, Maddog,” ucap seorang pria dengan nada santai. “Sepertinya kau menemukan monster.”
“Ya,” jawab Maddog. “Dan dia datang sendiri menghampiriku.”
Alex terkejut. Maddog? Nama itu sangat terkenal.
Presiden Amerika kemudian berbicara. “Silakan duduk. Kita perkenalan ulang agar anak ini tahu siapa kita.”
“Aku Presiden Amerika,” katanya, berjubah putih. “Yang berjubah hitam bercak merah adalah ketua Asosiasi Pembunuh.” “Yang berjubah abu-abu adalah Perdana Menteri Wilson.” “Yang tanpa jubah adalah sekretarisku.” “Dan di sampingmu… itu Maddog, ketua angkatan darat, laut, dan udara.”
“Langsung saja,” ujar pria berjubah hitam. “Aku sudah bosan. Banyak pekerjaan tertunda demi rapat ini.”
Maddog menancapkan flashdisk ke layar.
Foto-foto muncul.
Mayat-mayat tergantung di atap bangunan. Tubuh disalib dengan senjata laras panjang. Kulit terkelupas. Bangunan terbakar habis.
Ruangan terdiam.
“Ini… ulahmu?” tanya Presiden.
“Ya.”
“Kau benar-benar gila,” gumamnya. “Sadis… brutal…”
Maddog lalu mengeluarkan sebuah toples berisi kepala kartel yang diawetkan formalin.
Presiden menghela napas panjang. “Aku bingung harus memberimu apa.”
Alex menarik napas. “Presiden, aku punya satu permintaan.”
“Apa itu?”
“Aku ingin Amerika berpihak padaku.”
Permintaan itu membuat ruangan membeku.
“Kenapa?” tanya Presiden tajam.
“Aku ingin balas dendam. Dan aku perlu menutup mulut polisi serta detektif.”
Presiden terdiam sejenak. “Baik. Tapi kau harus berjasa untuk Amerika selama lima tahun.”
Lima tahun.
Bukan waktu singkat.
Alex berpikir cepat. Aku harus pulang… tapi aku juga harus menjadi lebih kuat.
“Aku terima.”
“Kau akan bergabung dengan Asosiasi Pembunuh sebagai wakil,” kata pria berjubah hitam. “Siap?”
“Siap.”
“Tapi kau harus lolos seleksi.”
“Seleksi apa?”
“Menangkap tujuh bawahan kartel ini.”
“Dalam waktu seminggu,” jawab Alex tegas.
Semua terkejut.
“Kau yakin?” tanya Maddog. “Aku bisa memberimu 30 hari.”
“Tidak. Tujuh hari cukup.”
Maddog menatap tajam. “Ingat ini.”