016

1159 Kata
Alex menatap tubuh dua pilot dan satu pramugari yang tergeletak tak bernyawa di kokpit. Darah mengering di panel kontrol, bau mesiu dan besi memenuhi udara. Rahangnya mengeras. “Pesawat kita sudah dibajak,” gumamnya tajam. “Sialan…” Suara langkah tergesa terdengar dari belakang. 02 muncul dengan wajah pucat. “Ka–Kapten… Dark Spotter mengirim pesan ke Anda.” Alex menoleh tajam. “Kenapa tidak langsung kau sampaikan dari tadi?” 02 menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Kapten sedang berada di dalam ruangan itu… aku tidak sempat memberitahukan.” Alex menghela napas kasar. “Kalau begitu, kita lihat sekarang.” Pesan dibuka. Mata Alex menyipit. — Penumpang gelap terdeteksi di pesawat pribadi. Risiko tinggi. — “SIALAN!” teriak Alex. “Kenapa ini tidak bisa diprediksi lebih awal?!” Ia terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat. Lalu satu ingatan muncul—perasaan diawasi sejak pertama kali masuk pesawat. “…Jadi ini,” gumamnya. “Aku sudah tahu siapa pelakunya.” TIBA-TIBA— DUAARR! Ledakan keras mengguncang bagian belakang pesawat. Tubuh pesawat bergetar hebat. Alarm bahaya langsung meraung, lampu merah menyala di seluruh kabin. Alex langsung bersuara. “11! Lokasi kita!” 11 menjawab cepat melalui komunikasi. “Lapor, Kapten. Sekitar 500 meter dari target. Jika lompat sekarang, kemungkinan besar kita bisa sampai.” Alex tidak ragu sedetik pun. “Baik.” “Semua unit, siapkan senjata dan granat.” Ia menatap anggota Number satu per satu. “Kita buka pertahanan musuh dari udara.” “Penembak: mendarat, cari jarak aman.” “Pengintai: mendarat lebih jauh, drone harus aktif.” “Paham?!” “SIAP, KAPTEN!” Tanpa menunggu lagi, Alex melompat keluar pesawat, diikuti sepuluh anggota lainnya. Lima anggota pengintai menunggu jarak lebih jauh sebelum ikut melompat. 01 tersenyum lebar saat terjun. “Wah… pemandangannya indah juga—” Namun senyumnya langsung lenyap. Ia melihat Alex. Kapten mereka… tidak membawa parasut. “Hah?!” teriak 01. “KAPTEN?!” Alex hanya berkata singkat, tenang di tengah angin kencang. “Pakai masker penutup wajah. Sekarang.” Anggota Number terpaku. Alex membuka koper hitamnya di udara. Di tengah terjunan bebas, ia mengenakan jas tuxedo, memasang topeng, menyelipkan pisau ke celana, dan mengokang pistolnya. “Kenapa Kapten ganti pakaian sekarang?!” teriak salah satu anggota. “Dan—kenapa Kapten tidak pakai parasut?!” Alex menoleh sedikit. “Parasut,” katanya dingin, “untuk orang lemah seperti kalian.” Semua terdiam. Di bawah mereka, pasukan musuh sudah bersiap. “SEMUA LEMPAR GRANAT!” teriak Alex. “Ke pasukan dan ke kediaman keluarga itu!” “SIAP!” Hujan granat jatuh. Ledakan demi ledakan menghancurkan formasi musuh, menciptakan kekacauan besar. Api dan asap menyelimuti area. Alex membuka kembali kopernya, mengambil satu granat—granat curian dari anggota Number. Ia meledakkannya tepat di bawah tubuhnya. DUAARR! Ledakan itu memantulkan tubuh Alex ke atas. Ia menggunakan koper sebagai penahan udara, memperlambat jatuhnya. Beberapa detik sebelum menyentuh tanah, Alex melepaskan koper— dan melemparkannya terbuka ke bawah. KAKI Alex mendarat tepat di atas koper… lalu di kepala seorang musuh. KREKK! Alex langsung menerobos masuk ke formasi musuh. Peluru-peluru menghantam, tapi ia bergerak lebih cepat. DOR! DOR! DOR! Pistolnya menembus tempurung kepala musuh satu per satu. Ia berlindung sejenak, menunggu anggota Number yang masih turun. Alex lalu memodifikasi pistolnya—pisau terpasang di depan laras. Tidak sabar, ia menembak lima peluru ke arah parasut anggota Number. “APA—?!” Parasut-parasut itu rusak. Mereka jatuh bebas dan mendarat sekitar enam meter dari tanah, terguling keras. “MAJU!” teriak Alex. “SEMUA MASUK!” Pasukan musuh terpukul mundur oleh keganasan Human Devil. Alex melangkah ke depan, mengabaikan lima anggota Number di belakangnya. Ia menerjang. Pisau di pistolnya menembus leher seorang musuh— Alex mengoyaknya, darah menyembur. Tubuh musuh kejang-kejang di tangannya. Alex tertawa pelan. “Sudah lama… aku tidak merasakan perang seperti ini.” Namun dadanya terasa nyeri. Ia mundur sejenak ke balik puing. Tangannya menyentuh luka di d**a— dan matanya membesar. Lukanya… terbuka lebih dalam. “…Padahal tubuhku sudah dimodifikasi,” gumamnya. “Seharusnya luka ini sembuh.” Ia tertawa rendah, menyadari sesuatu. “Jadi begitu…” “Jalang itu pakai racun.” Ingatannya kembali ke kapak berdarah yang dilap Iris. “Pantas saja.” “Bukan untuk membersihkan kapaknya.” “Tapi untuk melapisinya dengan racun mematikan.” Alex tersenyum liar, darah mengalir di dadanya. “Hahaha…” “Jalang bangsat.” Udara dingin menghantam d**a Alex saat ia bergerak maju di antara puing dan mayat. Awalnya— ia mengira itu hanya rasa perih biasa. Namun beberapa langkah kemudian, tubuhnya memberi sinyal yang berbeda. Bukan rasa sakit tajam. Bukan juga nyeri yang familiar. Ini… berat. Napasnya terasa tertahan di tengah d**a, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekan paru-parunya dari dalam. Setiap tarikan udara terasa terlambat sepersekian detik. “Ah…” Alex menahan diri agar tidak bersuara. Tangannya yang menggenggam pistol sedikit gemetar. Sangat tipis—hampir tak terlihat. Tapi bagi dirinya sendiri, itu terasa seperti pengkhianatan. Racun itu bekerja. Bukan racun pembunuh cepat. Bukan racun yang membuat tubuh kejang lalu mati. Ini racun pemburu. Perlahan. Sistematis. Menyerang saraf, memperlambat refleks, mengacaukan sinkronisasi antara pikiran dan tubuh. “Cerdas…” gumam Alex pelan. “Jalang itu benar-benar ingin melihatku menderita.” Pandangan matanya sedikit berbayang. Bukan gelap—lebih seperti dunia bergeser setengah langkah dari posisi seharusnya. Ia mengedipkan mata sekali. Lalu dua kali. Fokus kembali. Tidak. Belum sekarang. Darah dari lukanya di d**a terasa lebih hangat dari biasanya. Denyutnya tidak teratur. Jantungnya memompa terlalu keras—lalu terlalu lambat. Racun itu memaksa tubuhnya memilih: melawan… atau menyerah. Alex tersenyum kecil. “Pilihan yang bodoh,” bisiknya. “Tubuh ini sudah terlalu sering dipaksa mati.” Ia melangkah lagi. Setiap langkah sekarang membutuhkan perintah sadar. Setiap gerakan bukan refleks—melainkan keputusan. Saat ia menghindari tembakan musuh, tubuhnya terlambat sepersekian detik. Sebuah peluru menggores bahunya. Biasanya… itu tidak akan terjadi. Alex berhenti sejenak di balik reruntuhan, menahan napas. Tangannya menyentuh d**a. Darah. Lebih banyak dari yang ia perkirakan. “Racun neurotoksin campuran,” analisisnya cepat. “Dipercepat oleh adrenalin… diperlambat oleh dingin.” Ia tertawa kecil—kering, tanpa humor. “Berarti aku tidak boleh berhenti bergerak.” Jika ia diam terlalu lama, racun akan menang. Jika ia bergerak terlalu cepat, tubuhnya akan runtuh. Keseimbangan sempurna. Seperti menari di tepi kematian. Alex berdiri lagi. Tatapannya kembali dingin, tapi kini ada sesuatu yang lain di dalamnya— keganasan yang dipaksa keluar oleh rasa sakit. “Aku akui,” katanya pelan sambil melangkah ke medan tembak. “Kau berhasil melukaiku.” Lalu suaranya turun, bergetar tipis—bukan karena takut, tapi karena tubuhnya menolak patuh. “Tapi kau membuat satu kesalahan.” Ia mengangkat pistol, pisau masih terpasang di ujungnya. “Kau memberiku alasan…” “…untuk memastikan kau mati perlahan.” Dan dengan tubuh yang diracuni, napas tercekik, dan darah terus mengalir— Alex kembali maju ke medan perang, bukan sebagai manusia yang sehat, melainkan sebagai iblis yang dipaksa bertarung sambil sekarat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN