Alex mulai menyadari ada yang tidak beres.
Sejak tadi, hanya terlihat dua pramugari yang berlalu-lalang di kabin. Padahal sebelumnya ada lima. Tiga lainnya seperti menghilang begitu saja.
Sudah beberapa menit sejak pramugari tadi masuk ke pintu itu.
Tidak mungkin kebetulan.
“Sepertinya ada impostor di pesawat ini…” gumam Alex dalam hati.
Lamunannya terputus ketika 01 tiba-tiba berbicara.
“Kapten,” kata 01, “kenapa aku harus ikut maju bersamamu di misi ini?”
Alex menoleh singkat. “Karena aku yakin lawan kita selanjutnya banyak. Jadi aku butuh jasa tumbal sepertimu.”
Wajah 01 yang tadinya terlihat senang langsung berubah kaku.
“Hah…?” katanya lemas. “Kapten, apa aku ini mirip umpan?”
Alex menyeringai tipis.
“Kemarin kau sendiri yang bilang kau itu semut, bukan serigala.” “Kalau begitu, tugas semut adalah melindungi ratunya.” “Ibaratkan aku ratu, dan kau semut. Paham?”
01 terdiam. Lalu perlahan berjalan pergi kembali ke kursinya dengan bahu jatuh.
“Hah…” gumamnya pelan. “Kenapa dulu aku tidak memilih serigala saja, ya…”
Alex berdiri dan berjalan menuju pintu yang tadi dimasuki pramugari. 01 sempat melirik, namun memilih mengabaikannya.
Saat Alex membuka pintu—
Matanya langsung membesar.
Seorang pramugari berdiri di sana, mengelap sebuah kapak yang masih basah oleh darah.
Alex langsung to the point.
“Kenapa seorang pramugari membawa kapak penuh darah seperti itu?” “Kamulah yang membunuh pramugari lainnya, ya?”
Iris terkejut sesaat, lalu tersenyum lebar.
“Wah wah wah…” katanya girang. “Sepertinya aku mendapatkan mangsa di sini.”
Tanpa peringatan, Iris langsung menerjang.
Alex terkejut dan mundur, namun punggungnya terbentur pintu. Ujung kapak menggores dadanya, meninggalkan luka yang cukup dalam.
Alex mendesis.
Dalam sekejap, mode iblis aktif.
Ia berdiri tegak, menatap Iris dengan mata merah menyala.
“Tidak kusangka…” katanya dingin. “Aku dilukai oleh w***********g sepertimu. Sialan.”
Iris menyeringai. “Pupil matamu… merah.” “Intimidasi yang menarik.” “Sepertinya aku akan mendapatkan mangsa yang sangat menyenangkan, sksksk.”
Alex melangkah maju dengan tangan kosong, lalu menghantamkan tinju keras yang membuat tubuh Iris terpental.
Sementara itu—
01 sedang melamun ketika 05 tiba-tiba menyenggolnya.
“Wah,” kata 05. “Sepertinya kau bisa berdiri di samping Kapten, ya.”
01 menjawab lesu, “Tidak… I’m just his live bait.”
05 mengernyit. “Apa maksudmu? Aku nggak bisa bahasa Inggris.”
01 menatapnya tajam. “Artinya: aku hanyalah umpan hidupnya.”
05 langsung tertawa keras.
“HAHAHA! Kapten kejam juga—”
BAM!
Wajah 05 langsung bonyok sebelah oleh pukulan 01.
“APA KAU LUPA SIAPA AKU?!” bentak 01. “Aku atasanmu!” “Aku jauh lebih kuat dari kau!” “Dan kau menertawaiku?!”
Pukulan itu terhenti ketika 02 datang tergesa-gesa.
“Sudah!” kata 02. “Aku mencari Kapten. Dark Spotter mencoba menghubunginya.”
01 menjawab cepat, “Tadi aku melihat Kapten masuk ke pintu itu. Mungkin ke kamar mandi.”
05 menyeringai meski pipinya bengkak.
“Jangan-jangan Kapten lagi mengasah pedang Excalibur-nya bareng pramugari.”
02 langsung membantah.
“Kapten bukan laki-laki murahan.” “Dia tidak akan membuang keperjakaannya untuk pramugari.”
01 menyipitkan mata. “Tetap saja… sebaiknya kita cek.”
02 dan 05 saling pandang, lalu mengangguk.
“Kalau kena masalah sama Kapten, yang disalahkan kamu ya,” kata 05.
“Baiklah,” jawab 01 santai. “Sebentar lagi kita lompat misi juga. Nggak ada salahnya melihat gadis cantik untuk terakhir kali.”
Mereka bertiga mendekati pintu.
Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari dalam.
“Kan sudah kubilang,” kata 01. “Pasti lagi mengasah Excalibur.”
Ia tersenyum usil. “Kita masuk bareng. Kita kagetkan Kapten.”
“1… 2… 3—!”
BRAAAK!
Pintu didobrak.
Seketika sebuah kapak melayang ke arah kepala 01. Ia reflek menghindar.
Ketiganya terpaku.
Kapten mereka sedang bertarung satu lawan satu dengan seorang pramugari cantik.
05 bergumam, “Siapa dia? Aku tidak pernah melihat pramugari itu sebelumnya.”
02 menelan ludah.
“Dia… dia dijuluki Kapak Berdarah.” “Pembunuh berantai.”
Iris mundur sambil tertawa.
“Wah wah… sepertinya aku cukup terkenal.” “Kalau begitu aku pergi dulu, ya.”
Ia menunjuk ke arah pintu.
“Oh ya… sang Madam menitipkan sesuatu.” “Coba lihat di balik pintu itu.”
Sebelum mereka bereaksi, Iris menerjang, membuka pintu darurat, dan—
Hilang.
05 berlari keluar dan mencoba menutup pintu darurat.
02 membuka pintu di sebelahnya.
Mereka terdiam.
Dua pramugari tergeletak tak bernyawa, wajah mereka hancur. Di balik mayat itu—bom aktif.
01 berteriak, “SEMUA AMBIL PARASUT!” “PESAWAT AKAN MELEDAK!”
Kepanikan terjadi. Semua langsung mengambil parasut.
Semua… kecuali Alex.
Alex mengambil koper hitamnya dan berlari ke kokpit.
“Apa-apaan ini?!” bentaknya. “Pintunya tidak bisa dibuka?!”
Dengan amarah, Alex menendang pintu itu hingga hancur.
Ia terdiam.
Dua pilot dan satu pramugari sudah tewas di dalam.