6

1622 Kata
"Fabian." Idris bergerak maju. Tapi Fabian menghalanginya. Berapa tamu, mulai teralihkan perhatiannya karena keributan itu. Aurora terlihat membersihkan dress-nya, dan dia dengan gemetar membereskan nampan-nampan kue yang berserakan. "Aurora." Pak Toni datang dengan Sigap. "Ada apa ini?" Nyonya Eisen yang sejak tadi berbincang dengan tamu, memandangi Aurora yang pakaiannya berantakan. Juga kue-kue yang berserakan. "A trouble maker in my party?" Nyonya Eisen mendelik marah. "Pak Toni, apa kau nggak bisa mengawasi anak buahmu?" "Maaf, Bu, nanti saya akan menegurnya." Pak Toni berkata. Dia mengajak Aurora keluar dari tempat itu. "Apa itu jadi Fabian?" Idris melontarkan pertanyaan pada Fabian yang terlihat tetap tenang, dia menyesap wine-nya lagi. Sebelah tangannya diletakkan di perut, dan dia duduk dengan posisi bersandar. Hanya beberapa pengganggu. Fabian menatap lurus ke depan, pestanya kembali berlangsung. Aurora sudah dibawa pergi dari sana, seolah di hanyalah semut yang melintas, dan tidak perlu untuk dipedulikan. "Kak Fabian." Sepupunya Nindy mendatangi dengan senyum sumringah, usianya awal 20-an. Beberapa kali dia tampak begitu agresif mendekati Fabian. Fabian mengetahuinya, tentu saja, dia seorang pria yang cukup peka. Nindy menggunakan dress yang sempit di bagian pinggangnya, terbuka di bagian atas. Dia juga mengenakan high heels berwarna keperakan. Dengan rambut yang digelung ke atas, memperlihatkan lehernya. Bisa dikatakan dia berdandan habis-habisan untuk acara hari ini. Dan memang, setiap hari, dia harus menjaga image. Agar tampak seperti wanita berkelas. "Kak Fabian, apa sudah makan? Bagaimana kalau kita berdansa?" Dia membujuk Fabian untuk turun ke lantai dansa bersamanya. Fabian tidak menyukai dansa, itu bukanlah tradisi mereka. "Tadi ada gangguan sedikit dari seorang pelayan, mungkin dia ingin cari perhatian pada pesta seperti ini." Nindy mulai membicarakan Aurora. "Dia hanya seorang anak kecil." Fabian berkata. "Kak Fabian, aku dengar dia pelayan pribadimu? Menurutmu, seorang anak kecil tidak akan berubah dewasa? Dia jadi berpikiran sempit karena berlagak di sini, seolah-olah dia memilikimu di sampingnya. Aku sarankan kau harus menggantinya." Nindy tadi berkata ada pelayan yang memberi gangguan pada saat pesta, lalu sekarang dia bilang kalau dia tahu, Aurora adalah pelayan pribadi Fabian. Tampaknya mulut gadis itu lebih cepat bicara ketimbang berpikir. "Apa kau sudah cukup bicaranya?" Fabian berkata datar. "Kak Fabian." Nindy merengek manja. Nyonya Eisen mendekati Fabian, dia ingin memperkenalkan Fabian dengan seseorang. "Nindy, rupanya kau di sini." Ibu Fabian tidak terlalu menyukai Nindy, sekalipun mereka merupakan pengusaha sukses. Orang tua Nindy sering terkena skandal, ibu Nindy dan ayah Fabian merupakan saudara sepupu. "Tante." Nindy berkata malas, dia tampaknya mengetahui kalau Nyonya Eisen tidak menyukainya. Dan sekalipun dia berusaha untuk membuat Nyonya Eisen menyukainya, siasatnya tidak pernah berhasil." "Fabian kemarilah, Vella telah menunggumu." Nyonya Eisen berkata. "Ternyata namanya Vella." "Ya namanya Indah, bukan?" Fabian mengikuti ibunya. Nindy melihat pemandangan itu dengan kesal, padahal Nyonya Eisen tahu kalau dia menaruh hati pada Fabian. Di depan mata malah mengajak pria pujaannya berkenalan dengan wanita lain. Fabian diperkenalkan pada Vella, katanya wanita itu baru saja pulang dari luar negeri. Dia memakai gaun panjang berwarna biru safir, dengan belahan panjang di kakinya. Usianya lebih tua satu tahun dari Fabian. Nyonya Eisen menyapa. "Hai Tante, pestanya sangat menyenangkan. Tante memang luar biasa mengadakan pesta." "Kau bisa aja, lain kali tante menunggu undangan dari rumah kalian." "Tentu aja, sebentar lagi aku akan berulang tahun dan aku pasti akan mengundang tante juga pria tampan di samping tante ini." "Hai." Fabian berkata sambil tersenyum. "Kalian silahkan mengobrol dan tante akan menyapa tamu-tamu yang lain." Mereka mengangguk, membiarkan Nyonya Eisen pergi. "Jadi kau yang bernama Vella? Aku dengar kau ingin berkenalan denganku?" Wanita itu meliriknya, dia mengambil wine dengan anggun menyesapnya, dia bergaya yang sangat feminim. Lipstiknya berwarna merah darah tapi terlihat sangat cocok dengan dirinya. "Ucapanmu itu sama sekali nggak romantis, Fabian. Kau berkata kalau aku ingin berkenalan denganmu? Seharusnya kebalikannya, bukan?" "Fabian meletakkan tangannya di saku, dia menatap pemandangan di hadapannya. Orang-orang dengan pakaian indah membungkus tubuh mereka melintas. Di mata Fabian hanyalah sebuah casing. "Jujur saja Vella kau memang cantik, tapi ada banyak wanita cantik di dunia ini. Kira-kira apa yang membuatmu berbeda dari mereka?" "Kau terlalu berterus terang, Fabian." "Bukankah itu lebih baik? Aku nggak perlu memujamu seperti pria-pria lain bukan? Aku tahu kau ingin mendekatiku karena aku adalah anak keluarga Eisen, begitu pula sebaliknya." "Aku baru pertama kali bertemu denganmu, dan sesuai gosipnya kau tampak sangat frontal." "Oke, kau nggak menyukai kata-kataku? Apa kita membatalkan saja kencannya." Vella tersenyum, dia memainkan jemarinya lagi. "Kau tau, pria yang tampak nggak tertarik pada wanita selalu membuat wanita penasaran, aku setuju. Aku menunggu undanganmu untuk kencan. Kau nggak akan membuatku kecewa, kan, Fabian?" Fabian hanya tersenyum. *** Fabian bergegas keluar dari ruang tamu. Pesta masih belum usai, bahkan tampaknya belum ada satupun tamu yang pulang. "Kenapa kau terburu-buru Fabian?" Idris bertanya dan mengikuti. "Kau tau kalau aku nggak menyukai pesta semacam ini, Idris. Lagipula, aku memiliki sesuatu yang harus aku lakukan. "Apa soal Aurora?" Idris menebak dengan tepat. Fabian diam saja, dia menuju ke kamarnya. Kamar Fabian terkoneksi dengan ruang kerja. Saat berada di ruang kerja dia berkata pada Idris. "Kau bisa memanggil Aurora kemari?" Idris menghubungi Pak Toni setelah mendapat perintah dari Fabian. Beberapa menit kemudian, Aurora datang. Dia masih mengenakan pakaian pelayan tetapi di mata Fabian terlihat seperti sedang cosplay. Penampilannya lucu, murni dan menggemaskan. Aurora terlihat imut sekalipun matanya tampak sembab. Jadi dia menangis? "Apa kau menangis?" Fabian bertanya. Aurora menggeleng, "Nggak apa Pak Fabian. Tadi Rora ketiduran sebentar." Fabian hanya tersenyum simpul, Gadis itu tidak pintar berbohong. Aurora diam tertunduk, keceriaannya menghilang. Fabian memperhatikannya lamat-lamat, rambutnya telah tergerai, tidak terkuncir seperti tadi. Hanya pendek sebahu. Idris memang benar, Aurora punya potensi menjadi wanita yang amat cantik di masa depan. Hanya saja, sekarang dia berumur empat belas tahun, Fabian sama sekali tidak tertarik padanya. Tidak ada aura wanita yang menguar dari tubuh gadis itu. Idris pastilah sudah gila ketika berkata kalau sebaiknya Fabian mempersiapkannya menjadi istri masa depan. "Aurora, apa kau suka berdansa?" Fabian bertanya. Aurora menengadahkan kepalanya sedikit, "Rora nggak tau." "Kenapa kau nggak tahu?" "Rora belum pernah berdansa sebelumnya. Jadi nggak tau Rora suka apa nggak," jawabnya pelan. "Kau mau berdansa denganku?" Seketika matanya berbinar tapi dia bersikap biasa lagi. "Maksud---maksud Pak Fabian apa? Apa Pak Fabian marah karena tadi Rora mengacaukan pesta Nyonya Eisen?" "Kalau aku marah, aku nggak akan mengajakmu berdansa Aurora." Aurora terdiam lagi. Idris memperhatikan tingkah laku Fabian yang di hadapannya, tidak mengerti apa yang ingin dilakukan. "Kalau begitu, Rora mau." Dia segera ceria dan tersenyum. "Sejak dulu ingin coba berdansa, tapi nggak punya pasangan." Fabian terkekeh, dia berkata seolah menganggap kalau Fabian adalah pasangannya. "Kalau begitu ayo kita berdansa." Fabian mengulurkan tangan. Dengan gembira Aurora menyambut. Fabian menyuruh Idris memutar lagu dari komputernya, ada pengeras suara di sana. Cukup layak untuk menghibur gadis kecil yang bersedih. Beberapa kali Aurora tersandung saat berdansa dengan Fabian. Mereka berputar-putar di ruang kerja itu. "Pelan-pelan." Fabian berbisik. Dia merasa Aurora memeluknya, hangat. "Pak Fabian wangi." Rora berkata sambil mendongakkan kepalanya. "Wangi apa aku?" "Rora nggak tahu, wanginya seperti segar kemudian lembut. Enak sekali, Aurora suka. Wangi Pak Fabian berbeda sama wangi Pak Idris." Fabian menoleh ke arah Idris, pria itu berdiri di belakang Aurora. "Oh ya, jadi kalau Idris, seperti apa wanginya?" "Seperti es krim." Fabian terbahak mendengar istilah Aurora. "Dia seperti es krim, apa kau ingin memakannya?" Wajah Aurora tersipu, terasa tangannya mencengkram Fabian lebih erat. Langkahnya terasa canggung mengikuti irama musik tetapi tubuhnya yang ringan, serasi meliuk mengikuti Fabian yang tinggi dan bidang. "Nggak juga, sih," jawab Aurora. Fabian merasa tersanjung ketika dia digambarkan dengan sosok yang wangi lembut, Idris seperti es krim. Tidak ada yang mengetahui, apa yang ada di dalam pikiran gadis mungil di hadapannya ini? Dia tidak ragu mengikuti langkah Fabian, berdansa mengitari ruang kerjanya hanya dengan diiringi musik yang berputar dari komputer. Dan disaksikan seorang pria bernama Idris. "Apa ini dansa terakhir?" Aurora bertanya. "Sepertinya Rora cukup pintar, bukan?" "Udah lumayan. Kenapa bicara kalau ini adalah dansa terakhir?" Aurora bergumam. "Karena, seandainya aku ingin, aku hanya bisa menunggu Pak Fabian yang mengajakku. Pak Fabian mengajakku juga, nggak tau kapan akan terjadi lagi." "Berlatihlah dengan baik, kapan-kapan kita akan berdansa lagi." Aurora mengucapkan terima kasih, dia berlalu meninggalkan Fabian dan Idris, sebelum melangkah keluar pintu dia menoleh dan melambai pada mereka berdua. "Aku nggak menyangka, Fabian yang kerap berpura-pura ramah di depan orang lain. Bisa benar-benar baik kepada seorang anak kecil." "Hati Aurora masih bersih, aku nggak mengetahui apa itu akan tetap seperti itu hingga dia dewasa nanti." Dia ingin menjaga agar Aurora tidak berubah menjadi wanita penyihir seperti yang dia lihat selama ini. Ketika dia mulai ternoda oleh dunia, Fabian akan membersihkannya kembali. "Kenapa tiba-tiba mengajaknya berdansa? Karena menghiburnya?" "Aku pikir dia sedih. Dia bahkan minta maaf atas kekacauan yang dia buat." "Fabian, kau tadi nggak terang-terangan membelanya di sana. Karena nggak ingin orang-orang semakin memusuhinya? Bukan begitu?" Fabian terdiam, tangannya bertumpu di atas meja. Bukannya dia tidak tahu, di depan matanya dia melihat Nindy mendorong Aurora hingga dia tersungkur ke meja. Tapi gadis itu tidak bicara apa-apa. "Kenapa dia nggak melaporkan peristiwa yang terjadi padanya?" Idris menggeleng dengan heran. "Karena dia belum percaya aku." Dia tersenyum pada Fabian, tapi gadis itu mengawasinya. Menilai apakah Fabian pria yang pantas untuk dia berikan kepercayaan. "Kenapa kau berpikir begitu Fabian?" Aurora melindungi dirinya sendiri, dia tidak menceritakan kalau tadi dia didorong, bahkan tidak membela dirinya, karena dia sadar kalau dia tidak bisa bergantung pada Fabian untuk melindungi. Fabian tidak menyangka gadis sekecil itu berpikir demikian. "Oh ya, ini mengenai sekolah menengah atas untuk Aurora." Fabian berkata pada Idris. "Dia berencana masuk ke sekolah negeri." "Biarkan dia masuk ke SMA Kencana." "Fabian, kau tahu SMA itu merupakan SMA elite, apa Aurora bisa bertahan di sana?" "Kalau dia tidak bisa bertahan di sana, maka dia nggak pantas berada di sampingku." Fabian memandang ke arah pintu dengan matanya yang tajam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN