Fabian memperhatikan perempuan yang berlalu lalang di hadapannya. Dia sejak tadi mencatat keperluan pindah ke apartemen. Mereka telah dua jam berada di sana dan Aurora tampak betah. Dia tidak ingin, tetapi dia ingin. Itulah yang gadis itu katakan pada Fabian. Di satu sisi, dia merasa keberatan dengan hadiah yang begitu luar biasa dari Fabian. Di sisi lain, dia sangat menyukai apartemennya. Menyukai kalau dia akan tinggal mandiri, jauh dari kecemasan. Namun, tetap aman. "Fabian, nanti menginap di sini aja, setiap hari." Gadis itu berbisik lirik pada Fabian, membuatnya tertawa. Kemudian dia menyadari perkataannya dan tersipu malu. "Kau ingin aku pindah?" tanya Fabian. Fabian menaikkan alisnya. "Kalau Fabian ingin begitu." "Jadi, kita pindah rumah?" Aurora tertawa, menyadari kelakuannya

