"Kamu yakin, Sayang?" ujar Pram dengan dahi mengernyit. Menatap sang istri yang tengah memasak air panas untuk menyeduh kopi. Laki-laki itu duduk selonjoran di sofa ruang tengah dengan sebuah laptop yang menyala di pangkuannya. "Ya." Gita mengangguk tanpa mengalihkan tatapan dari panci kecil yang di dalamnya air putih terlihat mulai menampilkan buih-buih kecil di permukaan. Gegas Gita menyiapkan dua buah cangkir dan meletakkan di atas tatakan. Selanjutnya wanita itu mengambil dua bungkus kopi instan dan memasukkan satu bungkus pada masing-masing cangkir. Aroma Robusta yang kental seketika memenuhi pantry hingga ruang tengah saat air mendidih itu ia siramkan secara perlahan ke dalam cangkir. Gita mengaduk isi kedua cangkir bergantian dengan menggunakan sendok kecil. Setelah yakin

