"Akhirnya." Pram menarik napas lega. "Kamu tahu, Sayang, ternyata melamar anak gadis orang itu jauh lebih bikin deg-degan daripada melakukan persentase untuk pertama kalinya di depan banyak orang." Gita tertawa. "Masa sih? Aku lihat tadi tuh kamu sangat tenang." "Ya harus terlihat tenang. Kalau nggak mana mungkin mereka yakin." Gita menatap wajah itu lama. Terselip rasa bangga di relung hatinya akan pria itu. Betapa ia merasa sangat dicintai. Pram telah melakukan banyak hal. Bahkan semenjak mereka resmi berpacaran, Pram jadi rajin ibadah. "Sayang, kenapa telponnya gak dijawab?" tanya Gita kesal saat menghampiri Pram pada suatu siang di aula kampus. "Maaf, tadi saya lagi salat." "Ooh," sahutnya pendek. Namun jawaban itu cukup membuatnya terkesima. Pram salat? Sejak kapan? Me

