Ada Apa Dengan Mereka?

1309 Kata
Bab 6 : Ada Apa Dengan Mereka? Gita membereskan pakaian dan barang miliknya ke ransel yang ia bawa, tak mau ada yang tercecer. Rencananya habis sarapan pagi mereka akan bertolak ke Jakarta. Masa liburan mereka sebenarnya lumayan panjang, masih tersisa beberapa hari lagi. Tapi gadis itu memutuskan untuk istirahat di kosan saja biar tidak terlalu capek saat nanti kembali beraktifitas seperti biasa. Selain itu, ia tak sanggup jika setiap waktu harus bertemu Pram. Terutama di meja makan. Dia bukan seseorang yang dengan mudah bersandiwara seperti Hesti yang hanya dalam hitungan jam moodnya kembali membaik dan bersikap seolah tak pernah terjadi apa pun di antara mereka bertiga. Yang ia rasakan kekaguman akan laki-laki itu justru kian meningkat dari waktu ke waktu. Hal tersebut sangat mempengaruhi sikapnya. Dan untuk saat ini menjadi hal yang sangat ia sesali. Saat membicarakan keinginannya itu tadi malam, Hesti juga tidak keberatan. Niatnya untuk bertemu dulu dengan ayahnya Pram sebelum mereka balik ke Jakarta telah terlaksana. Pria yang sudah melewati usia setengah abad itu baru saja kembali dari Medan sejak sore kemarin. Dan juga mereka sudah lumayan mengulur waktu. Liburan yang tadinya mereka rencanakan tiga hari, jadi molor lima hari karena menunggu kepulangan omnya itu--Haris. Setelah memastikan semua barangnya tak ada lagi yang tercecer, gadis itu melangkah ke dapur. Ia ingin membantu Elsa--mama Pram-- menyiapkan sarapan pagi ini. Biar bagaimanpun Gita merasa tak enak hati jika selama di sini ia hanya bertindak benar-benar layaknya benalu. Sudah numpang, ngerepotin pula. Selebihnya entah kenapa tiba-tiba saja Gita jadi merindukan dapur. Mungkin karena selama beberapa hari ini hobi masaknya tidak tersalur. Sang nyonya rumah terlalu memanjakan mereka. Itu yang dirasakan Gita selama berada di desa ini. Namun langkah itu terhenti ketika mendengar suara orang yang sedang mengobrol. Ia yakin sekali kalau itu suara Pram dan mamanya. Penasaran, dengan mengendap-endap, Gita mendekati pintu dapur yang jadi pembatas dengan ruang keluarga. Ia menyingkap hordengnya perlahan. Tatapan Gita langsung tertuju pada laki-laki itu. Pram terlihat tengah mengisi gelas di tangannya dengan air minum dari dispenser. Tubuh tinggi pria tersebut tampak kian menjulang saat berdiri di samping ibunya. Dan punggungnya itu .... Tanpa disadari Gita berdecak kagum. Terbayang di benaknya bagaimana nyaman bersandar di punggung lebar yang sangat sandarable. "Ck, lo mikirin apa sih?" gumamnya perlahan. Ia mengutuk diri sendiri. "Ingat, Git. Lo nggak terlahir untuk mematahkan hati sahabat sendiri," lanjutnya. Kenyataan ada rasa yang makin tidak ia mengerti di dalam d**a, membuat gadis itu sesak sendiri. Sesuatu yang menurutnya tidak boleh terjadi. Ia tak berani berharap banyak pada pria es itu. Memangnya siapa dirinya? Ingat akan hal itu, Gita mundur teratur. Jika masih bisa dihindari ia tidak akan mengambil resiko memacu detak jantung sendiri saat berhadapan dengan Pram. Baru saja gadis itu berbalik, ucapan Elsa menghentikan langkahnya. "Gita cantik lho, baik lagi." Ia kian tertegun saat mendengar Elsa menyebut namanya. Hal yang memacu keinginan kuat untuk kembali mengintip. Pram baru saja selesai menenggak air putih segelas penuh. Gita lagi-lagi merutuk dalam hati saat menatap dinginnya wajah tampan namun mampu membuat wajahnya memanas. Beruntung keberadaannya tidak disadari mereka. Ruang keluarga tempat Gita berdiri itu masih gelap. “Maksud Mama?" Pertanyaan Pram memicu rasa ingin tahu di hati Gita. “Tadi malam Papa nanya ke Mama tentang Gita, Papa kira Gita datang ke sini bersama kamu. Papa gembira sekali, Papa bilang kalian cocok." Pram bergeming. Gita yang menguping pembicaraan mereka menunggu dengan perasaan campur aduk. “Lalu bagaimana menurut Mama?" tanyanya setelah beberapa saat. Wanita paruh baya itu mendekati Pram, dia memeluk pundak putranya. “Apa pun yang menurut kamu baik dan membuat bahagia, Mama pasti dukung. Tapi kalau boleh Mama punya saran, sepertinya Gita gadis yang baik." “Bagaimana Mama tahu, bukannya Mama baru mengenal Gita?" “Iya sih, tapi tak ada salahnya dicoba kan?" Dicoba? Memangnya ia minyak kayu putih? Gita mendumel dalam hati. "Entahlah, Ma," sahut laki-laki itu lemah. “Kau harus membuka hati, Nak, tak semua wanita itu sama. Buktinya Mama tetap setia sama Papa kamu." Pram menarik napas panjang, entah apa yang dipikirkannya. Setelah melihat tak ada jawaban apa pun dari bibir Pram, Gita diam-diam kembali ke kamar, tak ingin mengganggu pembicaraan ibu dan anak itu. Atau lebih tepatnya ia tak punya nyali untuk mengambil bagian di tengah mereka. Satu yang kini kian menganggu pikirannya adalah fakta bahwa ternyata trauma yang dialami Pram cukup parah. Tertoreh sedikit rasa kasihan di hati gadis itu padanya. Seorang lelaki setampan Pram menutup diri hanya karena trauma masa lalu? Tapi benarkah dia menutup diri? Pipi Gita merona ketika mengingat bagaiman cara pria itu menciumnya tempo hari. Dingin memang tapi menuntut. Detak jantungnya yang berirama terdengar nyata di telinga Gita saat keduanya berada begitu dekat. Apa mungkin karena pria itu kesepian? Dan sebagai lelaki normal ia butuh media buat menyalurkan hasrat. Sialnya sebagai korban ia malah menikmati. Bahkan terlintas keinginan untuk mengulang peristiwa itu kembali. Lagi-lagi Gita merutuki diri. Jangan murahan, buang jauh-jauh pikiran itu, bukannya lo udah janji ke Hesti bakal jaga jarak dari pria tersebut? batinnya. Tak mau berhalusinasi dan berimajinasi tentang pria itu terlalu jauh, Gita melanjutkan langkah dengan cepat meninggalkan ruang tengah. Ia menarik napas lega setelah sampai di dalam kamar. Pandangannya tertuju pada Hesti yang masih tertidur pulas. Bingung mau ngapain lagi, gadis itu kembali keluar kamar. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara segar pegunungan. Gita menelusuri pematang sawah yang sekaligus menjadi jalan desa itu dengan santai. Pemandangan alam seperti ini memang sangat ia sukai. Setidaknya bisa mengobati kerinduannya akan kampung halaman di Sumatera sana. Gita tersenyum mengingat bagaimana histerisnya ia ketika seekor lintah menempel di kaki, padahal waktu itu ia sudah kelas satu SMA. Gadis itu nyaris saja berteriak ketika seseorang menyentuh bahunya dari belakang. Tubuhnya limbung, ia hampir saja terjerembab ke dalam sawah. Seseorang tersebut menangkap tubuhnya cepat, sehingga tak ayal lagi ia terjerembab di pelukan orang yang mengagetkannya. “Kenapa sih hobi banget ngagetin orang, modus ya?" teriaknya galak ketika menyadari siapa orang itu. "Oo, jadi Anda maunya saya lepasin biar nyungsep ke dalam sawah? Lagian ngapain sih pagi-pagi buta udah keluyuran. Atau jangan-jangan sengaja nungguin saya?" sahut seseorang itu yang tak lain adalah Pram itu sembari tersenyum miring. Kembali dengan sikap formalnya. Mata gadis itu membulat, karena jengkel, reflek ia mendorong tubuh Pram yang masih memeluknya. “Ih, siapa juga yang nunggu lo, ge-er," cibirnya. Wajah Pram mengeras. Gita jadi merasa menyesal dan juga takut melihat ekspresi itu. Mungkinkah kata-katanya menyakiti hati Pram? Ah, peduli amat. Ia membatin. Gita melanjutkan langkah pelan, menyentuh embun yang menempel di dedaunan yang terasa begitu segar, kemudian menampungnya dengan telapak tangan dan mengusap ke kaki dan kedua tangannya. Tiba tiba tubuh tinggi jangkung itu memeluk dari belakang, tangannya melingkar erat di pinggang Gita. "Jangan teriak atau Anda akan membangunkan seluruh warga dan menggiring kita ke balai desa," desisnya bernada ancaman. Gadis itu bergidik mendengar ucapan itu. Tidak terbayang di benaknya jika tiba-tiba mereka diarak keliling kampung karena dikira telah berbuat m***m. Gita melepaskan tangan Pram yang melingkar di perutnya kasar. “Maunya apa sih," ujarnya frustasi. Pram diam. Pupil coklat miliknya kian menggelap. Tatapan itu menukik, menembus hingga ke dalam jantung Gita. Ia ingin berpaling, tapi tidak bisa. Bahkan gadis itu bergeming saat Pram kembali menyentak tubuhnya hingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. “Saya mau kamu," desisnya dingin. Gita terkesiap. "Maksudnya?" sahut Gita gugup. Seperti tersadar dengan apa yang ia ucapkan, Pram buru-buru melepas pelukan. Ia lantas membuang pandang. "Lupakan!" Sikap pria itu kembali kaku. Setelahnya ia mengambil langkah cepat. Tanpa menoleh lagi meninggalkan Gita yang masih tertegun. Ada apa dengan Pram? Ada apa dengan dirinya? Selarik senyum miris terukir di sudut bibir Gita saat menyadari apa yang terjadi. Tanpa disadari kelopak matanya kian memanas. ‘Jangan pernah berharap, Gita! Bukan sosok sepertinya yang kamu inginkan. Lagipula memangnya siapa dirimu?' batinnya mengingatkan. Tapi kenapa rasanya sakit? Tak ada jalan lain, ia memang harus menjauh, sebelum rasa itu kian berkembang yang pada akhirnya hanya akan meninggalkan luka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN