Alarm di meja kecil berdering nyaring memecah kesunyian pagi. Benda itu terletak sejajar dengan telinga Hesti. Merasa terganggu dengan suaranya yang memekakkan telinga, Hesti menggerutu.
"Gitaaa, lo demen banget sih nyetel alarm. Dahal tanpa benda itu lo juga dah pasti bangun tepat waktu."
Gadis itu lantas mematikan jam beker tersebut, lalu kembali merapatkan selimutnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk kembali mendengkur.
Sementara gadis yang ia anggap pasti terbangun tepat waktu itu masih hanyut dalam mimpinya. Dan baru tersentak bangun satu jam kemudian.
Setelah meregangkan tubuh berkali-kali, Gita membuka mata perlahan. Saat tatapannya tertuju ke meja kecil yang jadi pembatas ranjangnya dengan Hesti, gadis itu tersentak.
Ini hari pertama jadwal masuk kuliahnya setelah musim liburan, mahasiswi semester akhir itu tidak ingin datang terlambat. Itulah kenapa ia sengaja menyetel jam beker. Tapi kenapa alarm itu malah tidak berbunyi? Apa tidurnya begitu pulas?
Tak ingin makin terlambat, ia serta merta melompat bangun. Dan setengah sempoyongan meraih handuk lantas melangkah cepat meninggalkan kamar menuju kamar mandi yang terdapat di area dapur.
Seperti biasa, semalaman gadis itu kembali berkutat dengan setumpuk buku dan makalah yang sudah tersusun rapi di rak. Sebagai kutu buku--gelar yang ia dapat dari teman-temannya--tentu saja melahap semua isi buku adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi gadis manis berdarah Minang itu. Alhasil tanpa gadis itu sadari, ia baru tertidur mendekati tengah malam.
Lima belas menit berselang, Gita sudah keluar kembali dari kamar mandi. Bersiap melaksanakan sholat Subuh.
Selanjutnya gadis itu bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan ala kadarnya untuk ia dan Hesti. Sepupu Pramudya tersebut mengaku tidak enak badan dari semalam. Karena itulah Gita enggan membangunkannya.
Palingan tuh anak tidur lagi setelah sholat Subuh, ia membatin. Hingga tak terbersit di hatinya untuk mengusik meski hari sudah siang.
Setelah rapi dan memastikan tak ada yang tertinggal, Gita meraih kunci motor. Ia akan berangkat menuju kampus dengan mengendarai motor matic kesayangan, seperti biasa. Motor itu hadiah yang ia dapatkan dari sang ayah karena ia berhasil masuk tanpa tes di kampus impian banyak calon mahasiswa. Tentu saja dengan satu alasan lagi. Lebih irit jika dibandingkan ongkir yang harus mereka keluarkan jika setiap hari jika naik kendaraan umum. Selain itu motor adalah pilihan paling tepat demi mempersingkat waktu dengan situasi jalanan ibu kota saat sekarang.
"Hes, gue berangkat ya? Dah telat nih. Kesiangan gue," ujarnya sambil mengguncang pelan pundak gadis itu.
Hesti hanya mendengkus.
Beberapa saat berselang motor Gita telah meluncur membelah jalanan gang.
Sepanjang jalan pikirannya tertuju pada Pram. Sepupu sahabatnya yang sok cool namun menurutnya sangat menyebalkan itu.
Apa kabar si dosen tampan itu? Ia membatin. Tak bisa dipungkiri, jauh di lubuk hatinya terselip kerinduan. Dan juga debar saat membayangkan seandainya mereka bertemu nanti di kampus, apa yang akan ia lakukan? Bagaimana seharusnya ia bersikap?
Sejak kembali ke Jakarta mereka tak pernah saling mendengar kabar masing-masing. Hesti juga sama sekali tak mau menyinggung segala hal yang berhubungan dengan laki-laki itu. Entah apa alasannya.
Gita merasa seperti ada dinding pemisah tak terlihat yang tercipta antara ia dan Hesti. Meskipun mereka berdua berusaha untuk bersikap seperti biasa, tetap saja terasa ada hal yang mengganjal dalam pikirannya. Semua tak lagi sama.
Gadis itu menarik napas perlahan.
Tanpa terasa motor yang ia kendarai telah memasuki area parkir. Gita melepas helm dan jaket yang dikenakan. Kemudian menyimpan jaket tersebut di jok, sedangkan helm ia biarkan bertengger pada kaca spion.
Setelah memastikan semua aman, ia melangkah meninggalkan tempat parkir. Baru saja beberapa langkah meninggalkan motornya, sebuah motor yang lewat di samping menyenggol Gita, beruntung gadis itu masih sempat mengelak hingga tak terpental.
Shitt ...! teriaknya marah.
Jangankan berhenti untuk minta maaf, si pengendara melirik pun enggak. Sikapnya itu membuat Gita naik pitam, ia langsung menyusul ke tempat orang itu memarkirkan kendaraannya yang memang berjarak tidak begitu jauh dari tempat Gita berdiri.
“Matamu ditaruh dimana sih, nggak liat apa, orang segede ini main senggol aja," makinya kesal, persis ketika berada di depan motor seseorang itu.
Si pengendara yang kena semprot Gita membuka helm santai, seolah tak terpengaruh omongan gadis itu. Kemudian menggoyangkan kepala sambil merapikan rambutnya yang sedikit gondrong dengan sisir jari.
Gita menatap jengkel. Dan emosinya makin terpancing melihat sikap acuh tak acuh pria tersebut.
"Lo dengar gak sih?" teriaknya.
Pria itu menoleh dan menatap Gita sekilas, lalu tersenyum. Sesaat Gita tertegun. Namun tentu saja ia tidak akan terpengaruh dengan sikap laki-laki itu yang seolah sengaja tebar pesona.
Pram-nya jauh lebih tampan.
Eh ... gimana gimana? Cepat Gita menggeleng. Menghalau pikirannya yang mulai ngelantur.
“Kenapa sih, Non, marah-marah gak jelas?" ujar pria itu sembari turun dari motor.
“What, gak jelas lo bilang. Lo hampir aja menabrak gue." Gita makin kesal. Dia menatap sang pria dari atas sampai bawah.
"Tapi belum kan? Buktinya lo gak kenapa-napa tuh," sahut pria itu lagi, santai.
Gita melotot tak percaya.
Nih orang benar-benar sinting ternyata. Percuma ngeladani orang kayak gini, yang ada bikin gue sakit jantung, batinnya.
Membuang napas kesal, Gita mengentakkan kaki ke tanah tanpa sadar. Sambil ngomel tak jelas ia berlalu meninggalkan laki-laki yang dengan sengaja membuatnya jengkel itu.
"Eitt, tunggu!"
Gita menoleh lagi, sekedar memastikan apakah memang benar dirinya yang dipanggil atau bukan.
Laki-laki itu setengah berlari mengejar, namun Gita malah mempercepat langkah. Ia malas berurusan dengan orang seperti itu. Yang ada membuat kepalanya jadi mumet.
“Dipanggil bukannya nungguin, malah tambah cepat jalannya," ujar laki-laki itu sok akrab, sambil menangkap pergelangan tangan Gita.
Gadis itu tersentak. Serta merta ia melotot, menatap tangan yang seenaknya menggandeng tangannya.
"Maaf," ujar pria itu. Ia cengar cengir sembari garuk-garuk kepala.
Benar-benar sableng nih orang, Gita kian ngedumel. Meski hanya dalam hati.
“Ada apa," sahutnya ketus.
“Ih, galak amat, ntar keriputnya nambah lho," sahut pria itu datar.
“Apa?"
Bola mata Gita kian membulat.
"Lo bilang keriputnya nambah? Emang gue udah keriput apa? Lo siapa sih kurang ajar benar. Kenal juga enggak, tapi sudah sukses buat mood gue rusak pagi ini." Bukan main kesalnya Gita hingga tanpa disadari ia memaki panjang lebar.
"Awas, ntar bola matanya nggelinding, Neng."
“Bukan urusan lo," jawabnya makin ketus.
Wajah putih bersih itu terlihat memerah menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.
Melihat tampang Gita, laki-laki itu malah tertawa.
"Sinting!" Emosi Gita kian tak terkendali.
Lagi-lagi pria itu tertawa. Seolah kata yang diucapkan Gita itu bukan ditujukan untuknya.
"Gue mau ke ruangan rektor, lo bisa tunjukin," katanya setelah tawa reda. Benar-benar tak terpengaruh sedikit pun dengan makian yang Gita ucapkan.
"Gak sudi, cari aja sendiri," sahut Gita tajam.
Lantas segera bergegas meninggalkan pria tersebut. Namun Gita masih dapat mendengar tawanya yang sukses membuat mood gadis itu benar-benar berantakan.
Laki-laki sialan, kurang ajar, gak tahu sopan santun, dan segala macam sumpah serapah keluar dari mulutnya.
Gadis itu menelusuri lorong menuju ke ruang kelas dengan tampang jutek.
"Hei, kenapa Non? Pagi-pagi muka udah dilipat gitu, bukannya senang ketemu gue lagi."
Siska mencowel pipi Gita sambil memperlihatkan senyum manisnya. Entah kapan datangnya gadis itu tau-tau telah menyejajarkan langkah dengan Gita.
"Siskaaa."
Gita merentangkan tangan. Moodnya yang tadi rusak seketika membaik. Mereka berpelukan erat, bahkan sambil jingkrak-jingkrak kayak anak kecil.
Siska salah satu sahabat dekatnya di kampus. Sebenarnya ada satu orang lagi, Arum. Gadis itu jelas belum datang. Di kampus ia mendapat julukan ratu mepet, saking seringnya muncul di ruang kelas pada detik terakhir dosen akan memulai kuliah.
"Tumben lo sendiri, Hesti mana?" tanya Siska setelah mereka puas kangen- kangenan, sambil berjalan beriring.
“Ada di kosan, lagi kurang sehat dia."
"Wah, pasti liburan kalian seru ya, sampai-sampai Hesti jatuh sakit," kata Siska lagi. Dia tahu kalau Gita ikut Hesti pulang kampung.
"Gak juga, kami bahkan udah kembali tiga hari yang lalu," sahut Gita.
Ingatannya kembali kepada Pram, apa kabar lelaki itu?
Saat mengedarkan pandang seketika wajah Gita memucat. Seseorang di ujung koridor tengah mengamati dirinya dari kejauhan.