"Kantin yuk!"
Tiba-tiba saja Gita berbelok arah. Tanpa menunggu persetujuan Siska, gadis itu memilih lorong yang berbeda dengan yang seharusnya mereka tuju.
Kantin yang dimaksud Gita berlokasi tak jauh dari ruang kelas mereka. Hanya dipisahkan oleh taman dan beberapa gazebo. Biasanya saat santai para mahasiswa lebih senang duduk di gazebo sembari menikmati cemilan yang mereka pesan dari kantin sebelahnya sambil berdiskusi.
Tujuan Gita ke kantin bukan karena lapar, melainkan untuk menghindari sosok yang tengah mematung di ujung koridor, depan gedung utama. Yang mana gedung tersebut terdapat ruangan rektor pada lantai dua. Sementara lantai satu dijadikan kantor beberapa bank konvensional.
"Eh taruh ransel dulu kali," sahut Siska.
Namun tak urung gadis itu tetap mengikuti langkah Gita yang telah meninggalkannya beberapa langkah.
“Lo kenapa sih?" tanya Siska lagi setelah langkahnya sejajar dengan langkah Gita.
"Emang gue kenapa?" Gita balik bertanya.
“Awalnya lo ngedumel nggak jelas, lalu tiba-tiba berbalik seolah melihat hantu," sungut Siska.
"Bisa jadi," sahut Gita seenaknya.
"Hah, serius lo?"
"Tiba-tiba aja gue ngeliat sosok nggak jelas di ujung lorong," lanjut Gita dengan mimik sangat serius.
Siska yang tengah berjalan di sebelahnya serta merta mencengkeram lengan gadis itu. Ingatannya seketika tertuju pada peristiwa ditemukannya mayat tanpa identitas tak jauh dari kampus mereka beberapa bulan lalu.
"Laki, perempuan?" tanyanya berbisik.
"Laki."
Mata gadis itu kian melebar. "Jangan-jangan ...."
Tanpa berani melanjutkan ucapan, Siska segera ambil langkah seribu.
Gita cekikikan. Membuat Siska parno itu adalah hal yang paling gampang. Gadis berkulit seputih s**u tersebut begitu alergi dengan hal yang berbau mistis.
Maaf ya, Abang Tampan. Siapa pun Anda, saya telah berhasil merubah sosok Anda jadi mengerikan, meski itu cuma dalam imajinasi teman saya, Gita membatin.
Merasa geli sendiri, tak ayal gadis itu memendam senyum. Beruntung Siska tidak sedang melihatnya. Kalau tidak, bisa saja gadis itu menganggap Gita telah kerasukan.
Siska menarik napas panjang saat kakinya menginjak lantai kantin. Meskipun tidak terlalu ramai, keberadaan beberapa orang di sana cukup membuat ia lega.
Tepat saat Siska selesai membuat pesanan, Arum masuk sambil tertawa lebar. Lalu memeluk dua sahabatnya itu.
"Lo ngeliat sesuatu di ujung koridor?" Pertanyaan pertama yang diajukan Siska. Menatap serius wajah Arum.
Arum menggeleng. "Ada apa emangnya?"
"Berarti nggak, syukurlah. Lo kan lebih penakut dari gue."
"Kalian ngomong apa? Ada yang gue belum tahu nih," sahut Arum lagi sambil duduk di depan Gita dan Siska.
Saat yang sama pesanan Siska datang. Hanya satu piring somay dan dua gelas minuman. Satu minuman dingin. Dan satu lagi teh hangat pesanan Gita.
Saat garpu berujung sepotong siomay di tangan Siska mengacung, wajah Arum langsung mendekat.
Hap.
Mulutnya mengunyah santai olahan ikan tenggiri itu.
Siska yang sudah membuka mulut melotot kesal. Gita dan Arum terkekeh melihatnya. Arum memang yang paling jahil diantara mereka. Ia tahu Siska paling tidak suka makanannya direcokin, tapi tetap saja mengganggu. Akhirnya Siska hanya bisa cemberut .
"Tanya aja dia," sahut Siska jutek.
"Gak, gak pa-pa," sahut Gita menggeleng.
"Biasanya cewek yang bilang gak pa-pa, berarti memang ada apa-apanya. Teorinya begitu," kata Arum.
"Teori siapa?" sahut Gita santai.
“Teori siapa ya?" Arum bertanya sambil menatap Siska. Siska mengangkat pundaknya.
"Ah bodo amatlah, mau teori siapa kek, yang jelas begitu," sahut Arum. Gita dan Siska hanya tertawa mendengarnya.
“Cerita dong tentang liburan kalian," ujar Arum kemudian.
Ucapan yang seketika membangkitkan segala memory nya akan sosok Pram. Mungkin berbagi dengan mereka akan mengurangi sedikit kadar rindu sepihak yang ia rasakan. Setidaknya ia tidak akan sesak sendiri.
Memikirkan hal tersebut akhirnya gadis itu menceritakan juga tentang Pram ke mereka berdua, termasuk hubungan Pram dengan Hesti. Siska dan Arum menutup mulutnya kaget. Keduanya menatap Gita melotot.
“Lo gak lagi bercanda kan?" tanya Siska disela keterkejutannya.
“Gila, gak nyangka cowok yang dinginnya kayak es batu itu mencair di tangan sahabat gue sendiri. Lo hebat Git," teriak Arum sambil memeluk Gita senang.
"Hei, suara lo bisa pelan dikit gak sih. Kita jadi tontonan tau." Gita melirik kiri kanan.
“Biar aja, biar semua tahu kalau lo pemenangnya, meskipun lo gak ikutan ngantri kayak mereka," sahut Arum sambil menatap sekelompok mahasiswi yang duduk di pojok. Geng rempong mereka menyebut diri sendiri.
Bukan rahasia lagi, selama ini geng rempong ini paling antusias capernya ke dosen muda itu. Meskipun Pram tak pernah menganggap mereka ada.
“Pemenang apaan sih, Rum? Emangnya kompetisi," sahut Gita makin merasa tidak enak.
“Anggap aja gitu."
“Gue cuma mainan buat dia," sahut Gita pelan.
Hatinya sakit mengingat di hari terakhir di sana ia mempertanyakan arti dari sikap pria itu. Belakangan ia merasakan sikap pria itu begitu manis.
"Kenapa Bapak begitu baik?"
"Kamu temannya Hesti, lalu apa yang aneh? Saya terbiasa memperlakukan semua orang yang dekat dengan keluarga ini layaknya keluarga sendiri juga."
"Termasuk mencium seenaknya jika Anda ingin?"
Wajah Pram memerah saat itu.
"Plis, Gita. Itu hanya sebuah insiden." Jawaban yang seketika mematahkan hatinya.
"Gue rasa gak, mungkin hanya dia butuh waktu. Lihat aja ntar, dia pasti nyariin lo," sahut Siska tiba-tiba.
Gita menggeleng, "gue gak berharap."
“Satu lagi yang perlu kalian tau, Hesti mencintainya bukan sebagai saudara, tapi lebih dari itu," lanjutnya.
“Tapi gue juga percaya kalau Hesti bakal ngerelain kalau nantinya kalian saling mencinta." Kali ini Siska yang menyahut.
"Cinta itu tak bisa dipaksa. Kalo Pak Pram maunya lo, siapa yang berani melarang," timpal Arum.
Gita menghela napas berat.
"Gue sendiri gak yakin sama perasaan gue, apalagi sama dia." Gita bergumam, Siska dan Arum perpandangan. "Lagipula masih terlalu dini untuk mengambil sebuah kesimpulan," lanjutnya.
Siska menatap sahabatnya itu lekat, "lo nggak lagi patah hati kan?" tanyanya hati-hati.
"Nggak lah."
"Udahlah, nggak usah terlalu dipikirin. Nikmatin aja hidup lo. Coba bayangkan diantara sekian banyak fans-nya, dia memilih lo." Arum berceloteh.
"Dipilih untuk dijadikan mainan?" sahut Gita. Ia tersenyum miris.
"Hei, nggak gitu kali konsepnya."
“Lagian siapa juga yang ngefans ama dia?" Gita cemberut.
Dan ini bener, Gita bukan tipe orang yang suka meng-idolakan orang lain. Apalagi sampai histeris melihat sang idola, bukan dia banget.
"Kita dukung lo kok, tenang aja." Arum dan Siska menyahut berbarengan, tatapan mereka begitu serius.
"Maaf ya, gue gak ada maksud nikung lo," ujar Gita tiba-tiba pada Arum, setelah mereka terdiam cukup lama.
Arum menggeleng. "Gue nggak ngerasa tuh."
Gita, Siska dan Arum pernah bertemu dengan Pram tanpa sengaja di ruang senat. Dari sejak itu, nama Pram selalu jadi topik utama pembicaraan Arum. Padahal Pram menoleh juga tidak padanya, lebih tepatnya pada semua. Dia hanya fokus pada pekerjaan.
Hesti sampai penasaran, bahkan sampai detik ini dia tidak tahu orang yang dimaksud Arum adalah sepupu yang juga gebetannya.
"Gue cuma salah seorang pengagumnya Gita. Gue akui pada awalnya gue ngebet banget ama dia, tapi lo liat sendiri kan gimana sikapnya? Mendingan gue mundur ketimbang patah hati."
"Lagian sekarang gue udah punya pacar, cinta pertama gue," sambungnya lagi menatap Gita dan Siska bergantian. Wajahnya sumringah, gadis itu terlihat bahagia.
“Oh ya?" sahut Gita dan Siska bersamaan.
“Siapa? Gimana ceritanya? Kita-kita pada kenal gak?" Keduanya memberondong gadis termuda di antara mereka tersebut dengan berbagai pertanyaan, antusias.
“Ntar gue cerita, intinya sekarang gue lagi falling in love." Arum tertawa lebar. Gita dan Siska memeluknya hangat.
***
Ini hari kelima Gita meninggalkan kediaman orang tua Pram. Kepulangannya sehari lebih awal dari rencana semula membuat Pram merasa bersalah.
Sepertinya gadis itu tersinggung dengan jawabannya yang ambigu tempo hari. Walau sebenarnya ia tak berniat menyakiti. Soal perasaan jelas ia tidak bisa menyimpulkan. Masih sangat terlalu dini. Pram tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama. Satu yang pasti ia merasa nyaman ketika bersama gadis itu. Apalagi melihat tatapannya yang teduh, matanya yang indah serasa menghipnotis.
Untuk jatuh cinta? Sejujurnya ia tak mau berharap lebih. Ia belum siap untuk kembali merasakan patah hati. Mungkin kedengarannya terlalu girly, tapi memang kenyataannya ia belum berani untuk memulai lagi suatu hubungan. Luka yang digoreskan Alya--sang mantan kekasih--di hatinya masih menganga entah sampai kapan.
Tapi kenapa ia tak bisa melupakan Gita? Bayangan gadis itu senantiasa bermain di pelupuk matanya. Semakin ia melupakan, bayangan itu semakin kuat. Mungkin ia tak akan sekalut ini, andai saja ia tak melihat tatapan kecewa dari mata Gita saat berpamitan tempo hari.
Pram merutuk dalam hati, bagaimana seorang Pramudya Aleandro bersikap seperti don juan, seorang dosen yang disegani sekaligus dikagumi di kampus yang terkenal cool, calm, dan acuh bisa main peluk seenaknya pada seorang gadis. Yang tak lain adalah seorang mahasiswi tempatnya mengajar.
Tapi itu bukan sepenuhnya salah Pram, siapa suruh dia begitu cantik. Tubuh pria itu menghangat ketika membayangkan bagaimana mereka bertatapan waktu itu. Desah napasnya yang memburu sesaat setelah Pram mencium paksa, bermain di pelupuk matanya.
Ya Tuhan, aku merindukannya, merindukan semua tentang dia, tak salah lagi. Aku jatuh cinta, bahkan perasaan ini jauh lebih kuat dari yang pernah kurasakan dulu pada Alya. Lalu apa yang harus kulakukan? batinnya.
Ia masih takut untuk memulai, bagaimana kalau pada akhirnya ia kembali gagal. Pram tak bisa membayangkan hal itu.
Ia meremas rambut kuat, kepalanya menjadi tambah pusing.
Jangan jadi pengecut Pram, kamu itu laki-laki. Jika kau mencintainya kenapa tak mencoba untuk mendapatkannya? Suara hati seolah memberi semangat baru baginya.
Hesti, tiba-tiba ia teringat gadis itu. Kenapa tak mencoba mendekati Gita melalui gadis itu? Bukankah mereka sahabatan? Pastilah Hesti tahu segalanya tentang 'dia'. Pram tersenyum tipis, setidaknya untuk saat ini ia sudah mendapat solusi.
Diraihnya ponsel yang tergeletak di nakas, mencoba menghubungi Hesti melalui video call, berharap di sana ada Gita yang lagi bersamanya. Hari pertama masuk kuliah setelah libur semester, mungkin saja mereka sudah berada di kampus. Hanya saja hari ini Pram tak ada jadwal, sehingga ia masih punya waktu untuk istirahat di mantion.
"Ya Kak, ada apa?" Suara di seberang sana membuyarkan lamunan Pram. Kebiasaan Hesti, asal ditelpon pasti nanya ada apa. Gadis itu memang tipe orang yang tak suka basa-basi.
"Hei kamu gak ke kampus?" Pram mengabaikan pertanyaannya begitu melihat gadis itu masih di tempat tidur.
“Gak Kak, lagi kurang sehat," sahut Hesti sengau, gadis itu memang lagi terserang flu berat.
"Lalu Kakak sendiri kenapa gak ke kampus?" tanyanya.
"Kakak gak ada jadwal hari ini. Oh ya, ngomong-ngomong kamu sendirian? Udah berobat belum?"
Sebenarnya ia ingin menanyakan kabar Gita, namun urung begitu melihat kondisi Hesti. Dia gak mau Hesti salah paham kalau ia bertanya mengenai Gita, sementara Hesti sendiri lagi sakit.
Gadis itu terbatuk beberapa kali.
"Udah Kak, tadi malam diantar Gita ke klinik," sahutnya.
Nah, akhirnya Pram dengar juga nama gadis itu disebut, ia merasa senang.
Hey, ada apa denganmu Pram, hanya mendengar nama gadis itu saja kamu udah senang banget, ia merutuki diri sendiri.
"Jadi sekarang kamu sendirian?"
Hesti mengangguk.
"Pasti kamu belum sarapan ya?"
"Belum sih Kak, kan aku baru bangun," sahut Hesti sambil tersenyum malu.
“Tapi sarapannya udah ada sih, Kak, tadi disiapin Gita sebelum berangkat ke kampus," lanjutnya lagi.
Pram tersenyum mendengarkan.
"Syukurlah kalau begitu. Udah sana, cuci muka, sikat gigi trus sarapan dulu sebelum minum obat!" perintahnya.
"Iya, bawel. Ini baru jam 8.00 lho, tapi aku udah dua kali mendapat ceramah yang sama," sahut Hesti cemberut.
Pria itu hanya tersenyum menanggapi, ia tahu siapa yang dia maksud, siapa lagi kalau bukan ia dan Gita.
"Ya sudah, kalau gitu. Selamat istirahat."
“Oh ya Hes, kirim alamat kalian, nanti Kakak akan ke sana!"
"Mau ngapain, Kak?"
"Ya jenguk kamulah, gimana sih?"
Hesti tertawa, tapi entah mengapa Pram merasa Hesti tak mengharap kedatangannya.
Apa mungkin kecurigaannya selama ini benar? Hesti menyimpan rasa yang berbeda untuknya.
Tanpa sadar ia menarik napas panjang seiring kepalanya yang mendadak terasa berat.
Cinta kadang memang tak ada akhlak, tumbuh di mana saja yang ia suka tanpa pandang bulu.
Jika itu benar, ia harus bagaimana?