Best Friend Forever

1629 Kata
Hesti mengembalikan ponsel ke tempat semula dengan perasaan yang ia sendiri sulit menggambarkan. Satu sisi ia senang mendengar Pram akan mengunjungi, namun salah satu sudut hatinya enggan bertemu. Bukan karena benci, hanya saja Hesti tahu hatinya tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana kalau pertemuan nanti justru kian membuat hatinya terluka? Apa yang lebih menyakitkan saat menyadari seseorang yang kita cintai sama sekali tidak menganggap ada? "Ck!" Hesti menggeleng. Apa yang ia pikirkan? Ia suka atau tidak di antara dirinya dan Pram ada sebuah ikatan yang tidak akan mungkin terurai hanya karena rasa yang ia miliki tidak berbalas. Terlepas dari semua itu, Pram tetaplah sepupunya. Orang yang akan selalu berada di sekitarnya dalam situasi apa pun. Hanya saja hatinya yang terlalu gampang tersentuh oleh kebaikan dan kelembutan sikap Pram selama ini. Sikap wajar yang tentu saja wajib dimiliki sesama saudara. Jadi tak ada yang istimewa. Jika kini ia terluka maka itu jelas karena dirinya sendiri yang tidak bisa membentengi hati. Hesti menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan seiring kelopak matanya yang kian memanas. Ia bukanlah sosok yang gampang menyerah. Apa lagi sebelum berjuang. Hanya saja untuk kali ini ia harus sadar diri. Saat menyadari orang yang disayang Pram adalah sahabatnya sendiri, ia bisa apa? Dari caranya bersikap saat saling bertemu, sudah cukup memberi sinyal bagi Hesti bahwa keduanya saling suka, hanya saja belum menyadari. Atau mereka sama-sama gengsi? Menoleh ke samping bubur ayam buatan Gita semakin memantapkan hatinya untuk mengalah. Di sela waktu yang minim pun gadis itu masih memikirkan dirinya. Lalu pantaskah orang baik seperti itu disia-siakan? Lagi-lagi gadis itu menghela napas berat. Jika cinta adalah pengorbanan, maka ikhlaskan hatinya untuk melakukan. *** Gita mendorong pelan pintu kamar kos yang tidak terkunci. Dahinya sedikit mengernyit melihat Hesti yang masih bergelung di tempat tidur. Perlahan ia mendekat dan meraba kening sang sahabat, ternyata suhu tubuh gadis itu sudah mulai normal. Gita menghela napas lega. Tak ingin mengusik, Gita memutuskan membenahi piring dan gelas kotor yang berserakan di nakas bekas makan Hesti. Hal yang sudah ia duga bahkan saat ia masih di lahan parkir kampus ketika akan pulang. Sehat saja Hesti jorok, apa lagi sedang sakit. Namun itu bukanlah masalah besar bagi Gita. Setelah selesai berbenah dan membersihkan diri, ia pun langsung melaksanakan sholat Ashar. Pada dua rakaat sholat Ashar yang ia kerjakan, seseorang mengetuk pintu utama setelah lebih dulu bel berbunyi. Hal yang sedikit banyak memecahkan fokus gadis itu. Ia berharap ada seseorang yang segera membukakan pintu. Namun sayang hingga mengucap salam, ketukan itu masih terdengar. Gita buru-buru bangkit ketika menyadari bahwa saat ini di rumah yang sebesar itu hanya ada dirinya dan Hesti. Masih mengenakan mukena, gegas Gita keluar kamar. Jarak kamarnya dengan pintu utama lumayan jauh. Tempat kos mereka memang tak seperti kos-kosan pada umumnya. Rumah ini lumayan besar. Tadinya bangunan bernuansa Eropa kuno itu hanya dihuni oleh wanita separuh baya yang sudah menjanda karena ditinggal mati oleh suaminya. Sementara ketiga anaknya sudah menikah dan punya kehidupan masing-masing. Karena itulah bunda--panggilan kepada ibu kost--memutuskan untuk menjadikan rumahnya sebagai kost-kostan khusus perempuan. Daripada membiarkan beberapa kamar kosong tanpa penghuni. "Pak Pram ...?" Gita terbelalak kaget begitu menyadari siapa tamu yang berdiri menjulang di depan pintu. Laki-laki itu menatap datar setelah sesaat hanya terpana. Hal yang sama pun dialami Gita. Beberapa detik ia hanya terkesima. Seolah tak percaya dengan penglihatan sendiri. “Saya mau bertemu Hesti, boleh saya masuk?" Suara dingin Pram membuyarkan lamunan Gita. "Ya, Pak ... silakan!" Gita memberi ruang dengan cara mundur beberapa langkah dari depan pintu. Lantas mempersilakan pria tersebut duduk di ruang tamu. Setenang apa pun sikapnya, gadis itu sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa gugup. "Ya Tuhan ... kenapa mendadak gugup begini?" gumamnya pada diri sendiri. Cepat-cepat ia melangkah ke kamar. Ternyata Hesti sudah terbangun. Gadis itu masih mengusap-usap pelupuk matanya. "Pulangnya dari tadi, Git? Maaf ya ngerepotin kamu," ucapnya setelah melihat meja yang jadi pembatas ranjangnya dan Gita terlihat rapi. Padahal tadi sebelum gadis itu pulang sudah seperti kapal pecah. "Bukannya selalu ya?" sahut Gita santai. Tak pelak membuat Hesti tertawa. "Maksud gue...." “Di depan ada Pak Pram, dia mau ketemu lo," timpal Gita. Hesti menatap kaget. "Kalian datang bareng?" "Ya enggaklah, lo gak liat gue baru habis sholat. Karena gak ada yang buka pintu, ya gue terpaksa bukain begitu selesai mengucap salam. Ya udah, lo temuin gih kasian tuh kelamaan nunggu." Hesti menarik napas, sepertinya kondisi gadis itu masih lemes. "Masih pusing?" tanya Gita khawatir. Gadis itu merapikan mukena dan sajadah yang masih tergelar saat tadi ia tinggalkan untuk membuka pintu. "Sedikit." "Apa Pak Pram aja suruh ke sini?" Maaf, ya Hes ... gue harus pastiin perasaan lo ama Pram, batinnya. Karena menurut gadis itu orang yang saling mencintai pasti akan senang diberi kesempatan berdua-duaan, apalagi di dalam kamar. Ya Tuhan, apa yang ia pikirkan? Kenapa otaknya jadi m***m begini? Hesti menggeleng, "Jangan Ta, gak enak ama teman-teman yang lain. Ntar dikirain kita nyimpan cowok lagi di kamar." "Tapikan Pram saudara lo." Lagi-lagi ia memancing Hesti. "Lo lupa ya, kami saudara tapi bukan mahram," sahut Hesti tegas. Gita tersenyum lega, inilah salah satu yang membuat mereka bisa sangat dekat karena mempunyai prinsip dan cara berpikir yang sama. "Ya sudah, mari gue antar ke depan," sahut Gita setelah membantu gadis itu merapikan diri. Perlahan ia menggandeng Hesti ke ruang tamu. Menuntun hingga Hesti duduk di salah satu kursi. Persis di depan Pram. Selanjutnya ia segera ke dapur membuat minuman. Beberapa saat berselang, Gita telah kembali dengan dua cangkir teh hangat buatannya. "Silakan diminum," ujarnya. "Makasih ya, Git," ujar Hesti. Sementara Pram hanya bergeming. Tapi Gita tahu pria itu tengah mengamatinya. Hal yang seta merta kembali membuatnya salah tingkah. Tuh mata bisa disekolahin gak sih? Gita menggerutu di dalam hati sebelum akhirnya mengambil langkah seribu. Di dalam kamarnya, lagi-lagi Gita merutuk. Sikapnya tak jauh berbeda dengan sikap perawan yang tengah dikhitbah. Malu-malu sambil sesekali curi pandang. Padahal jelas-jelas Pram datang bukan untuknya. "Jangan malu-maluin lah, Git," ujarnya sembari merebahkan diri di ranjang. Mungkin karena memang kecapekan atau suhu udara kamar yang membuat nyaman, gadis itu tertidur. Baru terbangun saat mendengar suara adzan Maghrib berkumandang dari mesjid yang tidak jauh dari rumah mereka. Dilihatnya Hesti baru masuk. Namun dari wajahnya yang basah, Gita tahu gadis itu baru selesai wudhu. "Baru juga gue mau bangunin, Git, ternyata lo sudah bangun duluan." Hesti menyapa. "Tamunya dah pulang?" Pertanyaan yang akhirnya disesali Gita demi melihat ekspresi wajah sahabatnya itu. "Gue hanya nanya," lanjutnya lagi buru-buru. "Hmmm." Hesti mengangguk. "Gimana sakitnya, udah mendingan belum?" Gita mengalihkan tanya. "Mendingan, oh ya gue sholat dulu." "Ya deh, gue juga mau wudhu." Gita melompat turun dari ranjang dan segera bergegas ke kamar mandi. Takut waktu Maghrib keburu berakhir. "Lo kok gak keluar lagi sih, malah tidur enak-enakan?" tanya Hesti begitu mereka selesai sholat. "Gue kan gak enak Hes ...." "Sejak kapan lo gak enak sama tamu gue?" potong Hesti. Gita paham ke mana arah omongan Hesti, hanya saja ia memang sengaja menghindari Pram. Tak mau cintanya bertepuk sebelah tangan, jadi sebelum perasaan itu bertambah kuat, lebih baik menghindar. Selain itu ia memang sengaja memberi kesempatan pada keduanya untuk menjejaki perasaan masing-masing. Mungkin kedengarannya terlalu naif, tapi bukankah hal itu jauh lebih baik untuk hatinya sendiri. Andai mereka yang berjodoh, ia tak terlalu patah hati. "Kasian banget Kak Pram, jauh-jauh datang kebsini malah dicuekin," lanjut Hesti karena tak kunjung mendapat jawaban. Gita terkesiap. Debar tak biasa kembali menyapa saat mendengar pengakuan Hesti itu. Namun lagi-lagi ia berdamai dengan diri sendiri. Pram lebih pantas dengan Hesti. Bukankah gadis itu jauh lebih mengerti siapa Pram? "Hesti, dengar...! Gue memang sengaja menghindarinya itu demi lo. Gue gak mau menjadi duri dalam daging sahabat gue sendiri. Persahabatan kita itu udah lebih dari saudara, apa lo pikir gue rela mengorbankannya hanya untuk seseorang yang baru saja gue kenal?" Gita berkata sambil mencengkram lengan Hesti. "Hanya lo bilang? Sadarkah lo tengah mengecilkan perasaan sendiri, Git. Ingat! Sesal itu tak ada yang datangnya duluan." "Terus lo sendiri gimana?" "Gue rela kok andai suatu saat dia benar-benar memilih lo. Lagian, di mata Kak Pram gue tetap gadis kecil yang ia sayangi sebagai adik sendiri. Sampai kapan pun." "Perasaan kemarin lo gak ngomong begitu," sahut Gita. “Karena gue sadar selama ini hanya gue yang terlalu berharap. Lagian gue tahu penderitaan Kak Pram, jika bersama lo bisa mengembalikan kebahagiaannya, kenapa gue harus jadi penghalang?" Gita menatap sahabatnya itu. Tiba-tiba ia tersenyum, merasa geli sendiri dengan obrolan mereka yang menurutnya sudah terlampau jauh. "Lo ngerasa nggak sih? Terlalu dini untuk menyimpulkan perasaan Beruang Kutub itu." Pupil Hesti melebar. "Beruang kutub? Lo tu ya?" "Gue benar kan?" Hesti menggeleng. “Lo tau gak, dia VC gue jam 8 pagi tadi. Kalau niatnya cuma mau jenguk gue, pasti dia udah datang dari pagi. Tapi dia sengaja menunda biar bisa sekalian ketemu lo, Git. Meskipun kami sering telpon-telponan, itu hanya kalau ada masalah penting yang dibicarakan. Dan gue yakin tadi itu dia video call gue, cuma ingin lihat apa lo bersama gue atau tidak?" lanjutnya lagi. "Entahlah Hes, jalani aja. Gue lebih memilih takdir Tuhan sebagai penentu masa depan. Gue takut berharap terlalu jauh untuk sesuatu yang belum tentu jadi milik gue," sahut Gita pasrah. "Tapi seenggaknya jangan menghindar gitu." Gita menatap Hesti, ada ketulusan terpancar dari sorot mata itu. Sesaat mereka saling diam, seolah tengah menjajaki perasaan masing-masing. Entah siapa yang memulai keduanya berakhir saling memeluk. Rentan waktu dan berbagai hal yang telah mereka alami bersama membuktikan, bahwa sahabat sejati itu jauh lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Termasuk cinta. Setidaknya itu yang mereka rasakan untuk saat ini. "Tapi gue yakin kok, Kak Pram udah jatuh cinta ama lo, cuma ini hanya masalah waktu karena trauma yang dimilikinya," ujar Hesti lagi kembali meyakinkan. "Jaah, dibahas lagi." Keduanya lantas tertawa. Tawa itu langsung lenyap saat ponsel Hesti menyala tiba-tiba. Dari nomor orang tak dikenal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN