Hesti menatap layar ponselnya yang tengah berdering dengan alis yang nyaris tertaut. Hanya tertera angka-angka pada layar. Artinya si penelpon tidak ada di daftar kontaknya. Hal yang membuat ia ragu untuk menjawab panggilan tersebut.
Nomor ponselnya jelas-jelas diprivat. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki. Lalu bagaimana bisa ada nomor yang tak dikenal melakukan panggilan?
"Kenapa nggak diangkat? Siapa emang?" tanya Gita demi melihat sahabatnya itu hanya tertegun.
Gadis itu menggeleng. "Nggak ada namanya."
"Ooh, mungkin salah sambung?" ujar Gita lagi setelah panggilan itu terputus dengan sendirinya karena diabaikan.
"Bisa jadi," sahut Hesti sepakat.
Saat bersamaan, ponsel tersebut kembali menyala. Kedua gadis itu pun saling pandang.
"Coba angkat! Kali aja emang lo yang ia cari."
Hesti tertawa. Gadis itu lantas menggeleng.
"Nggak lah," sahutnya yakin. Ia masih tetap tak berminat untuk menjawab.
"Sini, gue aja yang jawab."
Tak sabaran, Gita menyambar ponsel Hesti yang tergeletak di meja kecil. Sesaat ia kembali menatap sahabatnya itu. "Boleh, nggak?" tanyanya lagi.
Hesti mengangkat pundak sebagai isyarat 'terserah'.
"Hallo," sapa Gita ragu saat panggilan seluler tersambung.
"Sore, Kak. Saya ingin bicara dengan Ibu Ratih. Bisa?" sahut suara di ujung sana to the point.
"Cowok," ujar Gita tanpa suara sembari menjauhkan ponsel dari bibirnya. "Nyariin Bunda masa?" bisiknya lagi.
Bunda yang disebut Gita adalah Ibu Ratih--pemilik rumah kost yang tengah mereka tempati saat ini.
"Langsung ke nomor ponselnya aja," sahut Gita.
"Bentar. Maksudnya ini bukan nomor Ibu Ratih?" Suara di seberang sana menekankan.
"Bukan."
"Tapi tadi dia sendiri yang memberikan nomor ini."
"Bentar, saya tanya."
Gita sedikit heran kenapa justru nomor Hesti yang dibagikan Bunda ke orang lain?
"Ponsel Bunda kenapa?" Pertanyaan tersebut ia tujukan pada Hesti.
Lagi-lagi gadis itu menggeleng.
"Baik. Ini dari siapa? Biar saya sampaikan." Akhirnya Gita memutuskan. Gadis itu bangkit dari bibir ranjangnya.
"Hadi. Dokter pribadi beliau," sahut suara di seberang sana.
Setelah minta izin pada si pemilik ponsel, gegas Gita melangkah keluar kamar menuju kamar Bunda Ratih yang terletak bagian depan rumah berarsitektur era 70-an itu. Kamar Bunda Ratih berada persis di samping ruang tamu. Namun menghadap ke ruang tengah.
Perlahan Gita mengetuk pintu kamar wanita paruh baya itu.
"Siapa?"
"Gita, Bun."
"Masuk aja!"
Gadis itu memutar handel dan mendorong daun pintu jati itu hingga terkuak.
"Ada apa, Git?" sambut wanita yang masih tampak cantik di usia yang sudah melewati setengah abad itu.
"Ada panggilan telepon dari dokter Hadi."
"Dokter Hadi? Kenapa gak ke nomor Bunda aja?" sahut wanita itu.
Sikap yang ia tunjukkan tak ada bedanya dengan kedua gadis tadi.
Bisa jadi Bunda Ratih salah ngasih nomor ponsel ke laki-laki itu. Nomor Hesti dan Bunda Ratih semua angkanya memang sama. Hanya letaknya saja yang berbeda. Dua nomor terakhir posisinya dibalik.
"Bunda yakin sudah ngasih nomor yang benar?" tanya Gita begitu ponsel Hesti berada dalam genggaman wanita itu.
"Hah! Eh! Gimana ya? Ah, Bunda jawab dulu aja lah ya?"
Gita mengangguk. Gadis itu tersenyum kecil. Tak salah lagi. Pasti panggilan nyasar itu akibat kesalahan Bunda Ratih.
"Ah, ternyata Bunda beneran udah tua," ujar wanita itu setelah menutup panggilan.
"Kenapa, Bun?"
"Kamu benar, Bunda salah ngasih nomor. Untung nomor salah satu penghuni rumah ini." Ia tertawa.
"Nyaris nggak mau diangkat tadi ma Hesti, Bun."
"Oh, ini ponsel Hesti?"
Gita mengangguk.
"Bilang Hesti Bunda minta maaf ya?"
"Gapapa, Bun. Hesti hanya kaget aja kok ada nomor tak dikenal yang masuk ke ponselnya."
"Hesti ganti nomor ya?"
"Enggak, Bun. Ini nomor lama dan satu-satunya."
"Oh iya, ya? Kok Bunda nggak ngeh ya?"
Keduanya lantas tertawa kecil.
Gita kembali ke kamar setelah menemani Bunda Ratih ngobrol sesaat.
"Benar dokter pribadi Bunda?" tanya Hesti begitu kaki Gita menginjak kamar mereka.
"Yup."
"Lha, Bunda ada aja."
"Gue kira dokter pribadi Bunda itu udah tua. Ternyata masih sangat muda," ujar Gita seraya mengembalikan ponsel tersebut ke pemiliknya.
"Tau dari mana?"
"Pp WA nya."
"Masa? Perasaan tadi gue nggak liat ada PP saat ada panggilan masuk."
"Mungkin dia tambahkan saat lo nggak jawab tadi sebelum melakukan panggilan ulang. Kalau ada PP kan orang tahu siapa yang nelpon."
"Masuk akal juga sih."
Cepat Hesti menyambar ponsel tersebut dan langsung membuka riwayat panggilan teratas dan mengklik foto profil.
"Wuih, ganteng ternyata," pekiknya tertahan.
Gita memutar bola mata. "Dasar!"
***
Pram keluar dari rumah itu dengan langkah gontai. Sikap Gita yang sama sekali mengacuhkannya menjadi penyebab semua lara yang ia rasakan kini. Hampir dua jam ia di kediaman gadis itu, Gita sama sekali tak menampakkan batang hidungnya lagi setelah menyuguhkan minuman.
Harapan yang sejak dari rumah sempat ia rangkai, perlahan kembali terurai. Ia bukan tidak mau berjuang. Namun demi melihat respon gadis itu saat mereka pertama kali bertemu, pantaskah ia melakukannya.
Apa pun di dunia ini selalu ada timbal balik. Apalagi masalah perasaan. Jika hanya menyesaki salah satu hati maka bisa dipastikan hasilnya adalah luka. Dan ia sudah teramat kenyang dengan kata itu.
Bahkan seekor keledai pun tidak akan jatuh dua kali di lobang yang sama, bukan?
Rahang pria itu makin menajam, begitupun dengan tatapannya. Begitu ada kesempatan, ia menekan gas menambah kecepatan, hingga motor yang ia kendarai melesat menyelip beberapa kendaraan di depannya dengan lincah. Tak peduli dengan sumpah serapah yang dilontarkan para pemakai jalan lainnya.
“Jika Kakak sayang kenapa nggak bilang aja?" Pertanyaan Hesti kembali terngiang di telinganya.
“Gita itu gadis yang baik, suer." Gadis itu mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
"Ooh ya?"
Hesti mengangguk.
"Aku bilang gini bukan karena dia sahabatku. Tapi karena aku memang telah kenal dia cukup lama. Sebagai orang yang hidup di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, sikapnya patut diacungi jempol."
"Kakak tau nggak? Tiga tahun mengenalnya aku belum pernah lihat dia dekat dengan pria mana pun. Bukan karena nggak ada yang mau, tapi memang Gita selalu menolak didekati."
Pram menarik napas dalam-dalam. Jika begitu kenyataannya bagaimana mungkin ia berani mendekat? Jujur, kata ditolak sungguh membuatnya alergi. Cukup sudah apa yang pernah ia alami. Tak ingin kejadian yang sama kembali terulang. Hal itu bukan lagi mematahkan hatinya, tapi menghancurkan. Dan ia tidak akan pernah mengambil risiko itu.
Tapi bagaimana dengan rasa yang semakin menguat?
"Kakak nggak akan pernah tahu jawabannya kalau Kakak nggak berani mencoba. Kakak kan laki-laki, masa gitu aja nyerah sih."
Lagi-lagi gadis manis itu mengomporinya.
Menyerah? Tentu saja tidak. Hanya saja ia perlu memastikan bagaimana perasaan gadis itu padanya. Apa yang ia mau, kalau bisa biarlah Gita menjadi pelabuhan terakhirnya. Lalu bagaimana bisa hal itu terjadi jika pada kenyataan Gita mengabaikannya?
Sepertinya penilaian gadis itu terhadapnya terlanjur jelek akibat kecerobohannya tempo hari. Atau malah sebaliknya? Posisinya di mata Gita tak lebih dari seorang dosen yang patut dihormati.
"Aaahhh!"
Pak. Demikian tadi gadis itu menyambut. Kata yang membuat ia jengah. Bukankan itu artinya Gita seolah sengaja membangun dinding pembatas antara seorang pendidik dengan mahasiswinya. Itu menyebalkan! Tak bisakah gadis itu bersikap lebih familier?
Pram memacu motor besar kesayangannya menyusuri jalanan ibukota tanpa tujuan yang jelas. Ia belum berniat untuk kembali ke mantion. Yang ada pikirannya akan jadi tambah kalut saat sendiri
Aldo. Tiba-tiba saja nama itu yang terlintas di benak Pram. Mudah-mudahan saja sahabatnya itu tidak keberatan ia mengganggunya malam ini. Mereka belum sempat bertemu sejak Pram kembali ke Jakarta.
Tak memakan waktu lama, sekarang pria itu telah berdiri memencet bel di depan pintu apartemen Aldo. Salah satu tempat yang tak pernah absen ia datangi setiap kali kembali ke tanah air.
Aldo adalah teman SMA Pram. Mereka bersahabat sejak Pram pertama kali menginjakkan kaki di ibukota. Aldo lah yang banyak membantunya dalam semua hal. Hubungan mereka sudah layaknya saudara. Selama ini tak ada satu rahasia pun antara keduanya.
Namun untuk masalahnya kali ini, sepertinya Pram enggan berbagi. Ia belum siap. Ia hanya butuh teman mengobrol agar otaknya tidak melulu memikirkan orang yang sama sekali tak peduli akan keberadaannya.
"s**t!"
Pram mengumpat entah untuk yang keberapa kali. Bagaimana bisa seseorang yang selama ini dipuja banyak kaum hawa mendadak diabaikan oleh seorang cewek sedemikian rupa? Oleh mahasiswanya lagi.
"Pram ...?"
Lamunan pria itu buyar saat pintu apartemen terbuka seiring namanya disebut.
Mata pria bertubuh tinggi di depan Pramudya membelalak kaget begitu melihat dirinya berdiri di depan pintu apartemen.
Pram melangkah masuk begitu saja tanpa menunggu dipersilakan.
“Kapan lo kembali?" tanya Aldo sambil mengekor.
"Udah hampir tiga minggu."
“Apa? Dan lo baru ke sini sekarang?" sahut sahabatnya itu melotot.
"Sejak kembali gue mayan sibuk. Ada kerjaan baru yang perlu gue urus."
"Maksudnya?"
"Rencananya gue mau menetap di Indonesia." Pram menjelaskan.
Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak ada yang berubah dengan apartemen ini sejak ia tinggalkan beberapa tahun yang lalu. Kecuali warna cat dinding dan beberapa perabotan yang diganti.
"Lo masih betah aja menjomblo," ujarnya.
"Tau dari mana lo gue jomblo?" sahut Aldo sembari melenggang ke arah dapur.
"Buktinya di ruangan ini hanya ada foto lo. Artinya lo masih sendirian."
Aldo terkekeh, kemudian melemparkan sebuah minuman kaleng yang baru saja ia ambil dari kulkas. Pram menyambutnya sigap.
"Bagaimana dengan lo sendiri? Masih belum move on?"
Pram hanya mengedikkan pundaknya.
"Ah, payah lo," ujar Aldo.
Mereka pun terlibat obrolan panjang hingga menjelang tengah malam. Sesaat Pram bisa melupakan kegelisahan hatinya.
“Lo masih berani lawan gue?" Aldo mengeluarkan papan catur miliknya setelah mereka puas mengobrol kesana kemari.
“Siapa takut," sahut Pram antusias. Meskipun sudah lama sekali tidak menyentuh bidak catur, ia belum lupa caranya untuk menang melawan Aldo.
Pram pulang ke rumahnya hampir setengah satu pagi. Sebenarnya Aldo tak mengizinkan ia pulang.
Mengingat besok pagi dia ada jadwal mengajar terpaksa tawaran Aldo ia tolak. Tujuannya untuk mengalihkan pikiran dari gadis itu sesaat sudah terealisasi. Kalau sudah kecapean tentu saja tak butuh waktu lama baginya untuk tertidur.
Sayangnya kali ini ia keliru. Sudah hampir satu jam ia merebahkan diri di ranjang king size miliknya, namun mata itu masih enggan terpejam. Semakin ia memaksa memejamkan mata, semakin menguat juga bayangan gadis itu.
Hal yang tak jauh berbeda dengan yang dialami Gita.
Dentang jam antik besar di ruang tengah satu kali menandakan hari telah berganti. Gita menghela napas berat. Pikirannya tak bisa lepas dari apa yang tadi ia bicarakan bersama Hesti.
'Pram sengaja datang untuk dirinya.'
Benarkah?
Mendapatkan pengakuan itu, sekelumit sesal menghantui batinnya. Mungkin Hesti benar. Kita tidak akan tahu seperti apa hasilnya jika tidak pernah mencoba.
Tapi ini masalah hati. Layakkah coba-coba? Kalau nanti hasilnya tak sesuai ekspektasi bukankah risikonya patah?
"Ahh!"
Gita membalikkan tubuh untuk kesekian kali. Kini posisi badannya menghadap ke ranjang Hesti. Di depannya gadis itu tidur sudah sangat pulas. Entah sudah bermimpi yang keberapa kali.
Melihat hal itu tanpa sadar Gita cemberut, iri.
Jika jatuh cinta aja serumit ini, bagaimana dengan patah hati?
Memikirkan hal itu Gita bergidik sendiri.
Jadi sekarang ia harus bagaimana? Membiarkan rasa yang dimilikinya terbengkalai hingga pada akhirnya memudar atau berjuang dengan risiko patah hati?