4. Ketahuan

1081 Kata
Pagi harinya, Karina bangun dengan badan yang terasa ringan, seperti baru saja melakukan istirahat yang cukup dan berkualitas. Ia meregangkan tubuhnya, merasakan otot-otot yang santai dan tidak tegang. Karina membuka mata, memandang ke arah jendela yang masih tertutup, dan melihat langit yang masih gelap. Karina terdiam sejenak, seolah meresapi apa yang terjadi di malam sebelumnya, yang membuat dirinya bisa tidur berbaring di atas sofa. Karina mencoba mengingatnya, namun ia nampak kesulitan sehingga Karina memilih abai dan langsung beranjak dari pembaringannya. Namun, saat ia mencoba untuk bangun dari tempat tidur, Karina merasakan sedikit mual dengan kepala yang seperti berputar. Ia duduk sejenak, menunggu tubuhnya kembali stabil sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun dan memulai hari. "Masih jam 5." gumam Karina menatap jam digital yang tersimpan di atas rak tv di depan. Tak lama kemudian, Karina mendengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali dengan suara yang pelan. Kemudian sosok Reygan muncul dengan wajah kaget yang berusaha disembunyikan dan berusaha tenang menghadapi Karina yang menatapnya penasaran, "Habis dari mana, Rey?" tanya Karina serak, wajahnya wasih kusut dengan rambut yang acak-acakkan. Reygan berdehem, lalu berkata, "Gak lihat gue sarungan?" tanya Reygan jumawa, memperhatikan penampilannya yang memakai kaos hitam ditambah dengan kain sarung. "Kamu habis maling?" tanya Karina polos. Reygan membulatkan matanya menatap Karina tak percaya, "Astaga... Gue habis dari masjid, Karina!" sentak Reygan yang tak habis pikir dengan pemikiran perempuan di hadapannya. Bisa-bisanya Karina menganggap dirinya habis nyuri karena pulang subuh dengan sarung yang ia pakai. "Bisa-bisanya lo kepikiran gue nyolong!" gerutu Reygan sebal. "Habisnya pakai sarung kok gitu." celetuk Karina memperhatikan kembali penampilan Reygan yang memakai pakaian serba hitam dengan kain sarung yang melilit di lehernya. Reygan hanya mendengus, lalu berlalu meninggalkan Karina yang masih terdiam berpikir. Tunggu, sejak kapan Reygan jadi rajin ibadah seperti itu? Bahkan dengan sengaja sholat subuh berjamaah di masjid? Sungguh sebuah hal yang tak disangka-sangka! pikir Karina bertanya-tanya, mengingat kembali perkataan Reygan sebelumnya. "Lagi kemasukan jin sholeh kali..." gumam Karina tak mau banyak berpikir lagi. ***** Karina menyelesaikan mandi paginya seperti biasa, harum sabun serta shampo menguar dari tubuhnya yang masih basah dan meneteskan air dari ujung rambutnya yang tergerai. Karina keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di d**a. Karina hendak berjalan ke arah lemari pakaiannya, namun dentingan ponsel yang menyala mengurungkan langkahnya dan membuat Karina beralih meraih ponsel tersebut. Karina mengernyit melihat grup chat sekolah yang sudah ramai meski hari masih pagi, dengan penasaran ia pun membukanya dan terbelalak begitu melihat informasi awal penyebab ramainya grup chat tersebut. "Salah satu siswa kita kembali terlibat dalam kegiatan balapan liar di jalan Setia Dharma malam tadi, yang berujung pada kericuhan antar geng motor. Polisi telah membubarkan kegiatan tersebut dan menangkap beberapa pelaku yang terlibat." "Bu Karin, bagaimana pengawasannya? Kita berharap banyak dari Ibu untuk membuat Reygan sedikit lebih teratur!" Karina memicing membaca pesan tersebut dengan teliti, hingga kemudian sebuah foto meyakinkan prasangkanya terhadap pelaku balapan liar yang merupakan siswa di sekolahnya. Reygan, siapa lagi? Karina mengeraskan rahang, dadanya naik turun tak beraturan, kemarahan menguasainya kala ia tersadar jika semalam ia tiba-tiba saja tak bisa menahan kantuk. Mungkin Reygan melakukan sesuatu untuk membuatnya tertidur dan melancarkan aksinya di luaran sana. Sialan sekali anak lelaki itu! Kenapa dia selalu membuat masalah dan memusingkannya?! Dengan langkah tergesa, Karina beranjak ke lantai dua menghampiri kamar Reygan dan mendobrak pintu yang tertutup rapat itu. Di dalam kamar, Karina dapat melihat Reygan yang tengah berbaring telungkup di atas kasur dengan mata terpejam, nampak sekali Reygan begitu pulas hingga tak menyadari kehadiran Karina di dalam kamarnya. "Bangun! Reygan bangun!!" teriak Karina seraya menarik kaki Reygan ke lantai. "Bangun!!" teriaknya lagi ketika Reygan tak kunjung merespon dan malah melanjutkan tidurnya. Karina terdiam sejenak, nafasnya menggebu dengan kepala memikirkan sesuatu, hingga kemudian matanya tertuju pada segelas air di atas nakas. Dan tanpa pikir panjang, Karina mengambil gelas tersebut lalu mengguyurkan isinya ke bagian kepala Reygan. Berhasil, Reygan kini mengerang kesal dan membuka matanya dengan penuh amarah, "Sial! Ngapain lo ganggu gue?!" tanya Reygan menatap nyalang ke arah Karina yang memandang puas hasil pekerjaannya. Karina balas menatap Reygan menantang. "Kamu, kenapa kamu gak bisa aja sehari jangan berbuat masalah hah! Aku pusing ngadepin tingkah kamu yang selalu mencari masalah!" ujarnya dengan nada yang tegas. Reygan membalas dengan nada yang lebih keras, "Kalau gitu jangan ikut campur!" Dalam hati ia mengumpat karena Karina mengetahui hal ini lebih cepat yang ia kira. Namun Reygan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan, ia semakin berani melawan menentang Karina. "Lo gak berhak ngatur-ngatur hidup gue!" katanya lagi dengan suara yang masih keras. Karima semakin marah, "Anak sialan! Kenapa kamu selalu ngeyel kalau dinasehati?!" teriaknya frustasi, merasa usahanya selama ini tidak ada perkembangannya. Ia merasa, Reygan semakin memberontak dan menunjukkan kearoganan yang semakin besar. Reygan membalas dengan nada yang sama tajamnya. Tubuhnya bangkit dan kini berdiri menjulang di hadapan Karina. "Anak sialan? Siapa anak sialan hah? Lo siapa beraninya neriakin gue anak sialan?!" Reygan semakin tidak terkendali. "Lo cuma guru babu yang ngarepin duit receh dari sekolah! Lo lebih hina dari pada gue!" katanya dengan nada yang penuh dengan kebencian. Hati Karina merasa tercubit seketika, nafasnya tertahan selama beberapa detik diiringi dengan maniknya yang berkaca-kaca, tak menyangka Reygan akan begitu gamblang menghinanya. "Pergi sebelum gue lakuin sesuatu yang lo gak mau. Pergi!" ucap Reygan dengan nada dingin yang menusuk, membuat Karina merasa sesak sekaligus ketakutan. Dengan langkah gemetar, Karina berbalik meninggalkan Reygan yang berdiri tegang. Hingga saat pintu kamar tertutup, Reygan menghembuskan nafas kasar dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Matanya kembali terpejam ditutupi lengan kanannya dengan nafas yang memburu. Tak lama, Reygan kembali membuka matanya, lantas beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi dengan umpatan kasar yang keluar dari mulutnya. Emosinya yang tak terkontrol, ditambah pemandangan tak biasa membuat Reygan merasa frustasi disaat yang bersamaan. Sementara di dalam kamarnya, Karina menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Reygan yang menghinanya. Sudah lama ia menahan diri dan mencoba mengabaikan setiap prilaku Reygan yang semena-mena terhadapnya, namun kali ini perkataan Reygan begitu menyakiti perasaan serta harga dirinya. Karina mencoba mengabaikan rasa sakit hatinya, ia mengusap air matanya kemudian beranjak dan bersiap untuk pergi ke sekolah. **** Di sekolah, Reygan menatap heran ke arah kolong mejanya yang kosong. Tak ada bekal yang seperti kemarin Karina berikan kepadanya. Di dapur pun, ia tak menemukan makanan apapun untuk ia makan sebelum berangkat tadi. Ia berpikir bahwa perempuan itu tengah merajuk, dan sengaja tak membuatkannya makanan agar ia kelaparan. Reygan mendengus, sejak kapan ia peduli dengan apa yang dirasakan perempuan itu? Karina tak lebih dari benalu yang selalu mengganggu dan mengacaukan kehidupannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN