Tak seperti biasa, Reygan pulang ke rumahnya disaat matahari masih menampakkan sinarnya, karena biasanya Reygan selalu pulang disaat langit sudah gelap.
Dengan wajah datarnya, Reygan memasuki rumah yang nampak sepi di luar, namun ia tahu ada penghuni lain yang kini mengisi tempat tinggalnya itu.
Reygan dengan sengaja mengeksplor lantai dasar rumahnya hingga ia berada di dapur dan menemukan Karina yang tengah memasak. Dengan kaos putih santai yang dibalut kain celemek hitam, wanita itu sibuk mondar-mandir memasukkan sesuatu ke dalam panci di atas kompor yang menyala. Sesekali terdengar alunan suara yang keluar dari mulutnya mengiringi bait lagu yang ia putar dari ponselnya.
Di ambang pintu, Reygan bersidekap menatap Karina tanpa mau beranjak. Hingga beberapa saat kemudian, Karina berbalik dan terpekik begitu melihat sosok Reygan yang berdiri menjulang di di ambang pintu.
Sedetik kemudian, Karina mengerjapkan matanya dan mendatarkan kembali raut wajahnya saat kembali menatap Reygan.
"Dari kapan kamu berdiri disana?" tanya Karina sebelum berbalik mematikan api kompor.
Reygan memilih terdiam dan menatap Karina lekat. Hal itu membuat Karina merasa canggung dan memilih berbalik untuk membawa panci panas ke atas meja.
"Mau makan?" tanya Karina memecah keheningan.
"Gue mandi dulu." ujar Reygan seraya menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana sekolah lalu berbalik meninggalkan Karina yang terpaku sendirian.
Beberapa menit kemudian, keduanya duduk berhadapan tengah asik menyantap makanan. Beberapa kali tanpa bisa dicegah, Karina menatap Reygan yang begitu lahap memakan masakannya. Tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat mengingat bekal makanan yang ia siapkan tadi juga telah kosong isinya.
"Kenapa?" tanya Reygan dengan tatapan tajamnya, mulutnya berhenti mengunyah sejenak menunggu jawaban Karina.
Di seberangnya, Karina meluruskan kembali bibirnya dan menggeleng tanpa menjawab. Ia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya masih diiringi tatapan tajam Reygan.
"Makan, Rey!" ujar Karina geram disaat Reygan tak kunjung melepaskan tatapannya.
Dalam diamnya, Reygan kembali menyuap makanannya diiringi dentingan piring dari Karina. Keduanya kembali sibuk menghabiskan makanannya tanpa ada suara satu sama lain.
****
Di malam hari, Reygan menemukan Karina yang tengah berkutat dengan laptop dan lembaran kertas di ruang tengah, perempuan itu nampak fokus dan tak menyadari keberadaan Reygan yang diam-diam memperhatikan dari lantai atas.
Beberapa saat mengamati, Reygan akhirnya turun dan berjalan ke arah dapur. Ia kemudian membuat dua gelas teh hangat dan membawanha ke ruang tengah.
Tanpa banyak bicara, Reygan menyimpan satu gelas di hadapan Karina, membuat perempuan itu terdiam dan menatap heran ke arah Reygan. Kini lelaki itu duduk bersila di hadapan Karina yang lurus menatapnya.
"Cuma teh hangat. Anggap aja itu bayaran atas upaya lo yang udah kasih gue makanan." ujar Reygan menjelaskan niat baiknya, namun yang ia dapat hanya tatapan penuh curiga dari Karina.
"Itu sudah kewajibanku." jawab Karina pada akhirnya, merasa bahwa memang Reygan mau menunjukkan sedikit kebaikannya kepadanya, karena biasanya lelaki itu selalu bersikap acuh dan tak sopan kepadanya.
"Jadi, lo udah mengakui sendiri bahwa lo adalah istri gue?" tanya Reygan dengan senyum miring, menatap lekat ke arah Karina yang tiba-tiba salah tingkah dengan wajah yang merah merona.
"Mengakui bukan berarti menerima setulus hati!" kilah Karina memperbaiki perkataan Reygan. Wajahnya ia buat sedatar mungkin meskipun debaran di dadanya terasa memukul kuat seperti ingin meloncat keluar.
"Ohh, jadi lo terpaksa, begitu?!" tanya Reygan menantang.
"Pikir aja sendiri!" dengus Karina sembari melanjutkan catatannya yang tertunda.
"Ck, cepetan minum teh nya. Gue udah baik hati bikinin buat lo!" gerutu Reygan yang gemas karena Karina begitu waspada dan meragukan teh buatannya.
Tanpa bicara lagi, Karina akhirnya mencicipi teh tersebut sedikit sebelum kemudian menenggaknya hingga habis. Ia menyimpan gelas yang telah kosong itu ke hadapan Reygan yang menatap puas.
"Puas?" tanya Karina memasang wajah jengah, dan Reygan tersenyum lebar sembari berkata, "Gak ada makasih nya gitu?" tanya Reygan sarkas, membuat Karina memutar bola matanya jengah, "Makasih teh nya Rey, lain kali gulanya jangan kebanyakan!" ujar Karina sebal yang dihadiahi tawa keras dari Reygan.
Kembali Karina mencatat dengan Reygan yang belum menyelesaikan tawanya. Sepertinya lelaki itu sangat puas melihat wajah Karina yang kesal ditambah teh buatannya yang dirasa terlalu manis karena kelebihan gula.
Namun tak lama kemudian, Karina merasa matanya semakin berat, rasa kantuk semakin menyerangnya dengan kuat. Sembari menguap, Karina menutup buku serta laptopnya lalu beranjak tanpa merapikannya.
"Eh, mau kemana? udahan nugasnya?" tanya Reygan dengan memasang wajah penasaran. Alisnya terangkat sebelah melihat Karina yang sudah begitu mengantuk bahkan sedikit kesulitan untuk berjalan.
"Ngantuk banget." gumam Karina dengan mata yang sedikit terbuka, lututnya sedikit terantuk kaki kursi dan membuat tubuh perempuan itu kehilangan keseimbangan.
Reygan dengan segera beranjak, menghampiri Karina yang mengaduh kesakitan. Tangannya merangkul bahu Karina dan membawanya duduk di sofa. "Rin, hati-hati napa!" ucap Reygan menatap wajah Karina yang telah terpejam dengan kepala yang bersandar di sofa.
Reygan menatap sejenak wajah Karina yang terlelap, hingga kemudian ia mengerjapkan mata beberapa kali, seperti telah tersadar dari sesuatu. Dalam diamnya, ia kemudian beranjak sebelum lengan Karina menahannya dan membuatnya kembali terduduk, "Kamu, awas jangan kelayapan lagi." gumam Karina pelan, sebelum kemudian ia kembali tertidur dengan nyenyak hingga mendengkur.
Di sampingnya, Reygan tersenyum tipis, tangannya menyibak rambut halus di dahi Karina yang sedikit berantakan, "Kali ini gue keluar dulu, bu guru." gumamnya sebelum membenarkan posisi Karina sehingga berbaring dengan nyenyak di atas sofa.
"Tidur yang nyenyak, ok?" perintah Reygan dengan senyum puasnya, sebelum kemudian meninggalkan Karina di rumah sendirian.
****
Jalanan malam itu gelap dan sunyi, hanya diterangi oleh cahaya lampu-lampu jalan yang jarang-jarang. Suasana balapan liar anak muda mulai terasa di ujung jalan sana dengan deru mesin motor yang mulai terdengar dari kejauhan.
Di tengah jalan, sekelompok anak muda berkumpul, wajah-wajah mereka dipenuhi dengan antusiasme dan adrenalin. Mereka semua mengenakan pakaian casual, dengan helm dan jaket kulit yang menjadi ciri khas mereka.
Reygan dengan penampilan rambut hitam dan mata tajam, berdiri di tengah kerumunan. Ia mengenakan jaket kulit hitam dengan helm yang berada di tangannya tengah menatap Kevin di seberang-lawannya dalam balapan malam itu-dengan tatapan yang penuh tantangan.
Kevin adalah seorang ketua geng motor anak muda yang terbiasa hidup di jalanan dengan rambut coklat dan seringai penuh tanjangan dan rasa percaya diri. Mereka sering kali bertemu dan bahkan berselisih hingga berakhir dengan tanding balap liar untuk menuntaskan ego masing-masing.
Di seberangnya, Kevin membalas tatapan Rey dengan senyum yang lebih lebar. Ia juga mengenakan jaket kulit dan helm pengaman, siap untuk memulai balapan.
Tak lama, seorang gadis muda nampak berjalan dengan percaya diri bersama Bimo menghampiri Reygan yang berdiri diantara Arkan dan Aldo. Secara spontan Reygan menatap tajam ke arah Bimo seolah tatapannya bertanya dengan nada menuduh, kenapa membawa murid cewek sekelasnya ke area balapan.
"Ngapain lo ke sini? Cewek baik-baik kayak lo gak boleh disini, sana pulang!" sungut Reygan menatap Kalista tak suka, namun perempuan itu hanya tersenyum canggung dan menatap Bimo yang meringis bersalah setelah mendapatkan tatapan tajam Reygan.
Pasalnya, ia yang telah memaksa Bimo untuk membawanya ke lokasi balapan Reygan. Ia ingin datang untuk menunjukkan dukungan serta perhatiannya kepada lelaki itu, meski ia sudah tahu respon apa yang akan ia dapatkan setelahnya, namun Khalista masih tak menyangka respon Reygan akan sekasar itu saat melihat kedatangannya.
"Aku mau lihat kamu balapan, Rey. Aku mau dukung kamu malam ini." jawab Khalista sedikit gugup.
"Ck, jangan nyusahin gue di sini, mending lo pulang sekarang!" sentak Reygan, merasa risih dengan kehadiran perempuan yang selalu berusaha dekat dengannya.
"Tapi~"
"Wah, siapa Rey? Cewek lo? Lumayan juga." ucap Kevin yang berjalan menghampiri Reygan dengan tatapan yang tertuju ke arah Khalista.
"Kenapa? Mau lo embat juga?" tanya Reygan menantang, tersenyum sinis melihat Kevin yang memang selalu tertarik dengan apa yang Reygan miliki.
"Boleh juga." sahut Kevin menyeringai.
Reygan berdecak, lalu memakai helm ke kepalanya, "Berisik! Dia bukan siapa-siapa gue!"
"Bagus kalau gitu, gimana kalau dia jadi taruhannya?" ungkap Kevin dengan ketertarikan yang kuat kepada Khalista yang terdiam menciut di belakang Bimo.
"Rey..." lirih Khalista meminta perlindungan, berharap Reygan menolak ajakan Kevin tentang taruhan itu.
"Gak, gue gak minat. Udah gue bilang dia bukan siapa-siapa gue." jawab Reygan enggan, ia lebih baik mempertaruhkan motor kesayangannya dari pada anak orang yang tidak tahu apa-apa.
"Iya, dia cuma temen sekelas kita, lo jangan bawa-bawa dia deh." sahut Aldo menyarankan.
Namun Kevin mengabaikan perkataan Aldo, ia malah semakin tertarik membahas penawarannya, "Kalau gue menang, cewek itu milik gue selama sebulan. Dan gue puas mau ngelakuin apa aja sama dia, dan kalau gue kalah, kunci motor ini ada di tangan lo dan jadi milik lo seutuhnya."
"Aku gak mau, Rey..." rengek Khalista membuat Reygan semakin kesal dengan keadaan yang rumit.
"Salah lo malah ke sini!" sentak Reygan tak peduli bahwa perempuan itu kini tengah menangis tersedu-sedu di belakang Bimo.
"Skip, gue gak mau dia jadi taruhan lo, gue udah nawarin motor gue buat taruhannya."
Kevin menggeleng, "Itu poin pentingnya, biar balapan kita makin seru." ucapnya menggebu, matanya tak berhenti menatap Khalista yang diam-diam ketakutan saat bertemu dengan tatapannya.
Suasana semakin memanas, Reygan dan Kevin saling menatap dengan intens. Kevin menggeleng, matanya tak berhenti menatap Khalista yang diam-diam ketakutan saat bertemu dengan tatapannya. "Ayo dong, tunjukin solidaritas lo sebagai sesama teman sekelas. Tunjukin kalau lo bisa menang dan jaga temen lo itu," tantang Kevin, suaranya yang keras dan penuh percaya diri membuat Reygan semakin terprovokasi.
Reygan menggulung tangannya, siap untuk memulai balapan. "Solidaritas gak harus buat temen jadi barang taruhan!" serunya, suaranya yang keras dan penuh emosi membuat Kevin tersenyum.
"Gue maunya cewek itu, gimana?" kata Kevin, suaranya yang santai dan penuh percaya diri membuat Reygan semakin marah.
"Ah, rese lo Vin!" teriak Reygan geram.
"Ok deal!" kata Reygan memutuskan, suaranya yang keras dan penuh percaya diri membuat Kevin mengepalkan jabatan tangannya kuat, siap untuk memulai balapan.
Khalista menatap dengan hati yang berdebar, berharap Reygan bisa menang dan menghentikan taruhan yang tidak adil itu.
Tak lama, Kevin kemudian menyuruh kedua temannya untuk berdiri tak jauh dari Khalista, mengamati dan menjaga agar perempuan yang menjadi targetnya tidak melarikan diri dari jalanan.
"Tunggu gue menang, cantik." goda Kevin seraya mengerling ke hadapan Khalista yang berurai air mata.
Suasana semakin memanas, dengan anak-anak muda lainnya mulai berteriak dan bernyanyi. Mereka semua menunggu saat balapan dimulai dengan taruhan yang telah disepakati.
Reygan dan Kevin segera menaiki motor masing-masing. Mesin motor mulai meraung dan balapan liar pun dimulai. Reygan dan Kevin melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu dan asap di belakang mereka. Suasana malam itu dipenuhi dengan deru mesin, teriakan, dan adrenalin yang tak terkendali.