Reygan dan Karina adalah dua insan yang berseberangan yang disatukan oleh sebuah insiden kecelakaan yang tak terduga. Mereka menikah secepat kilat, tersembunyi, dan dirahasiakan. Meskipun begitu, kini mereka hidup mereka mencoba hidup bersama di bawah atap yang sama meskipun pernikahan mereka hanya diketahui oleh keluarga dekat dan masyarakat sekitar yang menjadi saksi atas kejadian tersebut.
Awalnya, Karina diperintah oleh kepala sekolah untuk membimbing Reygan secara khusus, karena Reygan tengah mengalami masalah berat di sekolah—sering bentrok dengan teman, nilai yang menurun, dan tanda-tanda pemberontakan yang mencemaskan di liar area sekolah. Karina, sebagai wali kelasnya, ditugaskan pihak sekolah untuk mengawasi Reygan tidak hanya di sekolah, tapi juga di luar sekolah, tujuan awalnya adalah membantu Reygan menjadi siswa yang baik dan terarah.
Setelahnya, kedekatan mereka semakin intens, pertemuan mereka lebih sering, dan juga perhatian ekstra yang diberikan Karina kepada Reygan membuat para warga di sekitar rumah Reygan mulai menyimpan curiga. "Apa yang terjadi disaat seorang perempuan terlalu dekat dengan laki-laki di dalam sebuah rumah sepi?" Gosip mulai beredar, dan sebelum mereka sadar, hingga sebuah insiden kecelakaan kecil—Karina tak sadar memeluk Reygan saat lampu rumah Reygan padam secara tiba-tiba—menjadi bahan bakar bagi rumor yang tak terkendali yang terlihat oleh warga yang sedang mengecek kondisi listrik yang bermasalah.
Karena tekanan dari warga, ditambah rasa tanggung jawab yang tak terucapkan, membuat mereka akhirnya menikah dalam sebuah upacara sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan beberapa orang dekat.
Dan kini, sudah sebulan Karina menempati rumah dua tingkat yang dulu hanya ditempati Reygan sendirian. Rumah yang telah lama mengenal sunyi, kini terasa lebih hidup dengan suara Karina di dalamnya. Reygan, yang terbiasa hidup sendiri, sering merasa terganggu dengan kehadiran perempuan itu—tapi lama kelamaan, dia mulai terbiasa. Membiarkan Karina melakukan apa yang disukainya, tanpa banyak bicara.
Siang itu, Reygan membuka bekal yang dibuat Karina yang diletakkan di kolong mejanya. Kotak makan satu-satunya yang ada di rumah itu kini berisi nasi, sayur kol, dan sepotong ayam goreng dengan sentuhan rapi. Reygan yang tak pernah peduli dengan sarapan, merasa sedikit terenyuh menatapnya. Namun sedetik kemudian, dirinya mendengus, kewaspadaannya meningkat seiring dengan berbagai pertanyaan yang berputar di kepalanya. Kenapa perempuan itu repot-repit melakukan hal ini? Apa tujuannya memberikannya makanan?
"Woy, ngelamun aja bos!" ujar Arkan yang baru saja kembali dari kantin bersama Aldo dan Bimo. Di tangan mereka, terdapat beberapa jajanan yang langsung di letakkan di atas meja Reygan, lalu membawa kursi mereka menghadap mengelilinginya.
Suasana kelas nampak sedikit sepi mengingat saat ini waktunya istirahat. Banyak siswa yang menghabiskan waktu istirahatnya di luar kelas, berbeda dengan Reygan dan teman-temannya yang kali ini lebih memilih berdiam diri di dalam kelas.
Reygan mengalihkan tatapannya dari kotak makanan ke arah teman-temannya dalam diam. Bimo yang sedari tadi mengincar isi kotak makanan itu, langsung menyahut dengan binar keterpukauan melihat isi wadah itu, "Kenapa? Gak suka? Udah buat gue aja!" serobot Bimo membawa kotak makanan itu ke arahnya.
Reygan yang tak terima, mendengus dan menarik kembali kotak makanan yang sempat Bimo tarik. "Enak aja! Ini khusus buat gue!"
"Dari siapa sih? Penasaran banget gue. Lo pasti udah tahu siapa yang ngasih kan?" tanya Aldo penasaran.
Reygan mengedikkan bahunya tak acuh. "Gak tau gue." sahutnya datar, menyembunyikan sosok pengirim kotak makanan yang sudah ia ketahui.
"Terus kenapa lo mau makan? Biasanya lo gak mau makan makanan asing itu!" Bimo terus menggebu.
"Gue lagi bokek! Banyak bacot lo!" Reygan menjawab dengan nada kasar, lalu mulai memakan makanan itu dengan lahap, mengabaikan teman-temannya yang memperhatikan dengan seksama.
"Alesan!" Aldo terkekeh seraya ikut memakan jajanannya.
Mereka pun akhirnya makan diselingi dengan beberapa percakapan dan candaan.
"Rey, inget nanti malam lo ada balapan!" Bimo mengingatkan di sela kunyahannya, nada bicaranya tiba-tiba serius menatap ketiga temannya.
"Btw, Bu Karin masih suka ngintilin lo?" Aldo bertanya dengan berbisik, kepalanya menoleh ke berbagai arah, takut orang yang tengah ia bicarakan mendengarnya.
Reygan mengangguk dalam diam, mulutnya sibuk mengunyah makanan yang hampir habis itu, "Wah... Alamat gagal tanding kalau begitu!" Bimo menambahkan. Raut wajahnya terlihat seolah ketakutan dan pasrah, jika sang guru honorer yang merangkap di berbagai bidang pelajaran itu kembali mengacaukan acara mereka.
"Heran aja sih kenapa dia bisa punya hak buat ikut campur sama urusan lo bahkan di luar sekolah." celetuk Arkan mengingat aturan absurd yang dikeluarkan sekolah kepada Reygan.
Reygan mengedikkan bahunya tak acuh, dia tak mempermasalahkan hal itu. Karena nyatanya kehadiran Karina tak terlalu mengusik dirinya. "Tenang, kali ini gue ada cara. Dia gak bakal bikin kacau lagi." Reygan menjawab dengan percaya diri.
"Apaan tuh?" tanya Aldo penasaran, mewakili kedua temannya yang ikut penasaran dengan apa yang tengah direncanakan ketua gengnya itu.
"Rahasia..." Reygan tersenyum misterius.
Ketiga teman di hadapannya menurunkan bahu serempak, pertanda kecewa karena Reygan memilih tidak memberitahukannya.
"Ck, yang penting nanti lo harus ikut tanding dan menang. Kalau enggak, marwah Geng RABA bakalan kalah lagi sama si babi ngepet itu!" Bimo mengancam dengan nada dramatis, mengingat beberapa pekan yang lalu mereka kalah tanding karena kehadiran Karina yang tak disangka.
****
Sementara di ruang guru, Karina nampak bermalas-malasan untuk beranjak dari mejanya. Ia nampak terdiam lesu setelah mendapatkan pesan dari remaja menyebalkan itu, siapa lagi kalau bukan Reygan?!
Karina masih ingat dengan wajah jahil Reygan setelah berhasil memfoto dirinya yang ketiduran di ruang tengah. Dengan seringainya, Reygan memperlihatkan dirinya yang tidur berbaring dengan mulut yang mengeluarkan saliva beningnya hingga membasahi sofa.
Karina benar-benar malu. Dan sialnya, lelaki itu malah menjadikan foto itu ancaman untuk dirinya. Hal itulah yang membuatnya tak jadi menghukum Reygan beserta teman-temannya saat terlambat pagi tadi. Karena kemarin malam, dengan angkuhnya Reygan berkata agar Karina memenuhi seluruh perintahnya jika ingin foto beserta video itu aman dari jangkauan orang-orang.
"Menyebalkan!" gerutu Karina pelan mengingat suasana kantor yang sepi.
"Apanya yang menyebalkan, Bu Karin?" tanya seorang guru tiba-tiba mengejutkan Karina.
Karina menoleh ke belakang dan menatap Pak Anton, salah satu guru olahraga di SMA Cemerlang yang kini menghampirinya. "Eh Pak Anton, enggak , kayaknya ada kecoa tadi di bawah sini" jawab Karina tersenyum tipis dengan tatapan yang mengarah ke kolong meja tempatnya duduk.
"Wah, yang benar bu? Kemarin saya sama Pak Dadang memburu itu kecoa, tapi gak dapat- dapat." keluh Pak Anton membicarakan salah satu kegiatannya kemarin di dalam ruang guru.
"Sepertinya, ini ruangan memang harus di rombak dan dibersihkan supaya tidak ada hewan dan serangga lainnya disini." tambahnya menyarankan.
"Iya pak." jawab Karina.
Wajah Pak Anton berubah, terlihat lebih cerah dengan senyum lebarnya menatap Karina, "Kalau begitu, ibu mau ikut makan siang bareng di kantin? Kebetulan saya gak ada temen." kata Pak Anton, berharap Karina menerima ajakannya karena sudah lama ia tertarik dan ingin dekat dengan guru muda dan cantik itu.
"Maaf pak, saya belum lapar. Saya makan pas istirahat kedua aja." tolak Karina halus, mematahkan harapan Pak Anton yang kembali gagal untuk semakin dekat dengan Karina.
"Yah, beneran gak mau makan, atau jajan gitu?" tanya Pak Anton memastikan.
Karina menggelengkan kepala. "Enggak pak."
"Yasudah, saya pesan makanan dari sini saja. Kasihan Bu Karin kalau sendirian disini." saran Pak Anton yang semakin membuat Karina meringis tidak nyaman.
"Ekhm..."
Suara deheman menyentak keduanya, Karina melotot menatap Reygan yang menatap lurus ke arah guru olahraganya itu.
"Wah, Reygan. Ada apa kamu ke sini?" tanya Pak Anton canggung. Ia selalu enggan dan sedikit takut berhadapan dengan siswa apling bermasalah di sekolah itu.
"Bu Karin yang nyuruh saya ke sini." jawab Reygan menoleh ke arah Karina, meminta jawaban Karina untuk menguatkan alasan kedatangannya.
Karina terdiam sejenak, namun kepalanya mengangguk dan memerintah Reygan untuk duduk di kursi menghadapnya. "Duduk, Rey." kata Karina dengan senyum ramah.
Reygan kembali menatap Pak Anton dengan alis yang terangkat sebelah, menunggu pria matang itu beranjak dari kursinya, "Ambil kursi yang lain napa, Rey! Tuh di meja Bu Sri ada 1 yang kosong!" titah Pak Anton yang enggan beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Maaf pak, sebaiknya bapak makan di meja bapak sendiri. Saya mau membicarakan sesuatu yang cukup privasi dengan Reygan." ucap Karina membuat Pak Anton kembali menelan kekecewaan. Ia pun dengan lesu bangkit dan berjalan ke arah mejanya yang cukup jauh dari meja Karina.
"Jadi Pak Anton gebetan lo." celetuk Reygan setelah duduk di kursi bekas Pak Anton.
Karina mendelik. "Jangan bicara sembarangan."
"Terus tadi apa berduaan gitu?" tanya Reygan menantang dengan tangannya yang bersidekap seraya memandang lekat guru di depannya.
Karima balas menatap Reygan, "Saya nyuruh kamu ke sini untuk membicarakan tugas-tugas kamu yang kosong!" ungkapnya sembari mengurut pelipisnya yang terasa sakit. Sebagai wali kelas Reygan, ia terus-terusan diberondong beberapa pertanyaan dan tuntutan agar Reygan mau mengerjakan dan mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan para guru masing-masing pelajaran. Namun nyatanya Reygan terlalu bebal dan selalu mengabaikan perintah para guru itu.
"Para guru sudah banyak yang mengeluh kepada saya karena kamu sama sekali belum pernah mengumpulkan tugas sejak awal semester kemarin. Sudah berapa kali ibu bilang untuk ngerjain tugas, Rey? Apa sesulit itu kamu mengerjakannya? Kalau sulit, kamu bisa meminta bantuan teman kamu, atau kepada guru yang bersangkutan!"
"Baik bu guru." sahut Reygan dengan patuh, namun tatapannya menyiratkan pemberontakan. "Nanti malam saya akan meminta bantuan ibu di rumah." lanjutnya dengan seringai tajam, membuat refleks Karina melotot ke arahnya. "Jaga bicara kamu, Rey!"