Aleyra dan Anita melihat ke arah sumber suara. Suara itu sudah tidak asing bagi mereka. Sontak, Aleyra dan ibunya langsung berdiri bergegas mendekati pintu dan membukanya. Suara itu terus menerus memanggil keduanya sembari terisak. Saat mereka membukanya, di hadapan mereka berdiri seorang perempuan yang tak asing bagi mereka. "Mbak, Aleyra. Tolong." Wanita itu memeluk Anita sambil menangis menumpahkan segala perasaannya. Aleyra dan Anita menyuruhnya untuk tenang dan menceritakan semuanya. "Bibi, tenang ya." Runi menghela napas mencoba meredam tangisnya agar bisa menceritakan apa yang terjadi padanya. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu sampai nangis dan terlihat khawatir begini?" tanya Anita. "Sevi ...," ucapnya kembali terisak. "Sevi kenapa, Run?" "Sevi menggadaikan sertifikat rumah p

