Bab 1 - Pertemuan
“Pagi, Bi,” sapa Aleyra.
“Pagi juga, Ley. Kok sudah bangun pagi-pagi?”
“Eh ... iya, Bi. Aku mau bantuin Bibi masak ya," ujar Aleyra.
“Sudah, enggak apa-apa, Bibi saja yang masak. Kamu siap-siap ke sekolah saja, ya,” tegas Runi─bibi Aleyra. “Oh iya, tolong bangunin Sevi juga ya, Ley. Biar dia enggak telat ke sekolah.” Runi melanjutkan ucapannya sembari memasak.
“Iya, Bi.”
Aleyra berjalan menuju kamar Sevi lalu berusaha membangunkannya.
“Sev ... Sev, bangun, udah pagi.” Aleyra dengan ragu berusaha menggugah Sevi yang masih tertidur pulas. Lalu Sevi mendengar suara Aleyra dan malah memarahinya.
“Apaan sih Lo, ganggu orang tidur aja, Gue masih ngantuk tau.” Sevi melempar Aleyra dengan guling yang ada di sampingnya. Kemudian, dia menghempaskan kembali tubuhnya ke ranjang lalu menutup mukanya dengan bantal.
“Sev, ini sudah pagi. Bi Runi menyuruhku membangunkanmu agar kamu tidak telat sekolah.”
“Berisik tau nggak, sih. Pergi sana!” usir Sevi.
Aleyra melangkahkan kakinya keluar kamar lalu mendekati bibinya.
“Bi, aku sudah coba bangunin Sevi, tapi ....”
“Kenapa? Susah dibangunin ya? Sudah Bibi duga, biar nanti Bibi saja yang bangunin. Kamu siap-siap sekolah saja sana,” tukasnya.
“Iya, Bi.” Aleyra berbalik dan bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Setelah dia selesai mempersiapkan diri, dia lantas berpamitan kepada bibinya.
“Bi, aku berangkat dulu ya.”
“Iya, Ley. Enggak sarapan dulu?” tanya Aleyra.
“Enggak deh, Bi. Nanti saja, aku belum lapar.”
“Ya sudah hati-hati. Di luar masih hujan, lho. Pakai jas hujan ya!" pesan Runi.
Aleyra pun mulai memakai jas hujan dan mulai mengendarai sepeda motornya. Derasnya hujan yang mengguyur sepanjang jalan utama di kota Indramayu pagi itu tak menghentikan niatan seorang gadis yang bernama Aleyra Aurora, untuk melajukan kendaraan roda dua yang dinaikinya dengan mengenakan setelan jas hujan berwarna pink bermotif Hello Kitty dan helm berwarna merah serta menggendong tas ransel hitam dipundaknya yang dia sembunyikan di dalam jas hujan.
Aleyra, delapan belas tahun. Dia adalah anak tunggal dari pasangan suami isteri, Rudi Hermawan dan Anita Sari. Dia mempunyai tubuh yang tingginya sekitar 164 cm, bola mata berwarna coklat, bulu mata lentik, rupa yang menawan dan berkerudung.
Ayahnya adalah seorang karyawan di salah satu bank swasta, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Namun karena sebuah alasan yang mementingkan ego masing-masing, keduanya harus berpisah dan menitipkan Aleyra kepada bibinya dan diasuh olehnya. Ayah Aleyra dipindah tugaskan ke Surabaya, sedangkan ibunya memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan sudah dua tahun di sana.
Runi mempunyai anak bernama Sevi Anindita. Suaminya telah tiada dua tahun yang lalu. Dia sangat menyayangi Aleyra seperti halnya anaknya sendiri, tetapi tidak demikian dengan Sevi, dia tidak suka dengan kehadiran Aleyra di tengah keluarganya.
Hujan yang masih deras membuat suasana pagi itu lumayan lengang. Tak seperti biasanya, kali ini hanya terlihat beberapa kendaraan pribadi dan beberapa kendaraan berukuran besar saja yang melintasi jalanan utama yang biasa dilewati Aleyra menuju sekolah tempatnya menuntut ilmu. Aleyra, merupakan salah seorang siswi kelas Dua Belas IPA-3 di salah satu SMA Negeri di kota Indramayu.
Jarak antara sekolah dari rumah bibinya sekitar sepuluh kilometer, dia memilih untuk pergi menggunakan motor matic bekas pamannya sewaktu masih hidup. Aleyra terus melajukan motor matic-nya sambil sesekali mengarahkan pandangan pada kaca spion di kanan dan kiri untuk memastikan kondisi di belakangnya.
Sekitar dua puluh lima menit Aleyra memberi lampu sen kiri dan berbelok ke arah warung tempat parkiran sepeda motor yang berada tepat di seberang jalan sekolahnya. Dia langsung memasukan motornya ke dalam parkiran dan bergegas turun.
Sementara Sevi, dia masih berada di rumah dan bangun kesiangan, sehingga membuatnya marah-marah kepada ibunya. "Bu, aku sudah telat, cepat keluarin motorku. Ibu ngapain aja sih enggak bangunin aku," ucapnya sambil memakai sepatu.
"Ibu sudah bangunin kamu, tapi kamu malah enggak bangun-bangun. Ya udah sebentar ya, Ibu keluarin motornya." Runi segera mengeluarkan motor. Saat motor sudah siap, Sevi berjalan terburu-buru dan langsung menaiki motornya, seketika melesat meninggalkan ibunya yang masih berdiri di depan rumah, hal itu membuat ibunya menggelengkan kepala. 'Anak itu, semenjak ayahnya tiada, dia jadi kurang sopan padaku, ah sudahlah,’ batin Runi. Lalu dia bergegas masuk ke dalam rumah.
***
Di parkiran, Aleyra menyingkap lengan baju putihnya dan melihat waktu menunjukkan pukul 06.40 WIB. Masih banyak waktu sebelum bel masuk berbunyi karena cuaca pun masih hujan, maka Aleyra memutuskan untuk membeli camilan dan duduk di pojokan warung yang menghadap langsung ke arah jalan raya. Dia ingin memesan minuman dan cemilan sekedar untuk menghangatkan dan mengganjal perutnya karena sebelum berangkat dia belum mengisinya dengan makanan apapun.
"Bi, pesen s**u coklat hangat ya," pesan Aleyra pada Bu Esih─pemilik warung.
"Iya neng Ley." Esih segera mengambil s**u saset dan membuatkannya lalu secepat kilat menyuguhkan ke meja kayu coklat yang berbentuk persegi panjang berukuran 2x1 meter yang berada tepat di hadapan Aleyra.
"Terima kasih, Bi." Aleyra mulai menyeruputnya dan mengambil sebungkus roti. Belum habis dia memakan roti, tiba-tiba ada sebuah motor Kawasaki Ninja datang ke parkiran warung. Pengemudi berbadan atletis dan mempunyai tinggi sekitar 170 cm itu turun. Dia mengenakan seragam putih abu-abu dengan sepatu kets hitam berbalut dengan sweter berwarna hitam.
Dari pojokan sana, sepasang mata perlahan memperhatikan cowok yang menggunakan seragam putih abu-abu. Ya, Aleyra mulai memperhatikan gerak-gerik cowok itu dan bertanya-tanya. Siapakah gerangan cowok itu, dia hampir tau semua yang biasa parkir di warung itu, tapi baru kali ini dia melihatnya. Saat dia masih sibuk dengan pikirannya tentang siapa cowok itu, dia tak menyadari kalau cowok bertubuh atletis yang mempunyai bola mata biru datang menghampirinya dan duduk tepat di sebelah kiri Aleyra.
"Bi, kopi hitam ya satu," pesan cowok itu kepada Esih. Suara itu tentu saja mengagetkan Aleyra yang sedari tadi masih memikirkan siapa sosok cowok yang ada di sampingnya. Esih segera membuat kopi dan mengantarkannya ke meja yang sama dengan meja Aleyra.
Aleyra melirik jamnya dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Dia segera meneguk secangkir s**u yang sedari tadi hampir menjadi dingin karena didiamkan terlalu lama. Saat dia menyeruput minumannya, tak jarang dia mengarahkan pandangannya ke arah cowok itu.
Sejenak Aleyra terpana melihat seorang cowok bak artis Robert Patinson, artis idolanya. 'Kenapa cowok itu tampan sekali, mirip artis idolaku pula,' batin Aleyra. Bola mata yang biru, tatapan yang meneduhkan, wajah yang putih bersih, tingginya kira-kira 170 cm dengan badan yang atletis benar-benar membuatnya begitu ingin mengenalnya, tapi dia tak mau terburu-buru ingin mengenalnya.
Aleyra melirik jarum jam di tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB. Dia melangkahkan kakinya hendak membayar dan mau tidak mau dia harus melewati sosok cowok yang sedari tadi membuyarkan perhatiannya.
"Maaf permisi, boleh aku lewat?" ucapnya.
"Oh ... silakan." Cowok itu menjawab sambil menggeser posisi duduknya menyamping ke kiri.
Belum sempat dia menjauh, langkahnya tertahan karena ucapan cowok itu. "Mba, mba, boleh kenalan gak?" Aleyra menoleh ke belakang. 'Sialan, dia ga liat apa kalo aku pake seragam SMA, masa panggilnya mba,' batin Aleyra. Dia berbalik dan melangkahkan kakinya lagi menuju pemilik warung yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
"Jadi berapa, Bi?" tanya Aleyra.
"Tujuh ribu, neng," balas Esih. Dia membuka tas ransel dan membiarkan tangannya mengacak-acak isi tas ransel mencari dompet miliknya.
"Duh, dompetnya dimana ya," ujar Aleyra.
"Ada enggak neng dompetnya?" tanya Esih.
"Sebentar ya, Bi. Saya cari dulu dompetnya."
Tak lama sekitar lima menit kemudian Aleyra sudah frustasi karena tidak mendapati dompetnya di dalam tas. "Enggak ada, Bi. Gimana nih." Muka Aleyra mulai cemas.
"Nih, Bi. Sekalian aja bayarnya sama gue." cowok itu mengeluarkan uang dan membayarnya kepada Esih.
"Eh, enggak usah. Nanti aku bayar sendiri," ujar Aleyra.
"Udah enggak apa-apa. Lo kan enggak bawa duit, jadi nanti Lo bayar kalo udah ada duit, oke," ucap cowok itu.
"Eh ... iya, Lo murid di SMAN 50 Indramayu?" tanya Bimo.
"Iya, kamu sendiri? Apa kamu juga sekolah di sini?" tanyanya balik.
"Iya, kalau gitu, kita bareng aja." Bimo membuka sweaternya, lalu menaungkannya di atas kepala mereka berdua. Sekarang mereka berjalan beriringan menyeberangi jalan menuju ke arah sekolah mereka.
Aleyra merasakan wangi parfum dari cowok di sampingnya itu, jantungnya berdegup kencang, sesekali dia melirik ke arah cowok itu dan entah apa yang dia rasakan, yang pasti dia merasakan hal yang tak biasa dari perasaannya. Dia bisa melihat dengan jelas bentuk wajah cowok itu. Hidungnya yang mancung nampak terlihat dari samping, ‘sial, kenapa cowok berbola mata biru ini mengoyak-oyak perasaanku,’ batin Aleyra.
Saat Aleyra masih menatap dalam rupa cowok itu, rupanya cowok itu menyadari kalau perempuan manis itu sedang menatap kearahnya.
“Kenapa Lo liatin gue kaya gitu, gue ganteng ya!” Cowok itu tersenyum manis menengok ke arah Aleyra.
“Dih, Pede banget, siapa juga yang lihatin kamu.” Aleyra buru-buru mengalihkan pandangan ke arah depan. “Sudah ayo cepat, kita basah kuyup lho, entar,” imbuhnya.
‘Memang ganteng,’ batinnya sambil tersenyum. Keduanya sudah berada di dalam gerbang sekolah.
Sementara itu, di seberang jalan sana, terlihat Sevi yang baru saja datang dan memarkirkan sepeda motornya di tempat yang sama dengan Aleyra, yaitu di parkiran motor milik Esih. Sevi segera turun dari motornya, lalu dia melepas jas hujan bermotif Doraemon dan bergegas menyeberang jalan.
Saat dia berada di trotoar tengah antara jalur kanan dan kiri, dia melihat dari kejauhan kalau Aleyra sedang berjalan beriringan dengan seorang cowok. Tapi pandangannya nampak tidak jelas, dia berusaha menelungkupkan tangannya diatas pelipisnya agar mencegah air menghalangi pandangannya, namun percuma saja karena hujan masih mengguyur deras kala itu. Setelah mobil yang berlalu lalang mulai lengang, Sevi melanjutkan langkahnya menyeberang jalan dan masuk ke dalam gerbang sekolahnya.
***