Bab 2 - Perkenalan

1995 Kata
Bel masuk sudah berbunyi, Sevi sudah mempunyai firasat kalau dia pasti telat masuk kelas, karena hari ini dia bangun kesiangan. “Ah, sial, gue udah telat. Mana jam pertamanya pelajaran Bahasa Inggris lagi, Bu Andin kan killer.” Sevi bergidig menyebut nama Bu Andin. Sementara itu, Aleyra dan cowok itu sudah berada di depan kelas XII IPA-3. Keduanya terlibat percakapan sebelum memutuskan untuk masuk ke kelas karena saat itu guru mereka belum masuk ke kelas. "Oh iya, kita belum kenalan, nama gue Bimo, nama Lo siapa?" Bimo mengulurkan tangannya. "Namaku Aleyra." Aleyra membalas uluran tangan Bimo. "Namanya Cantik, seperti orangnya" Bimo memelankan ucapannya. Namun, rupanya Aleyra mendengar apa yang Bimo ucapkan tadi. "Apa ... tadi kamu bilang apa?" Teriak Aleyra mengaskan apa yang dia dengar. "Eng ... enggak, gue ga bilang apa-apa ko. Salah denger kali Lo." Bimo berpura-pura tidak mengucapkan apa-apa. "Oh ... ya udah. Eh iya, kamu di kelas mana?" Tanya Aleyra. "Aku kelas XII IPA 3." "Lho, ko bisa sama ya," ujar Aleyra. Eh, maaf sweater kamu jadi basah kuyup ya," lanjut Aleyra. Aleyra memegang sweater Bimo. "Ga apa-apa lagi, santai aja." Saat mereka masih asik dalam perbincangan mereka, tiba-tiba Sevi terhenti sejenak melihat pemandangan yang membuat dia bertanya-tanya siapa laki-laki yang sedang berbicara dengan Aleyra itu. Namun karena Sevi melihat sudah tak ada siswa berada di luar kelasnya, dia berpikir kalau Bu Andin pasti sudah masuk ke kelas. Dia memutuskan untuk langsung berbelok ke dalam kelas. Ya, Ruang kelas Sevi berada di seberang ruang kelas Bimo dan Aleyra. Ruang kelas IPA dan IPS dipisahkan oleh lapangan basket di sekolahnya. *** Bimo dan Aleyra mulai masuk ke ruang kelas XII IPA-3, sedangkan Sevi di ruang kelas XII IPS-1. Kebanyakan anak-anak di kelas IPA identik dengan anak-anak yang rajin, sedangkan IPS, mereka yang masuk ke kelas itu identik dengan anak yang bandel. Padahal kenyataannya, tidak semua anak dikelas IPA rajin dan di kelas IPS, bandel. Para guru mulai masuk ke dalam kelas, begitupun dengan semua siswa. Aleyra sudah lebih dulu duduk di mejanya bersama Lani, sahabatnya. "Ley, lo kemana aja sih, lama banget, gue udah nungguin Lo dari tadi tau." Lani mendengus kesal. "Sory deh, Lan. Ta ... tadi kan hujan, jadi aku berteduh dulu sambil minum di warungnya Bu Esih". Aleyra menjelaskan pada sahabat yang sedari tadi menunggunya. "Selamat pagi anak-anak." Bu Murni─wali kelas XII IPA-3 mengucap salam pada siswa di dalam kelas sambil meneruskan langkah kakinya menuju tempat duduk guru. Sementara itu, Bimo berjalan mengikuti Bu Murni di belakang dan berhenti tepat di depan kelas, sehingga posisi Bimo tepat berada di depan Aleyra dan Lani. "Ssst... Ssst... Ley, itu siapa? Murid baru ya?" tanya Lani pada Aleyra. "Udah ah diem dulu, nanti juga Bu Murni jelasin. Jangan berisik." Aleyra menaruh telunjuk di depan mulutnya. "Anak-anak, mohon perhatiannya sebentar. Hari ini kalian akan punya teman baru. Ini Bimo, dia siswa pindahan dari SMAN Jakarta. Silakan Bimo perkenalkan diri kamu pada teman-teman baru kamu," jelas Bu Murni. "Terimakasih, Bu." Bimo maju dua langkah lalu mulai memperkenalkan dirinya. "Hai, kenalin nama gue Bimo Rafasya, gue pindahan dari SMAN Jakarta. Gue Tinggal di Desa mundiri. Senang berkenalan dengan kalian." "Bim, silakan duduk, tempat duduk kamu di sebelah Lani dan Aleyra. Bimo berlalu dan mendekati kedua sahabat itu dan berhenti di hadapan mereka. "Hai, Leyra. Kita duduk deketan ternyata ya,” ujar Bimo. Aleyra hanya mengangguk. "Hai, kenalin aku Lani." Lani mengulurkan tangan. "Aku Bimo." "Senang kenalan sama kamu, Bim," ujar Lani. "Aku juga". Bimo langsung menempati tempat duduk di sebelah Aleyra dan Lani. Mereka mulai belajar dengan khidmat selama dua jam pelajaran. *** Sembilan puluh menit berlalu, bel tanda istirahat mulai berbunyi. Bu Murni mulai meninggalkan kelas. Semua siswa hilir mudik ke arah kantin. Tak terkecuali dengan Aleyra dan Lani. Ya, kedua sahabat itu sudah terbiasa berjalan bersama ke kantin saat jam istirahat tiba, sekedar untuk membeli minuman lalu duduk-duduk di kantin sambil bercerita segala hal yang menjadi unek-unek mereka. Lani sudah menunggu di depan pintu kelas mereka. "Ley, ayo cepetan" "Iya, Lan, tunggu bentar." Saat hendak melangkah, Bimo mendekatinya. "Ley, mo kemana?" "Eh, mo ke kantin, Bim." "Ley, ayo sih, aku udah laper nih," teriak Lani dari depan pintu kelas sambil mengelus perutnya. "Eh iya, ok," sahut Aleyra "Bim, aku duluan ya." "Ley ..., bentar ..., yaahhh ..." Bimo terlihat kecewa dan hendak mengejar, namun urung ia lakukan. ‘Gadis itu ..., sungguh terpesona aku dibuatnya pada pandangan pertama,’ batin Bimo. "Bim, ke kantin yuk," Ajak Tomi, teman sebangku Bimo yang baru saja di kenalnya. "Emmh ... boleh, ayo.” Mereka berdua pergi menuju kantin. Aleyra dan Lani sudah sampai di kantin lebih dulu. Di sana terlihat banyak siswa sedang antri memesan makanan pada Bu Afni, pemilik kantin. Aleyra dan Lani pun ikut mengantri dan berdiri di sana. "Ley, Lo mau pesen apa? Gue mau makan nih, jadi gue mau pesen mie goreng, Lo mau enggak?" tanya Lani. "Enggak deh, aku makan di rumah aja entar, tadi pagi aku juga udah sarapan roti di warung Bi Esih.” "Aku pesen teh manis hangat aja ya. Cuacanya masih dingin, Brrr ...." "Ok, lo duduk duluan aja ya, gue pesen dulu." Aleyra mencari tempat duduk dan dia menemukan tempat yang pas untuk duduk bersama Lani. Dia duduk di pojokan kantin dengan kursi dan meja kayu berukuran persegi panjang yang mengarah langsung ke arah jalan raya, sehingga dari sana, dia bisa melihat kendaraan yang lewat di jalan pantura depan sekolahnya. "Nih, Ley." Lani membawakan secangkir teh manis hangat dan meletakkannya di atas meja. "Punya kamu mana?" tanya Aleyra. "Bentar, gue ambil lagi." Aleyra mengaduk secangkir teh manis hangat di hadapannya. Tak lama kemudian, Lani datang dan mereka menikmati makanan masing-masing. *** Suasana di kantin sudah mulai rame. Bimo mencari di mana keberadaan gadis yang dari pagi mencuri perhatiannya. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, mencari sosok gadis berkerudung, bermata coklat, berwajah anggun yang meneduhkan perasaannya. Saat Bimo menengok ke arah pojokan, dia menemukan gadis penyejuk jiwanya. 'Ah, itu dia. Yes, i got you,' batin Bimo. "Bim, Lo liatin siapa? Liatin Aleyra ya?" tanya Tomi. "Ah enggak ko. Eh iya, Lo mau pesen apa, tenang gue traktir." "Gue mau pesen mie rebus pake telor deh, gue laper soalnya." Saat Aleyra dan Lani masih asyik menikmati santapan mereka, laki-laki bernama Bimo itu membuat pengumuman, yang pastinya mengalihkan perhatian kedua sahabat itu ke arah Bimo. "Perhatian semuanya, silakan kalian pesen sepuas kalian, nanti biar gue yang bayar." Sontak semua siswa yang ada di kantin bertepuk tangan, tak terkecuali dengan Lani. Sedangkan gadis bermata coklat itu, Aleyra, hanya diam dan mengeluarkan kata-kata di dalam hati sambil tersenyum manis. 'Bim, lo baik banget ya. Sampai-sampai semua anak kau traktir. Aleyra menyeruput teh manis hangatnya kembali. Dia tak sadar kalau Bimo sejak tadi mengamati gerak-geriknya. Saat semua asyik dengan makanan mereka masing-masing, Sevi datang bersama kedua temannya yaitu Afni dan Widia. Dia berjalan melenggak lenggok seolah mencari perhatian semua orang yang melihatnya. Sevi memang sangat suka apabila menjadi pusat perhatian, terlebih lagi apabila diperhatikan oleh orang yang ia suka. Sevi memang cantik, rambutnya yang panjang dan lurus serta dibiarkan terurai. dia terkenal sombong dan jutek di kalangan teman-temannya. Dia berjalan sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang itu. Sesampainya di kantin, dia melihat laki-laki tampan yang belum pernah dia kenal sebelumnya. "Sev, Sev, itu siapa?" Bisik Afni "Ga tau, gue belum pernah liat dia sebelumnya, mungkin dia siswa pindahan." "Dia tampan ya Sev," sahut Widia. "Dia type gue, gue bakal bikin dia klepek-klepek sama gue." Sevi mendekati Bimo, lalu mulai menggodanya. "Hai, Lo murid baru ya. Kenalin nama gue Sevi." Sevi mengulurkan tangannya. "Hai juga, nama Gue Bimo." Bimo menjabat tangan Sevi. "Gue Afni, ini teman gue Widia." Sambar kedua sahabat Sevi. "Oh iya, kalian mau pesen apa, biar gue yang bayar, hari ini gue traktir kalian semua," ujar Bimo. "Wiiih, tajir lu ya. Ya udah gue pesen ah, belum makan gue. Ayo Wid, Sev, kita pesen maem yu." Afni mengajak Sevi dan Widia. Setelah makanan datang mereka bertiga menghampiri Bimo dan Tomi. "Bim, kita ikut duduk disini ya," pinta Sevi. "Eh... I ... iya, silakan". Bimo terus saja mengarahkan tatapan matanya pada Aleyra, hal itu membuat Sevi jengkel. Sementara itu, Aleyra dan Lani beranjak dari tempat duduknya hendak keluar dari kantin. Saat berada di depan Bimo, Aleyra dan Lani mengucapkan terimakasih atas traktiran Bimo. "Thanks ya, Bim atas traktirannya." "Sama-sama." Melihat hal itu, membuat Sevi tidak menyukai pemandangan yang ada di hadapannya. Saat Aleyra hendak melanjutkan langkahnya, Sevi dengan sengaja menghalangi langkah Aleyra dengan kakinya, sehingga membuat Aleyra hampir saja terjatuh, untung Bimo dengan sigap menangkap Aleyra dan saat ini posisi Aleyra berada di pelukan Bimo dengan posisi berhadapan. Pandangan mata keduanya bertemu. Beberapa detik mereka tertahan pada posisi itu, Bimo terus saja memandangi retina gadis berkerudung itu. Sedangkan Aleyra pun sama begitu. Melihat keadaan tersebut Sevi tidak menyukainya. "Eh, Ley, lepasin dia." Sevi menarik keras tangan Aleyra, dia mendorongnya menjauhi Bimo. "Kegatelan banget sih lu jadi orang. Memanfaatkan situasi biar bisa Deket sama Bimo. Cuih... Dassar murahan Lo." Sevi meninggikan suara agar teman-temannya mendengar apa yang dia ucapkan pada Aleyra. "Sev, Lo apa-apaan sih, tadi dia mau jatuh, makanya gue tangkap. Lo tadi sengaja ya mau buat dia jatuh?" Ujar Bimo. Aleyra merasa dirinya tengah di permalukan dihadapan teman-temannya. Dia berlari secepat mungkin, meninggalkan yang terjadi diantara mereka. Di depan ruang komputer dia berhenti. Letak ruang komputer berada di belakang kelas XII IPA. Dia terisak, menangis sejadi-jadinya. Apa yang membuat Sevi sampai seperti itu terhadapnya, salah apa dia sama Sevi, sampai-sampai Sevi mempermalukannya seperti tadi. Aleyra terduduk, bulir-bulir air matanya masih mengalir dari sudut mata sang gadis. Dia menangkupkan kedua tangannya di atas lututnya. Seketika dia meratapi takdirnya, Sevi sepupunya, tapi Sevi tak pernah menganggapnya dan menyayanginya. Dia terlihat sedih memikirkan hal itu. Bimo pergi dari kantin dan hendak menyusul Leyra, dia mencari disetiap kelas, tapi dia belum menemukannya. "Dimana Lo, Ley.” Bimo mencari Aleyra dengan wajah cemas. Meskipun mereka baru pertama kali bertemu, tapi Bimo merasakan kenyamanan dan keteduhan saat berada di dekatnya. “Semoga lo baik-baik aja, Ley.” Bimo mengacak-acak rambutnya karena tidak menemukan keberadaan Aleyra. *** Bel selesai istirahat berbunyi nyaring, semua siswa masuk ke dalam kelas mereka. Aleyra bangkit dari posisi duduknya di depan ruang komputer, Dia mengusap air matanya, berusaha melupakan semua yang ia alami tadi di kantin. Dia akan baik-baik saja, karena ini bukan pertama kalinya ia diperlakukan tidak baik oleh sepupunya itu. Dia bergegas masuk ke dalam kelas. Di sana nampak sahabatnya─Lani─sudah duduk lebih dulu di dalam kelas. “Ley, lo ga apa-apa? Tadi gue cari lo kemana-mana tapi ga ada.” “Iya, aku nggak apa-apa ko. Aku baik-baik aja.” Bimo masuk ke kelas, dia melihat gadis yang dicarinya sedari tadi sudah menempati tempat duduknya. “Syukurlah, dia sudah masuk ke kelas,” gumam Bimo. “Siang anak-anak. Hari ini kita belajar Bahasa Indonesia ya. karena hari ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah di semester dua, maka kita refresh otak dulu ya dengan game. Silakan kalian tulis pengalaman kalian selama liburan, nanti kita main game, beberapa dari kalian nanti kebagian maju dan membacakan tulisan kalian. Mood Aleyra seolah tercharger kembali setiap kali pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Dia sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, bahkan dia bercita-cita menjadi guru Bahasa Indonesia seperti Bu Alice. Dia akan belajar dengan sungguh-sungguh agar cita-citanya dapat terwujud. “Baik anak-anak, ibu terangkan aturan main game-nya ya. Ibu akan pakai spidol, spidol ini nanti kasihkan ke teman disampingnya sambil nyanyi balonku ya, sampai bunyi Dor, nanti berhentinya di siapa. Nah yang pegang saat bunyi Dor itulah yang maju membacakan pengalaman liburannya ya, paham kan?” “Iya bu," koor semua siswa. “Ayo mulai, Balonku ada lima rupa-rupa warnanya.” Lagu terus dinyanyikan sampai bunyi Dor, ternyata spidol itu dipegang Aleyra. Aleyra pun maju dengan membawa catatannya dan mulai menceritakan pengalamannya saat liburan. Retina Bimo tak kunjung beralih dari gadis berkerudung di depan kelas. Saat Aleyra selesai, semua siswa bertepuk tangan. Permainan pun dilanjutkan sampai selesai dan beberapa dari mereka kebagian maju sampai bel tanda pulang berbunyi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN