[Sudah, pulanglah. Jangan banyak tanya]” Aku mendengar dari panggilan telepon kalau mama Bimo terdengar khawatir. Kemudian beliau menutup panggilannya. Bimo terlihat bingung dengan apa yang mamanya katakan. Dia menoleh ke arahku dengan kening yang mengkerut. “Ada apa, Bim?” tanyaku pada lelaki tampan yang sudah lama kurindukan kehadirannya. “Aku juga nggak tahu,” sahut Bimo dengan mengangkat kedua bahu yang menandakan tidak tahuan tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Sudahlah, paling juga cuma masalah biasa.” Bimo kembali menatapku tajam, tatapannya tak bisa kuelakkan. Dadaku selalu bergetar saat aku berada di dekatnya, apalagi ini adalah pertemuan pertama kami setelah lama berpisah. Aku tak tahu apakah harus bahagia atau kah sedih, bisa bertemu lagi dengan Bimo. Kalian tahu kan alasan

