Bab 4 - Nebeng

2054 Kata
Keesokan harinya, fajar mulai menampakkan irasnya, tetesan embun pagi di hijaunya dedaunan membuat siapapun yang memandangnya akan merasa dimanjakan dengan pemandangan berwarna hijau di pedesaan yang masih alami. Aroma tanah yang masih basah karena hujan kemarin masih tercium dan terasa sangat menenangkan. Aleyra terbangun dari mimpi indahnya semalam, dia mengerjap-ngerjapkan mata, terdiam sebentar, lalu melihat jam di atas meja kecil berwarna coklat di samping kiri tempat tidurnya. Dia melihat waktu sudah menunjukan pukul 04.30. Aleyra segera beranjak dari tempat tidur, mandi, berwudu dan bergegas salat subuh. Setelah salat, dia mengangkat kedua tangannya berdoa kepada sang pemilik hati. “Ya Allah yang maha pengampun, ampunilah atas segala dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil. Ya Allah, hamba memohon padaMu, lindungilah kedua orang tua hamba di mana pun mereka berada, aamiin.” Setelah menyelesaikan salat, Aleyra menuju dapur untuk membantu bibinya. "Dorr." Aleyra datang dari belakang Runi, menempelkan dagunya di bahu sebelah kiri Runi sambil memperlihatkan deretan gigi putih yang kokoh pada bibinya. "Astaghfirullah, kamu ini mengagetkan bibi saja.” Runi mengelus pucuk kepala keponakannya itu. “Kamu sudah bangun mau bantuin bibi masak tah?” "Iya dong, Bi. Aku mau bantuin Bibi masak, ya. Eh tapi aku hari ini masuk pagi, soalnya aku piket. Jadi bantuinnya sebentar aja ya, Bi. Hihi." Aleyra mengeluarkan jurus jitu yaitu meledek bibinya. "Hmm, iya deh iya nggak apa-apa." Runi memeluk ponakan tersayangnya. "Cepat potong tuh sayurannya, katanya mau bantuin bibi," tambahnya. Runi sudah terbiasa belanja sayuran yang akan dia masak dari sore hari kemarin, lalu dia masukan ke dalam lemari pendingin, agar ketika pagi datang dia tidak usah capek-capek pergi ke warung. "Siap, komandan." Aleyra mengangkat tangan kanan, menaruhnya di pelipis seperti sedang berposisi hormat ala prajurit yang sedang hormat kepada pimpinannya. Dengan sigap Aleyra segera mengambil pisau lalu memotong sayuran seperti : Wortel, Seledri, Buncis, dan Kubis. Menu mereka hari ini adalah sayur sop dan juga telur dadar. "Beres nih, Bi. Aku siap-siap dulu ya." Aleyra bergegas memakai seragam putih abu-abu, lalu sarapan. Setelah membereskan peralatan makan, dia berpamitan kepada bibinya. "Aku pergi dulu ya, Bi." Runi berbalik melihat ke arah jam dinding. "Masih jam 06.20, Ley. Kamu mau berangkat sekarang?" tanya Runi mengelus bahu Aleyra. "Iya, Bi.” "Yaudah hati-hati ya.” Aleyra menyalakan motor lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saat di perjalanan, baru empat kilometer dia mengemudikan motor, tiba-tiba ban motor Aleyra bocor. Aleyra berhenti dan memeriksanya. "Yah ... pantesan aja bocor ... bannya terkena paku. Yah ... masih jauh lagi, mana sepagi ini belum ada yang buka bengkelnya, gimana dong?” celoteh Aleyra. Karena tidak ada pilihan lain, dia memutuskan untuk berjalan dan mendorong motornya. Sekitar satu kilometer dia mendorong motor, tiba-tiba Sevi datang dari arah belakang dan berhenti sejenak. "Bocor ya bannya, kasihan banget, sih, lo." "Iya, nih, Sev. Bantuin aku dong. Kasih aku tumpangan biar aku bisa cepat-cepat ke sekolah, hari ini aku piket, Sev, please." Aleyra memelas sambil menggabungkan kedua tangannya. "Gue ... kasih tumpangan ke Lo? Ogah banget deh gue." Dia mengarahkan jari telunjuknya ke arah d**a dengan judes juga sedikit menarik sudut kanan bibir menornya itu. "Please, Sev. Aku nggak mau telat, aku ikut ya, Sev." Aleyra Menggabungkan telapak tangan berharap sepupunya akan memberikan tumpangan hingga ke sekolah. "Gue bilang ogah ya ogah, rasain lo emang enak dorong," tolak Sevi. "Sampai sekolah gempor-gempor deh, Lo. Hahaha ...," imbuh Sevi sambil tertawa terbahak-bahak, lalu dia berlalu meninggalkan Aleyra yang masih berdiri sembari memegangi motornya. Terlihat sedikit raut kekecewaan di wajahnya. 'Ah ... Sudahlah, Ley, ga usah sedih. ‘Kan bisa jalan kaki sambil olah raga, biar sehat juga. Mungkin Sevi lagi buru-buru makanya dia enggan ajakin aku', gumamnya dalam hati terus berpositif thinking atas apa yang baru saja dia alami. Dari arah yang sama, Bimo diantar ke sekolah menggunakan mobil. Hari ini dia tidak mau menyetir sendiri, melainkan menyuruh Pak Odi supirnya, untuk mengantarkannya ke sekolah. Sengaja Bimo berangkat pagi karena dia tahu hari ini adalah jadwal piket gadis yang pertama dikenalnya di sekolah ini. Selama di perjalanan, Bimo terus memikirkan Aleyra. Terkadang dia tak mengerti dengan perasaannya, gadis itu biasa saja, bahkan jauh dibandingkan dengan gadis-gadis di kota yang penampilannya menarik, mewah dan glowing. Penampilannya biasa saja, wajahnya pun masih alami tanpa polesan make up tapi tetap terlihat cantik. Beda dengan deretan mantan pacarnya yang terdahulu yang harus berpenampilan serba mewah, tak jarang Bimo menggelontorkan banyak uang untuk memuaskan hasrat belanja mereka. Saat di perjalanan, supir Bimo menyadarkannya dari lamunan yang membandingkan antara Aleyra dan mantan-mantan pacarnya. “Den, lihat deh. Kasihan ya cewek itu, kayaknya bannya bocor. Masih pagi belum ada bengkel yang buka.” Odi menunjuk ke arah gadis yang terlihat dari belakang. Netra Bimo diarahkan ke arah yang dimaksud supirnya. Dia melihat seorang cewek berpakaian putih abu-abu yang sedang mendorong motor. Awalnya Bimo berpikir mungkin dia murid dari sekolah lain, bukan murid di sekolahnya yang kebetulan ban motornya bocor karena di daerah itu ada lebih dari satu sekolah. Namun, semakin dekat ke arah cewek itu, Bimo meminta Pak Odi untuk memelankan laju kendaraannya karena penasaran dengan cewek itu yang sepertinya dia pernah melihat tas punggung yang digendong oleh sang cewek. Benar saja dugaannya, begitu mobil yang dikendarainya melewati cewek pendorong motor itu, dia meminta pak Odi memberhentikan mobilnya. “Stop pak, stop.” Odi menginjak rem sekaligus. Menoleh ke arah tuan mudanya. Mempertanyakan kenapa tiba-tiba tuan mudanya menyuruh untuk memberhentikan mobil. Bimo tak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan oleh Odi. Dia menengok ke belakang, mengambil sisir kecil yang selalu berada di dalam laci dashboard. Menyisir rambutnya sambil melihat ke spion dari dalam mobil. Melihat kelakuan tuan mudanya, Odi mempertanyakan perihal siapa cewek cantik di belakang mobil mereka yang masih mendorong motornya. “Sepertinya dia orang yang spesial ini,” goda Odi yang terkikik-kikik melihat tingkah Bimo. Sempat-sempatnya dia merapikan rambut agar terlihat sempurna di mata Aleyra, padahal rambutnya saat itu sudah rapi tanpa ada yang salah sedikit pun dari penampilannya. Tetap saja, Bimo ingin make sure kalau penampilannya sudah oke dan bersiap menjemput sang putri bak di negeri dongeng. Melihat ada sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapannya, Aleyra pun berhenti. Dia bertanya-tanya, apakah mobil itu berhenti untuknya? Siapakah gerangan pengemudi mobil yang berhenti di hadapannya itu? Ada perlu apa dia berhenti? Pikirannya berkecamuk memikirkan hal itu. Tak lama kemudian pintu mobil dibuka, lalu turunlah seorang cowok bertubuh tinggi dan kekar. Dia belum bisa melihat siapakah cowok itu karena dia melihat ke arah depan, akan tetapi begitu dia mengarahkan wajahnya ke belakang, Aleyra tampak mengenali cowok itu. "Bimo." Sontak Aleyra terkejut, terpana saat cowok yang turun dari mobil itu ternyata Bimo. Bagaimana tidak, semenjak kenal dengan Bimo, Aleyra merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya, jantungnya terasa berdegup kencang apabila dia sedang berada di dekat Bimo. Bimo berjalan mendekati Aleyra dan menyapanya. "Hei, Ley. Motor lo bocor, ya?" Bimo memiringkan kepalanya melihat ban motor Aleyra yang bocor. "Iya, Bim. Enggak tau nih kenapa, padahal tadi pas berangkat baik-baik aja." tutur Aleyra sedikit mengerucutkan bibir dengan muka lesu. Mendorong motor yang dia lakukan tadi cukup membuat capek, sehingga keringat tak terasa bercucuran membasahi seragamnya. "Lo ikut gue aja, yuk. Biar motor lo ditaruh di sini aja, entar gue telpon bengkel langganan gue buat benerin motor lo." Bimo berharap tawarannya diterima Aleyra, agar dia bisa dekat dengan gadis yang disukainya. "Enggak usah deh, aku enggak mau ngerepotin kamu. Biar aku jalan kaki aja." tolaknya. "Yakin lo? Nyesel, lho entar nggak ikut orang ganteng kaya gue. Haha ...." Bimo tertawa terbahak-bahak. "Dih, pede banget sih kamu." Aleyra tersenyum manis. "Bukannya pede, memang kenyataannya gue ganteng kok. Sudah ikut saja, gue yakin lo capek dorong-dorong motor sampe sekolah. Lihat itu baju lo saja sampai basah karena keringat. Eh iya, Bukannya hari ini lo piket, ya?" tanya Bimo. "Hmm ... iya sih." “Jadi gimana, mau ikut nggak?” Bimo mempertegas pertanyaannya. “Gak usah deh, biar aku jalan saja.” Sebenarnya Aleyra ingin ikut, tapi dia malu mengatakannya. Kalau ikut Bimo bisa-bisa dia salah tingkah, tapi kalau enggak ikut bisa dipastikan dia akan telat mengerjakan piket di kelas. Bimo hanya membalas anggukan dari Aleyra, dia sengaja berbalik hendak berjalan menuju mobilnya. Dia tahu gadis itu akan memanggil dan ikut bersamanya. Dugaan Bimo benar, dengan ragu aleyra memanggilnya, Bimo menoleh dan berbalik ke arahnya. "Berubah pikiran kan. Udah, ayo ikut aja, biar lo nggak telat," ajak Bimo. "Enggak ngerepotin kamu, nih?" "Ya enggak lah. Ayo jangan kelamaan, nanti kita bisa telat." "Ya udah, oke." Mereka berdua berjalan masuk ke dalam mobil. Bimo dan Aleyra duduk beriringan di belakang. "Ayo, Pak, jalan." Bimo menyuruh supirnya untuk segera melajukan mobil. Sesekali Odi melihat keduanya dari kaca spion yang ada di dalam mobil. Dia melihat kecanggungan di antara mereka. Namun, dia bisa melihat wajah tuan mudanya menjadi berbinar berada di samping gadis itu. Sepanjang perjalanan itu, Bimo dan Aleyra hanya terdiam membisu. Odi menyalakan lagu kesukaan Bimo dari Dewa 19, saat lagu diputar Bimo ikut bernyanyi pelan agar bisa menghilangkan rasa groginya. Tangannya ditepuk-tepukan ke paha sambil kepala manggut-manggut agar memecah keheningan. Odi sangat paham dengan tingkah Bimo, saat ini tuan mudanya sedang grogi seolah sedang memikirkan sesuatu. Odi pernah bahkan sering mengantarnya bersama dengan mantan pacar sewaktu di Jakarta, tapi biasanya tuannya hanya diam dan terlihat risih dengan mereka yang malah merajuk kepada Bimo. Kali ini dia terlihat bahagia, ‘Sepertinya tuan muda menyukai gadis ini’, gumam Odi. Mereka berdua masih sibuk merangkai kata-kata di dalam pikiran masing-masing. Aleyra merasakan aliran darahnya terasa lebih cepat dibandingkan biasanya. Hembusan AC di dalam mobil sedan itu terasa lebih dingin hingga menusuk jantungnya. Aleyra memegang lengan kanan dan kiri dan mengusap-usap tangannya pertanda kedinginan. Bimo sedari tadi terlarut dalam pikirannya untuk merangkai kata-kata agar bisa memulai pembicaraan dengan Aleyra, kemudian dia melirik ke arah Aleyra. "Ley, lo kedinginan, ya?" tanya Bimo. Tanpa menunggu jawaban dari Aleyra, dia menyuruh Odi─ supirnya─untuk mengecilkan suhu AC-nya. "Pak, tolong kecilin AC-nya, ya," perintah Bimo. "Baik, Tuan," balas Odi yang kemudian menurunkan suhu AC-nya. Bimo membuka sweter dan mengenakannya ke tubuh Aleyra. "Bim, nanti kamu kedinginan." "Sudah, enggak apa-apa, pakai aja. Gue mah udah biasa kali, jadi enggak akan kedinginan kaya lo." Aleyra tertunduk diam, dia merasakan jantungnya berdegup kencang, sampai-sampai dia merasakan degupannya terdengar keras olehnya. 'Aduh, kenapa jantungku berdegup kencang banget ya,' gumamnya. Belum pernah dia merasakan hal seperti ini sebelumnya. Maklum saja, Aleyra jarang sekali dekat dengan cowok sedekat ini, karena keseharian dia belajar dan membantu bibinya berjualan di rumah. Dia ingin suatu saat nanti bisa menggapai cita-citanya. Maka dari itu, sedari dulu dia memang suka belajar dan tidak kepikiran untuk berpacaran dengan cowok mana pun. Bimo memulai pembicaraan saat Aleyra masih terdiam seribu bahasa. "Ley, kalau boleh tahu rumah lo di mana?" "Eh ... rumahku─." Aleyra terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya. "Rumahku di desa Sandang, tapi sekarang pindah ke desa Manggis sama bibiku." "Orang tua kamu ke mana?" tanya Bimo penasaran karena mendengar Aleyra tinggal bersama dengan bibinya. Aleyra tertunduk, kemudian dia menjawab pertanyaan Bimo. "Orang tuaku berpisah, ibuku ke luar negeri, sedangkan ayahku ke Surabaya. Makanya aku dititipkan pada bibiku." "Oh ... maaf ya." Bimo merasa pertanyaannya membuat gadis itu tertunduk. "Enggak apa-apa kok, santai saja.” Aleyra tersenyum tipis ke arah Bimo. “Kalau kamu, tinggal di mana?” Aleyra bertanya balik pada Bimo. “Rumahku di jalan Permata,” aku Bimo. “Oh ... di daerah sana, ya. Ayah ibumu kerja di sini juga?” Aleyra bertanya balik. “Dulu aku tinggal di Jakarta bersama Mamah Papahku. Papah punya perusahaan di sana. Papahku berasal dari Jakarta, sedangkan Mamahku dari sini. Tapi karena sebulan lalu Nenekku sakit keras, maka Mamah memutuskan untuk tinggal di sini dan merawat Nenek. Papahku tetap di Jakarta karena perusahaan membutuhkan beliau. Tapi terkadang beliau bolak-balik ke sini kalau kerjaan di sana bisa ditinggalkan.” “Maaf, kalau boleh tahu nenek kamu sakit apa? Terus keadaannya bagaimana sekarang?” tanya Aleyra. “Nenekku ....” Bimo sejenak menghentikan ucapannya. Dia menghela napas, lalu melanjutkan ucapannya. ”Beliau sudah tiada dua minggu yang lalu.” “Innalillahi wa inna ilaihi roojiuun. Aku turut berduka cita, Bim. Maaf kalau ucapanku mengingatkanmu kembali pada nenekmu.” “Enggak apa-apa, Ley. Nenek gue sudah tenang di alam sana. Gue cuma bisa doain moga Nenek dapat tempat terindah di sisi-Nya.” Banyak kenangan yang terlintas di pikiran bimo ketika mengingat kembali sosok neneknya. “Aamiin.” Aleyra menimpali ucapan Bimo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN