Sejauh matanya memandang, Arwin hanya melihat laut yang terbentang luas. Dari balkon kamarnya, Arwin bisa mencium aroma laut yang sudah cukup lama dia tidak hirup. Dia baru saja melakukan meeting di hotel ini dan Arwin memutuskan untuk bermalam di sini karena dia ingin mencari inspirasi di tempat ini.
Arwin menyisingkan lengan kemejanya, tangannya kemudian memegangi pinggiran pembatas balkon. Suasana yang damai ini sudah cukup lama dia tidak temukan, mungkin dia harus merencanakan liburan ke alam bebas jika dia memiliki waktu senggang.
Kekhidmatan Arwin menatap laut yang terbentang luas di depan sana seketika sirna karena suara bising dari arah belakangnya. Arwin menoleh ke belakang dan mendapati Rendi tengah duduk santai di sofa dengan televisi yang menyala.
“Bukannya sudah kusuruh pulang?” Arwin mendelik tajam.
“Bentaran doang Win, capek kali abis rapat.”
Arwin berjalan menghampiri Rendi. Remote tv yang ada di atas meja menjadi sasaran tatapannya. Baru saja Arwin hendak mengambil remote tv, Rendi lebih dahulu mengambilnya.
“Bentaran doang, ini ada gosip terbaru.” Rendi berusaha keras menyembunyikan remot tv yang menjadi incaran Arwin.
“Nonton di rumahmu sana!” Arwin menyeret Rendi turun dari sofa kamar hotelnya. Tidak tanggung-tanggung, Arwin bahkan menyeret Rendi sampai depan pintu kamar hotelnya.
“Pulang!”
Rendi bangun dari posisi tubuhnya yang terlentang di lantai. Dia membuka pintu kamar hotel itu, tepat di ambang pintu Rendi berucap, “Pantas aja dia enggak mau-mau sama kamu.”
Kaki Arwin sudah siap menendang Rendi saat Rendi lebih dahulu berlari menyelamatkan dirinya. Melihat kepergian Rendi, Arwin membanting pintu kamarnya. Dia berjalan menuju tengah kamarnya, melihat tv yang masih menyala dan tidak menemukan remote tv membuat Arwin berdecak.
“Bisa-bisanya dia pergi tanpa mengembalikan remote tv.”
Arwin hendak mematikan tv secara manual pada tombol power yang ada di badan tv. Tangan itu tepat berada di sana saat dia mendengar nama Kim Melodia di sebut dengan sangat jelasnya. Arwin menghela napas lalu memutuskan untuk duduk di sofa.
“Sepertinya makin ke sini netizen semakin beringas ya, bukan begitu rekan Fani?”
“Ya benar sekali, hanya sebuah foto yang niat hati menjadi promosi malah mendapatkan hujatan.”
“Semenjak kajadian hujatan itu, mendadak media sosial Dito menghilang, apa karena tidak kuat mendapat hujatan netizen, sehingga Dito sampai menonaktifkan media sosialnya? Atau malah karena di report netizen?”
“Kita tunggu saja kelanjutan dari masalah ini.”
Layar tv memperhatikan foto yang menjadi sasaran hujatan netizen. Arwin merasa foto itu cukup wajar, apalagi mereka berdua ada pada film yang sama. Tapi anehnya, si aktor yang mendapatkan hujatan sepertinya terlalu lemah karena menonaktifkan akun media sosialnya karena untuk menghilangkan satu media sosial membutuhkan massa yang banyak.
“Sepertinya semakin hari fans Melodi dan Gibran semakin besar, aku jadi penasaran.” Arwin tidak bisa menahan tawanya melihat begitu banyak fans yang terlalu berlebihan pada idola mereka. Tidakkah mereka berpikir bahwa tidak semua pemain akan menjalin hubungan sesuai dengan film mereka. Kenyataan memang kadang pahit. Jika suka ya sukalah dengan karya yang dia keluarkan, bukan karena bagaimana kehidupannya di luar sana.
“Sekumpulan orang menyedihkan.”
Arwin beranjak di tempatnya untuk pergi ke kamar mandi. Dia perlu membersihkan tubuhnya karena sudah seharian Arwin belum membersihkan tubuhnya. Selesai membersihkan tubuhnya Arwin memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Arwin merasa jika dia butuh sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya yang sedikit dingin karena baru selesai mandi.
Pilihan Arwin ketika keluar kamar hotelnya adalah bar yang terdapat di dalam hotel itu. Begitu masuk ke dalam bar, hanya ada dua orang pengunjung yang ada di dalam. Arwin memilih duduk cukup jauh dari dua tamu yang ada di dalam bar itu.
Seorang pelayan datang menghampiri Arwin. Arwin memesan minuman yang sedikit memiliki kadar alkohol. Dia tidak ingin mabuk, hanya saja dia sedikit rindu dengan alkohol. Selagi menunggu minumannya datang, Arwin memperhatikan sekelilingnya. Dua orang yang baru saja masuk ke dalam bar seketika menjadi pusat perhatian Arwin.
Arwin membuang pandangannya. Sekarang dia tidak percaya jika dia bisa bertemu dengan Melodi di tempat yang seperti ini. Melodi bersama wanita yang Arwin sendiri tidak kenal. Apa Putri tahu hal ini? Tapi ini sedikit lebih baik dibandingkan Melodi pergi dengan pria.
Melodi dan temannya itu duduk cukup dekat Arwin, jika menoleh ke samping saja Arwin bisa melihat jelas wajah Melodi dan bisa saja Melodi sadar akan keberadaannya. Minuman Arwin datang dan pelayan yang baru saja mengantarkan minuman untuknya pergi ke meja yang ditempati Melodi.
Arwin memiliki pendengaran yang tajam. Dia bahkan bisa bisa mendengar dengan jelas apa yang dipesan oleh teman Melodi, sedangkan Melodi hanya diam saja tidak bereaksi saat temannya itu memesankan minuman beralkohol tinggi. Apa Melodi biasa meminumnya? Di Korea, minum-minuman beralkohol memang dianggap wajar, tapi tidak di Indonesia, apalagi dia adalah seorang publik figur, minum di tempat terbuka seperti ini, apa dia tidak takut?
Tidak bisa berbuat apa-apa membuat Arwin hanya diam saja sambil memperhatikan Melodi diam-diam. Pembicaraan dua orang itu awalnya hanya sebuah basa-basi seorang yang sudah lama tidak bertemu. Dari sana Arwin tahu bahwa teman Melodi itu adalah seorang aktris juga yang main di sinetron yang sama dengan Melodi.
Pembicaraan dua orang itu terputus karena pelayan datang menghidangkan pesanan mereka.
“Aku benar-benar minta maaf atas sikapku.”
Ucapan perminta maafan itu tidak langsung diiyakan oleh Melodi. Melodi mengambil minuman yang ada di mejanya dan menenggaknya dengan cepat. Melihat Melodi yang meminum-minumannya dengan cepat membuat tenggorokan Arwin terasa kering.
“Kamu pasti enggak percayakan?”
“Ya, sedikit.”
“Aku merasa menyesal, aku sadar jika sikapku selama ini pasti sangat mengganggumu.”
“Itu sudah lama juga, jadi tak masalah bagiku.”
Arwin tidak tahu permasalahan yang dua orang itu hadapi. Yang dia tangkap adalah perempuan itu sudah bersikap buruk pada Melodi dan dengan baiknya Melodi memaafkannya. Seperti apa yang dikatakan ayahnya, Melodinya baik tapi tidak sepolos yang ayahnya itu kira.
Kedua orang itu berbicara cukup lama hingga dari sudut matanya Arwin melihat tingkah Melodi cukup aneh. Tanpa sadar Arwin sedikit menolehkan kepalanya yang membuat dia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Melodi mabuk dan temannya itu tersenyum.
“Mel, makasi ya udah mau maafin aku. Uhm, aku dipanggil manajerku jadi aku mesti pergi dulu.”
Begitu temannya pergi, kepala Melodi terjatuh ke atas meja. Apakah Melodi sebodoh ini mabuk di tempat seperti ini? Melodi mengangkat kepalanya dan mata Melodi malah menatap Arwin. Mereka bertatapan hanya sesaat sebelum Melodi mencoba menegakkan tubuhnya. Perlahan Melodi membuka satu kancing bajunya dan mengibaskan rambutnya ke belakang. Setelah itu Melodi bangun dari tempat duduknya. Dia berjalan mendekati Arwin.
Kejanggalan yang terasa membuat Arwin bangun dari tempatnya. Saat itu dia akhirnya sadar jika teman mengobrol Melodi tidak benar-benar pergi dari bar, dia berada cukup jauh dan tengah mengawasi. Seketika Arwin berjalan cepat menuju Melodi, dia seperti bisa merasakan niat tidak baik dari wanita itu.
Begitu Arwin tepat berada di depan Melodi, dia menarik tangan Melodi hingga Melodi sedikit terjungkal ke arahnya. Wajah Melodi terbenam di d**a Arwin. Kekehan Melodi membuat bulu kuduk Arwin meremang saat itu juga Arwin mengambil tas Melodi dan membenarkan tubuh Melodi agar dia tidak menekan erat wajahnya di bagian d**a Arwin.
“Ayo ku antar ke kamarmu.” Arwin lebih dahulu mengambil tas Melodi. Dia menutup wajah Melodi dengan tas itu. Arwin sangat yakin jika Melodi bukan gadis yang tidak polos seperti yang dia pikirkan tadi, karena tidak mungkin Melodi akan sangat ceroboh untuk mabuk di tempat umum di saat banyak penggemar fanatik yang tanpa ragu menghujat seseorang.
“Aku suka aromamu.” Melodi meracau. Melodi membalikkan tubuhnya dan memilih untuk memeluk Arwin lagi. Arwin mencoba melepaskan pelukan Melodi dan berhasil, tapi Melodi menahan kedua tangannya yang membuat mereka berdua bertatapan.
“Jika dilihat dari dekat, Anda lebih tampan ya.” Melodi tertawa senang.
“Di mana kamarmu?” tanya Arwin.
Melodi menggeleng dan kembali memeluk Arwin. Dia sepertinya enggan untuk menyebutkan di mana letak kamarnya. Jika dia semakin lama di sini Arwin tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Melodi. Sedikit ragu Arwin mengangkat Melodi ke dalam gendongannya. Dia sedikit menahan wajah Melodi agar orang lain tidak bisa melihat wajah melodi.
Dengan langkah lebar dan terburu-buru Arwin membawa Melodi keluar. Dari ekor matanya, Arwin bisa melihat wanita ular itu menyembunyikan wajahnya saat dia melewatinya. Arwin senang karena dia berhasil membuat wanita itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Ponsel yang ada di tangan wanita itu jelas akan digunakannya untuk memvideokan Melodi yang mabuk bukan?
“Wajah Anda terlihat tidak asing, apalagi aroma Anda.”
Tangan Melodi dengan aktif mengelus d**a bidang Arwin. Arwin bahkan sampai harus menahan napasnya karena perlakuan Melodi.
“Apa Anda tahu, aku sering mendapatkan bunga yang sama persis seperti aroma Anda. Aku tidak begitu suka dengan aroma bunga yang diganti.” Tangan Melodi terkepal dan memukul d**a Arwin pelan.
Arwin menghentikan langkah kakinya.. “Tidak suka?”
“Tapi karena terlalu sering mendapatkannya, aku cukup menyukainya.”
“Cukup menyukainya, ya.” Arwin kembali melanjutkan langkah kakinya. Dia mengambil jalan dengan menggunakan tangga darurat karena akan sangat berbahaya jika dia menggunakan lift, toh juga dari bar hingga ke kamarnya hanya terpaut dua lantai dan Arwin tak masalah dengan hal itu. Arwin tak punya pilihan lain selain membawa Melodi ke kamarnya. Itu adalah tempat tercepat yang mereka bisa datangi. Arwin juga tak tahu di mana kamar Melodi.
“Tapi karena dipakai di tubuh seseorang, aku jadi sangat-sangat menyukainya. Apalagi seorang yang setampan Anda.” Melodi menempelkan tangannya kembali ke d**a Arwin. d**a bidang itu sukses membuat Melodi tersenyum dan tanpa ragu mencium bagian itu.
“Melodi, tidak bisakah kamu diam saja.” Arwin mempercepat kakinya menuruni anak tangga.
“Tumbuh Anda pasti setampan wajah Anda. Idol yang kusukai saja pasti kalah atletis,” racau Melodi lagi.
Tiba di depan kamarnya Arwin menurunkan Melodi. Melodi hampir jatuh jika saja Arwin tidak menahan tubuh Melodi.
“Jangan lepasin aku.” Melodi melilitkan tangannya di lengan Arwin. Arwin membiarkan itu karena dia butuh mengambil kunci kamarnya.
Begitu pintu kamarnya terbuka Arwin langsung membawa Melodi masuk ke dalam kamarnya. Tubuh Melodi ditidurkan Arwin di atas tempat tidurnya. Melodi menatap Arwin kesal.
“Panas,” rengek Melodi.
“Acnya baru kunyalakan.”
“Mau kemana?” Melodi menahan tangan Arwin ketika Arwin ingin pergi meninggalkannya begitu saja.
“Ke kamar mandi, mau ikut?”
“Mau.”