Di ruang tamunya Melodi sudah mendapatkan beberapa kiriman dari orang-orang terdekatnya. Mereka memberikan bunga ucapan selamat atas keberhasilannya mendapatkan penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik.
Melodi yang melihat banyak bunga di rumahnya hanya bisa menahan napasnya. “Ini rumahku lama-lama jadi toko bunga deh Mbak.”
Sudah banyak bunga yang Melodi dapatkan dan pada akhirnya bunga-bunga itu akan layu karena Melodi tidak bisa memasukkan semuanya ke dalam vas berisikan air. Sayangnya Melodi tidak bisa menolak pemberian seperti itu karena itu niat baik orang untuknya, yang tentu saja itu dilakukan karena orang-orang memperdulikannya.
“Mau buat toko bunga? Boleh kalau uangnya enggak kamu pakai beli baju.”
Melodi tertawa mendengar ucapan Putri yang merupakan sindiran untuknya. “Aku belanja pakai jatah kok Mbak, jadi masih aman.”
“Enggak ada niatan gitu syuting sinetron lagi?”
Pertanyaan yang beberapa kali ini Melodi dengar kembali terucapkan. “Asal jangan syuting striping, bisa mampus aku,” jawabnya lugas.
“Mbak juga langsung kena marah orangtuamu kalau gitu.” Putri menyodorkan totebag pada Melodi.
Melodi mengambil totebag yang ternyata terdapat kotak yang cukup besar. “Hadiah dari siapa?”
“Pialamu.”
Kepala Melodi dengan kaku menunduk, dia menatap kotak itu dengan tak percaya. “Di dalam ini ada pialaku?” tanya Melodi memastikan.
“Iya, buka aja kalau enggak percaya.”
“Ini Mbak seriuskan? Enggak bercandakan?” Melodi masih memandangi kotak itu dengan tak percaya, dia kira pialanya akan datang siang atau bahkan malam. Siapa sangka piala untuknya datang cukup pagi?
“Ya Tuhan, anak ini.” Putri gemas sendiri melihat tingkah Melodi. Jika bukan ini karena pertama kali Melodi mendapatkan piala itu, Melodi sudah akan diejeknya karena lebay.
Putri merebut totebag itu dari tangan Melodi. “Biar aku aja yang buka isinya kalau nggak percaya.”
Totebag itu kembali direbut Melodi. “Biar aku aja yang buka.”
Melodi yang sudah penasaran dengan bentuk piala pertamanya perlahan mulai membuka kotak tertutup rapat itu. Kotak itu akhirnya terbuka dan menampilkan piala yang terlihat berkilau di mata Melodi. Senyum Melodi mengembang lebar saat itu juga. Mendadak mata Melodi terasa memanas karena dia masih tak menyangka bahwa dia sekarang sudah mendapatkan piala pertamanya sebagai aktris wanita terbaik untuk pemain sinetron.
“Sana buat video ucapan terima kasih., tadi malem kitakan enggak dateng.”
Melodi tersentak, dia terlalu hanyut memandangi piala pertamanya yang bahkan hampir membuatnya menangis lagi seperti tadi malam. Jika itu sampai terjadi, Melodi tidak bisa membayangkan dirinya harus membuat video ucapan terima kasih dengan kondisi mata yang bengkak.
“Aku enggak tahu mau ngomong apa.” Melodi terlalu senang dan terus-terusan terharu dengan pencapaiannya ini hingga dia lupa harus menyiapkan kata-kata atas kemenangannya.
“Tenang aja, Mbak udah nyiepin kata-katanya.” Putri memberikan kertas yang sudah di printnya itu pada Melodi. Putri menyiapkan sampai seperti ini agar orang yang mendengar ucapan Melodi tidak berperasangka buruk pada Melodi. Terjun ke dunia hiburan berarti siap menjadi pusat perhatian, jadi Putri harus tetap memperhatikan sikap Melodi saat di depan umum karena tidak menutup kemungkinan remaja yang mengidolakan Melodi mencontoh apa yang Melodi perlihatkan.
Video yang hanya berlangsung selama satu menit akhirnya selesai Melodi buat. Yang dilakukan Melodi sekarang hanyalah memandangi pialanya terus menerus. Beruntungnya untuk hari ini jadwal Melodi bebas dari pemotretan barang endorse yang datang kepadanya sehingga Melodi bisa bebas memandangi pialanya.
“Di dalam kamar terus, enggak capek?” Putri masuk ke dalam kamar Melodi.
“Mbak, keknya aku butuh tempat majang piala deh,” gumam Melodi karena dia merasa bahwa dia tidak memiliki tempat yang istimewa untuk meletakkan pialanya.
“Taruh di tempat biasanya aja, kasian kalau dia dibeda-bedain.”
Melodi tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Sedari sekolah dasar, Melodi termasuk peserta didik yang berprestasi. Dari sana, Melodi mulai mengumpulkan berbagai macam penghargaan. Tak banyak piala di rumah Melodi karena piala yang Melodi dapatkan biasanya diambil oleh pihak sekolah.
“Mbak enggak pulang? Tiara aja udah pulang.”
“Kamu ngusir Mbak?”
“Enggak, inikan hari libur, kenapa Mbak malah diem di sini aja? Enggak kencan gitu?”
“Dih kencan sama siapa coba, jangan ngaco.”
“Ya terus kenapa?” tanya Melodi kembali.
“Mbak tadi baru dapet pesan. Ada yang mau ngajakin kamu makan malam.”
“Ih, emang bisa gitu?” Melodi bergidik ngeri, dia tahu bahwa banyak aktris yang seperti itu, tapi Melodi tak percaya Putri mengatakan hal itu padanya padahal mereka sudah sepakat untuk tidak membahas hal yang tidak akan mereka setujui.
“Ini enggak seperti yang kamu pikirin.” Putri menghela napas. “Cuman makan malam biasa, nanti Mbak temenin kok.”
“Bapak-bapak?”
Putri mengangguk mengiyakan.
“Ini Pak Rendi, sekretaris Pak Arwin yang memintanya, jadi Mbak enggak enak langsung nolak jadi Mbak tanya kamu. Kamu mau enggak?”
“Kapan memangnya?”
“Sebisa kamu aja.”
“Ya udah, Mbak atur aja kapannya, aku ikut.” Melodi berani mengiyakan karena mendengar nama Rendi dan Arwin yang disebut. Mereka berdua tentu tidak berani macam-macam padanya bukan, bagaimanapun juga jika mereka berani macam-macam dengan mempertemukannya dengan bapak-bapak hidung belang, Melodi tidak akan segan-segan menyebarkannya.
“Nanti Mbak akan kasih tau detailnya gimana.”
Tapi, siapa sangka bahwa hari itu juga Melodi harus bertemu dengan bapak-bapak penggemarnya itu.
“Merekakan orang sibuk Mel, mumpung kamu senggang sekarang makanya mereka milihnya sekarang,” ucap Putri saat itu.
“Untung aja mata aku udah enggak bengkak lagi.” Melodi mengolesi kelopak matanya dengan eye shadow.
“Untungnya sih gitu.” Putri dengan telaten merapikan rambut Melodi. Putri menjepit sedikit rambut depan Melodi agar tidak mengganggu. Rambut Melodi masih tidak terlalu panjang yang membuat Putri tidak bisa membuat banyak kreasi untuk gaya rambut Melodi.
“Mbak beneran nemenin kan?” tanya Melodi memastikan.
“Iya, Pak Rendi bahkan bakalan ikut juga katanya, jadi kamu enggak usah khawatir.”
Melodi tidak tahu apa hubungan Pak Rendi dengan bapak yang meminta bertemu dengannya secara private, tapi sepertinya mereka memiliki hubungan yang dekat.
“Pak Arwin enggak ikut?” Kata itu keluar begitu saja dari mulut Melodi saat tiba-tiba di kepalanya teringat bahwa Pak Rendi adalah asisten Pak Arwin.
“Enggak, emangnya kenapa?”
“Siapa tahu Mbak kangenkan.”
Tapukan sedikit keras Putri layangkan ke Melodi. “Ngaco kamu, udah cepetan, nanti telat.” Putri kemudian memilih untuk pergi meninggalkan Melodi.
Melodi melirik kepergian Putri, dia sedikit tertegun melihat kepergian Putri sebelum Melodi mengambil parfum dan menyemprotkannya dengan cepat. Melodipun pergi menyusul Putri.
Sepanjang perjalanan menuju restoran tempat berlangsungnya pertemuan itu, tidak ada sama sekali suara yang dikeluarkan oleh Putri yang membuat Melodi bingung. Apa ucapannya tadi menyinggung perasaan Putri?
“Mbak kenapa? Marah sama aku ya?” Melodi memberanikan dirinya bertanya setelah sampai di parkiran restoran tempat dilangsungkannya pertemuan itu.
“Mbak lagi datang bulan, gampang kesel. Maaf ya.”
Penjelasan itu sukses membuat Melodi menghela napas lega. Melodi kira Putri marah dengan kata-katanya yang bisa-bisanya mengarah ke perasaan Putri ke Arwin. Jikan Tiara yang mengatakan itu Melodi akan kesal, tapi Melodi tidak sadar jika dia sama saja seperti Tiara.
“Yaudah, yuk keluar, mereka udah nunggu.”
Restoran yang didatangi Melodi sekarang tidak bisa dikatakan restoran yang murah. Ornamen-ornamen yang menghiasi dindin restoran ini bahkan sangat mewah yang membuat Melodi takjub. Mereka dibawa ke sebuah ruang pribadi. Di dalam ruangan itu sudah ada Pak Rendi dan pria paruh baya yang Melodi rasa sedikit lebih tua dari ayahnya.
“Saya tak menyangka bisa bertemu dengan Nak Melodi secara langsung.”
“Saya juga senang bisa bertemu dengan Bapak…”
“Panggil Om Bram saja.”
“Ah, iya Om Bram.”
Lirikan mata Bram yang tertuju pada Rendi tak luput dari perhatian Melodi. Setelah lirikan itu Rendi terlihat tersenyum canggung.
“Bu Putri, bagaimana jika kita duduk di sana?” Rendi menunjukkan meja yang ada di pojok ruangan.
“Oh, oke.”
Jawaban iya dari Putri membuat Melodi memandangi Putri tak percaya. Mereka memang masih dalam satu ruangan yang sama, tapi duduk berdua dengan orang asing seperti ini kurang nyaman bagi Melodi.
Putri dan Rendi akhirnya pergi menuju meja yang ada di pojok ruangan. Melodi melirik ke arah Bram dan tersenyum canggung.
“Nak Melodi enggak usah takut.” Bram sepertinya sadar akan ketakutan Melodi akan sosoknya. “Ayo duduk.” Bram mempersilahkan.
Tubuh Melodi duduk dengan kaku. Ucapan Bram yang menyuruhnya untuk tidak takut, sama sekali tidak mempan bagi Melodi.
“Om enggak percaya bisa ketemu Nak Melodi. Om baru pertama kali menonton sinetron dan langsung tertarik..”
Mendengar kata tertarik membuat Melodi seketika meneguk ludahnya.
“Maksudnya suka dengan akting Nak Melodi dan jadi ngikutin ceritanya.”
“Makasi kalau Om udah suka akting aku.” Melodi sudah tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya saat ini. Pertemuannya dengan orang yang mengaku penggemarnya ini sangat ajaib menurutnya.
“Om bener-bener enggak sabar nonton episode terakhirnya. Kemarin kisah si perempuan uler terus yang diceritakan. Dia aslinya seperti itu ya?” tanya Bram penasaran.
“Maksud Om, Alice?” tanya Melodi yang dijawab anggukan Bram.
“Dia nangis darahpun enggak akan bisa dapetin Ibrahim.” Bram terlihat menggebu-gebu sekali mengutarakan kekesalannya pada sosok Alice yang ada di sinetron.
Bram yang bercerita seperti ini seketika membuat Melodi tertawa. Dia tak menyangka bahwa ada bapak-bapak yang menyukai sinetronnya, bahkan sampai memberikan reaksi seperti ini. Melodi kira makan malam ini hubungan bisnis karena dia adalah brand ambassador dari Tremart, tapi ternyata karena Bram mennyukai sinetron yang dibintanginya.
“Om lucu banget. Baru kali ini loh aku liat ada Bapak-Bapak seperti Om antusias sama sinetron.”
“Itu juga karena akting Nak Melodi yang keren.”
“Aku masih pemula Om, masih harus banyak belajar.”
“Baru belajar langsung dapat penghargaan.” Bram memberikan dua jempolnya.
Ekspresi dan gaya Bram lagi-lagi membuat Melodi tertawa. “Ya ampun Om, aku jadi malu.”
“Gimana pas syuting iklan Tremart? bocah itu tidak mengganggu atau menyakitimukan?”
“Maksud Om, Pak Arwin?” tanya Melodi memastikan.
“Iya, anak itu kadang ekspresinya tidak biasa saja, jadi saat melihat iklan itu Om kaget. Pasti itu enggak mudah buat Nak Melodi.”
“Enggak kok.” Melodi berbohong. Sangat tidak mungkin jika Melodi mengakui dirinya cukup mendapat kesusahan karena Arwin, bagaimanapun juga Bram adalah orang yang pasti sangat mengenal dekat Arwin.
“Jika anak itu sedikit memiliki tabiat yang lembut, Om pasti akan menjodohkannya denganmu, sayangnya tidak. Walau dia anak Om sendiri, Om tidak rela melihat Melodi bersamanya.”
Seketika saat itu juga Melodi ternganga tak percaya. Seorang Arwin yang tampak menyeramkan memiliki ayah selucu Bram. Ayah dan anak yang sangat berbeda sekali. Melodi tidak yakin ibu Arwin yang mewariskan sifat menyebalkan itu karena tidak mungkin.
“Sekarang Nak Melodi fokus karir saja, Om akan sangat mendukung karya-karya yang akan Nak Melodi hasilkan.”