Bab 21

1687 Kata

Pukul sepuluh malam Arwin baru bisa pulang ke apartemennya. Badannya sudah pegal karena masalah kantornya yang tentu saja datang karena masalahnya tadi pagi. Besok pagi-pagi Arwin berencana untuk menemui ayahnya, dia juga berniat menemui Melodi setelah itu. Arwin tidak peduli pada Melodi yang tidak ingin bertemu dengannya. Setidaknya Melodi harus terbiasa dengannya hingga pernikahan mereka berlangsung. Arwin berjalan dengan santai di apartemennya yang gelap. Kaki panjangnya itu melangkah tanpa ragu menuju tembok di mana sakelar berada. Begitu lampu apartemennya menyala, Arwin yang hendak ke kamarnya sadar bahwa ada ayahnya yang duduk tenang di ruang tamunya.  “Apa tanganmu sakit sehingga tidak bisa mengangkat telepon ataupun membalas pesan dari Ayahmu sendiri?” Brama bangun dari sofa yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN