Bab 7

1679 Kata
Melodi mengambil kotak lipstik yang baru saja dikirimkan untuknya. Beberapa saat yang lalu Melodi sudah menerima tawaran menjadi brand ambassador salah satu mark make up yang tentu saja tidak Melodi sia-siakan, apalagi mark make up yang menawarinya sebagai brand ambassador merupakan mark yang terkenal. Tidak hanya sebagai brand ambassador, Melodipun kebanjiran endorse di akun media sosialnya, tapi untuk itu Melodi tidak asal menerima endorsean, sama seperti saat dia akan memilih film yang akan dimainkannya.    Sapuhan lipstik berwarna merah Melodi berikan pada bibirnya. Dia tersenyum melihat warna lipstik yang cocok pada bibirnya itu. Suara pintu yang terbuka membuat Melodi mengalihkan pandangannya dari cermin dan mendapati Putri datang membawa bakso pesanannya.   “Udah siap Mel?” tanya Putri yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang biasa dijadikan tempat pemotretan bagi Melodi untuk foto endorsan. Putri menaruh nampan berisikan bakso itu untuk Melodi.   “Udah ni Mbak, makasi ya.” Melodi mendekatkan hidungnya ke arah bakso yang baru saja diberikan untuknya dan aroma kuah yang khas kaldu membuat Melodi tersenyum.   “Ya udah, Mbak mau urusin yang lain dulu.” Putri kemudian pergi meninggalkan Melodi lagi.   Melodi bisa dibilang baru saja pulang syuting dan syuting kali ini tidak terlalu malam yang membuat Melodi bisa melakukan siaran langsung di media sosialnya. Melodi kemudian memulai siaran langsung di media sosialnya itu. Dia ingin menyapa penggemarnya sekalian tanya jawab jika mereka ingin bertanya sesuatu untuknya.   “Selamat malam semuanya.” Melodi menyapa penggemarnya yang mulai bermunculan masuk ke dalam siaran langsungnya itu.   “Sambil makan aku mau nyapa kalian, soalnya udah lama rasanya enggak ngobrol langsung sama kalian.”   Puluhan ribu penggemar mulai memasuki siaran langsung Melodi. Mereka mulai menyapa dan memberikan pertanyaan pada Melodi. Tapi yang paling mendominasi adalah pertanyaan seputar sinetron yang dimainkannya, apalagi yang mereka ingin tahu adalah kehidupannya dengan Gibran.   Melodi tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia menjawab pertanyaan yang membahas hal-hal remeh dulu. Sambil sesekali menyuap baksonya Melodi terus menjawab pertanyaan penggemarnya itu. Melodi tidak malu dengan menampilkan dirinya makan seperti ini karena dia makan dengan baik, tidak berantakan dan rapi. Siaran mukbang juga sudah biasa di sini, jadi Melodi merasa apa yang dilakukannya adalah hal wajar.   Satu-satu pertanyaan sudah Melodi jawab hingga Melodi mulai menjawab seputar sinetron yang dimainkannya sekarang. “Sinetronnya udah selesai syuting enggak sih Kak?” Melodi membaca pertanyaan dari salah satu penggemarnya.   Melodi memberikan kode dengan jemarinya bahwa sedikit lagi proses syutingnya akan selesai. “Doain aja ya lancar sampai selesai dan aku jamin kalian bakalan makin suka.”   “Bakalan kangen sama Najma dan Ibrahim dong kalau sampai tamat, sampek ratusan episode kan Kak?” Melodi yang membacanya langsung memasang ekspresi menyesal. “Sayangnya enggak sampai ratusan, kalau kangen tinggal nonton ulang aja.”   “Habis ini enggak minat main sinetron yang episodenya lebih banyak aja sama Gibran?” Melodi terdiam sejenak kemudian menjawab, “Doain aja ya.”   Melodi berusaha menjawab seaman mungkin walau sejujurnya dia sangat tidak ingin bermain sinetron dengan episode sampai ratusan episode walau uang yang didapatkan pasti lebih banyak. Tapi beruntungnya Melodi mendapat banyak tawaran main film dan itu tidak bisa Melodi sia-siakan, tapi untuk saat ini Melodi masih memilih-milih film mana yang akan dia ambil.   ‘Hubungan Kak Melodi sama Kak Gibran gimana?’ pertanyaan itu yang paling banyak bermunculan namun Melodi rasanya terlalu ragu untuk menjawab pertanyaan itu. Tanpa sadar bakso yang di makan Melodi habis dan diapun mengambil tisu.   “Baksoku habis.” Melodi memperlihatkan mangkuknya yang sudah kosong. Sekarang dia kembali menjawab beberapa pertanyaan penggemarnya sebelum mengakhiri sesi siaran langsung ini.   “Ah, lipstick yang aku pakai?” ucap Melodi setelah membaca beberapa pertanyaan yang bertanya tentang lipstick yang dipakainya. Efek penggemarnya kebanyakan perempuan hal sekecil lipstick yang tidak lunturpun bisa mereka lihat dan ini yang Melodi tunggu. Dia sebagai brand ambassador harus mengiklankan dengan baik bukan?     “Ini aku pakai lipstik I’m Yours, nomer 3, ini lipstik keluaran terbarunya, mungkin sebentar lagi sudah bisa kalian beli.”   Melodi melirik jam dan menyadari dia sudah cukup lama melakukan siaran langsung dan bakso yang dimakannyapun sudah habis, jadi Melodi memutuskan untuk mengakhiri siaran langsungnya itu. “Siaran langsungnya sampai sini aja ya dan sekali lagi jangan lupa tonton sinetron aku ‘Stray Heart’.”   Dengan satu kelik Melodi mematikan siaran langsungnya. Dia pun menghela napas karena akhirnya bisa selesai menyapa penggemarnya itu. Melodi merasa senang karena berkat aktingnya di sinetron pertamanya ini dia menjadi bisa seperti sekarang, dicintai oleh orang-orang karena aktingnya, itu tandanya bahwa aktingnya bagus bukan?   Melodi membereskan semua barangnya dan segera keluar dari ruangan pemotretan di rumahnya. Di ruang tengah ternyata ada Putri yang tengah fokus memainkan leptop miliknya itu. Melodi sudah bisa menebak apa yang sekarang Putri lakukan.   “Mbak jangan begadang, aku juga sekarang mau istirahat.”   “Iya, ini juga udah mau selesai.”   Di dapur Melodi malah bertemu dengan Tiara yang tengah makan sambil memainkan ponselnya. Di hari kerja rumahnya akan ramai karena Putri dan Tiara akan tidur di sini, tapi saat hari libur mereka berdua akan pulang ke rumah mereka. Melodi merasa beruntung rumah yang ditinggalkan orangtuanya cukup besar sehingga Melodi tidak perlu menyewa rumah untuk ditinggalinya di Indonesia.   “Besok pagi mau makan apa Mbak Melo?” tanya Putri.   “Terserah kamu aja.”   “Siap Mbak Melo.”   Setelah dari dapur, Melodi segera masuk ke dalam kamarnya. Kamar dengan cahaya remang-remang menjadi kesukaan Melodi saat akan tidur. Melodi tidak bisa langsung tidur apalagi dia baru saja makan bakso. Tidak banyak pesan masuk ke ponselnya karena nomer pribadinya rata-rata hanya diketahui oleh orang-orang yang pernah bekerja sama dengannya dan akhirnya menjadi teman dan untuk sahabat? Melodi hanya memilikinya dua orang dan mereka adalah sahabat masa kuliahnya yang sekarang sudah jarang sekali bertemu dengannya walau begitu mereka masih sering mengobrol di grup chat mereka.   Kebosanan karena tidak bisa tidur membuat Melodi kembali berselancar di dunia maya. Melodi yang hanya menscroll ponselnya mendadak berhenti di salah satu foto. Dia tampak tidak menyangka karena melihat foto iklannya dengan Arwin ternyata sudah dipublikasikan. Secepat itu dan hasilnya ternyata lebih bagus dari perkiraan Melodi.   Melodi terpaku memandangi satu foto iklannya dengan Arwin yang baru beberapa jam lalu diposting. Penasaran dengan komentar tanggapan orang-orang yang melihat foto itu membuat Melodi membuka kolom komentar yang penuh dengan pujian dan selamat karena dia berhasil menjadi brand ambassador dari Tremart. Selain ucapan itu banyak yang menanyakan siapa model pria yang bersamanya yang tentu saja tidak mereka ketahui karena di sampingnya itu adalah seorang CEO.   Wajah tampan Arwin dengan aura bad boynya itu sukses membuat banyak orang penasaran dengannya. Melodi bahkan sampai terkekeh membaca komentar yang mengomentari Arwin. Jika mereka sampai tahu Arwin adalah CEO, mereka pasti semakin beringas dan penasaran akan sosok Arwin. Melodi sudah bisa menebak hal itu karena di zaman sekarang orang-orang suka yang seperti itu.   Namun semakin ke bawah Melodi melihat komentarnya ada beberapa yang meminta Gibran diangkat menjadi brand ambassador juga agar bisa bersamanya. Tidak bisa dipungkiri sekarang Melodi selalu disandingkan dengan Gibran karena peran mereka di sinetron.   * *   “Kamu pernah enggak sih sebelum berbuat itu mikirin dampak apa aja yang bakalan kamu terima? Kamu juga pernah enggak mikir kalau seandainya kamu di posisi orang itu? Gimana beratnya beban yang mereka hadapi karena masalah yang mereka sendiri enggak lakuin?” Melodi menatap Alice dengan tegas, matanya bahkan berkaca-kaca.   “Apa dengan cara seperti ini Mas Ibrahim bakalan jadi milik kamu? Kalaupun Mas Ibrahim akhirnya jadi milik kamu, apa kamu akan benar-benar bahagia? Enggak ada jaminannya.”   Alice diam namun mendadak dia menangis. “Aku mencintainya,” lirih Alice.   “Aku enggak sendiri enggak ngerti kenapa aku berani sampai seperti itu, aku, aku kira dengan aku membuat berita seperti itu aku bakalan dinikahkan dengan Ibrahim.”   Mendengar Alice mengatakan itu Melodi membuang pandangannya. Tangan Melodi diambil dan digenggam dengan erat oleh Alice. Alice berucap dengan suara bergetranya, “Maafin aku.”   Melodi menggeleng. “Aku masih belum bisa memaafkanmu, tapi seiring berjalannya waktu selama kamu enggak menganggu kehidupanku sama Mas Gibran, aku pasti memaafin kamu.”   Wajah Alice terlihat sedih namun pada akhirnya Alice mengangguk mengerti.   “Cut!” teriak Sang Sutradara membuat Melodi dan Alice segera menghentikan adegan mereka.   Alice sontak melepaskan pegangan tangannya. Alice lebih dahulu keluar dari set, sedangkan Melodi terkekeh melihat tingkah Alice. Tidak di kehidupan nyata tidak di sinetron dia memang memiliki sifat yang sama.   Melodi berjalan ke tempat duduknya sambil menunggu gilirannya untuk take lagi. Tiara yang sedari tadi memperhatikan Melodi segera menghampiri Melodi dan memberikan s**u jahe hangat karena udara siang ini cukup dingin karena baru selesai hujan. Sambil meminum s**u jahenya Melodi memperhatikan suasana syuting yang akan segera dia tinggalkan.   Dari kejauhan Melodi bisa melihat Gibran yang datang menghampirinya. Gibran akhirnya duduk tepat di samping Melodi membuat Melodi melirik ke arah Gibran.   “Mau s**u jahe juga enggak Mas Gibran?” tanya Tiara.   “Boleh deh.”   “Kuambilin dulu ya Mas.”   Tiara segera mengambil gelas kosong dan menuangkan s**u jahe untuk Gibran, setelah memberikan itu Tiara memilih untuk pergi karena dia ingin memberikan waktu untuk Melodi dan Gibran.   Gibran menghela napas membuat Melodi melirik ke arah Gibran dan bertanya, “Kenapa?” tanya Melodi.   “Enggak kerasa ya besok hari terakhir kita syuting.”   Melodi mengangguk setuju. “Padahal rasanya baru kemarin kita syuting hari pertama.”   “Berat banget rasanya, padahal selama syuting seru banget.”   Tanpa sadar Melodi menoleh ke arah Gibran yang ternyata Gibran tengah memandanginya. Melodi meneguk ludahnya, dia mencoba untuk tersenyum kecil sebelum berucap, “Nanti pasti ada penggantinya, tapi emang sinetron ini berkesan banget buat aku yang baru pertama kali terjun main sinetron.”   “Aku ikut senang dengan semua pencapaianmu.”   Mata Melodi melirik Gibran saat dia mengatakan itu, “Makasi, aku yang baru pertama kali dapet pemeran utama rasanya enggak ada apa-apanya dibandingkan kamu yang udah lama.”   “Kalau kamu kesulitan aku bisa bantu kamu. Jangan sungkan ya.”   “Pastinya mah.”   “Ingat ya Oppa siap membantu.”   Melodi seketika terbahak mendengar Gibran menyebut dirinya oppa. “Oppa, opa-opa yang ada,” ejek Melodi.   “Memang Oppakan?”   “Iya deh iya, Gibran Oppa.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN