Antara Kenakalan dan Kerahasiaan
SHIIIIIT.... NGEEENG.. BRRUUUMMM.. BRUUM..
"Ayo, Sebastian! Lebih kencang bawanya!" teriak Kirana dari belakang sambil memegang erat pinggang saudaranya.
Di bawah remang cahaya lampu jalan dan debu yang beterbangan, Rafa memacu kendaraannya dengan kecepatan yang hampir tak terkendali. Semua kejadian itu berlangsung di hadapan Lorenzo, yang sejak tadi hanya diam menyaksikan dari pinggir lokasi balapan liar. Jarum jam di tangannya sudah menunjuk pukul tiga pagi—saat kebanyakan orang sedang lelap tertidur, justru menjadi waktu bagi mereka untuk memuaskan rasa penasaran dan adrenalin.
IUUUWW.. IIIUUWWW.... IIIUUUU..
Suara sirine polisi tiba-tiba terdengar menggema, memecah keheningan malam dan memenuhi seluruh penjuru tempat. Beberapa kendaraan patroli dan petugas kini sudah mengepung area tersebut. Lorenzo yang tadinya santai seketika berubah wajah, rasa takut mulai merayap di hatinya. Tanpa pikir panjang, ia segera menyampirkan tas mewah milik Kirana ke bahu dan berusaha membawa kabur sepeda motornya sendiri. Namun usahanya sia-sia. Ia lupa, bahwa kunci kendaraannya sudah diambil lebih dulu oleh Kirana, sengaja dilakukan agar ia tidak bisa lari sendiri jika terjadi hal buruk.
"Aahhkk. Sialan! Kuncinya ada di tangan gadis sialan itu. Tunggu saja kalau sampai Mama tahu dan menghukumku, kau pasti akan merasakan akibatnya!" geram Lorenzo. Ia akhirnya meninggalkan motornya begitu saja dan memilih berlari sekuat tenaga menjauh dari sana.
"BERHENTI! JANGAN COBA KABUR!" seru seorang petugas sambil berlari mengejarnya dari belakang.
"Aahhkk. SIALAN!" teriak Lorenzo kaget, saat tiba-tiba sosok petugas lain muncul tepat di hadapannya sambil mengacungkan senjata api. Tanpa pilihan lain, ia pun segera mengangkat kedua tangannya ke atas tanda menyerah.
"Ayo ikut kami ke kantor polisi."
"Tak perlu berteriak begitu, Pak. Aku tidak tuli tahu. Kalau mau menangkap, kenapa cuma seorang diri? Kurang berani rasanya," ujar Lorenzo dengan nada mengejek, meski posisinya sudah jelas kalah. Ia pun digiring masuk ke dalam kendaraan patroli, masih tetap membawa tas yang diambilnya tadi.
Di tempat lain, di jalanan yang agak jauh dari lokasi pengepungan—
"Ayo Dik, percepat sedikit! Polisi makin dekat mengejar kita!" seru Kirana dengan suara gemetar karena panik, sambil menepuk bahu Sebastian berulang kali.
"Diamlah Kak! Ini saja aku sudah memacu secepat mungkin, batas kecepatan kendaraan ini sudah hampir habis!" jawab Sebastian dengan nada kesal dan wajah tegang, matanya tak lepas memandang jalanan di depannya.
"Hati-hati saja kalau kita tertangkap. Bisa-bisa kita dimarahi habis-habisan oleh Zia Helena!"
"Itu semua kesalahanmu, Kak! Kau yang mengajak datang ke tempat ini, jadi kau yang harus bertanggung jawab atas segalanya!"
"Sudahlah, jangan berdebat! Lebih baik cari jalan agar lolos dari pengejaran polisi sialan itu!"
SHIIIT... BRUMMM..
Dengan terpaksa dan gerakan cepat, Sebastian menarik tuas rem secara mendadak. Kendaraan mereka nyaris saja menabrak mobil patroli yang tiba-tiba memotong jalan tepat di depan mata.
"TURUN DAN IKUT KAMI!" perintah petugas dengan tegas, sambil memberi isyarat dengan tangannya.
"Pak, apa kesalahan kami sebenarnya? Kami cuma mau pulang ke rumah saja!" seru Kirana pura-pura tidak mengerti.
"Jangan berlagak polos di hadapan kami. Kalian adalah bagian dari peserta balapan liar di sana, bukan?"
"Bukan Pak! Kami hanya sekadar penonton biasa, tidak ikut balapan sama sekali!" jawab Kirana dengan wajah yang sengaja dibuat seolah-olah benar-benar tidak bersalah.
"Untuk polisi, itu tetap sama saja artinya, Kak," bisik Sebastian pelan di dekat telinga Kirana.
"Cukup bicara. Sekarang ikut kami, lalu hubungi orang tua atau wali kalian untuk dijemput." Petugas itu mengulurkan tangannya, bersiap memborgol kedua tangan mereka.
"Tak perlu melakukan itu! Kami sudah cukup dewasa dan sanggup mempertanggungjawabkan tindakan kami sendiri," ujar Sebastian dengan nada tegas dan berani.
"Pak, lepaskan kami sekarang juga! Apakah Bapak tidak tahu siapa asal-usul dan keluarga kami?" tambah Kirana dengan gaya bicaranya yang riuh dan tak mau kalah.
"Anak muda sepertimu hanya tahu membangkang dan tidak mau mendengarkan nasihat orang tua, kan? Itulah sebabnya kalian bisa terjebak dalam masalah di tempat yang tidak pantas ini," balas polisi itu dengan nada datar dan tidak terpengaruh.
"Hei Pak, kami ini sebenarnya anak-anak yang baik! Kami hanya ingin merasakan sensasi dan kesenangan dalam hidup, itu saja!" bantah Kirana, dengan kepolosannya yang justru membuat orang lain makin kesal mendengarkannya.
"Kakak, sudahlah berhenti bicara banyak. Lebih baik hubungi Ibu sekarang juga," potong Sebastian yang mulai lelah menghadapi situasi ini.
"Aduh jangan begitu dong! Bisa tamat riwayat hidup kita kalau dia sampai mendengar berita buruk ini!" bisik Kirana dengan wajah ketakutan.
"Sebentar... Di mana Lorenzo sekarang? Mengapa dia tidak ada di sini bersama kita?" tanya Sebastian yang baru menyadari hal itu.
"Aduh benar juga! Aku sampai lupa memikirkannya tadi."
"Segera hubungi dia! Kalau Ibu mendengar kabar lengkap mengenai kejadian ini, bisa habis semua hak istimewa dan kebebasan kita!"
Di dalam kendaraan polisi yang membawa mereka, Kirana mencoba berulang kali menghubungi nomor telepon Lorenzo, namun tidak pernah ada jawaban sama sekali.
"Tidak diangkat... Mungkin dia sudah lebih dulu tertangkap oleh petugas lain," ujar Kirana dengan suara pelan dan cemas.
"Kalau begitu tak ada jalan lain. Aku akan menelepon Ibu agar datang menjadi penanggung jawab kita di sini."
"JANGAN GILA! Kalau Mamaku tahu apa yang terjadi, pastilah uang jajanku akan dihentikan untuk sebulan penuh!"
"Terus apa lagi yang bisa kita lakukan?"
"Ahaaa! Aku punya ide yang hebat dan pasti berhasil!" Wajah Kirana yang tadinya muram dan cemas seketika berubah cerah, senyum jahat mulai terukir di bibirnya.
"Semoga saja idemu kali ini tidak membuat keadaan makin parah dari yang sekarang, Kak."
"Dengar baik-baik Pak. Lebih bijaksana rasanya kalau Bapak melepaskan kami begitu saja. Apakah Bapak belum pernah mendengar nama Keluarga Pratama? Atau Gabriel De Luca? Dia adalah pamanku sendiri lho. Kalau dia sampai tahu Bapak menahan kami di sini, percayalah urusan Bapak akan menjadi sangat sulit nantinya!" kata Kirana mencoba menekan dan menggertak petugas di depannya dengan nama besar keluarganya.
"Jangan bermimpi dan berharap hal yang tidak mungkin, Nak. Segera hubungi orang tua kalian saat ini juga!" jawab polisi itu tetap teguh dan tidak bergeming sedikitpun.
"Dasar orang yang susah diajak bekerja sama! Sepertinya Bapak belum pernah merasakan betapa marahnya Nyonya Mega, ya? Nanti saja kau akan melihat sendiri akibatnya!" gerutu Kirana kesal, lalu memalingkan wajah menatap keluar jendela kendaraan.
----
Italia : 03.00
Jepang : 11.00
"AURORA ELENA DE LUCA!" teriak suara lantang seorang pria paruh baya dari balik pintu kamarnya.
"Hmm... iya Paman... Aurora masih mengantuk," sahut Aurora dengan suara serak, masih berbaring di atas kasurnya.
"Sampai kapan kau akan terus tidur seperti ini, hah? Matahari sudah tinggi lho! Apa kau lupa hari ini ada ujian penting yang harus kau ikuti?"
Mendengar kalimat terakhir itu, seketika mata Aurora terbuka lebar. Ia segera menoleh ke arah jam yang terpasang di dinding ujung kamarnya. Jarumnya sudah menunjuk pukul sebelas siang, padahal ujiannya sendiri dijadwalkan dimulai tepat pukul dua belas siang.
"Aduh Tuhan! Paman, aku terlambat!" serunya panik, lalu secepat kilat melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
"Paman, tunggu sebentar! Aku akan segera turun!" teriaknya kembali di sela kesibukannya bersiap-siap.
Renzo yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Dasar, tidak berubah sifatnya sejak dulu..." gumamnya pelan, lalu berjalan santai menuju ruang makan.
Sudah empat tahun berlalu sejak Aurora memutuskan untuk menetap di kediaman Renzo di Jepang. Meskipun bangunan ini tidak seluas dan semegah rumah besar milik ayahnya di Italia, namun Aurora merasa jauh lebih betah dan nyaman tinggal bersama pamannya ini dibandingkan harus tinggal sendirian di apartemen mewah atau rumah besar yang disiapkan khusus oleh ayahnya.
Kini Renzo sudah duduk di kursi meja makan, menunggu keponakan kesayangannya selesai bersiap. Tak lama kemudian, sosok Aurora muncul dengan nafas sedikit terengah-engah karena terburu-buru.
"Selamat pagi, Paman!" serunya riang, seolah tidak ada hal yang membuatnya cemas beberapa saat yang lalu.
"Mari duduk dan makanlah dulu," ujar Renzo menunjuk kursi kosong di hadapannya.
"Tidak bisa, Paman! Aku sudah terlambat, nanti aku dikeluarkan dari ruang ujian kalau datang melewati batas waktu," tolaknya cepat sambil merapikan perlengkapannya.
"Paman katakan makan, berarti kau harus makan. Tidak ada penolakan," tegas Renzo dengan nada suara yang tidak bisa dibantah.
"Baiklah, kalau begitu aku bawa saja begini," kata Aurora kemudian mengambil sepotong roti lapis dan sebotol s**u dari atas meja.
"Berjanjilah untuk menjaga kesehatanmu, kalau sampai kau jatuh sakit karena lalai makan, ayahmu pasti akan datang ke sini dan menembak kepalaku," ujar Renzo setengah bercanda sambil menyodorkan kotak bekal makanan yang sudah disiapkannya sejak pagi tadi.
"Paman memang yang terbaik di seluruh dunia! Aurora sayang sekali sama Paman," seru gadis itu dengan wajah bahagia, lalu memeluk lengan Renzo dengan erat sejenak sebelum beranjak pergi.
Seperti kebiasaan sehari-hari, Renzo selalu mengantar dan menjemput Aurora ke kampusnya. Di lingkungan perguruan tinggi, Aurora dikenal sebagai sosok gadis yang dingin dan sulit didekati. Ia cenderung bersikap acuh tak acuh terhadap hal-hal maupun orang-orang di sekitarnya. Aurora juga sengaja tidak menggunakan nama belakangnya, yaitu De Luca, selama tinggal dan menuntut ilmu di Jepang. Hal ini ia lakukan demi menjaga kerahasiaan identitasnya sebagai anak dari pemimpin lembaga pemberantasan kejahatan terorganisir tertinggi di Italia, sekaligus cucu dari pemimpin kelompok besar Yakuza di Jepang.
Di dalam perjalanan, Renzo sesekali melirik ke arah Aurora yang duduk di sampingnya. Matanya tak lepas dari layar alat elektronik genggam yang sedang dipegangnya dengan serius. Aurora mewarisi bakat dan kemampuan yang sangat hebat di bidang teknologi informasi dari ibunya, hal inilah yang membuatnya lebih nyaman dan betah berada di dunia maya dibandingkan bergaul di dunia nyata.
Keahliannya di bidang itu bahkan sudah membawanya mendapatkan penghasilan sendiri sejak usia muda. Aurora sering terlibat dalam jaringan bisnis tersembunyi di dunia maya, di mana tugas utamanya adalah melacak dan melumpuhkan orang-orang atau kelompok yang mencoba mencuri dan membocorkan informasi rahasia berbagai negara, dan pekerjaan ini memberinya bayaran yang sangat tinggi. Meskipun ia sudah memiliki penghasilan sendiri, ayahnya, Gabriel, tetap rutin mengirimkan uang saku dalam jumlah besar untuk memenuhi segala kebutuhan hidup putri semata wayangnya itu.
Meskipun hidup dalam kemewahan dan segala hal yang serba berkecukupan, Aurora dikenal memiliki hati yang lembut dan suka berbagi dengan orang lain. Secara diam-diam ia menjadi salah satu penyumbang dana terbesar bagi anak-anak yang kurang mampu agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan mereka, dan semua kegiatan sosial ini dijalankannya dengan dukungan serta bantuan penuh dari pamannya, Renzo.
"Baiklah Nona, kita sudah sampai di tempat tujuan," ujar Renzo memecah keheningan di dalam mobil saat kendaraan mereka berhenti tepat di depan gerbang universitas.
"Haha, masih ada dua puluh menit lagi sebelum dimulai. Paman benar-benar yang paling hebat!" seru Aurora gembira sambil mematikan alat yang digunakannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas punggungnya.
Hari itu Aurora tampil santai namun tetap terlihat menawan dengan mengenakan kaus lengan panjang berukuran agak besar, celana panjang ketat berwarna hitam, dipadukan dengan sepatu kets buatan merek terkenal dan topi berwarna cokelat yang sedikit menutupi dahinya, sementara rambut panjangnya diikat setengah bagian ke atas. Ia turun dari mobil mewah jenis SV-1 yang dikendarai pamannya, yang sudah terlebih dahulu memarkir kendaraan dan membukakan pintu untuknya dengan sopan.
"Silakan lewat, Yang Mulia Putri," ujar Renzo dengan nada bicara berlebihan layaknya seorang pelayan kerajaan.
"Terima kasih, Yang Mulia Raja," balas Aurora tidak kalah seru sambil tersenyum lebar.
Kasih sayang Renzo kepada Aurora memang tidak perlu diragukan lagi. Sejak kehadiran gadis itu di dunianya, seluruh perhatian dan waktu luangnya selalu dicurahkan untuk keponakannya. Bahkan ketika Aurora masih kecil, Renzo sering menyempatkan diri terbang jauh kembali ke Italia hanya untuk menemuinya, meskipun ia sedang sibuk dengan berbagai tugas dan tanggung jawab besarnya di Jepang.
"Nanti sore Paman akan datang menjemputmu kembali. Ingat pesan Paman, jangan pergi ke mana pun atau ikut orang lain tanpa memberi kabar lebih dulu, kau mengerti?" pesan Renzo dengan nada serius namun lembut.
"Tenang saja Paman, semuanya akan berjalan lancar dan aman, percayalah padaku," jawab Aurora dengan tingkah lucunya yang khas.
"Sampai nanti ya, Paman!" serunya melambaikan tangan, lalu berjalan masuk melewati gerbang kampus.
Begitu kakinya melangkah masuk ke lingkungan perguruan tinggi, raut wajah ceria dan manisnya seketika lenyap berganti menjadi wajah datar dan dingin tanpa ekspresi sedikitpun. Sikapnya ini membuat hampir seluruh mahasiswa di sana menilainya sebagai gadis yang sombong dan angkuh.
Tanpa ia sadari, setiap gerak-geriknya diamati dan diperhatikan dengan seksama oleh seseorang yang berdiri agak jauh di sana.
DUBBRAK!!
Langkah Aurora terhenti seketika saat tubuhnya bertabrakan keras dengan orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Aduh!" rintihnya pelan saat bagian depan kepalanya membentur d**a bidang pria itu.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja," ujar pria itu dengan suara lembut sambil menatap wajah Aurora lekat-lekat. Matanya seolah terpaku dan tidak bisa beralih ke tempat lain karena terpesona oleh wajah cantik di hadapannya.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali coba sesuaikan mata dan kakimu saat berjalan ya, Pak," balas Aurora singkat dan ketus, lalu segera berlalu pergi meninggalkan pria yang masih terpaku di tempat itu, menuju ruangan tempat pelaksanaan ujiannya.
Sesampainya di ruangan dan duduk di tempat yang telah ditentukan, Aurora mengeluarkan ponselnya dan melihat layar tampilan pesan masuknya.
"Ke mana saja dia? Pasti sibuk bersenang-senang dengan teman-temannya lagi, atau mungkin dia memang sengaja tidak menghubungiku," keluhnya dalam hati dengan wajah kecewa, karena pesan balasan dari orang yang sangat ditunggunya sama sekali tidak kunjung datang.