Jangan Menyerah ( D'Masiv)
Prolog, Bekasi 2024
Namaku Beni. Aku seorang pengamen jalanan. Malam ini , aku menyanyi untuk bertahan hidup, tanpa pernah tahu bahwa malam ini akan menjadi awal dari perubahan hidupku.
Kisah hidupku yang bagai roller coaster dimulai di suatu malam yang dingin. Seperti malam-malam lainnya, aku berdiri di bawah lampu kuning redup yang menggantung di tenda kaki lima penjual pecel lele. Di sampingku, sebuah meja reyot berderit setiap kali ada orang lewat, deritannya seakan ikut mengiringi dentingan gitar tuaku.
Aku menghela napas, menggenggam gitar itu lebih erat, lalu mulai mengeluarkan suara dari rongga tenggorakanku.
Syukuri apa adanya… jangan menyerah… jangan menyerah
Lagu “Jangan Menyerah” dari D’Masiv malam itu terasa bukan sekadar lagu. Ia seperti menamparku pelan supaya aku jangan menyerah dalam menghadapi hidup yang keras ini.
Di sudut tenda, Beno, abangku duduk di kursi bakso berwarna biru. Ia memeluk kaleng kosong tempat recehan uang seperti anak kecil memeluk boneka. Wajahnya polos, terlalu polos untuk dunia yang kejam ini. Di usianya yang hampir tiga puluh tahun, Beno pikirannya masih seperti anak usia sepuluh tahun. perkembangan tumbuh kembang Beno terlambat sejak dia dari kandungan karena almarhum ibuku juga hidup dalam kemiskinan.
Aku tersenyum melihatnya. Setiap kali dunia terasa terlalu berat… melihat Beno membuat semuanya jadi lebih sederhana. Dia bukan cuma keluargaku. Dia adalah alasan aku tetap bertahan hidup.
“Bang, satu lagu lagi ya!” teriak seorang wanita berambut panjang sambil melambaikan uang sepuluh ribuan.
Beno langsung berdiri, berlari kecil ke arah wanita itu, lalu membungkuk berkali-kali dengan gaya polosnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum, satu lagu lagi untuk uang sepuluh ribuan yang bagi kami sangat berarti.
Suaraku kembali mengalun, meskipun mulai serak. Tenggorokanku sedikit perih, tapi aku tetap menyanyi. Karena aku tahu aku tidak boleh berhenti, supaya kami bisa menyambung hidup, makan dua kali sehari dan nabung untuk bayar kontrakan reyot di pinggir kali.
Setelah lagu ini selesai aku nyanyikan , aku pun membungkuk sambil mengucapkan
“Terima kasih…”
“Kak Beno, pulang yuk,” kataku pelan.
“Beni capek?” tanyanya polos.
“Enggak,” aku berbohong. “Beni suka nyanyi, Kak. Jadi nggak bakal capek.”
Aku menatap langit “Cuma… sudah malam. Dan sepertinya mau hujan.”
Beno tersenyum lebar.
“Beni hebat.”
Kalimat penyemangat yang selalu dia ucapkan padaku setiap malam, tapi entah kenapa selalu terasa menusuk.
Beno menggenggam tanganku, mengajakku melangkah. Aku mengikutinya sambil tersenyum
“Beni janji ya…” katanya tiba-tiba, sambil menendang kaleng kosong di jalan.
Langkahku melambat.
“Janji apa?”
Dia menatapku. Mata polos itu… tanpa beban.
“Jangan pernah tinggalin Beno.”
Langkahku terhenti.
Untuk sesaat dunia terasa hening “Iya,” jawabku pelan. “Beni janji.”
Aku tidak tahu beberapa saat kemudian kalau dua kata itu akan diuji dengan cara paling kejam.
Kami berjalan pulang menyusuri trotoar yang gelap. Suara kendaraan sesekali melintas, memecah sunyi.
Beno berjalan di sampingku, kadang melompat kecil, kadang menendang kaleng atau kotak minuman yang tergeletak. Terkadang dia tertawa sendiri.
“Awas, Ben,” kataku saat dia hampir tersandung.
“Ups,” dia terkikik.
Aku tersenyum. Lalu………
Suara menggelegar. Decitan ban yang memekakkan telinga.
“Awas!!!”
Cahaya lampu mobil menyilaukan.
“BENO!”
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Tubuhnya terangkat seperti boneka yang dilempar begitu saja. Lalu jatuh keras ke aspal.
BRAK!
“BENO!!!”
Aku berlari.
Dunia seperti pecah di sekelilingku.
“Beno! Bangun! BENO!”
Tanganku gemetar saat mengguncang tubuhnya.
Darah. Ada darah di kepalanya.Mengalir deras… membasahi aspal.
“Mas! Jangan digerakin!” Bapak -bapak tua pengendara motor berteriak.
Aku tidak peduli.
“Beno… dengerin Beni… ayo bangun…” suaraku pecah.
Matanya tetap tertutup.
Orang-orang mulai berdatangan. Suara gaduh. Panik. Kacau.
Aku hampir tidak mendengar apa-apa selain detak jantungku sendiri yang bagai genderang perang.
Sirene ambulans terdengar meraung-raung, aku naik bersama Beno dengan wajah kalut
***
Aku duduk di kursi dingin di ruang tunggu IGD. Tanganku masih penuh darah. Darah Beno.
Seorang perawat keluar.
“Keluarga pasien Beno?”
Aku langsung berdiri.
“Saya! Saya adiknya!”
Wajahnya serius.
“Pasien mengalami cedera kepala berat. Kami harus segera melakukan operasi.”
“Lakukan, Sus! Tolong lakukan!” kataku tanpa berpikir.
Dia terdiam sejenak.
“Kami butuh uang jaminan terlebih dahulu. Pasien tidak terdaftar BPJS.”
Seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku.
“Berapa…?”
“Sepuluh juta.”
Nafasku tercekat. Tanganku meremas kaleng berisi uang receh. Hasil ngamen semalaman.
Aku tahu uang dalam kaleng itu tak akan cukup.
“Kalau… kalau tidak ada uangnya?” suaraku hampir tidak terdengar.
Perawat itu tidak langsung menjawab.
Tapi tatapan yang penuh rasa iba membuat aku paham tapi sang perawat cukup berempati dan menyarankan
.
“Coba diusahakan dulu, Dik. Kamu bisa minta keringanan di administrasi.”
Bukan penolakan. Dan aku bersyukur untuk itu.
***
Aku berlari keluar rumah sakit. Udara malam terasa menusuk. Tanganku gemetar saat memegang ponsel tua. Satu nama muncul di kepalaku.
Iyan.
Bukan teman baik. Tapi… satu-satunya harapan.
“Halo?”
“Yan…Ini aku Beni, aku butuh bantuan.”
“Tumben. Kenapa?”
“Beno kecelakaan. Dia harus operasi. Aku butuh uang sekarang.”
Hening.
“Berapa?”
“Sepuluh juta… kalau nggak ada, lima juga nggak apa-apa. aku janji akan balikin.”
Tidak ada suara Iyan yang menjawabku sampai beberapa saat kemudian
“Hm.....Aku bersedia bantu Ben...”
Dadaku menegang.
“Tapi lu pasti nggak mau.”
Aku diam.Aku tahu. Aku sangat tahu.
“Masih inget tawaran ku dulu? Jadi gigolo"
Kata itu seperti racun ular yang langsung menyebar di darahku, memasuki semua venaku. Aku pernah menolaknya mentah-mentah.
Aku pernah bilang… itu sangat merendahkan harga diriku. Aku tidak mau memalukan orang tuaku. Meskipun kami hidup dalam kemiskinan, orangtuaku tetap mengajarkan agar kami hidup dengan baik, tidak mencuri, tidak menjual harga diri.
Suara Iyan terdengar lagi “Ada pesta besok malam. Wanita-wanita kaya. Kesepian. Mereka butuh ditemenin.”
Tanganku gemetar. Harga diriku berteriak.Menolak.Menjijikkan.
Tapi… Wajah Beno… berlumuran darah… muncul lagi di pikiranku.
“Kalau lu mau ikut, aku bisa kasih sepuluh juta sekarang. Sisanya nanti setelah kamu bekerja.”
Aku menutup mata. Aku benci ini. Aku benci pilihan ini. Aku benci diriku yang bahkan… mulai mempertimbangkannya.
“ Pikirkan lah Ben.... Hanya itu yang bisa aku bantu. Kamu kerja baru aku bisa kasih uang sebesar itu"
Suara Iyan terdengar jauh tapi menghantam keras.
“Waktu mu nggak banyak Ben, Operasi Beno nggak bisa nunggu.”
Sunyi. Lalu…
suara Beno tergiang di kepalaku.
“Jangan pernah tinggalin Beno.”
Tanganku mengepal kuat. Aku menyerah……. Dengan suara bergetar…..
“Baik…aku akan lakukan”
Kalimat itu keluar… seperti bukan dari diriku sendiri.
***
Aku kembali ke rumah sakit. Sepuluh juta ada di kantongku. Bukan dari kerja keras sampai suaraku serak. Bukan dari mimpiku menjadi seorang penyanyi .
Tapi dari sesuatu yang bahkan belum kulakukan tapi sudah membuatku merasa kotor.
“Tim dokter akan segera kami kabari untuk melakukan operasi,” kata petugas administrasi.
Aku duduk di depan ruang operasi.
Lampu merah masih menyala. Beno ada di dalam sana sedang berjuang hidup. Sementara aku, baru saja menjual bagian dari diriku.
“Aku janji ini hanya sekali saja. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir ” bisikku pelan pada diriku sendiri
Lampu merah itu terus menyala. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,aku takut pada diriku sendiri. Takut pada apa yang akan aku hadapi besok. Aku yang bahkan belum pernah menyentuh seorang perempuan.Aku yang masih perjaka tapi besok aku harus menjual sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kupahami.
Aku menarik napas panjang, tapi d**a ini tetap terasa sesak.
Di balik pintu itu, Beno sedang bertaruh dengan nyawanya . Dan di luar sini, aku baru saja bertaruh dengan hidupku sendiri.
Aku menunduk, mengepalkan tangan. Memandang ke lampu merah ruang operasi yang masih menyala. Pikiranku berkecamuk, resah dan gelisah mendera. Aku tidak tahu mana yang lebih aku takuti, .kehilangan Beno atau kehilangan diriku sendiri. Karena besok, aku akan menjual diriku untuk pertama kalinya.