10. Tidak Bermaksud (Bagian 2)

1422 Kata
Tinggal berdua di rumah, Selena pun menatap Andrew yang sudah berpindah ke ruang keluarga. Laki-laki itu lantas paham kenapa sang istri memutuskan untuk lebih lama berangkat bekerja, kemudian Selena mengajak Andrew berpindah tempat dan kini kedua orang itu duduk di bangku taman yang ada di bawah pohon. Dari samping mereka terlihat banyak bunga mawar yang membentuk pagar sebatas dengkul, juga pohon-pohon yang membuat suasana terasa rindang. “Bagaimana perasaanmu, Andrew?”  tanya Selena, wanita itu menatap khawatir. “Aku sudah tak apa. Maafkan yang kemarin, Selena. Aku benar-benar bingung kenapa bisa tertekan, rasanya semua telah diambil alih dan aku terpenjara.” Andrew mengakuinya, menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. Ia kemudian tersenyum dengan raut pasrah. “Apa yang dikatakan psikiatermu, Andrew? Ayo kita coba untuk membuatmu tidak terkurung di dalam tekanan itu lagi.” Menyentuh punggung tangan lelaki itu, Selena memujuk Andrew agar mau mengutarakan permasalahan yang tengah menimpahnya. “Mengalahkan emosi negatif dengan emosi positif, yang kupikirkan adalah Selena, tetapi kenyataan sekarang tidak seindah masa lalu.” Laki-laki itu meremas rambutnya. Putus asa dengan semua yang telah terjadi, yang ia ingin bagaimanapun adalah Selena, tetapi mereka telah berpisah bertahun-tahun lalu. “Dengarkan lah, Andrew Kau harus tahu bahwa apa pun yang telah terjadi dahulu, tetapi sekarang aku dan Siera mendukungmu.” Selena mempererat genggamannya terhadap tangan sang lelaki untuk memberikan kepercayaan, ia tahu tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menyemangati, tetapi Andrew menginginkan dirinya, sesuatu yang tidak diinginkan Selena lagi. Laki-laki itu hanya terdiam, tetapi beberapa saat setelahnya dia melepaskan tangan sang wanita, membuang wajah untuk menghindari sorot mata mantan istrinya. “Kau bukan lagi Selena-ku, kau teramat jauh sekarang.” Sang pria berpikir, dengan kehadirannya di kediaman Selena, dukungan sang anak, apa pun yang mereka lakukan untuknya tidak mengubah fakta bahwa Selena bukan merupakan istrinya lagi. Wanita itu tidak menginginkannya lagi. “Namun, aku berada di sini, di sisimu sekarang. Aku mendukungmu bersama Siera.” Gelengan kepala terlihat, Andrew mengigit bibirnya, meski wantia itu masih mencoba menguatkan.   “Kau jauh Selena, hatimu jauh dan tak tergapai lagi.” Memalingkan kepala untuk menatap wanita yang ia sebutkan namanya. Sorot emerald Andrew lantas memandangi wajah Selena, terlihat putus asa dan begitu menderita karena tidak bisa menggapai Selena. Air mata Selena mengalir, ia memejamkan mata dan menundukkan kepala, mengembuskan napas untuk mengendalikan hatinya yang sekarang bagai diiris-iris. Ia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa atas takdir yang terjadi di antara mereka ini, bagi Selena semua telah berlalu dan mereka harus terus melangkah maju. “Kau tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau dan Siera,” lirih laki-laki itu. “Semua ini ada alasannya, Andrew. Mengertilah dan cobalah menerima semua inya dengan lapang d**a, kau pasti akan sembuh.” Ia menatap prihatin, matanya nanar, dan napas Selena terasa tercekat karena obrolan mereka sekarang. “Seharusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan Lucas. Gadis mana yang mau hidup bersama orang gila—“ “Andrew!” seru Selena, ia benar-benar kaget karena Andrew berkata demikian. “Kenapa kau tidak membiarkanku berakhir bersama Noah saja, itu lebih baik, bukan?” tanya lelaki itu, mengembuskan napas dalam dan menggelengkan kepala. Andrew lantas berdiri, membuat Selana terkejut dan melakuan hal yang sama untuk mengejar langkah kaki lebar sosok di depannya. Memanggil nama sang pria, tetapi hal tersebut tidak juga membuahkan hasil. Andrew terlalu keras kepala, apalagi memang keadaannya benar-benar tidak stabil sekarang. Memeluk punggung lelaki itu, Selena menjatuhkan wajahnya sambil menangis di punggung tegab itu. Rengkuhan tersebut semakin lama semakin erat, sementara telapak tangan Luna mencengkeram kaus yang dikenakan Andrew sekarang. “Kita adalah orang tua Siera,” lirih suara Selena dalam tangisnya. “Kumohon jangan buat hatinya terluka lagi, cukup aku dan kau, Andrew.” Selena mencoba melunakkan ketegangan mereka berdua, dan sepertinya ini semua membuahkan hasil. Merasakan napas laki-laki itu perlahan menjadi tenang, Selena pun melepaskan pelukanya dan membalik tubuh mantan suami. Mereka saling berhadapan sekerang, saling menatap untuk beberapa saat karena belum ada yang membuka suara. Walau akhirnya Selena lah yang kembali berucap kepada Andrew. “Aku tidak bermaskud melukai hatimu, begitu pula dengan dirimu, kan. Kau sendiri yang mengatakannya kepadaku, Andrew. Namun, aku benar-benar tidak ingin kau terjebak lagi setelah bertahun-tahun kau berusaha untuk bisa sembuh.” Selena menatap tepat ke mata Andrew, hela napas dilepaskan, kemudian bibirnya membentuk sebuah senyuman lelah karena berbagai cobaan yang mereka alami ini. Rahang Andrew mengeras karena mendengarkan pernyataan sang mantan istri, mata lelaki itu tajam dan awas menatap Selena yang mencoba menghilangkan tangis dn menutupi dengan senyuman penderitaan itu. Semua membuat hatinya semakin penuh dengan rasa bersalah, rasa tak mengenakkan it uterus saja menusuk ulu di d**a. “Andrew, jika ada emosi negatif yang datang kepadamu, kau harus ingat ini. Aku, tidak pernah menyesal merajut kasih bersamamu.” Bola mata Andrew melebar, rasa awas dan ketegangan yang tercetak jelas pun mulai memudar. Mengehela napas selama beberapa saat, Andrew kini memejamkan kelopak, bibirnya membentuk senyuman tipis. Ia memandangi Selena dengan tatapan hangat, tangannya pun terulur, dan sekarang telapak membelai pipi berbekas derai air mata, Andrew menghapusnya dan mendekatkan kepala mereka. “Terima kasih,” lirih Andrew, mereka memejamkan mata, terdiam seperti itu untuk beberapa saat dan membiarkan angin membelai rambut mereka. Walau merasa sesak di hati karena perkataan wanita itu. Selena mungkin tak tahu, bahwa sekarang ia menyembunyikan perasaan ini agar dia tidak bersedih. Bagimanapun pembelaan dan ketulusan kisah cinta Selena di masa lalu, bagi Andrew semua itu telah kandas membuat rasa sesak memenuhi d**a karena memikirkan fakta bahwa Selena kini bukan bagian dari hidupnya lagi. Sekarang Andrew hanya ingin menjauh sejenak, tidak mau memperlihatkan emosi labil ini di depan Selena. Ia ingin menelepon dokternya untuk memberikan terapi agar bisa mengendalikan diri, dan tidak selalu lepas kendali jika melihat Selena berdekatan dengan Jhonatan, bahkan jika hal itu pun terjadi kepada putri mereka. *** Annalise tersenyum pasrah, melihat pasiennya yang satu ini lagi-lagi berwajah kacau seperti sekarang. Menarik napas, kemudian ia menyuruh sang lelaki untuk menidurkan diri di atas ranjang agar lebih rileks, mengembuskan napas dengan teratur seperti biasa untuk mengendalikan emosi dan melemaskan syaraf yang tegang. “Baiklah, bagaimana perasaanmu, Tuan Clay.” “Buruk, aku rasa… aku tercekik dan kurasa semua itu karena Selena semakin menjauh.” Sang pria memejamkan mata, alisnya berkerut dalam karena menceritakan kenyataan hidupnya. “Sekarang, pikirkan bahwa kau juga bisa membuatnya tersenyum, Siera menunggumu setelah pulang sekolah nanti, bukan?” Kerutan alis kini menghilang, Andrew menganggukkan kepalanya. “Apa kau masih sering mimpi buruk? Halusinasi?” “Mimpi buruk jarang, halusianasi masih datang jika perasaanku menjadi buruk. Aku bahkan kesusahan untuk mengambil obat di laci, Noah berada di lantai, merangkak mendekat dan mengutukku.” “Kau tahu bahwa Noah selelu mencintaimu, lawan dengan kenyataan itu, Tuan Clay. Kakakmu begitu menganggapmu sebagai sosok berharga.” Anggukan kembali terlihat, napasnya mulai teratur lagi. Laki-laki itu telah bisa menenangkan diri untuk sekali lagi. “Jadi, hal yang sulit kau hadapi adalah kau belum bisa menerima bahwa Selena dan kau telah bercerai. Kalau cinta seharusnya bukan hanya memiliki, tetapi merelakan jika pasanganmu lebih bahagia sendirian atau pun dengan lelaki lain.” Gelengan keras terlihat, Andrew kembali tidak terkontrol. “Tuan Clay, kita tahu bahwa Selena mencintaimu, itu sebabnya ia memutuskan untuk berpisah karena dia begitu memikirkanmu dan bahkan sekarang Selena mau tinggal bersamamu lagi demi Siera. Dia adalah wanita yang amat baik.” Bisa Annalise rasakan kalau sekarang Andrew setuju, laki-laki ini terlalu memuja Selena, terobsesi dan posesif. Begitu sulit membuat pasiennya ini menyadari bahwa Selena menginginkan berpisah demi kebaikan bersama. “Aku tidak ingin mereka tidak peduli kepadaku lagi, Siera juga.” Tersenyum, Annalise mengerti, pasiennya sejak kecil kekurangan kasih sayang, mendapatkan hal itu dari Selena membuantya begitu bahagia sampai selalu ingin bersama-sama, tetapi hal buruk mulai terjadi ketika Andrew tidak suka istrinya mendekati yang lain. “Jarang bersua atau membagi kasih, bukan berarti tidak peduli. Tuan Clay tahu, aku juga seorang anak. Aku memiliki kekasih, tetapi aku tetap mencintai dan menyayangi orang tuaku. Setiap anak pasti mencintai dan peduli kepada orang tua mereka, bukan?” Annalise juga telah tahu, bahwa kedua orang tua Andrew tidak peduli kepada lelaki itu semenjak bercerai. Ia sering disiksa semasa remaja, dikucilkan dan saat itu Selena datang. Membuka ingatan masa lalu tentang pertemanan mereka saat di sekolah dasar, Selena dahulu juga dijauhi teman-teman ketika berusia tujuh tahu, dan Andrew datang sebagai teman pertama wanita itu. “Ada kalanya, kita akan dipertemukan dengan orang yang salah dahulu, sebelum bertemu dengan orang yang benar. Semua itu yang dinamakan nilai-nilai dari kehidupan, baik dan jahat, benar dan salah, yin dan yang. Kau pasti tahu kan kalau di dunia ini tidak hanya ada orang baik, semuanya saling mengimbangi.” Terdiam sejenak, Annalise menatap mata indah yang tampak di hadapannya. Lelaki itu mendudukkan diri, dan menanggukkan kepala. “Ada dua kekuatan yang bekerja di alam, aku menyebutnya cinta dan perselisihan. Cinta mengikat segala sesuatu dan perselisihan memisahkannya. Itu perkataan Empedocles, seorang filosof.” Andrew menimpali dokternya. Wanita itu tersenyum tipis, mengangguk dan kemudian berucap bahwa yang dikatakan lelaki itu adalah sebuah kebenaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN