9. Tidak Bermaksud (Bagian 1)

1234 Kata
Satu masalah telah dibereskan, Selena menghela napas dan merasa lepas karena melihat sang putri tidak menanggung beban demikian lagi. Buah cintanya masih teramat kecil untuk merasakan luka di hati, dan sekarang Siera tidak memandang Jhonatan sebagai musuh, si gadis kecil bahkan bersedia untuk pergi bersama di akhir pekan nanti, mereka akan menonton film kartun di bioskop bersama-sama. Untuk merayakan perdamaian ini, mereka memutuskan makan malam bersama, dengan iringan canda tawa sambil menikmati hidangan. Di kepala meja, sedari tadi Andrew hanya terdiam dengan garpu yang menusuk salat sayuran yang hanya dimakan seperempat saja, sesekali ia menggumam karena mendapatkan pertanyaan dari sang anak. Karena reaksi demikian, Andrew mendapatkan perhatian dari Selena, wanita itu tahu apa yang menjadi penyebab Andrew terlihat lebih dingin dan seperti ingin menjauh dari mereka. Beberapa saat setelahnya, Jhonatan memutuskan untuk kembali ke apartemen lelaki itu, sudah pukul delapan lewat dan ia harus bergegas karena ingin mengurusi pekerjaan dengan memeriksa laporan untuk esok hari. “Hari yang menyenangkan, Siera. Kapan-kapan aku akan mampir.” Jhonatan menundukkan tubuh dan mencium kepala gadis kecil itu. “Kau harus semangat belajar, ok.” “Iya, terima kasih juga atas bajunya, Paman.” Tertawa kecil, Jhonatan mengalihkan tatapan kepada Selena. “Aku pamit, Selena. Ah, di mana Andrew?” Wanita itu menatap ke belakang, tidak mendapati ayah dari Siera di ruangan ini. “Em, mungkin Andrew sudah kembali ke kamar, tadi dia pulang agak terlambat dan terlihat kelelahan.” Setelah Jhonatan berpamit, Selena lantas mengantar Siera menuju kamar gadis kecil itu. menyuruh anaknya untuk menyikat gigi dan mencuci muka, kemudian berganti pakaian dengan baju tidur, mengingat sudah pukul delapan lewat tiga puluh malam. Melihat Siera tengah berada di meja belajar sambil mengerjakan pekerajaan sekolah, Selena pun meninggalkan gadis kecilnya, sebelum berkata jika sudah selesai lekaslah tidur agar besok tidak kesiangan. Sekarang, tujuan Selena adalah memeriksa Andrew. Keluar dari kamar sang anak, ia pun menuju kamar tamu yang ditempati sang mantan suami. Mengetuk pintu, Selena mengerutkan alis ketika tidak mendapatkan jawaban, dengan perlahan ia lantas membuka knop dan terkejut karena pintu tidak dikunci. “Andrew? Aku masuk, ya?” Ia melangkah, kemudian menolehkan kepala celangak-celinguk. Mendapati ruangan gelap dan hanya diterangi cahaya bulan melalui jendela yang terbuka, Selena melangkah dengan perlahan dan mengerjabkan mata ketika menutup pintu. Ia pun mencari tombol sakelar lampu, kemudian sebelum menemukan benda itu, Selena malah tersentak karena mendapati seseorang tengah duduk di lantai dan menyandar di ekor ranjang. Membelalakkan mata untuk menatap lebih jeli siapa yang ada di sana, Selena langsung membatin bahwa itu adalah Andrew. Ia lantas mendekat, menyentuh pundak lelaki yang sekarang tengah bergetar dan berbisik-bisik entah apa sambil membenamkan wajah di lipatan tangan dan siku. Berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka, Selena kembali menyentuh bahu Andrew, sehingga laki-laki itu mengangkat kepala dan menampakkan wajah yang terlihat kosong. “Selena,” bisik Andrew, iris emerald terlihat kehilangan cahaya dan semakin kelam. “Andrew, kau baik-baik saja?” tanya Selena khawatir, alisnya mengerut, kemudian menyentuh wajah sang lelaki. Telapak Andrew menggenggam tangan Selena, bergetar dan terasa dingin. Sehingga Selena berpikir apa yang terjadi? Melihat Andrew yang diam, dengan pandangan mata yang awalnya kosong, tetapi terlihat semakin gelisah dan tertekan membuat Selena sangat khawatir. Namun, sepertinya ia tahu kenapa lelaki ini bisa menjadi seperti ini. “Andrew, kau bisa cerita kepadaku jika ingin. Jangan menyimpannya sendiri.” Selena mencoba membujuk, sebaik mungkin menyiratkan bahwa ia memperhatikan lelaki itu. Melihat senyuman Selena untuknya, membuat ketakutan Andrew perlahan menghilang, kemudian ia mengerutkan alis karena mengingat apa yang terjadi sebelum ini dan terus-terusan merongrong pikiran hingga membuat dirinya sekacau ini. Iris emerald berubah menjadi tajam, kedua tangan Andrew sekarang mencengkeram lengan atas Selena, hingga wanita itu terkejut karena perbuatan sang lelaki. “Apa yang dilakukan Jhonatan di sini? Mendekati Siera demi kau?” tanya lelaki itu dengan raut marah. Suara Andrew naik beberapa oktaf, membuat Selena semakin kaget dengan apa yang dilakukan lelaki itu. “Aku tidak akan mengampuninya!” “Andrew! Tenangkan dirimu, kau telah berubah sekarang, bukan? Itu adalah usahamu selama lima tahun ini, maka jangan menghancurkan semuanya hanya demi sesuatu yang belum jelas kebenarannya.” Selena kemudian mengusap-usap wajah sang lelaki, mencoba membuat Andrew tenang dan sepertinya mulai berhasil karena sang mantan suami mulai mengendurkan cengkeraman di kedua lengan atasnya. “Kau harus makan obatmu, Andrew. Tenangkan dirimu,” bisik Selena, memujuk sang lelaki agar mau mendengarkannya. Napas-napas terengah perlahan bisa ditenangkan, apalagi ketika dua pil telah ditelan oleh Andrew hingga lelaki itu bisa berpikir dengan jernih. Syarafnya perlahan menjadi tenang, ia kini bisa tersenyum manis sambil mengucapkan permohonan maaf. Perubahan drastis yang dialami Andrew tentu saja memuat Selena terkejut, obat yang ditelannya ternyata sangat ampuh dan mengerikan, membuatnya miris dan merasa tidak tega dengan kondisi sang pria. “Sebaiknya kau istirahat sekarang, kau juga sepertinya lelah karena bekerja.” Melihat lelaki itu menganggukkan kepala, Selena lantas membantunya untuk naik ke tempat tidur. Andrew melepaskan pakaian, kemudian mencampakkannya sembarangan, dan sang pria memilih tidur dengan telanjang d**a, sementara Selena membenarkan posisi selimut dan memandangi sejenak pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. “Selena, aku tidak bermaksud... maafkan aku,” lirih Andrew, tatapan matanya telah sayu, lelah jasmani dan juga rohani. “Aku juga minta maaf karena membawamu dalam situasi seperti ini, Andrew. Sekarang istirahatlah, esok aku akan menjelaskan semuanya.” “Ya, Selena.” Ia berniat untuk pergi, tetapi tangan Andrew menggenggam punggung tangannya, meminta Selena untuk beberapa saat berada di samping Andrew hingga laki-laki itu tertidur. Terdiam sejenak, ia pun memutuskan untuk menganggukkan kepala, merasa cukup bersalah atas hal yang terjadi. Seharusnya ia memang menjelaskan maksud kedatangan Jhonatan kepada Andrew, sebab bagaimanapun Siera adalah anak mereka. Seharusnya Selena tahu, bahwa kedatangan Jhonatan pasti akan mengusik Andrew, apalagi melihat lelaki itu tiba-tiba menjadi dekat dengan Siera. Andrew memang belum sembuh, dan sayangnya Selena malah tidak berpikir sejauh itu, sangat tergesa-gesa, ia gegabah dan bodoh dalam memutuskan sesuatu. “Ya, aku akan di sini sampai kau tertidur.” Baru saja Andrew memejamkan mata, Siera datang dengan pakaian tidur kelinci lucu karena berniat untuk terlelap di ranjang yang sama, mengetuk pintu dengan perlahan dan mengintip dari celah yang terbuka. Gadis kecil itu tersenyum dan memutuskan untuk membiarkan papa dan mama yang sedang bersama-sama seperti ini. Melihat kedekatan mereka saja telah membuat Siera bahagian. *** Pagi harinya laki-laki itu terlihat baik-baik saja, pukul enam lewat tiga puluh, Andrew berada di pekarangan dan tengah berlari memutari halaman. Dari kaca jendela, Siera dan Selena menatap kebiasaan sang papa. Setelah beberapa saat, laki-laki itu terlihat telah selesai dan mengelap wajah dengan handuk kecil, kemudian meminum jus yang ada di botol. “Andrew, kau tidak kerja?” “Ah, pagi ini aku ada jadwal, jadi siang nanti baru berangkat.” Sang pria menjelaskan. Andrew menaiki tangga dan menuju ke kamar, semetara Siera tengah membantu mamanya mengangkat piring dan sendok, kemudian meletakkan di atas meja. “Oh, iya. Siera, nanti pergi ke sekolah bersama Karin, ya. Soalnya mama mau menemani papamu ke suatu tempat.” “Baiklah, kalau begitu Siera panggil papa dulu di kamar.” Gadis kecil itu berujar riang dan sambil berlari-lari kecil, kemudian menaiki tangga dan meneriaki sang papa yang tengah berada di kamarnya. Mereka duduk hikmat di meja yang menghidangkan roti gandum dengan telur mata sapi di atas piring, juga potongan sosis dan sayuran panggang. Satu-satunya lelaki pun memulia doa, Andrew lantas memimpin keluarga kecil ini dan menikmati sarapan yang tersaji di atas meja. Setelah menyantap selesai, seperti yang dijelaskan Selena tadi, Siera akan berangkat bersama Karin yang datang menjemput. Wanita itu mengatakan bahwa anak dari adik kekasihnya akan aman dan dipastikan sampai ke sekolah dan tidak akan bolos bersama dirinya, Karin menjelaskan dengan seringai di bibir. Ia hanya berniat menggoda Siera yang terlihat panik dan cemberut, sebelum sang mama menjelaskan bahwa wanita berambut keemerahan itu hanya bercanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN