8. Berdamai

2430 Kata
Berada di ruangan pribadi sepanjang hari, Andew menghela napas dan menatap Justin yang merupakan sahabat lama dan sekarang bekerja di perusahaan ini. Laki-laki itu sebenarnya sangat peduli, tetapi Andrew sendiri lah yang mencoba menjauhi dan membuat tembok tidak kasat mata untuk membatasi hubungan mereka. Namun, sampai sekarang Justin selalu berhasil mengikuti dan berada di dekatnya, ke mana pun ia pergi maka Justin pasti akan teus mendekat. Hal ini membuktikan bahwa ikatan mereka bukanlah bualan semata. Laki-laki itu memberikan saran agar Andrew menenangkan diri terlebih dahulu, tahu kemungkinan sang sahabat tengah memikirkan masalah demikian rupa. Sebenarnya, ia juga cukup mengenal Selena yang dahulu selalu mengurusi Andrew sejak berada di Sekolah Menengah Atas. Ya, ia dan sang lelaki adalah teman beda kelas yang akrab di Sekolah Menengah Bawah, tetapi ketika di tahun ketiga, tiba-tiba saja sang sahabat berubah. Semakin terlihat dingin ketika di jenjang yang lebih tinggi, belum lagi Andrew terkadang benar-benar tidak peduli ada yang menindas dan mengasingkannya di kelas hingga duduk sendirian di bangku paling belakang. Kedatangan Selena membuat Justin merasa bahwa sang sahabat mulai mau berbaur lagi, walau yang diizinkan masuk hanyalah gadis itu. Sebaliknya, Justin hanya mengawasi kedua orang yang selalu ke mana-mana bersama dari jauh. Hingga suatu hari ia mendengar kabar tentang pernikahan mereka, tetapi nasib tiada yang tahu sebab bertahu-tahun kemudian kabar perceraian lah yang terdengar oleh Justin. Ia sangat mengingat masa di mana Andrew terlihat kehilangan pegangan dan kemauan hidup, hingga ia mengatakan bahwa mungkin saja aka nada kesempatan jika Andrew berusaha untuk sembuh, perkataan yang diucapkan oleh Justin dengan spontan ternyata mendapat perhatian lebih dari sang lelaki, hingga akhirnya memiliki motivasi yang baru untuk bertahan hidup dan menyembuhkan gangguan yang diderita yaitu Selena sendiri dan putri kedua orang itu. Hal yang tak mereka sangka, Siera sangat mencintai Andrew. Gadis kecil itu menganggap sang papa seperti malaikat yang sempurna. “Kau harus fokus kepada kesembuhanmu, Andrew.” Mereka duduk di sofa, jam istirahat masih tersisa lima belas menit lagi. “Aku tahu, Justin. Hanya saja, terpikir olehku jika sebentar lagi Siera mulai mengerti dan mau menerima status kami yang tidak bisa bersama lagi, maka apa yang bisa kulakukan tanpa mereka di sisiku. Tahun pertama setelah perceraian, begitu berat, Justin.” Laki-laki itu mengusap wajah, mendesahkan napas frustrasi dan menjatuhkan punggung di sandaran sofa. “Walau Selena sudah tidak ingin melanjutkan hubungan kalian, apalagi dampaknya terlihat lebih baik setelah kalian bercerai—” ucapan Justin berhenti sekejab karena Andrew menatapnya dengan teramat tajam. “Dengar, Andrew! Aku belum selesai. Nah, tetap saja bahwa kau adalah ayah dari Siera. Dengan adanya Siera, ikatan kalian sebagai orang tua tidak akan pernah putus, walau kau bukan lagi suami Selena.” Rahang laki-laki itu mengeras, Justin menyuruh sang sahabat untuk mengembuskan napas teratur agar tidak termakan amarah karena ucapannya tadi. Lagi pula, terkadang orang-orang seperti Andrew memang memiliki pemikiran yang berbeda dan cenderung begitu tak disangka. Maka dari itu, ia berusaha menanamkan bahwa yang Selena putuskan bukanlah hal yang salah, mengingat penyebab perceraian mereka adalah karena Andrew yang terobsesi dan posesif kepada wanita itu. Apalagi Andrew melakukan teror kepada orang-orang yang mencoba terlalu dekat dengan Selena, bahkan Lucas yang adalah kakak sang wanita pun diberikan serangan tiba-tiba olehnya. *** Jhonatan mengerutkan alis dan menatap langit-langit ruangan kerja, ia memikirkan seorang wanita yang begitu dicintai, terbayang di kepalanya bagaimana wajah Selena dan ia merasa sosok itu benar-benar menghindar. Namun, ketika ia ingin mengkonfirmasi hal itu dari yang bersangkutan, sayangnya Selena berada di dalam kondisi yang tidak tepat. Ia pun memutskan kembali mundur sesaat, membiarkan Selena memperbaiki suasana hati terlebih dahulu, kemudian akan memutuskan untuk membuat janji temu dengan wanita itu. Hela napas kuat terdengar, ia memijat dahi ketika salah satu masalah terpikir lagi dan merupakan yang paling besar yang harus Jhonatan hadapi. Bagaimanacara agar ia bisa mengambil hati Siera? Jika tidak bisa dekat dengan Siera, akan sulit untuk bisa dekat dengan Selena pula, selama gadis kecil itu merentangkan permusuhan yang kuat kepada Jhonatan. Memijat batang hidung sebentar, Jhonatan lantas menegakkan punggung. Ia sepertinya harus menjelaskan bahwa ia tidak memiliki niatan buruk kepada Selena, Siera bahkan Andrew. Perasaan ini murni cinta, dan ia pun akan bersabar jika belum mendapatkan balasan dari wanita itu. Sekarang Jhonatan menimbang-nimbang, apakah ia harus ke tempat Seelna? Menarik napas sekali lagi, ia memutuskan untuk bertemu Selena. Ia pun mengambil ponsel untuk menghubungi wanita itu dan menunggu sejenak, kemudian panggilan seluler itu akhirnya dijawab sosok di seberang sana. “Permasalahanku dengan Siera harus segera diselesaikan, Selena.” Jhonatan pada akhirnya berhasil mengutarakan apa yang dipikrikan lebih jelas sekali lagi, bahwa ia tidak ingin gadis kecil itu selalu salah sangka dan bahkan membenci dirinya, hal yang demikian sangat tidak baik untuk tumbuh kembang seorang anak yang tengah dalam masa pertumbuhan seperti Siera. Ia tidak ingin Siera menyimpan hal buruk di hati gadis kecil itu, tentu saja Selena pun tidak mau masalah ini terus-terusan membebani putri semata wayangnya. Terdiam sejenak, Jhonatan tidak mendengar jawaban dari sosok wanita di seberang sana, ia membatin bahwa sepertinya Selena tengah berusaha memutuskan apakah hal ini memang harus dilakukan atau tidak? Walau yang ia jelaskan tadi adalah hal yang benar, bisa jadi malah membawa masalah baru bagi gadis kecilnya. Memejamkan mata sejenak, akhirnya setelah beberapa saat terdiam, Selena pun menginzinkan Jhonatan untuk menemui si buah hati. Mereka lalu membuat janji untuk mempertemukan Siera dengan Jhonatan. Lebih cepat lebih baik, maka direncanakan besok pukul tiga sore di kediaman Selena. Bagi Selena permasalah yang terlalu banyak terjadi kepada diri sendiri maupun keluargannya, membuat ia berpikir untuk menyelesaikan satu persatu secara perlahan. Ia tidak ingin semua bertumpuk dan malah semakin pelik hingga terus-terusan merongrong hidupnya sendiri atau pun hidup sang putri. Maka dari itu, ia harus mendamaikan Siera, dan ia mengembuskan napas karena berdoa semoga gadis kecilnya mau memahami kondisi Jhonatan, bahwa tidak boleh melarang seseorang yang tengah jatuh cinta karena hal itu bukanlah kesengajaan. Seleena memutuskan pulang lebih cepat, sore hari sebelum matahari bersinar oranye lebih menyengat mata, ia pun telah tiba di kediamannya dan sejenak menyendarkan kepada di jok mobil sambil memejamkan mata. ia mendapati Siera sedang bersama pengasuh, kalau sudah begitu pasti Andrew belum pulang dan kemungkinan sedang lembur di kantor. Ia tersenyum karena melihat semringah si kecil. Memutsukan untk berjongkok di hadapan sang putri, Selena tersenyum dan memberikan kecupan di pipi. “Kau merindukan Mama?” tanya Selena sambil tertawa gemas dan menyentuh kedua pipi gempal kemerahan itu dengan kedua telapak tangan. Siera mengangguk, kemudian memeluk Selena dengan erat. Wanita itu tertawa kecil, kemudian memutuskan untuk berdiri sehingga gadis kecil itu sekarang berada di dalam gendongan sang ibunda. Membawa anaknya menuju kamar dan meletakkan si buah hati di atas ranjang, kemudian Selena mengusap kepala berambut kelam yang sama seperti milik Andrew dan menatap mata nan indah bagai batu emerald. Benar kata Marcus, Siera memilik figure Andrew secara dominan, tetapi juga terlihat memiliki wajah Selena di sana. “Sayang, besok sore Paman Jhon ingin bertemu denganmu.” Ekspresi Siera langsung tak suka ketika mamanya menyebut-nyebut nama sang lelaki. “Aku tidak mau, Mama.” Gadis kecil itu terlihat merajuk dan mencoba berdiri, sebelum Selena memegangi pundak Siera dan kembali berjongkok untuk membujuk anaknya dengan menyamakan tinggi badan mereka. “Siera, kenapa kamu tidak suka dengan Paman Jhon?” tanya Selena melebarkan senyuman, agar si anak tidak tertekan dengan pembicaraan ini, tangannya pun mengelus bahu dan kepala untuk memberikan gestur bahwa Selena tidak akan marah dengan jawaban Siera. Gadis kecil itu terdiam sejenak, bagian bibir digigit, kemudian mata nan indah itu mulai berkaca-kaca, melihat hal tersebut lantas saja Selena menyentuh pipi Siera dan menggelengkan kepala sembari tersenyum maklum. Melihat ibundanya tidak terlihat marah, Siera pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan tadi. “Paman Jhon mau merebut Mama dari papa, waktu itu Siera dengar Paman Jhon bilang ingin menikahi Mama. Siera gak suka, Ma. Yang menikah dengan Mama hanya papa. Dan papaku bernama; Andrew.” “Sttt, tenanglah, Sayang. Kenapa kamu berpikiran bahwa Paman Jhon mau merebut Mama, hm?” wanita itu memeluk anaknya, kemudian  kembali menatap wajah Siera yang terlihat bingung. Mengehela napas, Selena memberikan senyuman kecil untuk memperbaiki situasi. “Siera, Paman Jhon memang mencintai Mama, dan kita tahu bukan bahwa seseorang tidak bisa memaksakan diri untuk menolak cinta.” Gadis kecil itu mengangguk, pembahasan cinta pernah dijelaskan Selena dahulu, ketika dia bingung kenapa Jhonatan selalu berusaha menarik perhatian sang mama. Melihat anaknya mengerti tentang pernyataannya, maka Selena pun melanjutkan kata-katanya. “Paman Jhon memang berkeinginan untuk melamar Mama, tetapi menerima atau pun tidaknya itu adalah keputusan Mama, Sayang. Dan di sini, Paman Jhon tidak bisa memaksakan kehendak Mama, benar bukan?” Sang buah hati mengangguk lagi, kemudian menghapus air mata dan mulai memahami penjelasan Selena. “Jadi, walau menerima dan memakai cincin pemberian Paman Jhon, Mama belum tentu menerima lamarannya?” “Hm, ya. Mama tidak menerima lamarannya, tetapi hanya menghargai perasaannya yang tulus, Siera. Maka dari itu, Mama menerima cincin pemberian Paman Jhon.” Mendengar jawaban sang mama, Siera lantas kembali memeluk Selena, di dalam hati ia tidak akan pernah rela jika posisi papanya digantikan oleh Jhon. Sekarang setelah semua menjadi jelas bahwa mamanya tidak ingin menikah lagi, maka perasaan Siera benar-benar terasa lepas, tidak takut bahwa suatu saat sang mama mencari papa baru untuknya. “Jadi, kamu mau kan bertemu Paman Jhon, salah sangka dengan seseorang itu tidak baik, Sayang. Sekarang kamu sudah tahu bahwa Mama dan Paman Jhon tidak memiliki hubungan apa-apa, kan. Lagi pula, kamu tidak akan bahagia jika memusuhi seseorang dan tidak suka karena suatu alasan yang salah.” Mata bulat Siera yang emerald menatap wanita yang telah melahirkannya, terlihat tidak terlalu paham maksud perkataan tersebut. “Kenapa begitu, Ma?” “Sebab, perasaan memusuhi tidak baik dan akan menciptakan beban dan rasa sakit di sini.” Selena menunjuk tengah d**a Siera, gadis kecil itu pun menyentuh tempat yang sama. Benar, karena memusuhi Jhonatan, Siera selalu takut dan resah, hatinya sakit ketika melihat mama dan laki-laki itu bersama walau hanya berbicara. Sampai si suatu hari, mamanya menerima dan memakai cincin dari Jhonatan, membuatnya benar-benar marah, sedih bahkan takut, sehingga hatinya terasa seperti retak dan hal itu akhirnya membuat Siera jatuh sakit. Menganggukkan kepala, Siera berbisik bahwa yang dikatakan sang mama benar adanya. Tersenyum kecil karena anaknya mulai lunak, Selena pun menguatkan si buah hati. “Nah, jadi besok sore kamu harus berdamai dengan Paman Jhon. Mama tidak ingin kamu merasakan sakit dan beban di hati lagi, Ok.” “Iya, Ma. Siera akan meminta maaf sama Paman Jhon karena sudah benci dan memusuhi. Padahal Mama dulu sudah bilang cuma teman sama Paman Jhon, tapi tetap saja Siera gak percaya.” Menatap anaknya yang sudah mulai memahami situasi dan menerima hubungannya dengan Jhonatan, membuat perasaan lega langsung bersarang di d**a. Ia pun berterimakasih karena Siera mau bekerjasama dan mau menemui laki-laki itu esok sore. “Baiklah, kalau begitu hari ini kita masak bersama, Ok.” Mengagguk riang, sekali lagi mereka saling memeluk dengan erat. Beberapa saat setelahnya, Siera lantas bersiap dan langsung menuju ke dapur dengan wajah lebih semringah karena telah perasaannya menjadi lebih baik. *** Seperti yang dijelaskan Selena kemari sore, esok sorenya seperti janji mereka,  Jhonatan pun datang berkunjung ke kediaman yang ditinggali Siera. Tentu saja Siera telah bersiap-siap untuk bertemu laki-laki yang adalah teman dari mamanya. Berdiri ketika mendengar bel berbunyi, kemudian datanglah sosok yang sempat menjadi pembicaraan bersama Selena ke tempat ini. Beberapa saat berlalu, Selena yang baru saja selesai mandi dan telah memakai baju rapi pun turun, menyuh pelayan untuk menyediakan teh untuk Jhonatan dan dirinya, serta s**u hangat untuk Siera. “Halo, Jhon. Akhirnya kau datang juga. Ah, Siera juga sudah ada di sini, kemari, Sayang. Ayo, duduk di dekat Mama.” Mereka awalnya bebasa basi, bagi Jhonatan yang cukup lama sudah tidak besua dengan anak dari wanita yang ditaksirnya ini, pun menanyai kabar si kecil, bagaimana aktivitas di sekolah, juga apakah suka dengan hadiah yang baru saja diberikan? Ya, Jhonatan memberi sebuah kado berisi pakaian babydoll dengan gambar kepala kelinci di d**a, tentu saja Siera terperangah ketika membuka kado dan melihat hadiahnya, gadis kecil itu lantas menatap sang mama dengan mata berbinar dan tawa riang, kemudian mengucapkan terima kasih dengan ekspresi malu-malu karena sempat berburuk sangka terhadap Jhonatan. Menghela napas dan tersenyum, Selena pun mengusap kepala anaknya dan bertanya apakah gadis kecilnya itu senang? Yang lantas dihadiahi angukan dari Siera. Sekarang laki-laki berusia tiga puluh empat itu mendekat, berjongkok di depan Siera dan tersenyum kecil. “Paman benar-benar tidak menyangka, bahwa kedekatanku dengan Selena membuat kau tidak suka, Siera. Maaf, ya. Aku egois dan tidak menyadari bahwa karena perbuatanku, ada seorang anak nan manis yang menjadi sedih.” Wajah memelas Jhonatan membuat Siera juga merasa bersalah dan mengeluarkan raut sedih karena hal ini. Sebelah tangan Jhonatan terulur, menunggu Siera untuk menyambut tangannya dan menerima permintaan maaf. Beberapa saat gadis kecil itu terlihat terdiam dan berpikir, kemudian perlahan mengulurkan tangannya dan menggenggam telapak Jhonatan dengan lembut. “Paman Jhon benar-benar minta maaf sekali lagi, ya.” “Iya, aku juga minta maaf, Paman.” Tersenyum, Jhonatan sekarang menatap Selena dan bernapas dengan lega. “Lagi pula, sekarang Paman telah ditolak oleh mamamu, Siera. Sebab Selena hanya ingin kau bahagian.” Kepala berambut ikal hitam itu dibelai oleh Jhonatan, kemudian secara spontan tiba-tiba ia terkejut karena Siera memeluknya. “Paman tidak membenci mama karena ditolak, kan? Mama bilang, jika memusuhi dan membenci akan menyebabkan beban dan sakit di hati.” Tangan kecil Siera menujuk tengah d**a Jhonatan, membuat lelaki dewasa itu menganggukkan kepala dan tersenyum. “Tentu saja, Princess. Aku menerimanya, walau teramat tidak menyenangkan di sini, tapi jangan khawatir karena sekarang sudah baik-baik saja. Terima kasih telah memberikan nasihat kepadaku, Siera.” Ia tersenyum, kemudian mengusap kepala si kecil dan membuat pipi Siera kembali memerah.   Sekali lagi, Jhonatan memeluk anak dari Selena dan Andrew. Sementara itu, tanpa mereka ketahui di depan pintu Andrew berdiri dengan wajah kaku, tatapannya terfokus kepada Siera yang sekarang tengah berdiri di hadapan si lelaki dan mereka tertawa bersama. Telapak tangannya terkepal, kemudian ia tersentak ketika mendengar suara anaknya memanggil. Andrew mengalihkan atensi, menatap tajam sang putri karena masih terbawa suasana dengan situasi yang paling dibencinya ini. Siera tentu saja tidak sadar dengan geriknya dan emosi Andrew yang memuncak, gadis kecil itu malah berlari mendekat dengan semringah yang tidak hilang. “Papa sudah pulang!” Siera lantas berlari, memeluk papanya dan menarik laki-laki itu untuk mendekat. Andrew tetap berekspresi dingin, meski sekarang tersenyum lebar menatap Jhonatan dengan sorot mata teramat tajam. “Sayang, apa yang dia lakukan di sini?” “Siera hanya ingin berbaikan dengan Paman Jhon, Papa. Soalnya Siera dulu tidak suka dengan Paman Jhon, Pa, tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Dan lagi, nanti akhir pekan Paman Jhon akan mengajak Siera nonton di bioskop, ada film kartun terbaru yang akan tanyang.” Siera digendong oleh Andrew, laki-laki itu berjalan mendekat dan menatap Selena dengan iris emerald yang dingin, kemudian menatap tajam Jhonatan yang tengah berdiri sambil memasukan kedua tangan di saku celana. Siera tetap bercerita, sesekali gadis kecil itu menggoyangkan kaki mengayun, melihat sang papa yang tersenyum dan menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya, mengira papanya pun setuju dan ikut senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN