Di galeri Clover di ruangan Marcus, Selena mendudukan diri di sofa dan menjelaskan tentang pameran yang akan berlangsung dua bulan lagi di setiap tahunnya. Mereka akan turut mengundang jajaran seniman, terutama yang sedang naik daun akhir-akhir ini untuk ikut bergabung. Persiapan sedang diurus Lea dan beberapa pekerja lainnya, kebetulan Marcus tiba-tiba kembali ke kota ini, Selena pun sekarang berharap laki-laki itu juga bisa ikut berpartisipasi.
“Selena, kau itu sekarang adalah ketua di galeri ini. Tidak perlu meminta saranku seperti dahulu, sebab aku telah menyerahkan Clover kepadamu.” Marcus tersenyum lembut, memberikan semangat kepada wanita yang duduk di dekatnya ini.
Menghela napas dan menggelengkan kepala, Selena menjelaskan tidak bisa seperti itu, apalagi Clover dibangun oleh Marcus selama bertahun-tahun, baru sekitar tujuh tahun belakangan ini Selena yang membantu mengurus secara langsung. Tentu saja ia tidak akan enak hati jika tiba-tiba mengepalai tempat ini, walau Marcus sekarang mendukung dirinya secara langsung. Ia akan tetap menjadi nomor dua di Clover karena baginya Marcuslah yang telah membuat nama galeri ini di kenal dan naik daun.
“Oh, ya. Aku berencana mengajakmu dan keluarga kecilmu untuk sekali-kali mengunjungi galeri di Jepang. Aku dengar dia begitu suka kelinci, kan? Di pekarangan vilaku banyak kelinci berkeliaran, loh. Pasti Siera akan girang nanti.” Membayangkannya saja Marcus sudah tersenyum semringah, membuat Selena menggelengkan kepala dengan senyuman tertahan.
“Ya, Siera begitu menyukai kelinci. Ah, mengenai liburan ke Tokyo, aku tidak tahu, Marcus. Maafkan aku.” Mata Selena lantas memancarkan kenanaran, padahal tadi mereka gembira membicarakan kesukaan Siera kepada kelinci yang amat sangat.
Melihat wajah Selena yang lantas berubah menjadi tertekan dan sedih sejak ia menjelaskan tentang kunjungan keluarga nanti, membuat Marcus mengerutkan alisnya. Ia bertanya apakah wanita itu sedang tidak baik-baik saja? Yang kembali terlihat jelas adalah senyuman lelah.
“Selena, kau sedang tidak bertengkar dengan Andrew, bukan? Em, aku tahu mungkin aneh ketika kau mendengar hal ini dariku yang belum menikah, tetapi yakin lah kalau di dalam pernikahan pasti ada masalah yang terkadang datang. Namun, semua itu pasti bisa kalian selesaikan jika satu sama lain mencari jalan keluar bersama.” Marcus mengusap rambut depannya dan menyandarkan punggung untuk merileksasikan diri.
Tertawa kecil, dan kemudian tersenyum, Selena kemudian menghela napas dan berucap terima kasih kepada sahabatnya itu.
“Marcus, aku dan Andrew telah selesai sejak lima tahun lalu.” Terdiam sejenak, Selena menatap ekspresi Marcus yang mengerutkan alis dengan mulut agak menganga. “Maafkan aku karena tidak mengabarimu apa-apa, aku tidak ingin kau kepikiran dan tiba-tiba datang ke kota ini.” Selena mengembuskan napas dan masih memberikan senyuman lelah setelahnya kepada Marcus.
Sebenarnya Marcus ingin marah, tetapi kemudian ia berpikir apa yang dijelaskan Selena ada benarnya, sebab wanita itu pasti memilih diam untuk kebaikan bersama. Mengingat mereka adalah sahabat, dan lagi saat itu ia baru saja datang ke kota Tokyo, tentu saja Selena tidak akan semudah itu menjelaskan masalah yang terjadi di keluarga kecil ini.
Namun, sampai saat ini pun Selena menyimpan semua tekanan di hati sendiri, dan baru menjelaskan sekarang. Benar-benar membuat Marcus ikut merasa sedih karena memikirkan penderitaan wanita yang sudah seperti adiknya ini.
“Marcus, kau pasti sangat marah. Aku tidak akan membela diri, jadi....” wanita itu terdiam, menggit bibir karena kata-katanya menghilang di tenggorokan secara tiba-tiba.
“Selena, aku hanya tidak bisa percaya. Bukankah kau yang dulu sangat mencintai Andrew, begitu juga dengan lelaki itu, jadi kenapa bisa sampai seperti ini?” tanyanya, ia mengerutkan alis karena masih banyak pertanyaan yang berputar di kepala Marcus.
Mengambil napas, Selena menyesab teh untuk merileksasikan diri. Sekarang Marcus benar-benar membutuhkan penjelasan, memang permasalahnya terlalu pelik sehingga lelaki itu pun lantas bingung kenapa pernikahannya bisa berakhir padahal mereka saling mencintai. Ia pun menceritakan kepada Marcus, kenapa dirinya dan juga Andrew bisa bercerai. Penyebab dari semua masalah yang makin lama makin bertambah besar. Tentang laki-laki itu dan kecenderungan yang bisa menyakiti orang lain yang berusaha menarik perhatian Selena, dan Andrew yang semakin sulit dikontrol dan semakin menjadi semenjak Siera lahir ke dunia.
“Kalau kau ingat, dahulu kau pernah diserang membabi-buta dengan orang tidak dikenal ketika keluar dari rumah, bukan? Saat itu tanganmu patah, dan pipimu disayat.” Selena menatap dengan sorot mata nanar, kemudian menyentuh bagian luka yang sekarang nyaris hilang di wilayah pipi kiri Marcus. Ia pun memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napas perlah, kemudian berbicara dengan suara pelan. “Itu adalah ulah Andrew, Marcus.”
Terbelalak, tentu saja Marcus tidak memercayai hal ini. Mereka telah menghubungi polisi, tetapi entah bagaimana sama sekali tidak ada jejak yang ditinggalkan, bahkan yang paling aneh adalah mengenai rekaman CCTV yang tiba-tiba tidak menyala, dan karena tidak ada bukti, pencaran itu pun akhirnya dihentikan.
“Kau... bercanda, Selena?”
“Andrew adalah seorang programer game, dia membuat gamenya sendiri dan bahkan menciptakan kerajaan game bersama tim-timnya, Marcus. Sejak dahulu dia adalah anak yang brilian, kakak laki-lakinya—Noah bahkan lebih pintar lagi, tetapi Noah meninggal dunia karena sakit asma parah dan infeksi paru-paru.” Jelas Selena dengan wajah merasa bersalah, mengingat masa lalu rasanya benar-benar menyakitkan bagi mereka semua.
“Jadi, inilah alasan kenapa Lucas begitu tidak suka dengan kedekatanmu bersama Andrew. Selena, kenapa kau masih berhubungan dengan Andrew? Aku tahu ini adalah urusan pribadi kalian, tetapi kalau mantan suamimu telah di luar batas, tidakkah itu sangat berbahaya bagi keselamatanmu dan Siera?”
Menggelengkan kepala, Selena pun menjelaskan bahwa sekarang keadaan telah serba salah. Andrew juga menyesali hal-hal yang pernah terjadi, sebab sebagian besar yang dia lakukan ketika menyakiti orang-orang benar-benar di luar kesadaran lelaki itu.
“Maksudmu dia sedang mencoba untuk sembuh?” tanya Marcus penasaran.
“Ya, motivasinya adalah kami, Marcus. Aku dan Siera, jika aku meninggalkannya, dia akan hancur. Mungkin, aku akan berusaha di sisinya sampai Andrew dinyatakan sembuh oleh dokter.”
Selena tersenyum lagi, walau sangat terlihat berat untuk dilakukan, tetapi Marcus tahu bahwa Selena berusaha membuat Marcus tidak mengkhawatirkan hal ini.
Gangguan psikis seperti ini memang tidak mudah untuk disembuhkan, bakan bertahun-tahun lamanya pun masih dijalan Andrew untuk terapi. Laki-laki itu mungkin akan meminum semacam obat penenang jika gejalanya mulai kambuh lagi, bahkan mungkin memutuskan untuk menyendiri agar tidak menyakiti orang-orang terdekat.
“Selena, apa kau akan kembali bersamanya ketika dia sembuh?” Tanya Marcus kembali, ia benar-benar tidak tahu apa yang akan dipikirkan wanita itu ketika Andrew menemukan berkah harapan di dalam hidupnya, seperti sebuah kesembuhan misalnya.
Jantung Selena berdetak kuat ketika Marcus menanyai hal demikian. Apa yang akan terjadi jika Andrew dinyatakan sembuh? Apakah ia akan menerima lelaki itu kembali atau tidak? Masalah yang menyebabkan mereka bercerai adalah kondisi Andrew yang semakin membuat Selena sangat tertekan, jadi seharusnya jika lelaki itu telah dinyatakan sembuh, Selena akan menerima kembali, bukan?
Pertanyaan terus merongrong di kepala Selena, ia kebingungan. Sebab, Andrew selalu tak suka jika dirinya dan Siera memprioritaskan orang lain, dahulu inilah yang menjadi penyebab Andrew menyakiti orang-orang dan bahkan meneror sahabat-sahanat, bahkan keluarga. Namun, setelah bercerai, laki-laki itu perlahan lebih bisa mengendalikan diri, bukan?
“Selena?”
Suara panggilan Marcus yang kedua kalinya akhirnya membuat Selena sadar dari lamunan, wanita itu pun menolehkan kepala dan menelan saliva sebelum menjawab pertanyaan dari sahabat lelakinya ini.
“Aku... aku tidak tahu, Marcus.”
Hela napas terdengar jelas di tengah ruangan yang sunyi ini. Menyudahi pembicaraan ini, Marcus lantas menggenggam tangan Selena untuk menguatkan sahabatnya dan berkata semua pasti akan menjadi lebih baik pada akhirnya.