Ketika ingin menjemput Siera, gadis kecil itu ternyata telah menghubungi ponsel Selena dengan telepon rumah yang berarti bahwa Andrew telah menjemput sang putri. Bergegas pulang, ia pun membuka pintu dan tidak mendapati kedua orang yang seharusnya berada di sini, bertanya kepada pelayan, ternyata mereka tengah berada di kamar Siera.
Melangkah cepat menuju kamar si anak dan membuka pintu, Selena melihat sang lelaki tengah menyisir rambut putri mereka, kemudian mengucir menjadi dua bagian. Andrew dan Siera menatap terkejut kehadiran Selena yang tiba-tiba, sebelum tersenyum cerah karena kepulangan wanita yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi.
Secepat kilat berlali ke arah sang mama, Siera lantas memeluk Selena dan meceritakan sore indah bersama satu-satunya pria tidak jauh Selena dan masih duduk di atas ranjang putrinya. Beberapa saat kemudian, lelaki itu terlihat berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, kemudian melangkah mendekati Selena dengan senyuman di bibir.
Tidak ada yang salah dari Andrew sekarang ini, batin Selena dengan khawatiran di d**a.
Ketika matahari telah terbenam sehingga meninggalkan kehangatan bagi makhluk di bumi dan langit digantikan dengan gemintang yang bertabur indah, itu artinya adalah saat di mana Siera akan tertidur. Setelah gadis kecil itu terlelap dengan mimpi indah, Selena pun memutuskan untuk berbicara kepada sang mantan suami. Laki-laki itu lantas mengiyakan, dan mereka menuju ke kamar Andrew sebab di sana jaraknya agak jauh dari ruangan tidur sang putri.
Memutuskan duduk di sofa, Selena memulai pembicaraan dengan permintaan maaf terlebih dahulu, wajahnya pun terlihat tidak enak hati mengingat sikapnya kepada lelaki itu. Embusan napas terdengar, semenjak bercerai dari Andrew, ia sadar sikapnya tidak terlalu bersahabat dengan sang mantan suami. Terkadang ia ketus, dingin dan tidak mau peduli. Hanya di depan Siera saja lah Selena bisa memperlakukan laki-laki itu dengan pantas dan layaknya orang yang mereka sayangi. Sungguh sangat memalukan dan ironis, padahal ia tahu Andrew berusaha untuk sembuh demi bisa bersama mereka dirinya dan putri tercinta mereka.
“Aku benar-benar meminta maafmu, Andrew.” Selena berkata lagi setelah ia melihat lelaki itu hanya diam ketika ia memohon maafnya. Detak jantungnya berdegup, telapak tangan Selena pun berkeringat, menandakan ia begitu gugup karena harus meanggung malu karena merasa sangat kekanakan selama Andrew kembali tinggal di rumah ini.
“Sudahlah, yang terpenting adalah sekarang kita sebisa mungkin jangan berperang dingin lagi. Apalagi jika di depan Siera. Aku juga meminta maaf jika selama ini membuatmu tidak nyaman, Selena.” Tangan Andrew saling menggenggam satu sama lain, kemudian laki-laki itu terlihat seperti menguatkan diri sendiri sebelum mengutarakan sesuatu. “Maafkan aku, sebab aku bahkan keseringan tidak sadar melakukan hal-hal yang membuat hatimu terluka dan membenciku, Selena.” Tatapan mata Andrew berubah lembut setengah memohon kepada wanita yang sekarang duduk di hadapannya.
Wanita itu menggeleng, memahami Andrew yang sekarang teramat kecewa dengan diri sendiri.
“Semua itu di luar kesengajaanmu, Andrew. Namun, kalau bisa mari kita coba untuk menyembuhkannya. Aku juga ingin melihatmu dalam keadaan baik-baik saja.” Selena berkata penuh harap, ia dapat melihat sorot mata Andrew menghangat, terlihat begitu lega karena telah diterima oleh dirinya.
Setidaknya keadaan mereka sekarang telah sedikit-demi seditik diperbaiki, walau untuk mengembalikan hubungan Andrew dan Selena seperti dahulu terlalu sulit untuk dilakukan oleh mereka berdua. Bagi mereka itu tidak apa-apa karena kebersamaan mereka sekarang tanpa berperang dingin adalah lebih dari cukup.
“Aku masih tahap kontrol, Selena. Sekarang mungkin bagiku hasilnya sudah cukup terlihat, aku tidak terlalu gampang membanyangkan mereka yang mengutukku.”
“Andrew,” bisik Selena, wanita itu menatap sang lelaki prihatin. Mencoba menguatkan, ia mengusap punggung Andrew dengan perlahan. “Kalau begitu artinya kau keadaanmu semakin membaik sekarang. Namun, kalau ada yang membuatmu gundah, kau bisa menceritakan perasaanmu padaku.” Selena tersenyum lembut, sepenuhati memberikan gesture bahwa ia mendukung kesembuhan sang mantan suami. Meski sudah berpisah, ia ingin lelaki itu dalam keadaan yang baik. Itulah satu-satunya doa yang Selena harapkan.
Menganggukkan kepala, ia yang sejak tadi tertunduk menatap jari-jari tangan yang saling menggenggam, pun menampakkan wajah dan membalas senyuman Selena dengan agak dipaksakan.
Sebenarnya sekarang Andrew sedang agak kecewa, mungkin karena harapan yang terlalu besar. Apalagi motivasi untuk sembuh selama ini adalah Selena sendiri dan juga sang putri. Entah bagaimana nanti, jika saatnya tiba pasti ia akan bersegera pindah dari tempat ini lagi, sebab tidak mungkin tinggal terus-terusan di kediaman ini. Siera akan semakin dewasa dari hari ke hari, gadis kecil itu kemunkinan mulai bisa menerima status mereka yang bercerai ketika beranjak remaja nanti.
Menghela napas, Andrew mengatakan agar sebaiknya mereka beristirahat karena malam pun kian melarut.
Setelah wanita itu keluar dari kamar, Andrew lantas berdiri, melangkah menuju jendela dan menatap rembulan yang bersinar setengah.
“Yang terpenting adalah sembuh dan tidak mengecewakan mereka, tetapi apakah mungkin....”
Ia memejamkan mata, napasnya berembus secera teratur, mencoba menetralisir rasa tidak mengenakkan di d**a. Sekarang yang terpenting adalah Andrew harus fokus dengan kesembuhannya dan menjadikan dua orang paling berharga bagi dirinya sebagai motivasi.
***
Pagi hari ini adalah saat yang tak terduga bagi Selena, pasalnya tiba-tiba saja sang sahabat yang selalu berada di luar negeri, tanpa mengabari terlebih dahulu berkunjung ke kediaman Selena. Walau merasa kesal karena tidak bisa menjemput lelaki itu di bandara, tetapi tidak menampik bahwa ia sekarang sangat bahagian dengan kedatangan sang sahabat.
Marcus nama sahabat dari Selena, laki-laki itu sudah terlalu lama berada di belahan negera lain yaitu berada di Jepang di pusat kota Tokyo tepatnya, nyaris lima tahun lebih fokus kepada perusahaan yang dikembangkan di sana, hingga hanya sempat bertukar kabar melalu email saja.
Pria itu berdiri di depan pintu dan terlihat menunggu, jarinya sekali lagi menekan bel yang ada di sana. Ia tersenyum tipis karena mendapati sosok lelaki yang cukup tinggi melebihnya membukakan pintu, menatap kehadiran tak terduga ini dengan alis berkerut. Ia mengingat dan bahkan mengenal sang empunya rumah, walau sekarang terlihat lebih dewasa tentu saja. Dengan senyum ramah sekali lagi, Marcus langsung menebak bahwa dia adalah Andrew dan merupakan suami dari sahabatnya—Selena.
“Ah, apa kabar? Lama sekali tidak berjumpa, Tuan Clay.” Marcus mengulurkan tangannya dan mereka pun berjabat tangan.
“Aku baik-baik saja, terima kasih, Tuan Wintze.”
Terdiam sejenak karena tidak ada kata lagi yang terucap, Andrew pun menyuruh sang lelaki masuk. Ia lantas meminta pelayan agar memanggilkan Selena yang sedang berada di kamar putrinya. Beberapa saat setelah mempersilakan Marcus duduk di sofa, sang wanita yang ditunggu datang dengan membawa anak mereka.
Terkejut bukan main, Selena langsung menyebutkan nama Marcus sambil berteriak, sang pria yang melihat kekagetan wanita itu lantas tertawa kecil dan berdiri untuk memeluk sahabat karib yang sudah lima tahun lebih tidak berjumpa.
“Berani sekali kau tidak mengabari!” seru Selena dengan mata melotot, kemudian berkacak pinggang.
“Maaf, kalau memberi tahu, itu namanya bukan kejutan. Dan, hei! Siapa gadis manis ini, hm? Ayo kita berkenalan, Nona Muda.” Menundukkan tubuh, Marcus tersenyum. “Lihatlah, dia mirip sekali dengan Tuan Clay, sangat indah dengan matamu yang emerald, Sayang. Namun, aku juga bisa menemukan wajah Selena di pipi kemerahan ini. Kau benar-benar anak papa dan mamamu, Manis.” Marcus tersenyum dan memandang Selena yang masih mengerucutkan bibir, ia mendesah lucu dan kembali berfokus kepada Siera.
Siera tersenyum malu-malu, tidak seperti Jhonatan yang pernah ia dengar bahwa laki-laki itu ingin menikahi mamanya. Marcus terlihat biasa saja kepada Selena, malahan mendukung kedekatan orang tuanya dengan mengatakan bahwa wajahnya mirip mereka berdua.
“Terima kasih, Paman.” Gadis kecil itu berucap riang dengan memamerkan senyuman andalannya.
“Siapa namamu?” tanya Marcus yang sekarang telah berjongkok untuk menyamakan tinggi dirinya dengan si kecil, dan sekarang ia menjulurkan tangan dan bersalaman dengan tangan yang lebih kecil milik Siera.
“Siera Clay, Paman Marcus.”
Setelah puas berjabat tangan dengan gadis kecil itu, Marcus pun berdiri, kemudian ia menatap Selena dan Andrew bergantian, juga Siera.
“Ah, kalian ingin berangkat bekerja sepertinya, begitu juga dengan Siera? Kalau begitu, aku akan ke galeri. Kau juga, Selena. Setelah mengantarkan putri kalian, sebaiknya segera ke sana, Selena, ada yang ingin kubahas tentang pekerjaan.” Berjalan bersama ke luar rumah, kemudian Marcus berbicara lagi. “Oh, ya. Aku bawa oleh-oleh dari Tokyo, tapi sepertinya kurir belum mengirim ke rumah ini.” Laki-laki itu menatap jam tangannya dan mendesah lelah.
“Memangnya apa yang ingin kau berikan, Marcus?” tanya Selena, wanita itu mengernyitkan alis.
Tertawa kecil, Marcus hanya mengendikkan bahu dan berkata itu adalah kejutan.