Sweetheart
Kastil Windemere sudah biasa dipenuhi oleh jeritan penghuninya. Akan tetapi, hari ini lain dari biasanya. Sebab untuk pertama kalinya, Putri Shareness berteriak layaknya orang gila.
Gadis itu menggedor-gedor pintu sembari berteriak kencang, "Aku bukan Putri Shareness!"
Penjaga yang sedari tadi berada di depan kamar hanya bisa mendengarkan semua kebisingan yang ditimbulkan oleh gadis cantik tersebut. Semenjak ditemukan jatuh dari pohon apel, perilakunya berubah drastis. Dia bahkan tidak tahu namanya sendiri.
Putri Shareness malah menyebut kalau dia adalah Quintessa. Padahal, Quintessa merupakan nama seorang penyihir terkutuk yang sudah disegel ratusan tahun lampau.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Madame Emerald memerintahkan para penjaga untuk mengunci Putri Shareness di kamarnya. Hanya itu yang bisa mereka lakukan hingga keluarga kerajaan kembali dari sebuah acara penting di kota seberang.
Sementara itu di dalam, gadis yang disangka sebagai Putri Shareness mulai kehabisan tenaga. Dia pun duduk di atas lantai dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Menempelkan kening ke pintu sembari bergumam, "Aku mau pulang."
Terbayang olehnya tentang ayah bunda yang menanti di rumah. Terlebih, besok adalah malam halloween. Pasti akan ada perayaan besar-besaran di kota. Dia tidak ingin melewatkan semua ini.
"Aargh! Tahu begini jadinya, aku tidak akan mencoba untuk menenggelamkan diri di danau!" sesal gadis itu dengan volume maksimal.
Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Menimbulkan gema yang sukses membuat telinganya sedikit berdenging.
Secara tiba-tiba, pintu terbuka. Gadis berambut pirang itu pun terpental beberapa sentimeter. Tak ayal, dia mengaduh kesakitan.
Seorang lelaki muncul. Mendengar Putri Shareness yang mengeluh, dia langsung bertekuk lutut. Tangannya menyentuh bahu yang tidak tertutup oleh kain.
"Apa aku melukaimu?" tanyanya perhatian.
Gadis berambut pirang terkesima. Dia tidak jadi mengomel. Sebab dari jarak sedekat ini, lelaki itu terlihat sangat tampan.
Hidungnya mancung, seperti orang Eropa. Ada pun kulitnya sedikit pucat. Sempurna ketika dipadukan dengan rambut coklat keemasan. Bagaikan pangeran dari negeri dongeng.
Melihatnya melamun, lelaki bernama Gallen itu kembali bertanya, "Apa yang sedang kau pikirkan, Sweetheart?"
Gadis itu tersentak. Matanya membulat sempurna. Menatap tak percaya ke arah lelaki bernetra coklat.
"Ba-barusan, kau memanggilku apa? Sweetheart?" tanyanya terbata.
Sejauh yang dia tahu, sweetheart adalah panggilan yang menunjukkan perasaan sayang. Biasa digunakan oleh sepasang kekasih atau suami istri untuk menyebut satu sama lain.
Lelaki tampan itu menganggukkan kepala. Membuat dahi mereka hampir bertabrakan. Tapi untungnya tidak. Jarak keduanya masih aman, sangat aman.
"Iya, aku barusan memanggilmu dengan sebutan sweetheart," tegas Gallen. Suaranya terasa sangat lembut di telinga Quintessa.
"Kenapa memanggilku begitu? Apa kau kekasih gadis ini atau semacamnya?" selidiknya lagi.
Mengembuskan napas kencang. Tanpa ada aba-aba, lelaki itu meletakkan kening di bahu gadis berambut pirang. Terlihat sudah lelah dengan semua ini.
Jantung gadis bernama Quintessa pun langsung berpesta. Berdetak tak karuan ketika bahunya dijadikan sandaran oleh seorang lelaki tampan.
"Hentikan semua sandiwaramu, Sweetheart. Aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi, kumohon jangan berakting seolah kau tak mengenalku. Itu menyakitkan," ujarnya sendu.
Sekarang, Quintessa jadi merasa bersalah. Benarkah kalau dia telah melukai perasaan seorang lelaki? Padahal sejauh yang dia tahu, laki-laki itu tahan banting. Takkan sakit hati kalau cuma perkara sepele macam ini.
Tangan gadis itu pun terulur. Meskipun ragu, dia menepuk-nepuk pundak lelaki berambut coklat keemasan. Bermaksud menenangkannya.
"Aku tidak bersandiwara. Sungguh," ucap Quintessa pelan.
Untuk memastikan ucapan gadis itu, Gallen segera menjauh. Menatap matanya dalam-dalam. Ingin tahu, apa ada kebohongan yang terselip di sana.
Merasa risih, Quintessa pun mengedip-ngedipkan mata lima kali dalam sepersekian detik. Membuat lelaki itu juga ikutan mengedipkan mata.
"Sejak kapan kedipanmu secepat itu, Sweetheart?" tanya Gallen frustasi. Seingatnya, Shareness belum pernah melakukan hal tersebut.
Quintessa jadi gemas. Ingin rasanya mencubit-cubit Gallen. Tapi, dia sadar diri. Takut kalau malah membuat lelaki itu tambah salah paham.
Menjawab enteng, "Sejak bayi."
"Aku sudah cukup lama bersama denganmu, tapi kau baru menunjukkannya sekarang? Astaga, kau keterlaluan," protes lelaki itu.
Quintessa mulai jengah. Dia pun memutar bola mata ke atas. Ada pun mulutnya mengembuskan udara dari paru-paru.
Berkata tegas, "Namaku Quintessa Fascinata. Aku tidak mengenal dirimu, jadi tidak mungkin kalau kita sudah bersama selama puluhan tahun."
Usai menyelesaikan kalimatnya, tengkuk Quintessa meremang. Sebab sekarang, sorot mata lelaki itu terlihat tidak bersahabat. Seolah mengancam kalau setelah ini, dia akan kehilangan nyawanya.
Memperingatkan dengan suara rendah, "Jangan sebut nama penyihir terkutuk itu, Sweetheart!"
"Kenapa semua orang melarangku menyebutkan namaku sendiri?" tanya Quintessa, memberanikan diri.
Gigi Gallen gemeretuk menahan amarah. Sebab, gadis di hadapannya tengah menyepelekan penyihir Quintessa, seorang wanita jahat yang menjadi ancaman bagi Kerajaan Windemere ratusan tahun lalu.
"Karena namamu adalah Shareness!" bentak Gallen dengan mata yang melotot.
Quintessa berjengit. Air matanya tiba-tiba meluncur. Mungkin, refleks karena terkejut mendengar suara yang begitu tiba-tiba.
Menyahut parau, "Aku bukan Shareness."
"Lalu?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.
Jari jemari Gallen mencengkeram erat kerah kemeja yang dikenakan oleh Quintessa. Seperti sedang mengancam. Tatapannya saja semengerikan itu.
"Aku sudah mengatakannya tadi. Apa telingamu tidak bisa mendengar dengan baik?" balasnya sambil melirik ke arah indra pendengaran lelaki itu.
Matanya jadi melotot. Quintessa begidik ngeri. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mungkinkah lelaki ini hendak memakannya hidup-hidup? Atau, merebusnya di dalam kuali bersama kubis dan wortel untuk dijadikan sup?
Beruntung, dugaan Quintessa meleset. Sebab, Gallen ternyata hanya berkata tegas, "Kau adalah Putri Shareness!"
"Bukan!" teriaknya frustasi.
Kali ini, Quintessa berani balas mencengkeram kerah lelaki itu. Matanya juga mengobarkan api permusuhan. Seolah siap untuk berkelahi.
Mengembuskan napas kesal. "Ayolah! Berhenti bermain-main seperti ini, Sweetheart."
Lelaki itu melepaskan cengkeramannya. Lalu, menggenggam tangan Quintessa yang tengah memegangi kerah.
Quintessa langsung menjauhkan diri. Tidak hanya itu, dia memaki, "Modus!"
Tanpa diduga, lelaki berambut coklat keemasan menerjang Quintessa hingga punggungnya terbentur lantai. Dengan cepat, penjaga menutup pintu ruangan. Merasa kalau adegan ini tidak pantas untuk dikonsumsi oleh pelayan-pelayan lain.
Sebab sekarang, Quintessa benar-benar ada dalam perangkap lelaki berambut coklat keemasan. Netra keduanya saling bertemu. Memberikan gelitik aneh pada perut Quintessa.
"Masih tidak ingat denganku, Sweetheart?" tanyanya lembut.
Lelaki itu mencoba memberikan kesempatan. Sebab, hatinya sudah sangat sakit. Siapa yang mau dilupakan oleh pujaan hati? Tidak ada yang menginginkan hal semacam itu di dunia ini. Termasuk, dirinya sendiri.
Quintessa menelan saliva. Gadis itu sungguh gusar. Bagaimana kalau lelaki berambut coklat keemasan nekat melakukan hal yang tidak-tidak? Astaga, bagaimana ini?
"Masih tidak mau menjawab?" desaknya.
Gadis itu mulai kehilangan orientasi. Sebab kali ini, wajah tampan itu mendekat. Quintessa jadi bisa merasakan sapuan napas hangat yang menyapu pipi.