PART 1

1825 Kata
Daniel menapaki tangga menuju kamar apartemennya. Lift sedang dalam perbaikan makanya dia harus menggunakan tangga untuk sampai di kamar apartemennya di lantai 4. Daniel kembali melangkah pelan sambil merogoh kantong celananya. Mengambil sebuah kunci dan berhenti di kamar nomor 7 di lantai itu. Daniel memutar anak kunci dan mendorong pelan pintu yang sudah di bukanya. Daniel masuk dan mengunci lagi pintu dari dalam. Daniel sangat merindukan ranjangnya. Ranjang yang tak terlalu besar dan berkasur usang. Daniel menuju kamarnya dan segera saja menghempaskan tubuhnya ke kasur yang begitu dirindukannya. Tak ada yang lebih nikmat dari menghempaskan diri ke kasurnya setelah seharian bergelut di depan komputer. Daniel memejamkan mata. Bayangan gadis cantik bernama Stephanie tiba-tiba berkelebat dalam benaknya. Tidak tahu mengapa. Daniel tertawa pelan. Ada apa dengan gadis itu. Mengapa muka cantiknya terlihat aneh saat bertemu pandang dengannya tadi? Huffft...setidaknya Noel benar. Stephanie itu mendekati sempurna. Dan tipe gadis seperti itulah yang harus buru-buru dihindarinya. Pengabaian level tinggi harus segera di terapkan oleh Daniel, makanya dia bergegas mengambil sikap. Apalagi gadis itu adalah adik dari bosnya, Zachary dan anak gadis satu-satunya dari big boss nya, Ethan William Leandro. Sudah di pastikan Stephanie ada di dalam ranah yang terlarang untuk siapapun, termasuk dirinya. Apa-apaan? Kenapa dia jadi memikirkan Stephanie? Lagipula...bukan gadis seperti Stephanie yang mampu mengusik hatinya dan mengambil tempat Anne. Anne.... Nama itu terucap oleh Daniel bersama perih yang melanda hatinya. Marianne Harper. Gadis bersurai merah menyala yang mempunyai kelembutan luarbiasa. Gadis yang mampu menghadirkan tarian Waltz di dalam hidup Daniel. Gadis yang membuat hatinya bernyanyi cukup dengan melihat Anne terdiam. Gadis yang meninggalkan luka yang begitu dalam di hati Daniel. Luka dan janji yang mungkin takkan bisa ditepati oleh Daniel. Berjanjilah satu hal Danie...kelak berbahagialah. Kata-kata terakhir Anne itu terngiang di kepala Daniel hingga bertahun kemudian setelah di suatu senja saat salju turun untuk pertama kalinya...Anne meninggal dalam pelukan Daniel. Menyerah... Menyerah pada penyakit kanker hati yang di deritanya hingga bertahun-tahun lamanya. Menyerah dan meninggalkan Daniel dengan cintanya. Memasung Daniel dengan sebuah janji agar kelak Daniel harus berbahagia. Daniel meluruskan kakinya. Sekarang...adalah saat di mana dia yakin...hanya Anne bahagianya. Bukan yang lain. Dan Daniel akan membuatnya tetap seperti itu. Hanya Anne. Anne... Terbawa hingga lelap menerjang raga Daniel. ---------------------------------- Kubikel masih sepi ketika Daniel memasuki ruangan grafis sambil membawa secangkir kopi dan sepotong croissant. Dulu sekali Anne sering membuatkannya bekal yang sehat. Tidak ada kopi di pagi hari. Berganti dengan sarapan sehat ala Anne dengan menu yang berganti setiap harinya. Daniel menyesap kopinya yang tidak lagi panas. Menggigit croissant nya pelan. Menikmati sarapan seadanya. Membiasakan diri dengan pola hidup yang baru. Berusaha menjejalkan jadwal yang begitu padat hingga tidak ada celah untuk terpuruk pada kenangan akan Anne. "Good morning, Daniel..." Noel berseru sambil menghempaskan tubuhnya di kursi di samping Daniel. Daniel mengangguk. Noel meletakkan sebuah map di depan Daniel. Sontak Daniel membukanya. Ber lembar-lembar file dan foto Stephanie segera terpampang. Proyek baru segera di mulai. Berbagai desain untuk baliho, papan reklame, iklan di media cetak atau televisi menanti untuk di kerjakan. Dan semuanya bermuara pada Stephanie dengan berbagai pose dan gaya. Daniel menghela napas pelan. Berdiri dan melakukan peregangan pada tubuhnya. Berbagai ide telah berseliweran di kepalanya. Mendesak, berjubel minta direalisasikan. "Mari kita mulai, Noel...sambil menunggu yang lain datang." Daniel beranjak dan disambut gelengan Noel. "Aku tidak bisa berkonsentrasi, Dan...lihatlah dia. Bayangkan dia mendesah dan menggeliat di ranjangmu!" Noel menggeram sambil menunjuk foto-foto Stephanie. "Tutup mulutmu, Noel...dia Tuan Puteri kita. Kau mau berurusan dengan dengan kakak-kakaknya?" Daniel memicingkan mata ke arah Noel. "For God sake, nope!" Noel setengah berteriak sambil menarik kursinya ke arah kubikel Daniel. Daniel tersenyum. Entahlah...ada rasa menggelitik tak nyaman ketika Noel berkata tak senonoh tentang Stephanie. Daniel segera menepis rasa itu. Segera saja kubikel ramai oleh para karyawan yang mulai masuk. Mereka segera berpindah ke sebuah meja panjang saat Daniel berteriak proyek segera di mulai. Riuh rendah usul di sana-sini begitu ramai. Sesekali umpatan kasar terlintas dari salah satu mereka. Hal yang biasa terjadi pada jiwa-jiwa penuh seni yang cenderung nyentrik dan sebagai trensetter bukan pengikut tren. "Selamat pagi semuanya." Sebuah suara menyapa dari pintu yang terbuka. "Selamat pagi." Serempak bagai paduan suara semua menoleh. Mendapati Stephanie, sang model yang menjadi proyek mereka berdiri dengan nampan yang berisi ber cup-cup kopi. Di samping Stephanie berdiri seorang office boy yang membawa nampan berisi berkotak-kotak donat. Noel berdiri dan menghampiri Stephanie. Menolong gadis itu membawakan nampan nya. "Untuk kami?" Noel bertanya dengan suara berjuta kali lebih lembut dari biasanya. Suara gumaman mulai terdengar di sana-sini. Ada yang sengaja berdeham, menarik kursi dengan suara nyaring, atau mengetuk keyboard laptop dengan suara keras. Stephanie mengangguk, tersenyum ramah. Tatapan matanya terpaku pada Daniel yang duduk di ujung meja. Stephanie meneguk salivanya susah payah. Tatapan Daniel begitu tajam. Mendominasi. Menghanyutkan Stephanie pada rasa takut yang di selimuti kabut tebal rasa yang bernama penasaran. "Baiklah...selamat bekerja semua. Dan...terimakasih kerjasamanya. Semoga sukses." Stephanie memutus tatapannya pada Daniel dan segera mengamgguk berterimakasih. Stephanie berbalik cepat. Tak kuasa lagi menerima tatapan Daniel yang menusuk hatinya. Suara penghuni ruangan berdengung bagai lebah. Mengucapkan terimakasih pada Stephanie yang dibalas dengan Stephanie yang menoleh sekali lagi dan tersenyum manis. Noel menatap Daniel. "Sepertinya ada sesuatu akan terjadi." Noel berteriak nyaring sambil menyesap kopinya dengan gerakan dramatis. Daniel membuang pandangannya ke layar laptop di depannya. Angin apa yang membawa Stephanie datang ke ruangan ini? Berbaik hati pada jelata semacam dia dan rekan-rekannya. Daniel menatap keluar. Cuaca begitu cerah. Daniel menyesap kopinya hingga tandas. "Kita lanjutkan lagi." Daniel berteriak membuat semua orang kembali mengarahkan pandangannya pada Daniel. Suasana kembali riuh. Berteriak sana - sini. Atmosfer kerja yang menjadi candu penghuni ruangan grafis. Bertahan hingga makan siang menjelang. Daniel membuka ponselnya. ~Aku tunggu di roof top. Zachary ~ Sebuah pesan dari Zach membuat Daniel membelokkan langkahnya menuju tangga. Menaiki tangga setengah berlari. Daniel sampai di lantai teratas gedung. Membuka pintu masuk atap pelan. Tak mendapati Zach di manapun. Daniel melangkah lebih ke depan lagi. Sosok dengan gaun berwarna peach yang diterpa angin berdiri tegak memandang kejauhan. Apa maksudnya ini? "Stephanie..." Daniel berkata lirih. Suara lirih yang mungkin di terbangkan oleh angin hingga membelai telinga cantik Stephanie, hingga membuat gadis itu menoleh. Raut wajah Stephanie terlihat terkejut. Tak menyangka kehadiran Daniel di atap. Stephanie bergerak kaku. Tangannya yang menggengam sekotak karton biskuit terlihat bergerak jengah. Daniel melangkah. Mendekat pada Stephanie dan berdiri di samping gadis itu. Hening yang begitu digilai Stephanie tercerabik dengan detak jantungnya yang berdetak dengan kencang hingga Stephanie takut Daniel akan tahu. "Apakah itu enak?" Daniel bertanya memecah sunyi. "Hmm...apa...oh...biskuit ini? En..enak...cukup enak." Stephanie menjawab gugup. Daniel meraih biskuit yang ada di tangan Stephanie. Membawa tangan Stephanie ke mulutnya. Memasukkan biskuit langsung dari tangan Stephanie ke mulutnya, membuat Stephanie terkesiap tapi tak menarik tangannya. Daniel menjilat remah biskuit yang ada di jari telunjuk Stephanie dan mengutuk hatinya sendiri. Mengapa bisa lepas kendali di depan gadis yang terlihat manja di depannya ini? Stephanie menunduk. Tak menyangka gerakan Daniel akan membuatnya pening dan melayang bahkan setelah Daniel melepaskan tangannya dan mengunyah biskuit di mulutnya dengan gerakan...sensual? "Kau baik-baik saja, Steph?" Daniel bertanya lagi dengan heran melihat wajah Stephanie yang memerah. "Tentu..tentu saja." Stephanie menjawab gugup. Daniel gila atau apa? Bagaimana mungkin aku baik-baik saja setelah tadi itu...? batin Stephanie. "Zach...maksudku, Bos...memintaku kemari dan dia tidak ada disini ternyata." "Humm...bukankah hari ini Zach terbang ke Kanada? Dia harus menjemput Skyla...hmm...mereka akan menikah." Stephanie menjelaskan dengan heran. "Aaah..begitu...dia...aah..sudahlah. Aku permisi, Stephanie. Have a good day, Stephanie Rose." "You too, Daniel." Lirih suara Stephanie tertelan kembali ke kerongkongannya. Suara Daniel...berubah menjadi dingin. Atau hanya perasaannya saja? Tapi panggilan itu...Stephanie Rose, terasa indah dan merdu saat Daniel yang mengucapkannya. Stephanie menatap kejauhan lagi. Terhempas dalam sepi lagi. Sepi yang terusik oleh hadirnya Daniel yang sanggup menjungkir balikkan dunianya. Zach...kakaknya pasti yang merencanakan pertemuan ini. Dia dan Daniel...dan Daniel sepertinya tidak menyukai ide ini. Stephanie berbalik. Melangkah keluar dan memilih menyusuri tangga dengan langkah pelan. Anak tangga yang mengular hingga ke lantai dasar memberi cukup waktu bagi Stephanie untuk membawa lamunanya. Membawanya menyesap getar yang tercipta karena perlakuan Daniel. Hangat mulut Daniel masih begitu melekat di jari telunjuknya. Bahkan hingga Stephanie masuk ke dalam mobil yang bergegas melaju, membawanya pulang ke mansion Leandro.  Sementara itu Daniel tak henti mengutuk dirinya sendiri. Hatinya memberontak. Merasa menghianati kenangan akan mendiang Anne. Namun raganya tak mampu berbohong. Betapa hatinya bergetar saat berdekatan dengan Stephanie. Stephanie yang terlihat gugup dan gemetar entah karena apa? Stephanie yang cantik dan terlihat rapuh seakan butuh untuk dilindungi. Daniel menyugar rambutnya kasar. Menghembuskan napasnya pelan. Bayangan Anne dan Stephanie memenuhi pikirannya. Bergantian. Tersenyum dengan dua makna yang berbeda. Anne dengan senyum...bahagia dan Stephanie dengan senyum yang...mendamba. Daniel, sekali lagi mengusap mukanya kasar. Berusaha mengenyahkan bayang dua wanita di benaknya. Daniel meriah ponselnya. Panggilan masuk dan nama Zach terpampang di ID Caller. "Stephanie membutuhkan pengawal sampai proyek perusahaan selesai. Dan aku memintamu untuk mengawalnya, Dan." Zach berkata langsung tanpa basa basi. "Aku? Kenapa aku? Aku bukan pengawal Zach. Aku bekerja di bagian grafis kalau kau lupa." Daniel menolak sebisa mungkin setelah menguasai keterkejutannya atas permintaan Zach yang terdengar janggal dan aneh di telinganya. "Ini perintah, Dan. Aku tidak menerima bantahan. Kemasi barangmu dan berangkatlah ke alamat yang akan aku kirim padamu." Zach jelas menolak mentah-mentah sesaat sebelum memutuskan memutuskan panggilan telepon. "God!" Daniel menyugar rambutnya putus asa. Apa-apaan ini? Pengawal? Apakah Zach sudah kehilangan kewarasannya atau apa? Menugaskan Daniel yang tidak mempunyai dasar apapun tentang kawal mengawal! Daniel membuang napas frustrasi. Apalagi setelah menerima pesan dari Zach berisi alamat yang harus di tujunya. Daniel menyambar kacamatanya. Mengaibakan pertanyaan Noel yang terheran-heran di pintu masuk. Daniel melangkah menuju lift dan masuk ke dalamnya. Sekali lagi mengabaikan teriakan Noel yang terlihat kesal karena penasaran. Daniel menuju basement dan masuk ke dalam mobilnya. Melajukannya cepat membelah keramaian New York. Menuju alamat yang di berikan Zach. Membutuhkan waktu sekitar duapuluh menit untuk sampai di depan sebuah rumah mewah pinggiran Manhattan. Cukup sepi karena para tetangga juga memagari rumahnya dengan begitu tinggi dan dengan keamanan berlapis plus kamera CCTV di beberapa sudut. Daniel memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, di depan sebuah rumah berpagar kayu yang terlihat kokoh dengan pos penjaga yang berdiri angkuh dan terkesan serius. Seserius penjaga yang sedang bertugas saat ini. Ditilik dari wajahnya...pria ini berkebangsaan India. Daniel menghampiri penjaga itu yang langsung saja mempersilahkan Daniel masuk seakan sudah tahu bahwa Daniel akan datang. Penjaga mengantar Daniel dan mengetuk pintu depan. Seorang maid membuka pintu. Mempersilahkan Daniel masuk. Maid itu membawa Daniel ke ruang tamu. "Sebentar. Silahkan duduk. Saya akan memanggil Nona muda. Beliau sedang mandi karena baru tiba dari mansion Tuan Besar." Maid itu tersenyum sambil mengangguk hormat. Daniel duduk. Namun segera berlari menyusuri tangga ke atas setelah mendengar teriakan maid tadi. Daniel menerobos masuk ke sebuah kamar di mana maid itu berdiri di depan pintunya. "Stephanie..." Daniel meraih Stephanie dalam rengkuhannya. Stephanie terlihat sangat pucat. Terduduk lemah di lantai yang terlihat dingin. Daniel menatap maid yang menutup mulutnya. Maid itu mengangguk mengerti dan segera melesat turun. Daniel membopong tubuh Stephanie dan menidurkannya di ranjang. Tubuh Stephanie begitu dingin, terbungkus bathrobe tebal. Daniel hendak beranjak ketika tangan Stephanie menahannya hingga terduduk lagi. "Aku mencintaimu, Daniel...ini gila." Stephanie berbisik lirih. Lirih suara Stephanie nyatanya bagai dentuman meriam di telinga Daniel. Membuat Daniel terpaku dan membisu. Matanya menatap Stephanie yang terpejam. Begitu cantik dan sangat...rapuh. "Tidurlah Steph...kita bicara nanti." Daniel berbisik tak kalah lirih. Daniel membaringkan tubuhnya di samping Stephanie yang langsung memeluknya. Daniel menahan napas. Pasti ada alasan khusus bagi Zach hingga meminta dia menjadi pengawal adiknya. Daniel bertekad akan mencari tahu. Dan memastikan sesuatu yang berhubungan dengan hatinya sendiri.... ----------------------------------   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN