PART 2

2227 Kata
Daniel menatap Stephanie yang meringkuk bagai janin dalam pelukannya. Daniel bahkan tak berani menggerakkan badannya. Tangan kanan Daniel terasa kebas menahan kepala Stephanie. Berulang kali Daniel terjaga saat mendengar lirih tangisan Stephanie dalam tidurnya. Daniel secara reflek mengusap bahu Stephanie dan Stephanie menjadi lebih tenang seketika itu juga. Daniel menghela napas. Mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang masih tertutup tirai. Perlahan Daniel menarik tangannya. Membiarkan Stephanie tetap tertidur pulas dengan alas sebuah bantal yang...berbeda jauh dengan bantal yang ada di apartemen nya. Daniel tersenyum kecut. Kalaupun dia tidak sedang menderita sakit telinga dia akan tetap sulit mempercayai pendengaran nya. Stephanie bilang dia mencintainya? Demi nenek nya yang sudah renta dan tinggal di Alabama bersama adik perempuannya...Daniel merasa dia perlu ke dokter THT secepatnya. Stephanie pasti sedang mabuk atau ada yang salah dengan makanan yang masuk ke perutnya, sehingga bicara nya terdengar ngawur. Tidak mungkin bukan seorang Tuan Puteri yang berasal dari kalangan atas, kaum jet set, sosialita, foto model dunia seperti Stephanie mencintai Daniel? Daniel yang hanya seseorang dari kelas pekerja, yang mengais dollar demi dollar dari perusahaan milik dinasti Leandro, keluarga Stephanie? Daniel yang hanya dari kalangan jelata? Daniel mendekati jendela berkaca besar yang di hiasi mozaik dua pasang angsa yang cantik berwarna keemasan. Menyibak tirai, dan mengikatnya di kedua sisi. Daniel menghela napas, berapa banyak homeless yang akan kenyang dengan nominal harga jendela dan tirai rumah ini? Daniel tersenyum miris. Daniel menuju kamar mandi dan lagi-lagi tercengang dengan isi dan interior kamar mandi Stephanie. Daniel mencoba mengabaikan semua. Yang terpikir hanyalah, orang kaya raya memang selalu bisa melakukan apa saja. Bahkan hanya untuk sebuah kamar mandi yang besarnya sepuluh kali lipat lebih kamar mandi apartemen nya. Daniel memutuskan untuk mandi. Tak berlama-lama di bawah guyuran shower di kamar mandi yang bukan miliknya. Untung Daniel membawa baju ganti yang di bawa di dalam mobilnya. Seorang maid mengambilkan baju gantinya tadi malam. Daniel keluar dari kamar mandi dan mendapati Stephanie yang sudah terduduk di ranjang nya. Menunduk dan menautkan tangannya gelisah. Kemana sikap percaya diri yang sering di perlihatkan Stephanie selama di catwalk dan selama pemotretan? Tak kan ada yang meragukan jam terbang Stephanie sebagai model kelas dunia. Tapi ini? Apa ini? Stephanie terlihat begitu rapuh. Dengan rambut berantakan, kenapa Stephanie justru terlihat seksi dan begitu tak berdaya? Daniel melangkah menghampiri Stephanie. Duduk di samping gadis itu. Berdeham pelan yang mampu membuat Stephanie bagai tersentak. "Apa kau baik-baik saja?" Stephanie reflek menoleh. "Humm..iya...baik...maksudku...tidak! Aku...tidak baik-baik saja." Stephanie menjawab gugup. "Apa kau sakit Steph?" Daniel bertanya lagi. "Tidak...aku sehat." Stephanie melirik Daniel sekilas. "Baiklah...karena aku harus pergi bekerja sekarang." Stephanie mengangguk. Lalu menggeleng berulangkali. Daniel menghela napasnya pelan. Bingung dengan sikap Stephanie yang terlihat sama bingungnya dengan dirinya. "Aku...aku...bicara apa semalam padamu?" Stephanie bertanya sangat lirih. "Tidak ada." Daniel menggeleng. Hatinya berdesir sakit saat tahu betapa Stephanie ternyata tak mengingat dia bicara apa kemarin dan semalam. "Aku harus pergi, Steph. Baik-baiklah." Daniel mengghela napas sambil beranjak dari ranjang. Gerakan tubuh Daniel berhenti saat sebuah tangan mungil memegang tangannya. Tangan Stephanie. Meraih tangan besar Daniel dan membawanya ke pipinya. Daniel duduk kembali. Membiarkan Stephanie memeluk tangannya. Rasanya seperti berada di tempat yang sepi. Padang rumput nan luas dengan jingga senja menghampar di langit luas. Begitu tenang. "Aku...mencintaimu, Daniel...dan aku tidak gila." Kembali Stephanie berujar lirih. Sekali lagi Daniel mengingat list kegiatannya, dan mengunjungi dokter THT ada di paling atas daftar itu. "I love you..." Stephanie berkata lirih. Rona merah segera menjalar ke pipinya yang sedikit pucat. "Stephanie... kau mungkin terlalu lelah. Istirahatlah." "Aku lelah...lelah memikirkanmu hingga tidak bisa tidur. Takut...banyak sekali perempuan cantik di perusahaan yang pasti tergila-gila padamu." Stephanie mengatakan sesuatu yang konyol dengan suara lirih. Daniel terkekeh. "Tidak ada yang begitu padaku Steph. Aku hanya pria miskin dari sebuah desa yang mencoba keberuntungan di kota." Daniel berujar sambil tetap terkekeh. "Aku...aku begitu padamu Daniel, tergila-gila." "Steph...listen to me." Daniel menatap Stephanie lembut sambil mengusap punggung tangannya. "Perasaanmu itu mungkin hanya sesaat. Akan cepat hilang ketika kau bertemu yang lebih segalanya dariku." Stephanie terlihat menggeleng. "Aku tidak pernah seyakin ini pada perasaan ku." Suara Stephanie terdengar tak lebih dari sekedar bisikan lirih. Nyaris pada dirinya sendiri. "Gajiku sebulan bahkan tak kan bisa membeli parfummu Steph." "Aku punya segalanya. Kalau itu masalahnya...Aku yang akan bekerja untuk kita, Daniel..." Stephanie mendongak. Daniel tergelak. Menertawakan kekonyolan dan betapa keras kepalanya Stephanie. "Hidup bukan seperti itu Stephanie. Hidup harus sesuai dengan kodratnya." Daniel menghela napas...lagi dan lagi. "Sekarang.... aku harus benar-benar bekerja. Aku harus mencari uang untuk membayar sewa apartemen, untuk adikku dan Grandma. Banyak yang harus aku pikirkan Steph...mengertilah." Daniel sambil berusaha memberi penjelasan sambil melepaskan tautan tangan Stephanie pada lengannya. Daniel melihat, betapa tangan Stephanie terkulai dan mulai bertaut gelisah lagi. Stephanie mengangguk dan tetap menunduk hingga Daniel menghilang di balik pintu. Daniel melangkah keluar dari rumah mewah keluarga Leandro itu. Mencoba meninggalkan segala omong kosong yang baru saja terjadi antara dia dan Stephanie. Hanya dalam dongenglah seorang puteri raja bisa bersama dengan rakyat jelata. Tidak untuk di dunia nyata. Dunia nyata, satu titik kecil bagian dari luasnya dunia bernama New York. Bagian dunia paling kejam bagi mereka yang lemah. Mereka yang hanya mampu mengkhayal tanpa kerja keras akan tersingkir dan menepi. Daniel mengendarai mobilnya pelan. Menghela napas lega ketika sudah keluar dari kawasan elit tersebut. Semua akan berlalu dengan mudah. Sang puteri akan dengan mudah menemukan pangeran nya. Toh nyatanya Stephanie hidup dalam lingkungan penuh dengan pria-pria berkelas yang lebih pantas di banding dirinya. Baru saja Daniel akan memasuki sebuah kedai kopi untuk mendapatkan sarapan paginya ketika ponsel nya berbunyi. Zachary! Daniel mengangkat telepon Zach sambil menepikan mobilnya di sisi jalan. "Berputar dan kembalilah ke rumah, Daniel Jefferson! Kau pikir apa yang kau lakukan pada Stephanie! s**t!" Zach terdengar kalap. Daniel tersentak. Apa yang dia lakukan pada Stephanie? Apa yang terjadi dengan gadis itu? Lalu...kenapa hatinya berdesir begitu perih mendengar sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada Stephanie. Daniel melajukan mobilnya dengan kencang. Pikiran buruk berseliweran di otak jeniusnya. Kemungkinan Zach akan menghakiminya sebagai terdakwa atas apa yang terjadi pada Stephanie seakan berada di pelupuk mata. Bayangan Zach mengetukkan palu, memberikan hukuman death penalty terbayang jelas di benaknya. Daniel meringis seakan benar-benar mengalaminya sekarang. Menjadi terdakwa dengan tuduhan yang lebih berat dari penjahat perang sekalipun. Oooh...ingatkan Daniel untuk menyelesaikan bacaannya tentang penjahat perang dunia bernama Pol Pot yang bukunya sudah hampir dua minggu terbengkalai di atas nakas di samping tempat tidurnya. Daniel berbelok memasuki halaman yang sudah dibukakan pagar nya oleh penjaga pos keamanan. Daniel mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling halaman. Sudah bertambah setidaknya empat mobil lagi di halaman itu. Semuanya mewah dan berkelas. Bergegas Daniel memarkirkan mobilnya, keluar dan melangkah mengikuti seorang maid yang sudah menunggu di teras rumah. Bergegas Daniel menuju kamar Stephanie. Begitu membuka pintu yang didapati Daniel adalah seorang perempuan setengah baya yang luar biasa cantik, terkesan lembut, dan tersenyum padanya. Di samping perempuan yang mempunyai kemiripan dengan Stephanie itu berdiri seorang laki-laki setengah baya yang masih tampak tampan dan gagah. Juga tersenyum pada Daniel. Lalu pandangan mata Daniel bertemu dengan seorang pemuda yang mungkin lebih muda lima atau enam tahun dari Stephanie. Berwajah tampan dan mirip dengan Zach. Tersenyum miring dan menyelidik pada Daniel. Rasa canggung hilang saat wanita cantik tadi menghampirinya. "Kau Mr Jefferson?" Wanita itu bertanya lembut. Suaranya benar-benar penuh keramahan yang menenangkan. "Yes, Maam...Daniel please." Daniel sedikit gugup. "Aku Cherry...Mommynya gadis bandel itu." Wanita itu berujar lagi dengan sedikit tawa keluar dari mulutnya. Daniel mengangguk. Sedikit tersenyum simpul setelah mendengar betapa ibu Stephanie ini memanggil putrinya dengan sebutan gadis bandel. "Baiklah...tidak apa-apa. Steph akan baik-baik saja dan menyadari betapa konyolnya dia..." Laki-laki yang sedari tadi sibuk memeriksa Stephanie terdengar berbicara setelah menghela napas sedikit...kesal? Daniel mendongak. Mendapati laki-laki yang berwajah sangat mirip dengan Zach, sedang memasukkan peralatan kedokterannya dalam sebuah tas. "Aaah...Daniel Jefferson. Tenanglah...aku Alex...bukan Zachary. Setidaknya tenanglah...aku tidak akan menghajarmu seperti yang akan dilakukan Zach bila melihat kondisi Stephanie sekarang." Laki-laki bernama Alex itu berujar sambil tertawa. Daniel menelan salivanya dengan susah payah. "Alex...hentikan. Pergilah sarapan dengan Daddy dan adikmu. Mommy perlu bicara dengan Daniel." Ketiga laki-laki itu bergerak cepat. Keluar dari kamar Stephanie. Meninggalkan Daniel yang termangu memandang Stephanie yang terbaring lemah di ranjangnya. "Mari kita duduk, Daniel." Cherry berdeham pelan sambil menunjuk sofa panjang yang ada di sisi ruangan. Daniel mengikuti dengan patuh dan duduk di ujung sofa dengan canggung. "Terlalu berlebihan kalau Aunty memintamu untuk menerima Stephanie. Dia gadis yang lemah, sangat rapuh tapi mendominasi. Tentu bukan gadis seperti dia yang menjadi idamanmu bukan?" Cherry mengajukan pertanyaan di luar dugaan Dagian "Bukan begitu, Maam..." Daniel menggeleng dan sedikit terbata. "Panggil aku Aunty...atau Mommy?" Cherry tersenyum. Mengingatkan Daniel pada senyum sang Mom yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. "Bukan begitu maksud saya Aunty...hanya saja saya..." Ucapan Daniel terpotong suara lembut nyonya Leandro yang terkenal baik hati itu. "Berpikir bahwa kau bukan siapa-siapa, tidak pantas untuk puteri Aunty? Merasa rendah diri dan sebagainya?" Lagi-lagi pertanyaan Cherry di luar dugaan Daniel. Daniel mengangguk. "Kami keluarga yang berbeda Nak...jauh dari apa yang kau bayangkan. Oooh...seandainya kau tahu, Aunty dulunya bagaimana? Darimana? Seperti apa jalan hidup Aunty bertahun-tahun lalu? Maka kau akan mengerti keluarga Leandro begitu lain dengan yang lainnya." Cherry berujar disertai kekehan lembut yang menenangkan hati Daniel. Cerita mengalir pelan bagai alur sebuah naskah drama kolosal dari bibir wanita yang begitu cantik di depan Daniel. Darinyalah Stephanie mendapatkan garis kelembutan di wajahnya. Cerita hidup yang mampu mendobrak hati Daniel. Hidupnya... bukan apa-apa dibanding dengan lara hidup Cherry Leandro. Dan dia sangat malu. Mengingat dia adalah seorang laki-laki. Daniel menatap Stephanie. Perih mengalun bagai sayatan pisau di kulitnya saat Stephanie terlelap dalam gelisah seperti sekarang. Dan kalau boleh dengan percaya diri Daniel berkata...semua karenanya. Daniel Jefferson, yang bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. "Melihat Stephanie jatuh cinta...adalah mukjizat yang begitu kami tunggu Daniel. Tapi...kami juga tidak akan memaksamu menerimanya bila memang itu bukan maumu. Hanya saja...kami akan lebih lagi mengawasi Stephanie setelah ini." Kata-kata Cherry terdengar penuh arti. Daniel menoleh dan mendapati ibu dari Stephanie tersenyum dan berdiri. "Setidaknya, bicaralah dengannya lagi Daniel. Aunty mohon." Wanita yang membuka hati Daniel itu terdengar memohon. Daniel mengangguk. Dipandangnya ibu Stephanie hingga menghilang di balik pintu kamar. Daniel melangkah ke arah Stephanie. Wangi stroberi menguar kuat dari rambut Stephanie yang agak basah. Mommynya juga mengatakan hal yang membuat Daniel tak habis pikir. Stephanie, terbaring dalam bathtub penuh dengan air dan kehilangan kesadarannya saat seorang maid menemukan dia. Daniel merangsek naik ke atas ranjang. "Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan Steph? Kau membuatku sangat khawatir." Daniel berbisik sambil merebahkan diri dan memeluk Stephanie agar semakin hangat. Daniel mengelus tangan Stephanie dan merasakan betapa dingin kulit Stephanie. Stephanie bergerak nyaman. Membalik tubuhnya ke arah Daniel dan mengalungkan tangannya ke leher Daniel. Daniel menatap wajah sayu di hadapannya. Bibir pucat milik Stephanie nyatanya masih begitu seksi di matanya. Garis wajah yang sempurna. Lengkung alis yang luar biasa cantik. Hidung kecil yang menggemaskan. Dan saat mata itu mengerjap, maka akan porak poranda dunia Daniel. Daniel mengusap alis mata Stephanie. Merasai kulit halus sehalus kulit bayi. Tangan Daniel turun mengusap bibir pucat itu. Menekan sudut bibir Stephanie dengan gemas. "Apakah kau tidak ingin menciumku, Daniel?" Stephanie berbisik lemah. "Sejak kapan kau terjaga gadis nakal?" Daniel sedikit menjauhkan wajahnya. "Sejak kau memelukku dan aku membaui aromamu." Stephanie berujar lirih tanpa membuka mata. "Buka matamu." Stephanie menggeleng. "Aku tidak mau, kau akan menghilang saat aku membuka mata." Stephanie terus menggeleng gelisah. Daniel tertawa. Ditatapnya wajah dengan mata tertutup di hadapannya. Cantik, dan sangat rapuh. Membuat naluri melindungi yang ada di jiwa Daniel menggelegak. Menerobos hatinya. Memberinya rasa ingin melindungi Stephanie lebih dari apapun. "Aku akan tetap ada di sini ketika kau membuka mata nanti." Daniel berbisik sambil mencium puncak kepala Stephanie. Berharap pada hatinya sendiri semoga semua ini benar. Stephanie mendongak. Membuka matanya pelan. Mengerjap. Membuat Daniel terkesima. Mata cantik itu tampak memerah dan lelah. Namun tetap cantik dan menggemaskan. Stephanie mengusap rahang Daniel. Tergelitik geli dengan rambut halus di sekitarnya. Ibu jari Stephanie berhenti di sudut bibir Daniel, membuat Daniel bergumam pelan. Daniel menatap manik mata coklat itu dalam. Menemukan cinta yang terpercik bagaikan bunga api yang berpendar indah. Runtuhlah sudah. Persetan dengan segala ketakutan, dengan segala status sosial. Daniel menginginkan Stephanie. Sama seperti Stephanie yang menginginkannya dengan membabi buta.Daniel memagut bibir pucat Stephanie dengan tak sabaran. Memberikan ciuman penuh gairah dan cinta yang entah datang darimana.Bibir mungil itu bergetar hebat. Sudut mata Stephanie mengalir bening yang membuat Daniel terkesiap. "Are you okay?" Daniel bertanya sambil menempelkan keningnya di kening Stephanie. Stephanie mengangguk. "Aku takut." Stephanie berbisik lirih. "Takut? Padaku?" Stephanie mengangguk. "Aku takut kau meninggalkan aku." Stephanie berbisik lagi. Daniel menggeleng. Menatap dalam mata Stephanie, meyakinkan bahwa itu tak akan terjadi. "Aku masih takut. Takut kau hanya menginginkan tubuhku lalu pergi sesudahnya." Ucapan Stephanie sarat tuduhan dan ketakutan. Daniel menggeleng lagi. Stephanie menyurukkan wajahnya ke leher Daniel. Alunan, rangkaian kata tentang masa lalu yang menyakitkan terlontar dalam kata-kata yang terbata. Bagaimana dulu Stephanie remaja nyaris di perkosa oleh guru pribadinya. Bagaimana dulu Stephanie remaja begitu ketakutan dan mempunyai trauma yang berkepanjangan. Membenci pria dalam diamnya. Daniel mengangkat dagu Stephanie... "Dimana dia...si k*****t itu menyentuhmu?" Daniel menggeram. Stephanie menatap Daniel lekat lalu menarik tangan Daniel ke bibirnya. Daniel memagut bibir Stephanie dalam. Ciumannya mengikuti tangan Stephanie yang memegang lehernya. Ciuman basah disematkan Daniel di leher Stephanie, membuat gadis itu mendesah hebat. Tangan mungil Stephanie memegang tangan besar Daniel dan mengarahkannya ke...payudara Stephanie, membuat Daniel begitu murka. Dengan tak sabaran Daniel menyusur p******a Stephanie. Berusaha menghilangkan jejak guru k*****t itu dari tubuh Stephanie. "Aaah...Daniel...." Desahan Stephanie tak terbendung lagi. "Aku akan menghilangkan jejaknya. Kita akan menguburkannya dalam-dalam. Kau percaya padaku?" Stephanie mengangguk di sela gairahnya. "Good girl." Daniel berujar sambil mencium Stephanie lembut. Merengkuh Stephanie dalam pelukannya. "Jangan pergi dariku Daniel." Stephanie memohon lirih. "Istirahatlah. Aku akan tetap disini saat kau bangun nanti. Aku berjanji." "Baiklah." "Kau ingin tahu sesuatu sebelum kau tidur?" "Bahwa kau juga jatuh cinta padaku? Aku sudah tahu itu." Stephanie terkekeh sangat pelan. "Aaaah...gadis nakal." Daniel tergelak. Dieratkannya pelukannya pada tubuh dan hati yang rapuh milik Stephanie. Mata Daniel menatap jendela kaca dengan mozaik angsa keemasan yang membuatnya terkagum akan keindahannya. Anne...aku bahagia...kau senang di sana? --------------------------------   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN