Part 01
Will You Marry Me ?
Di Sebuah ruang sidang wanita itu menangis haru kala mendapati pernikahannya yang baru seumur jagung harus berakhir. Putusan hakim mengesahkan perceraian mereka. Menyandang status janda di usia 26 tahun tidaklah mudah. Wanita itu masih menangis, bahkan setelah sidang dibubarkan. Kedua orang tuanya memeluknya erat, masalah yang menimpa biduk rumah tangganya adalah salah satu faktor perceraian harus terjadi.
“Udah nangisnya Ra, mama yakin kamu pasti kuat.”
“Kamu harus kuat Ra, dia bukan laki-laki yang pantas kamu tangisi.”
Begitulah pesan kedua orang tuanya. Pasalnya selama menikah kedua orangnya tau kalau Hera selalu mengalami KDRT, dan juga tak jarang Hera mendapati suaminya itu selingkuh. Karena beban yang terlalu berat Hera akhirnya menggugat cerai sang suami, Hera sendiri berat melakukannya, meskipun sudah lama dia memendam kekesalan yang akhirnya pecah juga.
* * * * * *
2 tahun berlalu, Hera tidak bisa begitu saja melupakan sakitnya sebuah pengkhianatan. Wanita yang tadinya ceria dan penuh senyum itu, menjadi wanita dingin, Hera lebih fokus bekerja dibandingkan dengan bersosialisasi. Hera kini menjabat sebagai direktur perusahaan sang ayah. Dia menjadi sosok yang kurang disukai para bawahan, karena sifat dingin serta cueknya itulah. Meski begitu Hera tetaplah sosok yang profesional, dan perfeksionis.
“Gen, gue dipanggil Bu Hera nih aduh.” Keluh salah satu karyawannya, Hani.
“Hahah selamat menikmati hari senin di ruangan Bu Hera.” Balas Genta.
“Sialan lu mah. Awas lu ya, gue aduin sama Bu Hera lu.” Balas Hani tak mau kalah.
“Ye, emang gue salah apa coba.”
“Emang gue nggak tau kalo laporan lu buat meeting nanti sore belum selesai. Wee.”
Hani pun meninggalkan Genta yang sekarang beku ditempat, lelaki itu sungguh lupa dengan meeting yang akan diadakan nanti sore. Tak berselang lama, Hani sampai di depan ruangan sang bos, dia mengetuk pintu lalu masuk.
“Silahkan duduk Hani.”
“Ba-baik Bu.”
Hening, baik Hani maupun Hera sama-sama belum bersuara. Hera masih sibuk mengecek beberapa laporan dan data survei kepuasan pelanggan. Sementara Hani hanya harap-harap cemas sambil sesekali memainkan jemarinya.
“Hani, saya minta tolong hari ini kamu handle meeting nanti sore. Terus jangan lupa laporan bulan kemarin dari Genta tolong di email aja ke saya yah. Saya ada urusan sama Papa.” Begitu katanya.
“E-eh siap Bu. Akan saya handle, Ibu bisa mengandalkan saya.” Jawab Hani tegas.
Hani bukanlah karyawan yang tidak bisa diandalkan. Malah Hera sangat terbantu dengan kecepatan dan ketepatan pekerjaan milik Hani. Wanita itu sangat bisa diandalkan.
“Bagus, saya tahu kalo kamu itu bisa saya andalkan. Saya harus pergi sekarang, bahan meeting nya sudah saya email ke kamu, nanti kamu cek aja dulu. Saya masih bisa kamu hubungi sampai mungkin jam 2 siang.”
Hera segera bersiap, titah sang Papa menyuruhnya pulang ke Bandung. Bukan untuk menghandle perusahaan yang ada disana, tetapi ada masalah lain yang katanya penting. Sebelum benar-benar berkendara menuju Bandung, Hera menyempatkan mampir ke rumahnya untuk mengemas pakaian, berjaga-jaga jika sang Papa melarangnya kembali ke Jakarta dengan cepat.
Setelah semua persiapannya selesai, Hera sudah siap menuju Bandung. Sejak anak perusahaan berdiri sang Papa lebih sibuk berada disana, Hera lah yang diberi mandat untuk memimpin di Jakarta. Pikirannya masih berkecamuk, kesedihan masih menjalar di tiap relung hatinya, Hera memilih untuk lari dan menyibukkan dirinya, sebagai bentuk penebusan dari amarah dan kekesalannya.
Setelah berjuang menempuh Jakarta - Bandung, Hera sampai dengan selamat di rumah besar milik sang Papa. Bukan hanya dia yang datang, ada sang Kakak Luna dan sang adik Satria.
“Assalamualaikum..”
“Anak Mama sampe juga, gimana perjalanannya sayang ? kalo capek langsung istirahat aja ya.”
“Alhamdulillah Mama, kamar aku dimana ngomong-ngomong ?”
“Kamar kamu di lantai 2, nanti ruangan ke 3 yah. Di Samping kamar adik kamu.”
Setelahnya Hera bergegas menuju kamar, jujur saja dia cukup lelah dan ingin segera mengakrabkan diri dengan kasur. Bukannya tidur dia malah fokus dengan laptopnya, lalu mengecek email dan kabar dari Hani.
Karena malah jadi fokus ke pekerjaan, Hera tidak jadi istirahat hingga sore datang.
“Kakak, dipanggil Mama sama Papa ke ruang makan.”
“Oh oke, bentar Kakak selesain draft dulu yah.”
Bergegas Hera turun menuju ruang makan, disana sudah ada Luna, Satria beserta kedua orang tuanya. Mereka terlihat serius, Luna yang biasanya jahil pun tidak banyak bicara. Hera pikir ini akan jadi masalah yang serius. Hera kemudian mengambil tempat duduk disamping Luna.
“Hera sayang, dengerin permintaan Papa sama Mama ya Nak.”
Hera mulai serius mendengarkan.
“Papa mau jodohin kamu Sayang.”
Dan Hera hanya mematung saat papanya berucap demikian.
“Pa, nggak harus nikah juga dong! Pokoknya aku nggak mau.”
“Ini sudah keputusan Papa, waktu itu kamu menentang keputusan Papa dan kamu sampai depresi seperti sekarang.”
“Iya aku paham, aku salah waktu itu, tapi nggak harus asal kayak gini kan Pa.”
“Papa nggak asal memilih calon suamimu, Papa sudah kenal lama dengan dia, dan Papa sudah yakin kalau dia adalah lelaki yang baik dan cocok untukmu.”
“Tapi Pa…”
“Hera dengerin Mama, Mama dan juga Papa serius dan nggak asal pilih gitu aja. Mama dan Papa yakin jika dia bisa merubah kesedihan kamu Sayang. Untuk kali ini aja Mama mohon turutin permintaan Mama ya Sayang.”
Hera menghela nafas kasar, kalau sudah begini dia hanya harus mengalah. Setelah 2 tahun dia harus menerima perjodohan dan menikah lagi, situasi terburuk baginya. Dia juga belum tahu siapa calon suaminya, tapi setelah ini mereka akan makan malam bersama.
Setelah bergulat dengan rasa frustasinya, Hera sudah bersiap. Dia sudah juga sudah menyelesaikan riasannya, dia tampil sederhana namun tak mengurangi kecantikannya sedikitpun. Dengan menggunakan 2 mobil semua berangkat ke tempat tujuan.
Mobil melaju pelan ke pinggiran kota Bandung. Terlihat perumahan sederhana disana, Hera masih gelisah, dia jelas saja tidak mau dan tidak setuju dengan rencana pernikahan ini, tidak sedikitpun. Terbesit untuk dekat dengan lelaki saja dia enggan, setidaknya untuk saat ini dia hanya ingin sendirian.
Keluarga mereka sudah sampai disalah satu rumah yang sangat sederhana dengan halaman depan yang lumayan luas, seseorang keluar menyambut sang Papa.
“Pak Imran terima kasih sudah mau datang, saya jadi nggak enak. Maaf rumahnya begini adanya Pak.” Kata orang itu ramah.
"Tidak apa-apa Pak Zakaria, saya justru yang terima kasih."
Hera PoV.
Ragu kakiku melangkah, tapi demi memenuhi harapan Mama dan Papa aku tetap melanjutkan. Kulihat di dalam rumah ada seorang lelaki, yang kuyakini dia seumuran dengan adikku Satria. Oh pasti dia adik dari calon suamiku itu, lalu Pak Zakaria mempersilahkan kita semua untuk duduk, tidak ada meja makan ataupun kursi, kami duduk lesehan beralaskan karpet. Dari percakapan yang terdengar aku mengambil kesimpulan kalau Papa adalah salah satu investor di usaha makanan Pak Zakaria. Tapi hatiku terus bertanya apakah benar Papa akan menikahkanku dengan anaknya Pak Zakaria.
“Lo, lo Zafran kan ? Zafran lo anaknya Pak Zakaria ternyata yah ?” Satria sepertinya mengenali lelaki itu.
“Satria, sampe lupa gue. Beda yah kalau tinggal di luar negeri mah. Nggak kok Mang Zack itu Paman gue.” Balasnya.
“Oh gitu, eh lo kuliah apa lanjut kerja ?”
“Gue bantu usaha Mang Zack aja nih. Belum kepikiran mau kuliah.”
Lelaki itu cukup dekat sepertinya dengan Satria, karena jika tidak terlalu dekat Satria tidak akan banyak mengobrol dengan orang, begitulah dia. Pak Zakaria sendiri yang menyajikan semua makanan disini, kulihat lelaki bernama Zafran itu juga ikut membantu, Pak Zakaria bilang kalau semua makanan ini adalah menu masakan di restorannya.
Kami menyantap hidangan yang tersaji dengan lahap. Kuakui masakan beliau sangat lezat, tapi ada satu hal yang menarik perhatianku, lelaki itu ternyata ikut memasak beberapa menu, dan itu sangat enak. Aku hampir lupa jika Papa dan Mama bilang kalau aku akan dijodohkan, tapi aku tidak melihat lelaki lain selain Pak Zakaria dan Zafran, raut wajahku berubah muram, mungkinkah Papa akan menjodohkan aku dengan Pak Zakaria, aku langsung menggelengkan kepalaku.
“Jadi Pak Zack, bisa langsung kita mulai obrolannya.” Ayahku tiba-tiba memanggilnya dengan sapaan akrab beliau.
“Pak Imran, atuh gimana yah saya bingung Pak. Bapak tahu kalau saya teh orang nggak punya, itu juga keponakan saya yatim piatu dari kecil, dengan segala hormat Pak, saya masih nggak percaya.” Jelas beliau.
Aku sempat terperangah, kalau dia bilang keponakan berarti lelaki yang dijodohkan denganku adalah Zafran, lelaki yang bahkan teman SMA adikku sendiri. Hatiku berteriak, ini merupakan kemungkinan terburuk, tidak pernah terpikir olehku kalau aku akan dijodohkan dengan brondong sepertinya. Ngomong-ngomong soal Zafran, dia sama sekali tidak melirik ke arahku sedikitpun, pandangannya selalu tertunduk, apakah dia malu.
“Pak Zack, saya serius. Walaupun saya tahu usianya lebih muda dari anak saya Hera, tapi Zafran adalah sosok yang bertanggung jawab, saya percaya dan yakin kalau dia adalah calon imam yang bertanggung untuk anak saya.”
Kata-kata Papa barusan membuatku semakin merasa kecil, apakah aku begitu buruk dimata Papa. Lagipula lihat dia, aku tidak yakin kalau dia adalah lelaki yang cocok untukku.
“Pak Imran baik kalau begitu keputusan Bapak. Sekarang Zafran, kamu teh sanggup tidak menikah dengan putri Pak Imran ? Sanggup tidak mengemban tanggung jawab sebagai imam rumah tanggamu ? Silahkan kamu jawab sendiri.”
Kulihat lelaki itu menatap Papa, sinar di matanya menunjukkan keyakinan yang kuat. Tidak ada keraguan disana,
“Insya Allah saya sanggup Pak. Tapi alangkah lebih baik lagi kalau Teh Hera memutuskan apakah dia mau menerima perjodohan ini Pak.”
“Hera Sayang, bagaimana ?”
Aku masih terdiam tak bereaksi, aku terlalu kaget. Kak Luna aku butuh bantuanmu Kak, nihil Kak Luna diam, mungkin dia masih marah karena apa yang terjadi pada rumah tanggaku, tentang penderitaanku, aku menutup rapat-rapat bahkan dari dirinya.
“Papa Mama, aku aku belum siap untuk menikah. Apakah Papa dan Mama bisa memberiku waktu 3 bulan iya 3 bulan saja.”
“Papa kasih kamu waktu 1 bulan, setelah itu kalian harus menikah.”
“Hmm, baiklah. Aku setuju untuk menikah. Aku akan berusaha, aku akan memenuhi permintaan Papa dan Mama.”
Aku hanya ingin mengulur waktu, tapi nyatanya Papa sudah senekat ini. Aku tidak akan banyak berharap, jawabanku mungkin akan aku sesali di kemudian hari, tapi untuk kali ini aku lebih memilih untuk menurut.
“Alhamdulillah.” Ucap Pak Zakaria, Papa, Mama dan Zafran.
~To Be Continued~