bc

PAK KADES RASA OPPA

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
drama
sweet
office/work place
secrets
like
intro-logo
Uraian

“Gue cuma mau magang… bukan jatuh cinta sama Pak Kades yang mukanya kayak aktor Korea!”Nara benar-benar tidak siap.Hari pertama magang di kantor kelurahan seharusnya biasa saja—sampai dia melihat atasannya.Pak Kades.Tegas. Dingin. Karismatik.Dan parahnya… gantengnya nggak masuk akal buat ukuran desa.Sejak saat itu, hidup Nara berubah jadi penuh drama:✔ Salah ngomong tiap diajak ngobrol✔ Deg-degan cuma gara-gara dipanggil namanya✔ Dan pura-pura sibuk padahal lagi curi-curi pandangMasalahnya?Dia cuma anak magang.Dan dia… Pak Kades.Batas profesional jelas ada.Tapi hati Nara? Kayaknya lagi cuti.Ditambah lagi teman kantor yang hobi ngegosip,situasi canggung yang nggak ada habisnya,dan Pak Kades yang kadang perhatian… kadang bikin overthinking…Nara mulai sadar satu hal:Magang ini mungkin bakal selesai…tapi perasaannya? Belum tentu.

chap-preview
Pratinjau gratis
Hari Pertama yang Tidak Profesional
“Gue cuma mau magang… bukan jatuh cinta sama Pak Kades yang mukanya kayak aktor Korea!” Kalimat itu terus berputar di kepala Nara sejak lima menit terakhir. Dan penyebabnya sekarang berdiri tepat di depan matanya. Tegak. Rapi. Serius. Dan—astaga. Ganteng banget. Nara menatap pria di depannya dengan ekspresi yang nyaris tidak profesional. Bukan nyaris lagi sih… ini sudah masuk kategori darurat. Arsenio Wibowo Nama yang benar-benar meracuni Nara saat ini layaknya racun Arsenik. Nara datang ke kantor kelurahan untuk magang. Untuk belajar. Untuk terlihat pintar. Bukan untuk… kehilangan fokus dalam lima detik pertama. “Nama?” Suara bariton itu langsung menyadarkannya. Nara tersentak. “Na—Nara, Pak!” Bagus. Gugup banget. Mantap. Pak Kades menatapnya sekilas. Tatapannya tajam, tapi tidak menyeramkan. Justru terlalu… dalam. Yang bikin Nara ingin kabur. “Atau mau ganti nama dulu biar lebih siap?” tanyanya datar. Nara membeku setengah detik sebelum buru buru menggeleng. “Ngga, Pak. Sudah siap, Pak!” Arsen mempersilakan Nara memperkenalkan diri. Nara berdehem. “Kaynara Humaira. Atau biasa dipanggil ‘sayang’ eh...” Nara menepuk mulutnya yang lancang. “Nara maksudnya Pak. Panggil aja Nara,” ucapnya menahan malu. Andai dirinya bisa merubah diri menjadi cacing, mungkin saat ini juga ia akan menyembunyikan diri dibawah tanah saking malunya. Entah bagaimana rupa wajahnya saat ini. Yang jelas rona kemerahan diwajahnya semakin nampak. Pak Kades mengangguk pelan, ia membuka map ditangannya. “Kamu Mahasiswa magang dari Universitas Negeri?” “Iya, Pak.” “Jurusan Administrasi Publik?” “Iya, Pak.” “Berarti sudah terbiasa dengan data dan arsip.” “Iya, Pak”, jawab Nara cepat. Lalu menambahkan dalam hati: harusnya, Pak. “Baik,” lanjut Pak Kades. “Selama satu bulan kedepan, kamu akan membantu Administrasi kantor dan kegiatan lapangan.” Nada bicaranya kembali serius. Profesional. Berwibawa. Dan sialnya—makin menarik. “Siap, Pak!” jawab Nara terlalu semangat. Pak Kades mengangkat alisnya sedikit. Nara langsung menyesal. Kenapa suaranya tadi kayak peserta lomba upacara?!. “Jangan terlalu tegang,” katanya. “Ini bukan sidang skripsi.” Mati aja sekalian 😖😖 ..... Hari pertama. Lima menit pertama. Sudah ketahuan gugup. “Maaf, Pak,” gumam Nara pelan. “Ruang kerja kamu di sebelah sana. Nanti Bu Rini yang membimbing.” “Iya, Pak. Terima kasih, Pak.” Dan tanpa berani menatap lagi, Nara langsung berbalik dan berjalan cepat menuju ruangan yang ditunjuk. Begitu pintu tertutup— “AAAAAAAAA!” Dia menutup mulutnya sendiri, menahan suara. “Kenapa Pak Kadesnya ganteng banget sih?!” “Shhh! Pelan-pelan.” Nara langsung menoleh. Seorang ibu berhijab duduk di meja sebelah, menatapnya dengan senyum tertahan. “Eh—maaf, Bu!” “Anak magang baru, ya?” tanyanya ramah. Nara mengangguk cepat. “Iya, Bu. Nara.” “Saya Rini. Yang bakal jadi ‘korban’ kamu selama sebulan ke depan.” Nara tertawa kecil. “Mohon bantuannya, Bu.” “Pasti. Tapi satu saran dulu,” kata Bu Rini, mendekat sedikit. “Iya, Bu?” “Kalau lihat Pak Kades, jangan terlalu lama bengong.” KETAHUAN 😵😵 “Kelihatan banget, ya, Bu?” Nara menutup wajahnya. Bu Rini tertawa kecil. “Santai saja. Kamu bukan yang pertama.” “Serius?” “Serius. Di sini dia punya julukan.” Nara langsung mendekat. “Apa, Bu?” Bu Rini menurunkan suara. “Oppa Desa.” Nara membeku. Lalu— “Hah?!” “Shhh!” “Maaf, Bu!” Nara langsung menutup mulutnya sendiri, tapi matanya masih membesar. “Oppa Desa… masuk akal sih,” gumamnya pelan. “Kan?” “Banget.” Keduanya tertawa kecil. “Sudah, sekarang kerja dulu. Ini data arsip warga. Kamu bantu rapikan.” Nara mengangguk, lalu duduk. Dia membuka map pertama. Nama. Alamat. Nomor KTP. Normal. Fokus. Dia harus fokus. Dia datang ke sini untuk belajar. Bukan untuk— “Data tahun lalu itu sudah direkap?” Suara itu. Lagi. Nara refleks mendongak. Dan tentu saja— Pak Kades berdiri di depan pintu. Seolah punya radar khusus untuk muncul di saat paling tidak siap. “Iya, Pak. Sedang dibantu anak magang,” jawab Bu Rini santai. Tatapan Pak Kades beralih ke Nara. Dan— Lagi-lagi. Terlalu lama. “Iya, Pak,” Nara langsung menunduk, pura-pura membaca berkas. Padahal pikirannya sudah kosong. “Kerjakan dengan teliti. Jangan sampai ada kesalahan.” “Iya, Pak.” Langkah kaki menjauh. Pintu kembali sunyi. Dan Nara baru sadar— Dia menahan napas. “Nara…” “Iya, Bu?” Bu Rini tersenyum tipis. “Hati-hati, ya.” “Hati-hati apa, Bu?” “Hati.” … Nara terdiam. “Bu…” “Iya?” “Bapak ini berbahaya ya?” Bu Rini tertawa. “Kamu baru tahu?”. Nara menghela napas panjang. “Iya sih…” Dia menatap map di tangannya lagi. Berusaha fokus. Berusaha profesional. Berusaha mengingat tujuan awalnya. Magang. Belajar. Dapat nilai bagus. Selesai. Bukan— Jatuh cinta. Tapi masalahnya— Setiap kali dia mengingat wajah Pak Kades… Setiap kali suara itu terngiang… Setiap kali tatapan itu terasa terlalu lama— Nara mulai merasa sesuatu yang sangat tidak aman. Dan sangat tidak profesional. Beberapa menit kemudian— Ponselnya bergetar. Nara melirik layar. Nomor baru. Dia membuka pesan itu. 📱 Pak Kades: Nara. Nara membeku. 📱 Nara: Iya, Pak? Beberapa detik. Tidak ada balasan. Lalu— 📱 Pak Kades: Jangan terlalu tegang. Nara menatap layar itu lama. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. 📱 Nara: Baik, Pak 🙏 Dia meletakkan ponselnya pelan. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Bu…” bisiknya. “Iya?” “Ini baru hari pertama, kan?” “Kenapa rasanya kayak saya sudah mau gagal hidup?” Bu Rini tertawa lagi. “Nggak gagal. Cuma… mulai.” “Mulai apa, Bu?” Bu Rini tersenyum penuh arti. “Masalah.” … Nara menatap kosong ke depan. Magang ini baru dimulai. Baru beberapa jam. Dan dia sudah tahu satu hal dengan sangat jelas— Ini tidak akan jadi magang biasa. Dan yang lebih parah— Dia tidak yakin… Dia akan keluar dari sini dengan hati yang utuh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook