Akhirnya hari pertama di kampus tiba, jadwal mahasiswa eksekutif yang di sore hari, bertemu dengan wajah-wajah asing didepan ruang tata usaha. Ada yang terlihat kebapakan, ada yang terlihat muda kekanakan, ada yang berpenampilan modis dengan fashionnya yang menarik, ada yang bergerombol seakan mereka sudah berteman lama, ada yang masih diam menyendiri dan masih banyak lagi wajah baru di hadapanku. Ku mulai interaksi dengan senyum sapa dengan mereka satu persatu, dan syukurnya mereka merespon dengan baik percakapan yang kubuat. Di awal semua ramah, tapi entah kenapa aku bisa merasakan hal palsu beberapa diantara mereka, tapi tidak kuhiraukan karena fokus ku adalah mengenal teman-teman seangkatanku.
Diantara banyaknya mahasiswa baru yang hadir berkerumun didepan dan dalam ruang tata usaha, dan disaat aku asik mengobrol dengan beberapa teman baru di teras luar, kulihat ada seseorang yang terlihat umum yang dimana wajahnya sesuai dengan usianya saat itu, tidak ada yang berbeda hanya dia tampak biasa, dia mulai mengikuti percakapan yang diriku buat dengan teman-teman disebelahnya, dengan ikut tertawa kecil dia mulai masuk dalam percakapan tersebut. Mulai lah untuk bertanya tentang dirinya, hal-hal umum untuk berkenalan sebagai seorang teman seangkatan. Respon, tutur bahasanya halus dan ramah semakin aku suka untuk lebih mengetahui dirinya, apalagi dia memiliki interaksi yang bagus terhadap lelucon. Saat itu hanya sekedar perkenalan biasa di hari pertama, masih belum ada jadwal pelajaran resmi, jadi yang dilakukan hanya mengikuti instruksi dari dosen yang bertugas untuk memperkenalkan dan membuat daftar jadwal pelajaran yang akan diikuti di semester pertama.
Jadwal sudah ditangan dan tinggal mengikuti sesuai dengan daftar, di dalam kelas yang ramai ada sekitar hampir 40 mahasiswa yang ada disana, disana diriku mulai membangun relasi pertemanan yang lebih akrab walau tanpa sengaja aku masuk dalam sebuah kelompok yang beranggotakan 4 orang termasuk diriku. Diantara mereka hanya aku yang paling polos dan tidak banyak bicara. Tapi saat aku nyaman dengan seseorang aku bisa menceritakan apa saja dan membuat lelucon, ada salah satu teman yang paling bisa ku ajak bercanda di kelompok itu, dan aku paling senang menggodanya dengan dia yang kukenal di hari pertama kuliah, orang yang ramah nampak biasa, namun menarik walau saat itu diriku tidak ada tertarik secara khusus dengannya, tapi dengan responnya dalam lelucon dan godaan yang kulontarkan itu membuatnya jadi lucu dan berkesan.
Hari demi hari saat jadwal kuliah, tetap diriku menggoda mereka tanpa berpikir bagaimana sebenarnya perasaan mereka. Tapi suatu hari saat berjalan menuju ke tempat parkir untuk pulang, tiba-tiba saja dia memanggilku agar aku menunggunya, setelah ku menoleh dia menghampiriku dan langsung meminta nomor teleponku, saat diminta seperti itu tidak ada tersirat dan berpikir bahwa dia ada memiliki maksud yang lain, yang kupikirkan hanya kita hanya berteman apalagi satu jurusan dan satu kelas tidak ada salahnya bertukar nomor telepon, siapa tau akan memerlukan bantuannya suatu hari demi tugas kuliah atau hal sejenisnya. Dengan menambah teman dekat juga akan sangat membantu selama perkuliahan yang saat itu dijalani sambil bekerja, maklum saat itu masih belum ada grup yang bisa membahas segala permasalahan yang ada di kampus semua masih dengan personal chat melalui handphone dengan aplikasi terbatas. Dengan senyumnya yang manis, tangannya mengetik satu persatu angka yang kuberi tahu untuk disimpan dalam handphonenya, dan diriku pun meminta nomornya balik agar mengetahui siapa yang menghubungi agar tidak bingung. Dengan santainya diriku bertanya, untuk apa dia meminta nomorku, jawabnya hanya ingin tahu saja dan berkata "nanti aku hubungi ya". Baiklah pasti dia memerlukan sesuatu mengenai mata kuliah kami, itu pikirku. Aku tidak tahu dengan nama apa dia menyimpan nomorku, tapi aku menyimpan nomornya dengan nama salah satu pemain sepak bola internasional terkenal yang dia sukai, kenapa diriku tahu, itu karena aku tidak sengaja mendengar dia berbicara dengan teman sebangkunya tentang klub sepak bola dan pemain andalannya tersebut dengan sangat seru dan ceria.
Sesampainya dirumah saat akan bersiap tidur tiba-tiba ada pesan singkat masuk darinya yang dimana dia memperkenalkan diri lagi dan mengucapkan selamat tidur, seketika aku tertawa dengan tingkah polosnya dalam pesan tersebut, dia lucu jika seperti ini dan terlihat manis. Kubalas pesan tersebut dengan hal serupa berharap dia merasakan yang kurasakan saat membaca pesan yang isinya seakan kita baru kenal. Besoknya dia memulai percakapan kembali melalui pesan, karena tidak ada jadwal kuliah jadi tidak bertemu, disana dia mulai bertanya apa hal yang kulakukan saat itu, apa kabarku, apakah diriku sudah makan atau belum, seperti itu terus untuk beberapa hari dan setelahnya dia mulai menanyakan hal yang lebih pribadi seperti pasangan, kesenangan, dan keinginan, dan anehnya saat dia mengetahui diriku tidak memiliki pasangan saat bertelepon dari suaranya terdengar dia tampak senang, dan aku pun bingung dengan hal itu, apa dia memiliki rasa denganku tapi aku tidak ingin berharap banyak sebelum semuanya jelas. Ku ikuti alur yang ada, setiap pesan yang dia kirim aku balas, sering balasan yang dibuat akan menjadi bahan canda untuk kami sehingga terus berlanjut. Saat hari kuliah tiba, dia tiba-tiba mengirim pesan agar seusai jam kampus kita bertemu di luar untuk makan malam, lokasi tempat bertemu dia yang tentukan dimana, yang terdekat dengan lokasi kampus tapi mahasiswa tidak banyak yang kesana. Saat jam kuliah sudah selesai, langsung diriku menuju tempat yang dijanjikan sebelumnya karena dia sudah lebih dahulu pergi kesana. Kulihat dia telah menungguku dan menghampiriku segera setelah dia melihatku baru tiba di parkiran sebuah rumah makan yang indah suasananya, dia menuntunku menuju meja makan, dan sembari menunggu pesanan makanan tiba, dia mengatakan kalau itu adalah lokasi tempat makanan favorit keluarganya jadi sudah cukup sering dia makan disana dan dijamin dengan masakannya yang enak, dan kebetulan juga kakak perempuannya adalah alumni di kampus kami, jadi sudah cukup lama dia dikenalkan dengan lokasi tempat ini yang bagus untuk keluarga. Setelah makanan tiba, apa yang dia ceritakan sama persis, tidak ada yang mengecewakan untuk makanan dan minuman disana dan diriku merasa bersyukur bisa mengetahui tempat tersebut, tidak banyak hal yang kita bicarakan karena saat makan kita fokus untuk menikmati makanannya. Setelah selesai dan malam juga semakin larut kami memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing dengan dia mengikuti dari belakang karena jalan kami yang searah menggunakan sepeda motor. Itu pertama kalinya ada seseorang yang mengikuti dari belakang, orang yang kukenal, sehingga merasa seperti dijaga dan tidak takut jika sesuatu yang buruk terjadi, ada yang dimintai tolong, apalagi kondisi yang sudah malam.
Beberapa kali kami keluar untuk sekedar makan malam saat jam kampus sudah selesai, tanpa sadar aku telah membuka hati untuknya, saat itu dia sama sekali belum mengungkapkan perasaannya, tapi dari tingkah lakunya diriku tahu jika dia memiliki ketertarikan sendiri terhadapku. Kami hanya bisa bertemu saat ada jadwal kuliah, karena lokasi rumah kami yang cukup jauh, dia di kota sebelah dari kota kampus sedangkan diriku tinggal di perbatasan antara kedua kota tersebut, apalagi kondisi yang sama-sama sambil bekerja membuat waktu yang paling bagus bertemu saat hari perkuliahan yang dimana hanya tiga kali dalam seminggu. Pernah suatu kali saat dua jam mata kuliah absen sehingga mahasiswa bisa pulang lebih awal, disaat itu dia mengajakku untuk bertemu ditempat makan siap saji dan setelah kami makan malam, lalu dia mengajakku untuk mampir ke pantai sebelum pulang, dan aku pun mengikuti ajakannya.