"Kau mau ikut kencan buta? Siapa tahu beruntung."
Helena mendesah. Mendapati pertanyaan yang sama dari si senior kurang ajar di depan kubikelnya. Sai bersandar santai, menarik-turunkan alisnya seakan tanpa dosa.
"Dari pada aku, kenapa kau tidak mencoba peruntunganmu sendiri?"
"Aku kurang hoki. Lambang kesialan tim purchasing sebenarnya Abel, tapi berimbas padaku. Ini alasan mengapa Edzard suka marah-marah," timpal Sai kalem. Diberi delikan dingin dari pria berambut kuning yang sibuk merevisi berkas.
Helena menarik napas. "Kau mau ikut kencan buta? Layar komputerku masih hidup. Sekalian."
Sai meringis. "Cukup memandangi perempuan cantik di gedung ini sudah seperti surga. Tidak. Terima kasih."
Yang modelan begini polos darimana?
"Ah! Ah! Berengsek!"
Helena melempar seringai lebar dan cibiran keras saat Kalila menggebrak meja. Membuat Abel nyaris terjungkal dan Sai memasang tampang i***t.
"Sialan, Helena!"
"Beginner's luck."
Sai mengangkat satu alisnya tinggi. "Kalian bertaruh tas baru? Atau perhiasan?"
"Tiket bioskop."
"Buy one get one? Itu untuk jam midnight." Abel bersuara, menekan tengkuknya sendiri dan mendesah panjang. Akhirnya pekerjaan mereka bereeeesss.
"I don't care," kata Helena santai. Menjulurkan lidah dan senior pirang satu itu mengulurkan tangan untuk memberi jari tengah. "f**k you."
"Jangan memaki. Edzard kalau dengar tiba-tiba ayan," tegur Sai.
"Dia hanya ayan kalau Helena resign!" Kalila menjerit tidak mau kalah.
Helena balas mendengus. Tersenyum puas saat dia mendapat dua bangku di posisi tengah. Strategis dan lumayan menyenangkan.
"Kapan kau mau nonton?"
"Hari ini."
Sai menghela napas. "Harusnya kau mencari teman kencan. Menonton bioskop berdua terhitung mesra."
"Aku akan menonton sendiri," Helena bersiap-siap pergi. Lalu membenahi meja diikuti ketiga temannya yang lain. Siap mengarungi malam yang pekat untuk kembali ke rumah.
"Kau mau pergi bersamaku?"
Kalila menggeleng. "Aku berniat pergi dengan teman kencanku," sahutnya sembari melirik meja lain yang tampak acuh. Memang dasar manusia tidak peka.
"Ada yang mabuk dua hari lalu. Bagaimana keadaannya?"
"Sekarat."
Abel terkekeh. Saat Sai menengadah, membalas sindiran Helena dengan senyum masam. "Kalau saja tidak ada malaikat tanpa sayap, Sai jelas mendapat mimpi buruk karena copet. Dia masih beruntung."
"Aku sudah memberi Kalila ciuman di pipi. Kurang?"
"Kenapa kau bilang pada mereka?" Suara Kalila kembali terdengar keras. Hampir membentak. Helena menunduk untuk menahan kikikan geli.
"Sekalian saja."
Reaksi santai itu bisa memicu perang dunia ketiga. Saat Helena bersiap pulang, pintu ruangan si bos terbuka. Edzard beranjak pergi dengan rambut berantakan dan tampang kusut.
"Sudah mau pulang?"
"Sudah, bos." Abel menyahut ramah. Helena? Cih. Tidak sudi. Masih sakit hati.
"Oh. Kalau begitu, hati-hati di jalan."
"Siap!"
Manik kelam itu mendapati Helena yang sudah siap kembali. Tapi seakan menunggu sesuatu, gadis itu berpura-pura sibuk mencari barang di atas meja.
"Kau ingin lembur?"
"Tidak." Helena menegakkan punggung. Meringis dengan senyum memelas. "Tidak, tolong. Jangan beri aku lembur."
Edzard menghela napas. "Kalau begitu, apa yang kau tunggu?"
"Kau tidak tahu?" Sai menautkan alis, memandang Edzard yang balas menatap matanya. "Helena akan pergi berkencan dengan orang asing. Dia bahkan membeli dua tiket bioskop untuk dua orang. Midnight. Bisa kau bayangkan?"
Abel menahan senyum. Saat Kalila memelotot, membuat Edzard mengernyit dalam. Dan Helena mendesis, mendelik tajam pada Sai yang malah tersenyum lebar.
"Kau mementingkan kencan dibanding tidur di rumah?"
"Sesekali. Kenapa tidak?" Helena membalas dingin, melambaikan tangan pada rekan timnya dan berlalu menuju lift.
Sebelum pintu seutuhnya tertutup, Edzard mengulurkan tangan untuk menahan pintu tetap terbuka. Lalu pintu itu masuk. Helena bisa melihat lambaian tangan nelangsa dari Abel dan Sai. Kedua pria b****k yang memasang tampang iblis dengan penuh celaan.
Sialan.
"Bukankah kau diare?"
Helena berdecak. "Berhenti mencela. Aku tidak diare."
"Lantas, memberi surat palsu pada tim HRD?"
Helena tetap bungkam.
"Sekarang mau pergi?"
Helena masih diam. Saat dia melirik dari ekor mata, menemukan Edzard berdiri bersandar pada tembok lift. Lima menit terasa seperti seabad. Melelahkan.
Pintu terbuka, Helena terburu-buru menghubungi taksi online untuk pergi. Dia masih punya waktu satu jam sebelum film yang ia pesan diputar.
"Jam berapa filmnya tayang?"
"Sebelas malam."
"Masih satu jam lagi," ucap Edzard. Mengejar langkah gadis itu sampai ke teras gedung. "Kau harus makan malam."
Helena menatapnya penuh kesinisan. "Tidak untuk hot pot. Perut benar-benar panas."
"Hot pot tidak buruk. Lumayan."
Helena malas menanggapi.
"Ada beberapa alternatif restauran yang bisa kau kunjungi untuk menu disMika makan malam. Restauran cina, korea, atau lokal?"
Helena mengernyit. "Tidak lapar."
"Lalu?"
"Kalau Anda ingin makan, silakan."
Pandangan Edzard turun pada ponsel yang menyala di dalam genggaman. Saat dia berdecak, merebut ponsel itu dan menatap bookingan taksi online yang masih dalam tahap mencari.
"Apa-apaan?"
"Ayo, pergi makan malam. Aku memaksa."
Edzard mengembalikan ponselnya. Dan Helena kehilangan kata-kata ketika pria itu dengan kurang ajar menghapus aplikasinya. Alih-alih membatalkan pencarian, Edzard dengan santai menghapus aplikasi bersama datanya? Sialan! Tahukah dia untuk registrasi cukup sulit?
Jaguar hitam itu berhenti di salah satu restauran lokal yang menjual ramen dan kari dengan level pedas tertentu yang cukup senyap. Saat Helena masuk, aroma kayu yang khas menusuk hidungnya. Ini seperti aroma pedesaan yang lekat dengan kampung halamannya.
"Duduk sini."
Edzard mengendik pada lesehan yang menyediakan bantal dan pemanas untuk menghangatkan sayur dan nasi.
Helena melepas sepatu dan tasnya. Mencengkeram tali mantelnya ketika dia duduk, dan pelayan memberikan buku menu.
"Siapa yang bayar?"
"Aku."
Helena tak lagi bersuara. Dia memilih deretan menu dengan harga yang relatif tidak murah—alias mahal—dan Edzard tampak santai, sama sekali tidak keberatan. Oh, jelas. Pria itu kaya.
Helena curiga Edzard tidak mengambil gajinya. Dan membiarkan uang gaji serta bonusannya masuk ke badan amal untuk sedekah.
Setelah pelayan pergi, pelayan lain dengan minuman dingin. Gratis. Helena menyesap minuman itu dalam diam, merasakan kesegaran yang mengalir membasahi tenggorokannya.
"Kenapa melihatku begitu?"
"Ikat rambutmu."
Kernyitan di dahinya nampak jelas. "Kenapa?"
"Kau tidak merasa risih saat sedang makan dengan rambut seperti singa itu?"
"Kita belum makan," ucapnya lagi. Membantah rayuan si bos yang kini terdiam, mengeraskan rahang.
"Anda—,"
"Sai dan Abel bersikap santai di luar kantor saat bersamaku. Aku harap itu berlaku juga padamu," sela Edzard dingin. Tanpa menatap ke arah Helena yang termenung. "Biasa saja."
"Oke—," Helena menarik napas panjang. "—kau terbiasa datang kemari?"
Edzard menggeleng. "Ini pertama kali. Aku terbiasa duduk di pinggir jalan untuk mengisi perut."
"Pinggir jalan?"
Edzard mendengus. Menopang dagu dengan senyum separuh. "Kenapa? Kau terkejut?"
"Biasanya selera orang kaya tidak begitu."
Edzard menghela napas berat. Lalu menggeleng keras sebagai jawaban. "Itu berlaku untuk orang kaya baru atau mereka yang bergengsi tinggi. Aku terbiasa melakukannya sejak remaja."
Helena memilih untuk diam. Memainkan tali mantelnya di atas meja, menunduk untuk melamun.
"Aku bisa memberimu cuti dua puluh hari, asalkan kau mau bicara kemana kau akan pergi."
"Satu minggu cukup. Aku tidak akan beritahu kemana aku akan pergi."
Edzard mendesah panjang. "Apa ini keperluan interview? Kau ingin medical check-up?" sindirnya pedas.
"Tidak. Aku benar-benar berlibur. Hanya untuk menjernihkan otak yang terlalu kotor," katanya santai, dengan dengusan keras.
Edzard cukup lama diam. Ketika Helena melirik, pria itu melempar pandang ke luar jendela. "Selalu seperti ini. Aku akan mendapat jawaban yang sama."
Dan perasaan tercekat Helena harus mengikis ketika pelayan membawakan makan malam mereka. Ada dua nampan, dan masing-masing sudah tersaji di atas meja.
Dering ponsel mengusik keduanya. Saat Edzard dengan santai menekan tombol kunci, membiarkan ponsel itu beralih ke mode sunyi.
"Kenapa tidak diangkat?"
Edzard meraih sumpit. Ekspresinya masih sedatar tembok pada restauran. "Biarkan saja."
"Itu Saira," Helena mengerutkan alis. "Kekasihmu, dia—,"
Edzard mencomot daging bumbu dari piring kecil. Menyantapnya dalam diam dan menemukan ponselnya kembali mati. "—mantan kekasih. Kami sudah selesai."
"Oh."
Manik kelamnya menelusuri raut Helena yang sama sekali tidak tertarik atau biasa-biasa saja. Cukup mengesankan. "Kau terlihat biasa saja."
Helena mengangkat bahu. "Aku harus apa? Sikap lilin? Kayang? Tidak ada urusannya denganku."
Edzard bernapas cukup keras. Menekan perasaan jengkelnya saat dia kembali memakai sumpitnya untuk menyuap daging.
"Benar. Lanjutkan makanmu."
"Mantan memang menyebalkan, bukan?" Helena bicara tanpa memindahkan pandangannya dari sup miso di mangkuk. "Seperti getah karet. Lengket. Kebanyakan dari mereka tidak tahu diri."
Edzard menengadah dengan pandangan penuh arti. Lalu Helena menggeleng, tampak gemas sendiri saat dia menggerutu tentang persamaan mantan dan benalu di pohon mangga.
Ketika mereka bertemu pandang, Helena merasakan sengatan lain yang membawanya pada pagi mengejutkan. Nyaris membuat harga dirinya merosot ke mata kaki. Menemukan dia berada di ranjang yang sama dengan sang bos. Menyisakan pakaian dalam dan Edzard yang bertelanjang d**a.
Dan merasakan perutnya melilit seperti dipilin.